Sedapnya Mie Ayam Sehat Warna-Warni WASEGI

Pengen merasakan kelezatan Mie Ayam ini ? Anda dapat merasakannya di Foodcourt Yogya Toserba Sukabumi Lantai 3

Galeri Online Produk UMKM Sukabumi

Sekarang cari oleh-oleh produk khas Sukabumi semakin mudah dengan telah diluncurkannya galeri/toko online lengkap produk UMKM Sukabumi. Anda bisa mengunjunginya di : www.ProdukSukabumi.com

Dinamika Bisnis Anda Bisa Ditampilkan Disini

Dinamika bisnis anda di Sukabumi dapat ditampilkan dalam website ini. Anda dapat mengirimkan informasi bisnis melalui alamat email : redaksi@bisnissukabumi.com

Dinamika Bisnis Anda Bisa Ditampilkan Disini

Dinamika bisnis anda di Sukabumi dapat ditampilkan dalam website ini. Anda dapat mengirimkan informasi bisnis melalui alamat email : redaksi@bisnissukabumi.com

Galeri Online Produk UMKM Sukabumi

Sekarang cari oleh-oleh produk khas Sukabumi semakin mudah dengan telah diluncurkannya galeri/toko online lengkap produk UMKM Sukabumi. Anda bisa mengunjunginya di : www.ProdukSukabumi.com

Tampilkan postingan dengan label LPE. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label LPE. Tampilkan semua postingan

23 Februari 2011

Perkembangan Ekonomi Kota Lamban

Radar Sukabumi -- Visi Pemerintah Kota Sukabumi sebagai pusat pelayanan jasa terpadu di bidang pendidikan dan kesehatan, memang sudah terbukti dan berjalan dengan baik. Namun dibalik itu semua khusus dibidang ekonomi, nampaknya belum berjalan sesuai dengan yang diharapkan, khususnya di sektor pengembangan Kelompok Usaha Mikro Kecil Menengah (KUMKM).
Sehingga timbul pertanyaan sudah sejauhmana Pemerintah Kota (Pemkot) Sukabumi benar-benar mendorong sektor perekonomian khususnya ekonomi kreatif.
Pengamat Ekonomi dari STIE PASIM Sukabumi, Fajar Laksana mengatakan, perkembangan sektor ekonomi di Kota Sukabumi cukup lamban. Hal ini dikarenakan beberapa hal, yaitu pertama, belum sepenuhnya pihak perbankan percaya untuk memberikan kucuran kredit kepada UKM. Hal ini ditambah lagi dengan persayaratannya yang begitu rumit. Kedua, pengembangan sektor ekonomi di Kota Sukabumi, belum menyentuh kepada sektor riil dan lebih menyentuh ke konsumtif.
Ketiga, belum adanya Balai Latihan Kerja (BLK) yang tujuannya untuk memberikan pelatihan dan pendidikan khusus sumber daya manusianya, serta membuat suatu alat untuk memproduksi berbagai produk. Keempat, masih lemahnya sisi promosi berbagai produk yang dihasilkan oleh UKM lokal. Sehingga sangat jarang sekali kita bisa menemukan produk buatan lokal di jual atau dipajang di supermarket yang ada di Kota Sukabumi.
" Saat ini berbagai upaya yang dilaksanakan oleh Pemkot Sukabumi untuk mengembangkan sektor ekonomi hanya bersifat temporer saja dan tidak berkelanjutan. Sehingga ketika program ini berakhir selama satu tahun ya sudah, lalu membentuk program baru lagi tanpa ada kelanjutan program terdahulunya," ujar Fajar saat ditemui Ponpes Al Fath PASIM Sukabumi, kemarin.
Menurut Fajar, salah satu upaya Pemkot Sukabumi untuk mengembangkan sektor ekonomi agar menjadi lebih baik. Diantaranya, antara dinas terkait seperti Diskoperindag, Dinsostek serta Dinas Pertanian harus ada program untuk mengembangkan sektor ekonomi, jangan sampai berjalan sendiri-sendiri.
"Karena ketiga dinas tersebut mempunyai peranan dan pengaruh penting memajukan sektor perekonomian," tegasnya.
Selain itu perlu adanya peraturan daerah (Perda) yang mengatur tentang keharusan bagi supermarket yang ada di Kota Sukabumi, untuk memberikan ruang sekitar 30 persen bagi pemasaran produk lokal hasil olahan para UKM di Kota Sukabumi.
" Bahkan kalau perlu, Pemkot Sukabumi menyediakan dana talangan khusus bagi modal para UKM. Serta perlu adanya Subsidi Bunga bagi para UKM, dimana nantinya dana tersebut dapat membayar bunga kredit yang dipinjam oleh pelaku UKM, sehingga nantinya pelaku UKM hanya membayar pokoknya saja kepada pemerintah," imbuhnya.
Sementara itu, menanggapi hal tersebut Asisten Daerah (Asda) II Bidang Pembangunan dan Perekonomian Pemkot Sukabumi, Deden Solehudin mengatakan, Pemkot Sukabumi dengan dibantu oleh dinas terkait, terus berupaya mendorong pemberdayaan UKM di berbagai sektor.
" Hal tersebut bisa dilihat dari Laju Pertumbuhan Ekonomi (LPE) Kota Sukabumi yang saat ini sudah mencapai angka 6,14 persen," kata (Asda) II Bidang Pembangunan dan Perekonomian Pemkot Sukabumi, Deden Solehudin saat ditemui Radar Sukabumi di ruang kerjanya.
Saat ditanya berapa besar anggaran untuk sektor ekonomi di APBD Kota Sukabumi di tahun 2011 ini, dirinya tidak bisa menjelaskan nominalnya. Namun yang jelas, Deden mengakui bahwa dari jumlah APBD Kota Sukabumi tahun 2011 sekitar Rp 580 miliar, hampir sebagian besarnya terpakai untuk belanja tidak langsung (pegawai) di sektor pendidikan dan kesehatan.
" Berdasarkan renstra yang ada, kami akan melakukan pengembangan usaha mikro dan UKM, serta melakukan berbagai pelatihan," ujarnya.(sri)

8 Februari 2011

Ekonomi Jabar 2010 tumbuh 6,09%

BANDUNG (bisnis-jabar.com): Laju pertumbuhan ekonomi Jabar sepanjang 2010 mencapai 6,09% sesuai target Pemerintah Provinsi Jabar yang dipatok 6%–6,5%.
Laju pertumbuhan ekonomi Jabar pada 2010 tersebut, naik 1,8 poin dari laju pertumbuhan ekonomi pada 2009 sebesar 4,29%.
Kasie Neraca Konsumsi Badan Pusat Statistik (BPS) Jabar Noneng Komara mengemukakan kinerja perekonomian Jabar 2010, terutama didorong naiknya sektor konsumsi masyarakat sebesar 4,56%.
Selain itu, penaikan kon ffb sumsi pemerintah 0,10%, pembentukan modal tetap bruto 5,81%, inventori 3,45%, serta naiknya ekspor 13,64%.
Dia mencontohkan kinerja ekspor Jabar pada 2010 naik 13,64% menjadi Rp278 triliun, dari 2009 sebesar Rp245 triliun.
Kinerja ekspor tersebut, terdongrak terutama ekspor benang tenun, pakaian, mesin listrik, mesin kantor, alat telekomunikasi, dan mesin pengolah data.
Akan tetapi, sayangnya, pertumbuhan ekspor Jabar pada 2010 tersebut dibarengi pula oleh pertumbuhan impor yang cukup tinggi.
Nilai impor Jabar pada 2010 mencapai Rp219 triliun, naik 9,24% dibandingkan dengan 2009 sebesar Rp197 triliun.
Penaikan nilai impor terutama didorong oleh pakaian, mesin listrik, mesin kantor, dan lain-lain.
“Penaikan ini mungkin berkaitan pula dengan pemberlakuan perdagangan bebas. Kalau impor bisa ditekan, pertumbuhan ekspor Jabar akan jauh lebih tinggi serta mampu pula mendorong kinerja ekonomi Jabar secara keseluruhan,” katanya hari ini.
Kinerja perekonomian di sektor investasi atau penyerapan modal secara umum juga naik signifikan.
Dia mengemukakan realisasi pembentukan modal tetap bruto (PMTB) pada 2010 yang mencapai Rp137 triliun, naik 5,81% dari 2009 sebesar Rp116 triliun.
Sebelumnya, Gubernur Jabar Ahmad Heryawan mengemukakan laju pertumbuhan ekonomi Jabar pada 2011 diperkirakan antara  6%–6,5%, dengan laju inflasi 4,9%–6%.
Sementara itu, produk domestik regional bruto (PDRB) atas dasar harga konstan 2000 sebesar Rp335 triliun–Rp339 triliun, dan nilai investasi diproyeksikan  Rp131 triliun–Rp136 triliun.
Heryawan menuturkan kinerja ekonomi Jabar tersebut menggambarkan potensi dan kapasitas perekonomian kawasan ini, sekaligus menjadi gambaran kinerja ekonomi nasional.
Kepala BPS Jabar Lukman Ismail menuturkan laju pertumbuhan ekonomi pada triwulan IV/2010 mencapai 4,49% naik dibandingkan dengan triwulan III/ 2009.
Akan tetapi, katanya, laju perekonomian pada triwulan IV/2010 turun dibandingkan dengan triwulan III/2010 yang minus 1,2%.
Dia mengemukakan penaikan kinerja secara tahunan (yoy) didorong oleh sektor angkutan dan komunikasi yang tumbuh 23,59%, bangunan/konstruksi 14,42%, dan jasa 16,17%. Sedangkan penurunan kinerja pada triwulan IV/2010 terhadap triwulan III/2010 terutama oleh sektor pertanian.

Sektor Jasa Pimpin Laju Pertumbuhan Ekonomi Jabar

BANDUNG, TRIBUN - Perekonomian Jawa Barat sepanjang 2010 bertumbuh 6,09 persen atau hanya selisih 0,01 dibanding laju pertumbuhan ekonomi (LPE) nasional. Angka tersebut sesuai target Pemerintah Provinsi Jawa Barat yang memperkirakan LPE Jawa Barat 2010 pada kisaran 6-6,5 persen.
Dibanding LPE Jawa Barat sepanjang 2009 sebesar 4,29 persen, maka LPE Jawa Barat sepanjang 2010, naik hingga 1,8 poin. Namun LPE Jawa Barat secara quarter to quarter (q-t-q) dari sisi lapangan usaha pada triwulan keempat 2010, sempat mengalami pertumbuhan minus 1,21 persen.
Kepala BPS Jawa Barat, Lukman Ismail, Senin (7/2) pagi menjelaskan, pertumbuhan tertinggi dicapai sektor jasa-jasa, yaitu sebesar 9,05, konstruksi sebesar 8,47 persen, serta sektor pengangkutan dan komunikasi sebesar 6,56 persen.

"Pertumbuhan paling rendah yaitu pada sektor pertanian yang mencapai minus 19,80 persen. Kemungkinan pertumbuhan negatif pada sektor ini terjadi akibat faktor cuaca ekstrim," ujar Lukman Ismail.
Kepala Seksi Neraca Konsumsi BPS Jawa Barat, Noneng Komara mengatakan, naiknya kinerja LPE Jawa Barat didukung beberapa sektor. Terutama naiknya sektor konsumsi masyarakat yang mencapai 4,56 persen.

Disusul kenaikan belanja pemerintah 0,10 persen, pembentukan modal tetap bruto 5,81 persen, inventori 3,45 persen, serta naiknya ekspor 13,64 persen.

"Sepanjang 2010, ekspor Jawa Barat meningkat 13,64 persen atau Rp 278 triliun, dibanding 2009 sebesar Rp 245 triliun. Terutama ekspor benang tenun, pakaian, mesin listrik, mesin kantor, alat telekomunikasi, dan mesin pengolah data," ujar Noneng.

Namun kenaikan ekspor tersebut dibarengi pula kenaikan nilai impor untuk pakaian, mesin listrik, mesin kantor, dan lain-lain. Noneng memperkirakan kemungkinan terkait dengan perdagangan bebas. Pertumbuhan ekspor Jawa Barat bisa lebih tinggi kalau impor bisa ditekan.
(rry)