Sedapnya Mie Ayam Sehat Warna-Warni WASEGI

Pengen merasakan kelezatan Mie Ayam ini ? Anda dapat merasakannya di Foodcourt Yogya Toserba Sukabumi Lantai 3

Galeri Online Produk UMKM Sukabumi

Sekarang cari oleh-oleh produk khas Sukabumi semakin mudah dengan telah diluncurkannya galeri/toko online lengkap produk UMKM Sukabumi. Anda bisa mengunjunginya di : www.ProdukSukabumi.com

Dinamika Bisnis Anda Bisa Ditampilkan Disini

Dinamika bisnis anda di Sukabumi dapat ditampilkan dalam website ini. Anda dapat mengirimkan informasi bisnis melalui alamat email : redaksi@bisnissukabumi.com

Dinamika Bisnis Anda Bisa Ditampilkan Disini

Dinamika bisnis anda di Sukabumi dapat ditampilkan dalam website ini. Anda dapat mengirimkan informasi bisnis melalui alamat email : redaksi@bisnissukabumi.com

Galeri Online Produk UMKM Sukabumi

Sekarang cari oleh-oleh produk khas Sukabumi semakin mudah dengan telah diluncurkannya galeri/toko online lengkap produk UMKM Sukabumi. Anda bisa mengunjunginya di : www.ProdukSukabumi.com

27 Januari 2011

99 Silver, Siapkan Penawaran Produk Aksesoris Menarik

Radar Sukabumi -- Menawarkan produk yang berkualitas untuk kalangan penguna aksesoris perak adalah harapan yang ditanamkan oleh 99 Silver yang menyediakan sejumlah produk hiasan yang berkualitas di sejumlah kota. Bagaimana Langkahnya
Menjual perak tidak sama dengan menjual logam mulia yang lainnya. Sebab, Perak sebagai logam mulia kelas tiga masih belum banyak dikenal oleh sejumlah warga yang ingin tampil cantik dan menawan. Bagi 99 Silver hal tersebut justru menjadi sebuah langkah yang pas untuk berinvestasi untuk menawarkan produk aksesoris yang dapat dipergunakan untuk berbagai kesempatan.
Supervisor 99 Silver, Shanty mengatakan pergerakan harga perak memang tidak serentan harga emas yang terus mengalami fluktuasi. Namun untuk lahan bisnis aksesoris perak bisa menjadi sebuah pilihan karena logam mulia yang satu ini tetap memiliki daya jual yang lebih tinggi dibandingkan dengan logam mulia seperti tembaga atau perunggu. Dengan harga perak di pasaran sekitar Rp20 ribu hingga Rp45 ribu per gram, perak menjadi pilihan untuk investasi dan mempercantik diri. Hal inilah yang ditanamkan 99 Silver dalam memasarkan sejumlah produk yang telah di produksinya.
"Produk yang kami tawarkan adalah seperti cincin, gelang kalung yang berbahan baku perak. Bahakan untuk lebih indah ada juga yang kami sediakan diamond, cristal, rubby dan lainnya," ujarnya kepada Radar Sukabumi.
Toko yang terdapat di Sukabumi, Cianjur dan lainnya tersebut telah banyak menyediakan sejumlah aksesoris yang dapat dipilih warga. Dengan harga yang mengikuti pasaran global tersebut 99 Silver juga menerima untuk sejumlah warga yang ingin menjual produk yang telah dimilikinya.
"Selain penjualan kami juga menerima yang ingin menjual peraknya di gerai kami. Tentunya dengan harga yang lebih kompetitif," tambahnya.
Sementara itu seorang yang melakukan transaksi di 99 Silver, Yeni Asmarani mengatakan berbisnis perak memang bisa lebih menguntungkan jika telah mengenal proses penjualan perak. Seperti yang dilakukannya Yeni tidak semata-mata untuk menjual peraknya semata saja melainkan juga untuk investasi. "Berbisnis di emas banyak pesaingnya namun untuk perak relatif lebih sedikit," katanya.
Hal yang paling penting diperhatikan untuk mengikuti bisnis yang satu ini adalah komitmen dan tetap memperhatikan pergetrakan harga emas dan harga sejumlah metal dunia. Sebab menurutnya harga perak itu selalu mengikuti pergerakan harga emas dunia. "Bisnis itukan perlu strategi dan ini cara saya untuk berinvestasi," pungkasnya.
Omset penjualan barang mewah di Sukabumi terutama yang berkenaan dengan logam mulia dirasakan 99 Silver kurang signifikan. Untuk mengantisipasi hal tersebut diperlukan sebuah strategi penjualan barang lainnya. Bagaimana Produknya.
Produk unggul terus ditawarkan 99 Silver bagi sejumlah kalangan terutama kaum hawa yang memiliki hobi mengkoleksi sejumlah aksesoris untuk pelengkap pribadi maupun untuk investasi. Bahkan untuk tampil anggun adalah harapan setiap wanita metropolis Sukabumi. Sehingga keberadaan 99 Silver memiliki nilai tersendiri bagi perkebangan fashion sejumlah wanita Sukabumi. Agar dapat terlihat lebih menarik dan anggun memerlukan sejumlah aksesoris yang menawan dan sesuai dengan tren yang berlangsung saat ini tentunya membuat para wanita metropolis harus lebih teliti dan apalagi jika memilih bros. Seorang kolektor bros, Irma Purwanti Shinta (23) mengatakan bros yang cantik unik terbuat dari logam berbentuk lingkaran dan taburan kristal mini merupakan perpaduan yang menawan, cantik nan indah untuk segala suasana. Barang tersebutlah yang menjadi pilihan sejumlah kalangan wanita metropolis yang sangat mengagungkan keindahan tidak terkecuali pada aksesoris bros sebagai hisan khusus.
"Penampilan bagi saya adalah segalanya dan untuk itu saya selalu berusaha mencari pilihan aksesoris yang pas untuk penampilan apalagi untuk bros saya kan bisa dibilang kolektor," selorohnya kepada Radar sukabumi.
Namun lain halnya yang diungkapkan Ouner Silver 99 Supermall Sukabumi, Djee Siat Tjhin atau Sianty mengatakan bisnis aksesoris di Sukabumi mempunyai prospek yang bagus dan menjanjikan karena berbisnis seperti ini kondisi pasaran tidak pernah sepi dan keutungan yang diperoleh sangat tinggi. Dengan jumlah pembeli dan kondisi pasar yang tidak pernah sepi dan tidak kenal musim sangat menjanjikan sehingga keuntungan yang diperoleh dapat maksimal. Sejauh ini, hampir semua barang aksesoris yang diperjualbelikan banyak diminati masyarakat di antaranya bross, hiasan rambut, gantungan kunci dan gelang tangan.
"Harganya mulai dari Rp1.000 hingga Rp 150.000/biji. Kalau untuk bross disesuikan dengan bahan baku pembuatannya, semakin bagus bahan bakunya, maka harganya semakin mahal. Dalam satu hari kami mampu menjual sekitar 20 buah aksesoris per item, misalnya dalam satu hari sekitar 20 bros laku terjual, begitu pula dengan gelang tangan dan aksesoris lainnya. Namun jika untuk barang dagangan utama kami yaitu perak agak sulit juga peminatnya," pungkasnya. (**) 

Rahmat, Pengrajin Lukisan Pelepah Pisang

Radar Sukabumi -- Bosan berprofesi sebagai kondektur bus di Kota Sukabumi selama 20 tahun membuat Rahmat Sadeli (62) warga Barostugu, Kelurahan Jayaraksa, Kecamatan Baros, akhirnya membanting stir memilih kehidupan barunya menjadi seorang seniman. Aktivitas yang digelutinya sebagai pengrajin lukisan dari pelepah pisang rupanya membuahkan hasil.
Pada awal tahun 1968-an, Rahmat Sadeli mulai menghidupi keluarganya sebagai kondektur bus.  Namun karakter kuli bukanlah jatidiri seorang Rahmat. Profesinya sebagai kondektur bus selama dua puluh tahun membuat dirinya jenuh. Hal ini yang kemudian mengubah profesinya menjadi seorang seniman. Melalui talenta seninya yang terpendam lama, dirinya kemudian mengapresiasikannya dengan cara melukis. Uniknya, Lukisan yang dihasilkannya bukan di atas kanvas sebagaimana lazimnya, melainkan di atas pelepah pisang manggala. Kemampuan yang dimilikinya itu merupakan bakat alamiah, tanpa adanya guru kursus. Lama kelamaan, kepiawaian Rahmat mulai dikenal oleh banyak orang. Para pemesan pun mulai berdatangan ke rumahnya. Mereka datang dari berbagai daerah seperti Jakarta, Bandung, bahkan dari Makkah. Adapun hasil lukisannya berupa gambar binatang, manusia, bahkan kaligrafi. "Lukisan bervariasi, ada gambar binatang, manusia. Bahkan pernah ada Dik, yang membeli hasil lukisan kaligrafi berupa lafadh untuk oleh-oleh ke Makkah," tutur Rahmat kepada Radar Sukabumi saat ditemui di rumahnya, akhir pekan lalu.  Awalnya Rahmat belum memiliki kios Untuk memasarkan barang hasil kerajinannya, dirinya cukup memajangkan saja di pinggir jalan. Terkadang apabila sibuk melukis, stand by di rumah sambil menunggu pemesan."Bapak masih ingat, ketika itu memasarkan barang dagangan di pinggir jalan. Kalau sedang sibuk melukis, cukup diam saja di rumah sambil menunggu pesanan," tutur Rahmat. Di usianya kini yang kian renta, Rahmat Sadeli masih produktif dalam menekuni lukisannya. Dirinya pun selalu menyempatkan diri dalam berbagai event pameran di Kota Sukabumi. Bahkan ketika mengikuti ekspo perdagangan yang diselenggarakan oleh Diskoprindag Kota Sukabumi pada tahun 2010 kemarin, dirinya mendapatkan penghargaan dengan stan terbaik. Bahkan ketika mengikuti lomba pameran ke TMII Jakarta pada tahun yang sama, meraih juara III.  "Waktu ekspo kemarin, Alhamdulillah saya  mendapatkan piagam sebagai stan terbaik. Waktu ke Jakarta juara III," tuturnya dengan bangga. Kios Rahmat sekarang terletak di Jalan Ahmad Sanusi, tepatnya di Pasar Degung Kota Sukabumi.
Dalam menunggui kios lukisannya kini ditemani oleh putranya, Iyeh Soleh Ruhiyat. Harga lukisannya berkisar dari harga Rp50 ribu hingga Rp750 ribu. "Ketika kami menunggui kios, saat prosesi peresmian pasar. Kapolresta Sukabumi memesan lafadz Yaasiin sedangkan Kakajari membeli lukisan ayam. "Tuk pak Kapolres memesan Yaasiin, sedangkan kepala Kejaksaan membeli gambar ayam. Alhamdulillah dengan aktivitas seni ini, kami bisa membantu penghidupan keluarga anak kami,"pungkas Rahmat kepada Radar Sukabumi, sembari tersenyum. (*)

Peluang proyek asuransi senilai Rp 2,75 M

BANDUNG (bisnis-jabar.com): Perusahaan Daerah Air Minum (PDAM) Tirtawening Kota Bandung melelangkan pengadaan jasa asuransi bagi karyawan perusahaan tersebut dengan pagu Rp2,75 miliar pada 2011 ini. ffb
Lelang pengadaan jasa asuransi ini terbuka bagi perusahaan yang memenuhi persyaratan sesuai perundang-undangan, dengan kualifikasi utama perusahaan besar bidang jasa asuransi.
Bagi yang berminat bisa mengikuti lelang tersebut dengan cara mendaftarkan diri terlebih dahulu ke Layanan Pengadaan Secara Elektronik (LPSE) Jawa Barat.
Rincian pelaksanaan lelang dapat diakses pada website: www.lpse.jabarprov.go.id

Lahan Bisnis Travel Basah

Jurnal Bogor - Perekonomian yang terus membaik dan kondisi kemanan yang cukup kondusif, membuat penyedia jasa wisata dan perjalanan (tour and travel) diprediksi tumbuh subur di tahun ini.
Salah satu penyedia jasa dan produk pariwisata ke berbagai belahan dunia dan domestik di Bogor, yakni Panorama Tours bahkan memprediski pertumbuhan luar biasa di 2011 yang mencapai 40 persen.
Kepala Cabang Panorama Tours Bogor Winata Bunjamin mengatakan, masyarakat kini kian konsumtif karena makin berkembang pandangan travelling as a life style. ”Ya, travelling sudah menjadi gaya hidup bagi masyrakat perkotaan. Kami menargetkan akan terjadi growth 40 persen dari tahun sebelumnya,” kata Winata kepada Jurnal Bogor saat ditemui dikantornya di lantai Lower Ground Botani Square, kemarin.
Target tersebut, lanjut Winata, optimis diraihnya karena hal tersebut ditopang dengan ekonomi di Indonesia yang terus membaik dan kondisi kemanan yang kondusif. ”Bisnis tour dan travel tergantung kondisi politik, ekonomi dan keamanan. Jika baik, maka akan ikut baik,” jelasnya.
Selain itu, agar target tercapai, pihaknya juga telah melakukan peningkatan pelayanan dan rutin melakukan program-program menarik kepada konsumen loyalnya. ”Yang sedang berjalan saat ini adalah paket Jalan-jalan Hemat (Jahe). Seperti ke Singapore tiga hari dua malam dengan tarif mulai dari USD143, Amerika USD465 (land only) beli dua grtais 1,” terangnya.
Ia menambahkan, program lainnya adalah Shocking Offers yang bisa menjelajah ke berbagai beklahan dunia dengan harga yang cukup terjangkau di periode Januari hingga Maret 2011. ”Panorama Tours juga menyediakan paket wisata dan ziarah bagi umat dari berbagai agama ke negara-negara tujuan ziarah masing-masing agama,” imbuhnya.
Di awal tahun ini, Winata mengaku trafik perjalanan baik domestik dan mencanegara tegah turun. ”Mungkin akan normal kembali di Februari atau Maret,” kata dia.
Sementara itu, CEO PT Panorama Tours Royanto Handaya mengatakan, arah strategi bisnis yang dipilih Panorama adalah aggressive consolidation. Dipilih agresif lantaran prospek pasarnya menjanjikan. Sedangkan jurus konsolidasi dengan pertimbangan untuk memberikan keseimbangan agar tidak agresif secara membabi buta, tetapi sesuai dengan koridor yang ditentukan.
Terkait rencana melakukan investasi atau ekspansi bisnis pada 201, Royanto menyatakan bahwa market yang cenderung ekspansif memang membutuhkan investasi dan ekspansi bisnis.
”Caranya dengan mengembangkan focus di setiap segmen pasar yang dibidik. Dengan fokus, maka kami segera mampu memahami core competence, dan setelah itu bisa terjadi pertumbuhan yang memadai,” ungkapnya.
 
= apriyadi hidayat
apriyadih@jurnas.com

26 Januari 2011

Jabar targetkan 41,4 juta wisatawan

BANDUNG (bisnis-jabar.com): Dinas Pariwisata dan Kebudayaan (Disparbud) Jawa Barat menargetkan peningkatan kunjungan wisatawan sebesar 10% dari 37,7 juta menjadi 41,4 juta pada 2011 dibandingkan dengan tahun lalu.

BI : Tahun Ini, Jabar Butuh Investasi Rp 131 Triliun

BANDUNG, TRIBUN - Guna mendorong laju pertumbuhan ekonomi, yang tahun ini, seluruh kalangan melakukan berbagai upaya. Satu di antara langkah untuk mendorong laju pertumbuhan ekonomi yaitu laju investasi.
Berbicara tentang Jabar, untuk menunjang laju pertumbuhan ekonomi sebesar 6,2 persen, tatar Pasundan membutuhkan dana investasi raksasa. Nilainya, mencapai ratusan triliun.
"Benar. Investasi berperan besar menopang pertumbuhan ekonomi sebesar 6,2 persen. Melihat kondisi itu, Jabar butuh peningkatan investasi 7 persen atau menjadi Rp 131,58 triliun," tandas Kepala Kantor Bank Indonesia Bandung (KBIB), Lucky Fathul Aziz Hadibrata, di KBIB, Jalan Braga Bandung, Rabu (26/1).
Dikatakan, sekitar 30 persen total investasi pada tahun ini bersumber pada Penanaman Modal Asing (PMA) dan Penanaman Modal Dalam Negeri (PMDN). "Investasi total yang bersumber pada PMA dan PMDN sekitar Rp 39.5 triliun," sebutnya.
Selain sektor PMA dan PMDN, lanjut Lucky, investasi pada sektor perbankan pun tidak kalah pentingnya. Pihaknya, ujar Lucky, berharap, investasi pada sektor perbankan naik 9,7 persen atau Rp 27,2 triliun.
Menurutnya, sampai saat ini, ada kendala yang sejak lama menjadi permasalahan dunia investasi. Di antaranya, ketersediaan sarana infrastruktur.  Jadi, tukasnya, pihaknya mendorong perbankan Jabar supaya mendukung pembangunan infrastruktur yang strategis.
"Misalnya, pembangunan short cut jalur kereta api, proyek pembangunan listrik tenaga panas bumi, ruas tol Bogor Ring Road dan Palimanan-Kanci (Palikanci), termasuk Bandara Internasional Kertajati," paparnya. (win)

Kredit UMKM Jabar Masih Kecil

BANDUNG, TRIBUN - Terbukti, keberadaan usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM), yang berperan besar dalam sektor perekonomian, memang menjadi pangsa pasar bagi lembaga perbankan di tanah air. Karenanya, lembaga perbankan beramai-ramai menjadikan UMKM sebagai target pengembangan bisnis mereka.
Misalnya, melalui pengucuran kredit. Hal itu pun dilakukan seluruh lembaga perbankan di Jabar, baik yang dimiliki pemerintah daerah, BUMN, swasta nasional, maupun swasta asing.

Namun, pada kenyataannya, di Jabar, kucuran dana kredit bagi UMKM masih kecil. "Selama periode Januari-November 2010, nilai total kredit di Jabar yang dikucurkan perbankan sejumlah Rp 127 triliun. Alokasi bagi UMKM senilai Rp 38,9 triliun," tandas Kepala Kantor Bank Indonesia Bandung (KBIB), Lucky Fathul Fathul Aziz Hadibrata, di KBIB, Jalan Braga Bandung, Rabu (26/1).

Diutarakan, kredit senilai Rp 127 triliun itu, sekitar Rp 3 triliun di antaranya untuk revitalisasi industri tekstil dan produk tekstil (TPT) Jabar, yang menyerap 41,6 persen tenaga kerja.

Tentang kredit UMKM di Jabar, pria asal Ciamis ini meneruskan, melihat kondisi itu, sebenarnya, angkanya masih kecil. Persentasenya, sebut dia, sebesar 30,2  persen. Angka ini, ujar Lucky, masih jauh lebih kecil daripada pencapaian nasional, yaitu 50 persen.

"Untuk itu, tahun ini, kami tanpa kompromi, mendorong lembaga-lembaga perbankan di Jabar supaya menaikkan kucuran kreditnya kepada para UMKM. Target kami, naik minimalnya menjadi 30 persen. Nah, bagi lembaga perbankan yang berkantor pusat di Bandung, targetnya mencapai 58 persen," tegas Lucky.
(win)


Dorong UMKM, BI Gandeng Dinas KUMKM
BANDUNG, TRIBUN - Sampai saat ini, permasalahan dan kendala yang dialami para pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM), termasuk koperasi, dalam hal mendapatkan kredit perbankan, yaitu pada jaringan serta akses.
Kepala Kantor Bank Indonesia Bandung (KBIB), Lucky Fathul Aziz Hadibrata, di KBIB Jalan Braga Bandung, Rabu (26/1), memperkirakan, minimnya akses itu yang sepertinya menjadi dasar kehati-hatian para lembaga bank pelaksana, khususnya di Jabar, untuk mengucurkan kreditnya kepada para pelaku KUMKM.
Faktor lainnya, lanjut Lucky, dalam hal Non-Performance Loan (NPL) atau kredit bermasalah. Diutarakan, jika melihat Non-Performance Loan (NPL) atau kredit bermasalah sektor UMKM yang mencapai 6,22 persen, kemungkinan besar, faktor itu pun membuat lembaga-lembaga perbankan berhati-hati dalam mengucurkan kreditnya kepada UMKM. Sedangkan untuk total kredit, di Jabar, NPL mencapai 3,65 persen.
Padahal, sambung Lucky, sektor ini menjadi perhatian pihaknya. Agar penyaluran kredit bagi UMKM mengalami peningkatan, ujarnya, tahun ini, pihaknya meningkatkan kerjasama dengan berbagai stake holder, tidak terkecuali pemerintah daerah.
"Misalnya, bekerja sama dengan Dinas Koperasi dan UMKM (KUMKM) Jabar. Tujuannya, untuk membantu meningkatkan akses perbankan bagi para pelaku KUMKM, yang selama ini, memang terus menjadi kendala," paparnya.
Kerjasama dengan Dinas KUMKM itu, lanjutnya, juga termasuk dalam penyaluran Kredit Usaha Rakyat (KUR). Diungkapkan, di Jabar, penyaluran KUR oleh perbankan pada 2010 senilai Rp 4,5 triliun. Nilai itu, tuturnya, adalah yang ketiga terbesar setelah Jatim dan Jateng.
Selain itu, lanjutnya, pihaknya pun terus mendorong keberadaan Pusat Pengembangan Pendamping UKM (P-3 UKM). Program ini, jelasnya, adalah untuk meningkatkan kelayakan UMKM untuk mendapatkan suntikan kredit perbankan.  "Tahun lalu, realisasi kredit melalui P-3 UKM senilai Rp 190 miliar. Angka itu peruntukannya bagi sekitar 4.911 unit UMKM," jelasnya. (win)

Manajemen Kreatifitas UKM

Jaja Suteja
Penulis : 
1. Jaja Suteja (Ketua Program Studi Manajemen FE UNPAS, Anggota ISEI Kota Bandung)
2. Sadikun Citra Rusmana (Dosen Program Studi Manajemen FE UNPAS)

PENDAHULUAN
Situasi sulit dalam perekonomian Indonesia sejak pertengahan 1997 berdampak besar terhadap kinerja bisnis di Indonesia. Selama kurun waktu 1999 – 2003. Hasil Pemilu hanya membentuk pe 4757 merintahan yang dihasilkan melalui proses demokrasi, tapi belum menampilkan perbaikan kinerja, khususnya di bidang ekonomi. Besaran-besaran makro ekonomi memang terlihat stabil karena meskipun telah lepas dari IMF namun pemerintah masih terkait dengan program Post Monitoring, sehingga dalam masa itu stabilitas ekonomi makro relatif terjaga. Namun demikian, sektor usaha kecil nyata masih belum tersentuh upaya perbaikan.
Usaha kecil menengah (UKM) memiliki keandalan bertahan dalam situasi perekonomian yang sulit, namun demikian kinerjanya masih terbatas pada tingkat upaya mempertahankan standar usaha (survival performance). Kerentanan UKM dalam siklus bisnis dipengaruhi oleh dampak gejolak ekonomi baik dari  sisi permintaan maupun sisi penawaran. Tambunan (2002) menyatakan bahwa dampak sisi penawaran yang mempengaruhi UKM adalah Pasar Modal, Pasar Input, dan Pasar Tenaga Kerja. Sedangkan dampak sisi permintaan antara lain oleh Pasar Barang Jadi dan Pasar Barang Modal dan Keagenan.
Pasar modal tidak bersahabat kepada UKM karena biaya modal sangat tinggi sehingga pengusaha UKM sulit mengembalikan dana pinjaman karena skala ekonominya relatif kecil. Demikian pula  pasar input memberikan efek negatif kepada UKM karena bahan baku produk yang dihasilkan UKM masih banyak yang diimpor. Pasar tenaga kerja relatif menyediakan tenaga kerja dengan upah yang murah (karena penawaran tinggi), tapi UKM kurang merespon tenaga kerja ahli karena kemampuan membayar rendah, sehingga UKM masih menggunakan tenaga kerja yang kurang terdidik/terlatih. Dari sisi permintaan, UKM banyak memproduksi barang yang tingkat permintaannya rendah (inferior), diantaranya barang primer padahal pasar barang mengharapkan UKM menghasilkan produk sekunder yang sudah tersentuh teknologi (non-inferior).
Kondisi tersebut memunculkan suatu dorongan pengelola UKM meningkatkan kualitas kewirausahaan. Di Indonesia, awalnya dikenal istilah wira-swasta, yang kemudian mengalami perkembangan gejala bahasa menjadi istilah yang lebih populer yaitu “wirausaha” (entrepreneur). Entrepreneurship diterjemahkan menjadi kewirausahaan. Kewirausaha diartikan sebagai kemampuan seseorang dalam melaksanakan usaha mampu memulai dan atau menjalankan suatu usaha tertentu. Schumpeterian menyatakan kewirausahaan sebagai kemampuan mengelola bisnis berdasarkan kelangkaan sumberdaya. Sedangkan Cassonian menyatakan kewirausahaan sebagai keputusan bisnis berdasarkan kompetensi pelakunya.
Hubungan antara kewirausahaan dan wirausaha sangatlah erat. Kewirausahaan merupakan segala sesuatu yang menyangkut teknik, metode, sistem serta berbagai strategi bisnis umum yang dapat dipelajari tentang sukses atau mundurnya seorang wirausaha. Analisis hubungan antara keduanya dapat terkait pada masalah watak, perilaku, sikap, perkembangan kepribadian,sejarah kelompok, minat, motivasi dan ambisi seorang wirausaha dalam mencapai kesuksesannya.
Wirausaha bukanlah sekedar pengusaha, melainkan pengusaha sukses karena memiliki ciri-ciri serta kemampuan tertentu untuk menciptakan sesuatu yang baru. Pendapat Say dalam Muhandri Tjahja (2002) menyebutkan bahwa wirausaha adalah orang yang mampu melakukan koordinasi, pengorganisasian dan pengawasan. Wirausaha adalah orang yang memiliki pengetahuan yang luas tentang lingkungan dan membuat keputusan-keputusan tentang lingkungan usaha, mengelola sejumlah modal dalam menghadapi ketidakpastian untuk meraih keuntungan.
Menjadi seorang wirausaha, bukan sesuatu yang bersifat kebetulan. Ada berbagai faktor yang mempengaruhinya, baik yang bersifat inherent maupun dorongan yang bersifat kondisional. Paling tidak, ada 3 (tiga) kondisi yang berpengaruh secara signifikan (Muhandri Tjahja, 2002), yaitu: (a) Confidence modalities, (b) Tension modalities dan (c) Emotion modalities. Seorang wirausahawan dapat terbentuk karena lingkungan keluarga yang membesarkannya memiliki suatu budaya atau tradisi usaha yang kuat sehingga kondisi tersebut mengarahkan pada “Entrepreuner character building”. Namun demikian, tidak sedikit orang menjadi wirausahawan karena menguatnya suatu tension, sehingga ia tidak memiliki pilihan lain (just one option) untuk dapat bertahan hidup.
Wirausahawan memang sudah menjadi tujuan hidupnya, sehingga pada kondisi ini mereka betul-betul telah mempersiapkan diri untuk membangun suatu usaha sebagai jalan hdupnya, bukan merupakan suatu kebetulan, atau tidak adanya pilihan lain. Namun demikian, mungkin saja wirausahawan seperti ini berangkat dari keluarga pengusaha atau sebaliknya.
Suatu hasil studi empiris yang pernah dilakukan di Amerika dan di Indonesia menunjukkan bahwa mayoritas pengusaha yang sukses berasal dari keluarga dengan tradisi yang kuat dibidang usaha. Sehingga dapat dibuat suatu premis bahwa kultur atau budaya ber-wirausaha suatu keluarga atau suku atau bahkan bangsa sangat berpengaruh terhadap kemunculan wirausaha-wirausaha baru yang tangguh. Pendapat tersebut diperkuat dengan hasil studi empiris Sulasmi (1989) terhadap 22 orang pengusaha wanita di Bandung yang dijadikan sampel dan dipilih secara random, hasilnya menunjukkan bahwa kurang lebih 55% pengusaha tersebut memiliki keluarga pengusaha, hubungan keluarga tersebut berupa suami-istri, orang tua-anak atau saudara pengusaha). Kondisi demikian seperti yang dikemukakan oleh Tjahja sebagai confidence modalities, dimana tradisi keluarga besarnya telah mendorong orang didalamnya untuk menjadi wirausaha yang baru.
Pilihan menjadi wirausaha yang hanya sebagai alternatif terakhir banyak berujung pada kegagalan usaha. Hal ini karena lower self confidence level serta tradisi wirausaha yang tidak mengakar kuat pada karakter jiwanya. Seperti yang ditunjukkan oleh penelitian Mu’minah (2001) yang menyatakan bahwa terdapat 8 orang pengusaha paling sukses di daerah Pangandaran yang memulai usahanya karena keterpaksaaan, atau karena tidak adanya pilihan lain yang dapat dilakukan, faktor ini dikenal sebagai tension modalities.
WIrausaha mandiri juga dapat diwujudkan melalui pendekatan keilmuaan (akademik) mengenai dunia usaha, umumnya mereka mempersiapkan diri untuk menjadi wirausaha. Oleh karenanya, ada 2 (dua) kemungkinan seseorang ingin mewujudkan kewirausahaannya, yaitu: (i) seseorang langsung menjadi wirausaha dengan hanya merasa cukup memahami dasar-dasar keilmuwan usaha yang mereka miliki saat ini, dan (ii) memulai dengan bekerja terlebih dahulu untuk memahami dunia usaha secara riil. Kategori yang terakhir ini sering disebut sebagai  emotion modalities.
 Kenyataannya, sangatlah sulit bagi kita untuk mampu menanamkan aspek budaya/tradisi wirausaha pada generasi bangsa. Hal ini dibuktikan apabila kita menanyakan pada anak-anak dan orang tua, mereka umumnya akan mengagungkan profesi yang relatif bersifat risk averter, seperti menjadi: PNS, TNI, atau bekerja di perusahaan besar.
Kesadaran akan pentingnya untuk mendorong dan memberdayakan usaha kecil mulai disadari ketika krisis moneter tahun 1997 yang kemudian meluas menjadi krisis ekonomi melanda ibu pertiwi ini, dimana usaha skala besar terutama dalam bentuk (conglomeration) mulai tumbang satu per-satu. Sementara itu pada sisi lain, banyak usaha kecil (industri kecil) masih mampu bertahan, hal ini membuka mata pemerintah bahwa betapa sistem ekonomi pada masa lalu  terlalu memihak pada industri besarnya. Fenomena tersebut telah mendorong munculnya euphoria berkaitan dengan penciptaan dan pemberdayaan usaha kecil dan menengah [UKM].

MANAJEMEN KREATIVITAS DAN INOVASI USAHA
 Kegiatan wirausaha dasarnya adalah menciptakan sesuatu yang baru, produk baru, proses produksi baru, organisasi baru, manajemen baru, bahan baku baru, pasar baru, dan sesuatu yang baru yang dapat dikelola dengan tepat dalam kegiatan usaha. Dengan demikian, kewirausahaan itu selalu berkaitan dengan kreativitas dan inovasi. Ropke (1995), menyarankan adanya kesatuan fungsi kewirausahaan yang meliputi tiga level dorongan manajemen kewirausahaan, yaitu: Kewirausahaan Inovasi, Kewirausahaan arbitrase, dan Kewirausahaan Rutin. Sesuatu yang dihasilkan baru melalui proses inovasi harus dipertimbangkan berdasarkan pilihan arbitrase loss and benefit, dan apakah manajemen rutinnya mendukung proses penciptaan itu ? Dalam teori Schumpeter, kewirausahaan inovatif berhubungan dengan ketidakpastian yang dinamis karena hasil suatu inovasi tidak dapat diramalkan, di samping juga pemanfaatannya. Dengan demikian maka dalam melakukan fungsi kewirausahaan maka pilihan-pilihan (arbitrase) yang berdasar pada sifat-sifat kelangkaan sumberdaya perlu mempertimbangkan penghematan sumber-sumber ekonomi.
Robert & Weiss (1988) dalam Sadikun (2006) menggambarkan secara cerdas pemecahan masalah dan inovasi dalam kewirausahaan (gambar 1).  Dalam Gambar 1.a) pemecaham masalah dengan model Kanal hasil prestasi sama dengan prestasi sebelumnya. Dalam Gambar 1.b). inovasi baru menciptakan prestasi dan keuntungan pada level baru.
Pengelolaan UKM bisa berhasil dan berkembang apabila dorongan kreatifitas dan inovasinya selalu bergerak, dan bukan sekedar faktor keberuntungan (luck). Kreativitas adalah kemampuan untuk menciptakan gagasan baru dan menemukan cara baru dalam menyikapi masalah dan memanfaatkan peluang. Sedangkan inovasi adalah kemampuan menerapkan gagasan-gagasan baru atau pemecahan kreatif terhadap masalah dan dalam memanfaatkan peluang. Singkatnya, kreatifitas dan inovasi dianalogikan creativity – thingking new things, innovation – doing new things. (Yuyun Wirasasmita, 2002).
Kreativitas banyak diinterpretasikan dalam berbagai medium definisi. Scott (1995) memahami kreativitas berdasarkan jenisnya, yaitu murni dan terapan. De Bono (1992), mengartikulasikan kreativitas murni sebagai ekuivalen dengan kreativitas artistik (Jamal Bake, 2004)
Sementara itu, Joyce wycoff (1991) dalam sadikun (2006) menjabarkan makna kreativitas sebagai baru dan bermanfaat; suatu cara melakukan sesuatu dengan berbeda; unik; dan lebih baik. Menurutnya, kreatif berarti mampu menemukan solusi yang baru dan bermanfaat. Ciri yang terdapat dalam orang kreatif , menurut Joyce adalah adanya keberanian menghadapi tantangan dan risiko, ekspresif menyatakan pikiran dan perasaannya, nada humor ketika menggabungkan berbagai hal dengan cara baru dan bermanfaat, dan memiliki intuisi tinggi karena adanya eksplorasi dari otak kanan yang bersifat ritnmik dan imajinatif.
Jika pengelola UKM membutuhkan kemajuan usaha maka pembentukan manusia – manusia renaissance yang kreatif amatlah penting. Di zaman renaissance orang yang berpikir model Abad Pertengahan jauh tertinggal. Kini di Abad Informasi orang-orang yang masih brpikir seperti di Abad Pertengahan dan Era Industri terancam punah (Michael J. Gelb, 1998). Renaissance diilhami oleh  cita-cita kuno – kesadaran akan kemampuan dan kekuatan manusia dan hasrat terhadap kegiatan penemuan. Kini waktunya renaissanceuomo universale) sebagai pribadi yang seimbang dan memiliki kecerdasan intelektual dan fisik, dan nyaman bergaul dengan seni maupun ilmu. Uomo universale modern adalah manusia-manusia yang 1) memiliki pengetahuan tentang komputer; 2) memahami proses mental; dan 3) memiliki kesadaran secara global. mentranformasikan kekuatan dan kemampuan manusia untuk menghadapi tantangan jaman baru, termasuk tantangan menghadapi persaingan usaha yang dihadapi UKM. Gelb mengindikasikan manusia renaissance yang ideal (
Menurut Yuyun Wirasasmita (2002), kreativitas tidak selalu dihasilkan dari sesuatu yang tidak ada, seringkali merupakan perbaikan dari sesuatu yang telah ada. Mengingat wirausaha merupakan sumber pemikiran kreatif dan inovasi, maka alam pikiran wirausaha adalah :
  1. selalu memimpikan gagasan baru dengan selalu bertanya Why ? How ?
  2. selalu mencari peluang baru atau mencari cara baru untuk menciptakan peluang baru;
  3. berorientasi kepada tindakan ;
  4. pemimpi besar, meskipun mimpinya tidak selalu dapat direalisasikan ;
  5. tidak malu melakukan sesuatu, meskipun dari skala kecil ;
  6. tidak pernah berpikir menyerah, selalu mencoba lagi ; dan
  7. tidak pernah takut gagal.
PEMBELAJARAN KREATIVITAS
Kreativitas dapat dikembangkan dalam pengelolaan UKM melalui kiat-kiat pembelajaran kreativitas, sebab kreativitas tidak timbul secara instan tetapi diusahakan dengan menciptakan iklim yang dapat mendorong kreativitas. Yang paling penting adalah pemimpin perusahaan mendorong sikap keingintahuan (curiosity), dan melakukan pelatihan-pelatihan kreativitas untuk mencari peluang inovasi usaha.
Salah satu metode pengembangan kreativitas dalam manajemen pembelajaran intelijensia adalah Metode Mind mapping yang dirintis oleh Tony Buzan. Menurut Buzan & Buzan (2004), Peta Pikiran adalah ekspresi dari Pemikiran Radian yang merupakan fungsi alami dari pikiran manusia. Menggunakan teknik grafik yang berdaya guna yang menyediakan kunci universal untuk membuka potensi otak, sumber kreativitas. Peta pikiran mempunyai empat karakteristik penting, yaitu :
a)      subyek yang menjadi perhatian mengalam kristalisasi dalam citra sentral;
b)      tema utama dari subyek memancar dari citra sentral sebagai cabang-cabang ;
c)      cabang-cabang terdiri dari Citra Kunci atau Kata Kunci yang dituliskan di garis yang berasosiasi ;
d)      cabang-cabang ini membentuk struktur nodus yang berhubungan.
Peta pikiran (mind map) adalah langkah berikutnya dalam kemajuan dari pemikiran linier (satu dimensi), lewat lateral (dua dimensi), yang membantu  Radian (pemikiran multidimensi). Subyek peta pikiran dicontohkan hasil adopsi dari Buzan dan Konsep Kreativitas adopsi dari Joyce.

PENUTUP

Kesulitan yang dihadapi oleh UKM dalam pengelolaan usaha seringkali berbentuk hambatan-hambatan internal, yaitu bagaimana memberdayakan kapasitas kewirausahaan yang ada pada pemilik atau pengelola. Untuk menghadapi hambatan tersebut maka fungsi – fungsi kewirausahaan yang selama ini diimplementasikan perlu menggunakan dorongan kreativitas dan inovasi. Kreativitas dan inovasi diharapkan dapat memberikan solusi baru dalam memperkuat manajemen kewirausahaan UKM.
Salah satu bentuk pengembangan kreativitas dan inovasi yang berkembang saat ini dalam pembelajaran intelijensia adalah Mind Mapping (Pemetaan Pikiran). Dengan cara ini maka pengelola UKM dapat mengidentifikasi permasalahan yang dihadapi melalui pemikiran Radian berdasarkan konsep utama yang diidentifikasi.
DAFTAR PUSTAKA
Buzan, Tony & Barry. 2004. The Mind Map Book. BBC Worldwide Limited.
_____, Tony. ( a.b.  Tony Rinaldo). 2002. Use Your Head. Delapratasa
______, (a. b.  T. Hermaya). 2004. Head First.  10 ways to Tap into Your Natural Genius. Gramedia. Jakarta.
Gelb, Michael J. (a.b. T. Hermaya). 2002. How to Think Like Leonardo Da Vinci ; Seven Steps to Genius Every Day. Gramedia.
Jamal Bake. 2004. Pendekatan 4P Kreatif ; Pengertian dan Model Pengukuran Kreativitas dan Inovasi. Manajemen Usahawan Indonesia. April 2004.
Robert, M. & A. Weiss. 1988. The Innovation Frmula : How Organizations Turn Change into Opportunity. Cambride, Mass : Ballinger Publishing Company.
Ropke, J. 1977. Die Strategie der Innovation. Tubingen ; Mohr-Siebeck.
Sadikun Citra Rusmana, 2006. Makalah Kewirausahaan mandiri, dipesentasikan pada Program Studi manajemen, FE Unpas.
Tulus Tambunan. 2002. Ekonomi Usaha Kecil Menengah. Salemba4.
Wycoff, Joyce. 2002. (a.b. Rina S. Marzuki). Mind Mapping : Your Personal Guide to Exploring Your Creativity and Problem Solving. Kaifa.

Bisnis-Jabar.Com (Rubrik Tulisan ISEI)

Tahun baru, perubahan baru di industri seluler Jabar

BANDUNG (bisnis-jabar.com): Awal tahun 2011 ini diwarnai dengan berbagai perubahan baru di industri seluler Jawa Barat.
Berdasarkan informasi yang dihimpun bisnis-jabar.com, perubahan paling besar terjadi dalam bentuk peleburan PT Indosat Jawa Barat bergabung ke wilayah operasional Jabodetabek.
Peleburan ini sendiri merupakan bentuk transformasi organisasi besar-besara di anak perusahaan Qatar Telecom itu yang memangkas wilayah regional dari delapan wilayah jadi empat wilayah.
Selain peleburan Jabodetabek dan Jabar, peleburan juga disebut-sebut terjadi pada Jawa Tengah-Jawa Timur, Sumatera- Kalimantan, dan Sulam Papua Nusa Bali (Sulawasi Maluku Papua Nusa Tenggara dan Bali).
Dengan demikian, terjadi pengurangan head of region yang menciut dari delapan orang jadi empat orang. Kantor wilayah Jabar dan Jabodetabek sendiri akan ditarik ke Jakarta.
Perubahan di level atas ini akan segera ‘menjalar’ ke bagian level operasional. Rumornya, akan ada ribuan karyawan (permanen dan outsource) yang akan kehilangan pekerjaan.
Dengan cara ini diproyeksikan laju mereka kembali lincah dan bisa kembali menyalip XL Axiata yang sudah menempati rangking dua dari sisi pendapatan dan laba bersih di akhir 2010 lalu.
Selain transformasi organisasi di Indosat, perubahan juga terjadi di PT Telkom Flexi, PT Smart, dan PT Mobile-8.
Tepat pada Rabu, 26 Januari 2011 ini, dan bertempat di Batam, nakhoda utama Flexi selama ini yakni EGM Telkom ffb Flexi Triana Mulyatsa digantikan EGM UCS Barat Masud Khamid.
Masud Khamid adalah eks Kadivre Telkom Jawa Timur, yang membawa kejayaan Telkom Flexi di wilayah itu, sehingga  Flexi sangat kuat dan mengakar di provinsi tersebut.
Dengan masuknya Masud yang selama ini terkenal memiliki kebijakan agresif di pasar, diproyeksikan laju Flexi di Jabar akan makin kencang guna mengimbangi rival utamanya, Esia.
Selain itu, kongsi Smart dan Fren tampak makin menyatu di awal tahun ini. Secara fisik operasional, saat ini mereka sudah satu kantor setelah sebelumnya terpisah.
Smart yang dulunya berkantor di bilangam Soekarno Hatta, saat ini menyatu dengan kantor eksisting Fren di bilangan Jl Suci. Demikian pula dengan komposisi eksekutifnya yang makin kohesi.
Contohnya Regional Head West Java PT Smart Telecom Antony Pandapotan kini resmi menjadi Regional Head West Java Smartfren, dengan deputinya kini, Budhi Handoyo (sebelumnya Head of Regio PT Mobile-8 Jabar).
Tahun baru, perubahan baru. Semoga semakin memberi layanan baru nan handal kepada rakyat Jabar.

25 Januari 2011

Bastoni, Pengrajin Bingkai Pasir Asal Warudoyong

Radar Sukabumi -- Kejenuhannya berpetualang sebagai buruh di Jakarta, Bastoni (45), Warga Babakanbenteng, Kecamatan Warudoyong, Kota Sukabumi, akhirnya meniatkan diri beralih profesi sebagai pengrajin bingkai pasir. Aktivitas yang digelutinya sebagai pengrajin pasir rupanya membuat dirinya nyaman. Dengan ketekunan dan kesabarannya, kini usahanya mampu membuahkan hasil. Pada tahun 1993, Bastoni mulai pindah ke Sukabumi, tepatnya di Babakanbenteng, Kecamatan Warudoyong, Kota Sukabumi. Di sana, dirinya mulai menekuni kerajinan bingkai poto. Uniknya, bingkai poto yang dibuatnya dibalut dengan pasir laut. Hingga orang menyebut hasil produksinya dengan nama bingkai pasir. Dengan usahanya ini, dirinya mampu memenuhi kebutuhan hidup sehari-harinya. Ditemani sang istri, Yani (44), si ahli pembuat bingkai terus menggeluti usahanya. Namanya kian hari semakin dikenal orang. Hingga akhirnya, banyak orang yang memesan hasil kerajinan tangannya itu. Mulai yang memesan eceran sampai kodian. Saking banyaknya yang memesan, sampai kewalahan. "Ya, kami sempat kewalahan ketika itu. Suatu ketika kami sempat kewalahan memenuhi order," kata Bastoni kepada radar Sukabumi, sore kemarin. Bahan baku yang diperlukan dalam pembuatan bingkai poto tersebut, yaitu: pasir laut, triplek, bambu, lem, plastik mika, cat, dempul. Mengenai pasir, terdiri dari berbagai variasi warna, yaitu putih, hitam, abu-abu, krem. Bahan baku selain pasir laut, mudah diperoleh dari wilayah sekitar Kota Sukabumi. Namun untuk pasir didatangkan dari berbagai pesisir pantai. Pasir hitam didatangkan dari Cianjur Selatan. Pasir putih dari Ujunggenteng. "Mengenai pengadaan bahan baku, pasir saja yang agak sulit, soalnya mesti didatangkan dari pesisir pantai," tutur Bastoni. Dalam satu bulan rata-rata, apabila cuacanya bagus, Bastoni mampu memproduksi bingkai poto 300 buah. Biasanya bingkai dibuat sesuai dengan pesanan. Mengenai ukurannya bervariasi, dari ukuran hanpond sampai ukuran 11 R. Adapun harganya berkisar dari Rp12 ribu lima ratus sampai dengan Rp25 ribu. "Untuk memproduksi bingkai dalam skala banyak, kami membutuhkan modal besar. untuk itu bantuan pinjaman modal dengan bunga kecil, sangat kami harapkan," tuturnya . Omzet dalam setiap bulannya rata-rata Rp1,5 juta. "Kalau penghasilan sich, nggak menentu. Hal ini tergantung pesanan. Biasanya ramai di waktu menjelang lebaran. Tetapi kami tetap bersyukur," pungkas kepada radar Sukabumi, sembari trsenyum, sore kemarin. (*)