Sedapnya Mie Ayam Sehat Warna-Warni WASEGI

Pengen merasakan kelezatan Mie Ayam ini ? Anda dapat merasakannya di Foodcourt Yogya Toserba Sukabumi Lantai 3

Galeri Online Produk UMKM Sukabumi

Sekarang cari oleh-oleh produk khas Sukabumi semakin mudah dengan telah diluncurkannya galeri/toko online lengkap produk UMKM Sukabumi. Anda bisa mengunjunginya di : www.ProdukSukabumi.com

Dinamika Bisnis Anda Bisa Ditampilkan Disini

Dinamika bisnis anda di Sukabumi dapat ditampilkan dalam website ini. Anda dapat mengirimkan informasi bisnis melalui alamat email : redaksi@bisnissukabumi.com

Dinamika Bisnis Anda Bisa Ditampilkan Disini

Dinamika bisnis anda di Sukabumi dapat ditampilkan dalam website ini. Anda dapat mengirimkan informasi bisnis melalui alamat email : redaksi@bisnissukabumi.com

Galeri Online Produk UMKM Sukabumi

Sekarang cari oleh-oleh produk khas Sukabumi semakin mudah dengan telah diluncurkannya galeri/toko online lengkap produk UMKM Sukabumi. Anda bisa mengunjunginya di : www.ProdukSukabumi.com

Tampilkan postingan dengan label ukm. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label ukm. Tampilkan semua postingan

16 Desember 2011

Profil UKM Bumbu Masak yang Tembus Luar Jabar

Setelah sukses dalam mengelola penjualan produk dari salah satu bumbu dapur. Kini Husin Isna mengembangkan usahanya jual beli hasil bumi dan aneka macam kerupuk. Dengan harapan lebih dikenal warga Sukabumi. Kini produk olahan hasil bumi khususnya bumbu dapur yang bisa digunakan untuk kebutuhan memasak sehari-hari, telah dipasarkan keluar Provinsi Jabar. 
Sekitar tahun 1980, Husin Isna (53), pria asli Medan ini mulai merintis usahanya. Bermodalkan uang ratusan ribu, dirinya memberanikan diri untuk menggeluti usaha pembuatan bumbu dapur seperti merica dan ketumbar. Bersama istrinya, Husin mengelola usahanya dari nol. Mengandalkan mesin manual dan kemasan plastik biasa dengan pelekat dibakar menggunaka nyala lilin atau lampu minyak tanah, tak menjadikannya putus harapan. Seiringnya waktu, kini usaha yang dirintisnya tersebut mulai berkembang dan sudah terkenal di pasaran. Ia pun akhirnya membuka pabrik di Jl. Pabuaran Sukabumi. Omsetnya pun terus berkembang,minimal dalam sebulan ia mampu meraup omset Rp20 juta. Bahan baku yang berasal dari biji merica atau lada didatangkan dari Bangka. Sedangkan biji ketumbar asli dari India yang diimpor ke Jakarta. 
Saat ini , proses penggilingan biji merica dan ketumbar mengunakan mesin modern. Produknya itu ia beri nama Lada Daisy’s Merica Bubuk dan Ketumbarku. Dengan bubuk asli dari ketumbar yang terjamin kwalitasnya tersebut,kemudian dikemas khusus perset. “Dulu pada saat awal merintis usaha ini banyak rintangan yang saya hadapi. Terutama pada saat memimjam uang untuk modal usaha. Namun orang tidak percaya saya, karna mungkin saya bukan asli pribumi. Tapi sekarang setelah usaha saya sudah terkenal dan mulai melebarkan sayap, banyak orang yang datang untuk menawarkan pinjaman modal. Saya merintis usaha ini, benar-benar dari nol,”kata Husin Isna. 
Husin kini sudah memiliki 15 orang tenaga kerja, yang setiap bulannya mampu menghabiskan sekitar 1 ton biji ketumbar dan biji merica. Harga yang ditawarkan Rp500/set, sedangkan untuk 1 pak berisi 78 sachet dihargai Rp27.500 untuk lada. 1 pak berisi 72 sachet Rp24 ribu untuk merica. Distribusi sudah keluar kota mapun keluar propinsi, seperti Palembang, Medan, Bengkulu, Semarang, Jakarta. Selain memproduksi merica dan ketumbar, perusahaannya tersebut juga menjual dan membeli hasil bumi dan aneka macam kerupuk. 
Walapun saat ini yang menjadi salah satu kendala dalam mengembangkan usahanya adalah modal, tetapi ia terus berusaha untuk bisa mengelola usahanya yang sudah memberikannya rumah dan bisa menyekolahkan ketiga anaknya.”Mudah-mudahan pemerintah khususnya Diskoperindag, bisa lebih memperhatikan UKM seperti saya ini dan ada sedikit kucuran dana,”pintanya.(*) 

Laporan: Esa Septi Juanda Ulfach – Radar Sukabumi 

1 Desember 2011

Guna Kembangkan Pasar UMKM Sukabumi, BUMI KREATIF Luncurkan Website

Sukabumi - Asosiasi pelaku dan komunitas kreatif Sukabumi Bumi Kreatif dan Sukabumi Today meluncurkan website e-commerce untuk memfasilitasi pemasaran pelaku usaha mikro kecil menengah (UMKM) Kota Sukabumi lewat Internet. Website yang beralamat www.produksukabumi.com yang merupakan galeri produk UMKM Sukabumi ini diluncurkan di sela-sela pameran UMKM di GOR Merdeka Kota Sukabumi, Jalan Perintis Kemerdekaan, Selasa (29/11/2011). 
Ketua Bumi Kreatif Endud Badrudin menjelaskan pembuatan website ini untuk memfasilitasi seluruh pengusaha UMKM Kota Sukabumi. Saat ini jumlahnya mencapai 3.000 pengusaha yang aktif. ''Melalui website ini kami bisa memasarkan produk-produk hasil para pengusaha UMKM. Karena dengan jaringan Internet ini dapat diakses dimana saja, juga luar negeri,'' jelas Endud kepada INILAH.COM usai peluncuran, Selasa (29/11/2011). 
Executive Editor SukabumiToday Geri Sugiran menambahkan dalam mengelola website ini, telah disiapkan tiga orang sebagai marketing online untuk melayani setiap pemesan dan bertransaksi. ''Sekarang website sudah dapat diakses. Dalam pameran ini akan saya upload sebanyak seribu produk. Saat ini baru ada empat produk dan yang mendaftar sudah ada dua puluh produk,'' tambah blogger asal Sukabumi ini.[jul] 

29 September 2011

Asep Setiawan, Pengusaha Boneka Daur Ulang

Kreatifitas Asep Setiawan patut diacungi jempol. Limbah rumah tangga yang umumnya dibuang, malah dimanfaatkannya hingga bernilai uang. Dari mengolah limbah menjadi boneka, Asep kini memiliki industri rumah tangga yang mampu mempekerjaan sejumlah tetangganya. Warga Kebonjati RT 01/03 Kelurahan Sukakarya, Kecamatan Warudoyong Kota Sukabumi, Asep Setiawan (39) dengan kreatifitasnya mampu mengubah sampah rumah tangga menjadi hasil kerajinan yang mempunyai nilai jual tinggi. 
Dari sisa potongan-potongan kain di salah satu pabrik yang biasanya dibakar atau dibuang, tenyata menjadi nilai lebih bagi Asep. Dirinya mengawali menjadi pengrajin boneka tersebut, berkat salah satu temannya yang memberikan limbah pada saat dirinya sedang menganggur dan butuh kerjaan. “Awalnya saat saya menganggur, teman saya memberikan sisa potongan kain. Lalu, saya mencoba peruntungan dengan mengubahnya menjadi boneka. Hasilnya di luar dugaan produksinya hingga keluar kota yakni Bandung, Cianjur, Pelabuhanratu, Bogor dan lainnya,” ujar Asep. 
Dalam waktu sebulan dirinya memproduksi 1.000 boneka. Harganya variatif mulai Rp 6.000 sampai Rp 200 ribu tergantung jenis dan ukuran boneka. “Harga tergantung jenis ukuran dan model, model rumit lebih mahal,” imbuhnya Namun, dengan minimnya biaya usaha yang ditekuninya tidak ada kemajuan yang signifikan sejak 2002 sampai sekarang, sehingga dalam produksi tidak bisa optimal dengan peralatan seadanya yakni mesin jahit, gunting dan lainnya. “Kami gunakan peralatan yang seadanya, terkadang saya perbantukan tetangga,” tandasnya. 
Kini pembuatan boneka ini menjadi tumpuan bagi Asep dan pekerjanya untuk menghasilkan uang. Apalagi dengan prospek bisnis yang menjanjikan, Asep optimis usahanya ini akan terus berkembang. “Apalagi kalau pemerintah mau membantu mengembangkan usaha kami ini,” katanya. Asep mengeluhkan atas modal yang dimilikinya padahal banyak warga membantu dalam membuat kerajinan boneka tersebut, tapi untuk bahan dirinya sangat menyayangkan kurangnya perhatian Pemerintah. “Perhatian pemerintah kurang kami pun tidak bisa optimal untuk memberdayakan masyarakat sekitar,” harapnya.(*)

Oleh : Falah Kurnia Robbi

9 Agustus 2011

Bazaar Ramadhan Digelar Di 7 Kecamatan

Lembursitu – Dinas Koperasi, Perindustrian dan Perdagangan (Diskopperindag) Kota Sukabumi, bekerjasama dengan Tim Penggerak PKK Kota Sukabumi, mengadakan Pasar Murah dan Bazaar Sembako Ramadan, di setiap Kecamatan se-Kota Sukabumi. Kegiatan Pasar Murah dan Bazar tersebut baru dimulai, kemarin (8/8) di Kelurahan/Kecamatan Lembursitu. 
Dalam kegiatan tersebut, berbagai macam prodak disuguhkan. Mulai dari kebutuhan sembako dan oleh-oleh asli sukabumi. Kegiatan sendiri, dibuka langsung Walikota Sukabumi, Muslikh Abdussyukur. Seperti dikatakan Kepala Diskopperindag Kota Sukabumi, Dudi Fathul Jawad pasar murah dan Bazar Sembako Ramadan tersebut, dilaksanakan secara rutin setiap tahun sekali, di setiap Kecamatan se-Kota Sukabumi. 
Adapun maksud dan tujuannya, dalam rangka upaya merealisasikan aspirasi warga masyarakat, yang menghendaki agar di setiap Kecamatan di Kota Sukabumi dilaksanakan Pasar Murah dan Bazaar Sembako Ramadhan. “Ini sebagai bentuk perhatian pemerintah derah untuk membantu, sekaligus meringankan beban warga masyarakat, khususnya warga masyarakat yang kurang mampu,” ujar Dudi Farhul Jawad. 
Dijelaskannya, Pasar Murah dan Bazaar Sembako Ramadhan tersebut, dilaksanakan per kecamatan. Di setiap Kecamatan, masing-masing melaksanakan selama 2 hari. Diharapkan dengan pasar murah ini mampu meredam gejolak harga sembako sekaligus membantu warga yang kesulitan memenuhi kebutuhan sembako selama ramadan. 
Sementara itu, menurut Lurah Lembursitu, Rosidin, kegiatan ini sangat membantu masyarakat terutama di daerahnya. “Masyarakat di sini sangat terbantu sekali dengan program ini. Apalagi, dari segi harga sembako yang dijual, di bawah harga pasar,” ujarnya. Selain itu, Rosidin berharap kalau kegiatan ini tidak hanya dilakukan dua hari ini saja. Tapi, bisa berkelanjutan, sehingga bisa mengakomodir UKM yang ada di daerahnya tersebut. “Kalau kagiatan ini rutin dilaksanakan, saya yakin bisa bersaing dengan pasar modern yang selama ini merajai Kota Sukabumi,” sambungnya.(rp4)

30 April 2011

Perbankan Jangan Persulit UKM

Sukabumi -- Walikota Sukabumi, HM Muslikh Abdussyukur meminta pihak perbankan agar memberikan kemudahan kredit bagi usaha kecil menengah (UKM). Pasalnya, kehadiran UKM sudah terbukti mampu meningkatkan taraf perekonomian masyarakat. Bahkan sektor usaha kecil selama ini telah membantu pemerintah daerah dalam penyerapan tenaga kerja.
Penegasan itu disampaikan Walikota saat dalam sambutanya di acara Pelatihan Indigopreneur UKM yang berlangsung di Hotel Taman Sari Kota Sukabumi, Selasa (26/4) kemarin. Kegiatan ini digelar atas kerjasama PT Telkom Indonesia, Jurnal Nasional, dan Kadin Kota Sukabumi.
”Hanya dengan modal Rp 5 juta saja, sektor UKM sudag bisa mempekerjakan minimal tiga orang. Apabila modalnya lebih besar, kemungkinan tenaga kerja yang bisa terserap akan lebih banyak lagi,” kata Muslikh.
Menurut Muslikh, pemberian modal UKM sebenarnya sudah disediakan pemerintah melalui program Kredit Usaha Rakyat (KUR). Fakta di lapangan masih banyak ditemukan UKM yang mengeluh saat mengajukan kredit melalui perbankan. Salah satu alasannya karena terbentur persyaratan administrasi yang kurang lengkap.
”Kelengkapan administrasi memang penting. Namun jangan sampai persoalan ini menjadi hambatan bagi UKM yang punya itikad baik untuk mengembangkan usahanya. Sebab modal usaha UKM ini tidak terlalu besar,” tandas Muslikh.
Pendapat yang sama disampaikan Ketua Kadin Kota Sukabumi, Andri L. Kusuma. Menurutnya, masih banyak UKM yang kinerjanya bagus sehingga layak mendapatkan batuan modal usaha. Namun pihak perbankan terkadang ketakutan modal yang diberikan kepada UKM akan menimbulkan kredit macet.
Direktur Utama PT Media Nusa Pradana yang juga Pemimpin Umum Jurnal Nasional, N. Syamsuddin Ch Haesy mengakui banyak UKM yang antri untuk mendapat kredit perbankan. Tetapi keinginan sektor UKM untuk memperkuat modal usahanya ini selelu terbentur sikap perbankan. Justru perbankan lebih condong memberikan pinjaman bagi usaha berskala besar.
”Orang kecil itu biasanya mengajukan pinjaman modal untuk memenuhi kebutuhan primer dan sekunder. Beda dengan kalangan pengusaha besar. Mereka mengajukan pinjaman justru untuk memperkaya diri sendiri,” kata Haesy yang langsung mendapat aplous dari sekitar 100 lebih peserta Pelatihan Indigopreneur.

= Rojab ASy’ari
rojaba@jurnas.com

10 April 2011

Melihat Profil UKM Peserta Pameran Hari Jadi Kota Sukabumi

Sukabumi -- Penemuan kompor dengan bahan bakar spirtus yang diproduksi Sabrina Collection ini sekaligus untuk mengantisipasi krisis energi serta kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM), terutama setelah dilakukan pencabutan subsidi minyak tanah. Bagaimana ceritanya? 
Kenaikan harga minyak tanah dan sulitnya masyarakat mendapatkan bahan bakar itu, mengilhami Deni Solahudin (35) asal Kecamatan Warudoyong Kota Sukabumi, membuat kompor dengan bahan bakar spirtus.
Penemuan kompor dengan bahan bakar spirtus ini ternyata memiliki beberapa kelebihan dibanding kompor dengan bahan bakar minyak tanah. Selain lebih hemat, tidak berjelaga, kopor ini juga cepat panas.
"Kompor spirtus ini lebih aman dan apinya biru," kata Deni yang juga owner Sabrina Collection Sukabumi kepada Radar Sukabumi saat ditemui disela-sela pameran produk UKM dalam memperingati Hari Jadi Kota Sukabumi ke-97 di Gelanggang Olah Raga (GOR) Merdeka Kota Sukabumi, kemarin.
"Saya merintis pembuatan kompor spirtus ini sejak satu tahun lalu dan mempekerjakan masyarakat sekitar rumah,"ujarnya.
Kelebihan kompor ini, lanjut Deni hanya dengan memakai 1 liter spirtus, bisa dipakai untuk menanak nasi, menggoreng makanan, dan memasak air. Dan spirtus yang digunakan adalah spirtus berwarna putih.
"Pokoknya lebih murah dibanding minyak tanah,"imbuhnya.
Selain itu, harga spirtus lebih terjangkau yang harganya berkisar Rp 5000/liter dibanding minyak tanah non subsidi yang harganya mencapai Rp 9 ribu-10 ribu/liternya. Kompor ciptaannya tersebut dijual ke pasaran dengan harga Rp 50 ribu/unit.
"Dalam satu tahun kemarin saja, kami sudah bisa menjual hingga 500 kompor spirtus. Dan dipasarkan di Kota/Kabupaten Sukabumi, Bandung, Bogor, Jakarta hingga ke Madura,"terangnya.
Ketika ditanya lebih rinci mengenai kompor sprtus ini, Deni belum berani menyampaikan rahasia komponen di dalam kompor yang memiliki keunggulan dibanding kompor minyak tanah.
Sementara itu Kepala Dinas Koperasi Perindustrian dan Perdagangan (Kadiskoperindag) Kota Sukabumi, Dudi Fathul Jawad, pihaknya siap membantu pengembangan dan pemasaran kompor berbahan bakar spirtus ini. (*)

21 Maret 2011

UKM Tersandung Pasar Bebas

CIKOLE -- Maraknya minimarket di Kota Sukabumi menjadi cermin minimnya perhatian pemerintah terhadap perkembangan Usaha Kecil Menengah (UKM). Kondisi tersebut seakan-akan pengusaha kecil hanya dijadikan sebuah pelengkap.
Maraknya minimarket memang sudah menjadi sebuah masalah. Ditambah lagi dengan sekarang perhatian pemerintah untuk mengembangkan UKM sendiri kurang maksimal. Kepala Kantor Penanaman Modal dan Pelayanan Terpadu (KPMPT) Kota Sukabumi Yoyo Subagyo sendiri menganggap dengan dibukanya persaingan pasar bebas, mereka kesulitan dalam membendung bertambahnya minimarket.
Iwong salah satu pedagang di Pasar Ciwangi mengungkapkan, semakin hari pendapatannya terus berkurang. "Pedagang kecil seperti kami mana sanggup bersaing dengan minimarket-minimarket yang ada di Kota Sukabumi. Perbandingannya sudah terlalu jauh, mereka dengan kualitas pelayanan mulai dengan infrastruktur dan sebagainya sudah bisa menggilas pedagang-pedagang seperti kami," ujarnya Kepada Radar Sukabumi.
Dia juga menambahkan, modal yang dimiliki tidaklah sebesar modal yang dimiliki para pengusaha besar. "Gambarannya seperti ini, kami memiliki Rp10ribu sementara harus bersaing dengan mereka yang mempunyai uang Rp1 juta. Otomatis kita akan kalah," sambungnya.
Ia menegaskan kondisi ini harus menjadi perhatian semua stakeholder. "Permasalahan ini memang harus jadi perhatian bagi semua stakeholder. Jangan Sampai hanya dibebankan apalagi sampai menyalahkan salah satu pihak saja,"pungkasnya. (rp4)
 

22 Februari 2011

Aqua Dorong Perkembangan Ekonomi Daerah

Bandung (Radar Sukabumi) -Perkembangan ekonomi daerah yang digerakkan oleh harmonisasi industri dan pemberdayaan masyarakat menjadi salahsatu topik hangat dalam diskusi Forum Wartawan Kementerian Perdagangan (FORWARD) di Bandung, (12-13/2) lalu. Dalam diskusi yang dilaksanakan selama dua hari tersebut, Menteri Perdagangan RI Marie Elka Pangestu membuka diskusi dengan menyampaikan pandangannya tentang pentingnya daya saing usaha produk nasional menghadapi persaingan global. Disusul pada hari berikut dengan diskusi “Pentingnya Investasi di Daerah dan Dampaknya Terhadap Pengembangan UKM” bersama sejumlah media nasional dan daerah.
 Diskusi tentang “Pentingnya Investasi di Daerah dan Dampaknya Terhadap  pengembangan UKM” dilaksanakan di Hotel Savoy Homann-Bandung dengan menghadirkan Agus Pambagio (Pemerhati Kebijakan Publik), Gunaryo (Direktorat Jenderal Perdagangan Dalam Negeri), dan salahsatu wakil dari industri Binahidra Logiardi (Senior Manajer CSR Danone Aqua). Agus Pambagio menjabarkan efek investasi di sektor air mineral sebagai salahsatu contoh industri yang berkembang. Disusul dengan paparan Gunaryo mengenai peran Usaha Kecil Menengah (UKM) yang dapat menjadi penopang ekonomi daerah bila mendapat dukungan kuat dari industri. Sementara itu mewakili industri, Binahidra Logiardi menyampaikan tujuan keberlanjutan dari pemberdayaan masyarakat dan pengembangan UKM yang dilakukan PT Tirta Investama (Danone Aqua) untuk menjadi nilai tambah ekonomi masyarakat di daerah
 Upaya pemberdayaan masyarakat yang dilakukan Danone Aqua mungkin dapat dijadikan salahsatu inspirasi bagi dunia industri. Sebagai salahsatu pelaku industri, PT Tirta Investama, produsen air minum dalam kemasan Aqua melakukan sejumlah pemberdayaan masyarakat dan dukungan pengembangan UKM sebagai bagian dari kegiatan CSR Danone Aqua. Program CSR telah dilakukan Danone Aqua sebelum melakukan investasi di berbagai daerah melalui pembangunan pabriknya. Hal ini berbanding terbalik dengan kebiasaan investor yang baru mulai melakukan CSR ketika pabriknya sudah berdiri. “Danone Aqua melakukan kegiatan CSR sejak tahap perencanaan investasi. Hal ini secara tidak langsung menunjukkan keseriusan itikad baik Danone Aqua terhadap masyarakat untuk turut serta mengembangkan ekonomi masyarakat dan  daerahnya. Kami ingin menunjukkan kepada masyarakat tentang komitmen bisnis kami yang tidak semata melakukan usaha bisnis, tapi juga memiliki komitmen kuat terhadap pengembangan sosial lingkungan”, jelas Troy Pantouw (Direktur Komunikasi PT Tirta Investama).
 Tujuan peningkatan ekonomi masyarakat menjadi target dari kegiatan pemberdayaan masyarakat dan pengembangan UKM oleh Danone Aqua. Di wilayah Pasuruan tempat 2 lokasi pabrik Aqua berdiri menjadi salahsatu contoh dimana Tim CSR Danone Aqua bekerjasama dengan LSM membentuk kelompok-kelompok kerja. Salahsatunya kelompok kerja Jati Anom di Desa Karangjati yang mengelola sampah plastik menjadi sebuah kerajinan dan sampah organik menjadi kompos. Ada juga kelompok kerja lainnya dari warga desa yang terdiri dari kaum pria yang melakukan budidaya jamur tiram dan keripik. Contoh lain juga dilaksanakan di Desa Dayurejo dimana CSR Danone Aqua membantu pemberdayaan masyarakat sekitar lewat pengolahan sabun sereh, arang, dan budidaya tanaman kopi. Di daerah Kebon Candi, Danone Aqua juga membantu pertanian organik, peternakan sapi perah dan kambing etawa masyarakat sekitar.
Di luar dukungan pemberdayaan masyarakat di lapangan, beberapa pelatihan kerja berupa motivasi kewirausahaan, teknis kewirausahaan, pemberian bantuan modal awal, alat-alat, bahan baku hingga pendampingan juga dilakukan Danone Aqua dan LSM. Bahkan Danone Aqua bekerjasama dengan UKM di Pasuruan mengembangkan Koperasi bernama “Akar Daun” untuk keberlanjutan dan kemandirian kelompok kerja yang ada. Hal ini memudahkan pengembalian modal kerja sehingga dapat bermanfaat untuk pengembangan usaha masyarakat yang lainnya. Danone Aqua juga secara aktif memberikan media promosi bagi produk UKM tersebut dengan mengikutsertakan mereka dalam sejumlah pameran dalam skala regional.(*/veg)

26 Januari 2011

Kredit UMKM Jabar Masih Kecil

BANDUNG, TRIBUN - Terbukti, keberadaan usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM), yang berperan besar dalam sektor perekonomian, memang menjadi pangsa pasar bagi lembaga perbankan di tanah air. Karenanya, lembaga perbankan beramai-ramai menjadikan UMKM sebagai target pengembangan bisnis mereka.
Misalnya, melalui pengucuran kredit. Hal itu pun dilakukan seluruh lembaga perbankan di Jabar, baik yang dimiliki pemerintah daerah, BUMN, swasta nasional, maupun swasta asing.

Namun, pada kenyataannya, di Jabar, kucuran dana kredit bagi UMKM masih kecil. "Selama periode Januari-November 2010, nilai total kredit di Jabar yang dikucurkan perbankan sejumlah Rp 127 triliun. Alokasi bagi UMKM senilai Rp 38,9 triliun," tandas Kepala Kantor Bank Indonesia Bandung (KBIB), Lucky Fathul Fathul Aziz Hadibrata, di KBIB, Jalan Braga Bandung, Rabu (26/1).

Diutarakan, kredit senilai Rp 127 triliun itu, sekitar Rp 3 triliun di antaranya untuk revitalisasi industri tekstil dan produk tekstil (TPT) Jabar, yang menyerap 41,6 persen tenaga kerja.

Tentang kredit UMKM di Jabar, pria asal Ciamis ini meneruskan, melihat kondisi itu, sebenarnya, angkanya masih kecil. Persentasenya, sebut dia, sebesar 30,2  persen. Angka ini, ujar Lucky, masih jauh lebih kecil daripada pencapaian nasional, yaitu 50 persen.

"Untuk itu, tahun ini, kami tanpa kompromi, mendorong lembaga-lembaga perbankan di Jabar supaya menaikkan kucuran kreditnya kepada para UMKM. Target kami, naik minimalnya menjadi 30 persen. Nah, bagi lembaga perbankan yang berkantor pusat di Bandung, targetnya mencapai 58 persen," tegas Lucky.
(win)


Dorong UMKM, BI Gandeng Dinas KUMKM
BANDUNG, TRIBUN - Sampai saat ini, permasalahan dan kendala yang dialami para pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM), termasuk koperasi, dalam hal mendapatkan kredit perbankan, yaitu pada jaringan serta akses.
Kepala Kantor Bank Indonesia Bandung (KBIB), Lucky Fathul Aziz Hadibrata, di KBIB Jalan Braga Bandung, Rabu (26/1), memperkirakan, minimnya akses itu yang sepertinya menjadi dasar kehati-hatian para lembaga bank pelaksana, khususnya di Jabar, untuk mengucurkan kreditnya kepada para pelaku KUMKM.
Faktor lainnya, lanjut Lucky, dalam hal Non-Performance Loan (NPL) atau kredit bermasalah. Diutarakan, jika melihat Non-Performance Loan (NPL) atau kredit bermasalah sektor UMKM yang mencapai 6,22 persen, kemungkinan besar, faktor itu pun membuat lembaga-lembaga perbankan berhati-hati dalam mengucurkan kreditnya kepada UMKM. Sedangkan untuk total kredit, di Jabar, NPL mencapai 3,65 persen.
Padahal, sambung Lucky, sektor ini menjadi perhatian pihaknya. Agar penyaluran kredit bagi UMKM mengalami peningkatan, ujarnya, tahun ini, pihaknya meningkatkan kerjasama dengan berbagai stake holder, tidak terkecuali pemerintah daerah.
"Misalnya, bekerja sama dengan Dinas Koperasi dan UMKM (KUMKM) Jabar. Tujuannya, untuk membantu meningkatkan akses perbankan bagi para pelaku KUMKM, yang selama ini, memang terus menjadi kendala," paparnya.
Kerjasama dengan Dinas KUMKM itu, lanjutnya, juga termasuk dalam penyaluran Kredit Usaha Rakyat (KUR). Diungkapkan, di Jabar, penyaluran KUR oleh perbankan pada 2010 senilai Rp 4,5 triliun. Nilai itu, tuturnya, adalah yang ketiga terbesar setelah Jatim dan Jateng.
Selain itu, lanjutnya, pihaknya pun terus mendorong keberadaan Pusat Pengembangan Pendamping UKM (P-3 UKM). Program ini, jelasnya, adalah untuk meningkatkan kelayakan UMKM untuk mendapatkan suntikan kredit perbankan.  "Tahun lalu, realisasi kredit melalui P-3 UKM senilai Rp 190 miliar. Angka itu peruntukannya bagi sekitar 4.911 unit UMKM," jelasnya. (win)

Manajemen Kreatifitas UKM

Jaja Suteja
Penulis : 
1. Jaja Suteja (Ketua Program Studi Manajemen FE UNPAS, Anggota ISEI Kota Bandung)
2. Sadikun Citra Rusmana (Dosen Program Studi Manajemen FE UNPAS)

PENDAHULUAN
Situasi sulit dalam perekonomian Indonesia sejak pertengahan 1997 berdampak besar terhadap kinerja bisnis di Indonesia. Selama kurun waktu 1999 – 2003. Hasil Pemilu hanya membentuk pe 4757 merintahan yang dihasilkan melalui proses demokrasi, tapi belum menampilkan perbaikan kinerja, khususnya di bidang ekonomi. Besaran-besaran makro ekonomi memang terlihat stabil karena meskipun telah lepas dari IMF namun pemerintah masih terkait dengan program Post Monitoring, sehingga dalam masa itu stabilitas ekonomi makro relatif terjaga. Namun demikian, sektor usaha kecil nyata masih belum tersentuh upaya perbaikan.
Usaha kecil menengah (UKM) memiliki keandalan bertahan dalam situasi perekonomian yang sulit, namun demikian kinerjanya masih terbatas pada tingkat upaya mempertahankan standar usaha (survival performance). Kerentanan UKM dalam siklus bisnis dipengaruhi oleh dampak gejolak ekonomi baik dari  sisi permintaan maupun sisi penawaran. Tambunan (2002) menyatakan bahwa dampak sisi penawaran yang mempengaruhi UKM adalah Pasar Modal, Pasar Input, dan Pasar Tenaga Kerja. Sedangkan dampak sisi permintaan antara lain oleh Pasar Barang Jadi dan Pasar Barang Modal dan Keagenan.
Pasar modal tidak bersahabat kepada UKM karena biaya modal sangat tinggi sehingga pengusaha UKM sulit mengembalikan dana pinjaman karena skala ekonominya relatif kecil. Demikian pula  pasar input memberikan efek negatif kepada UKM karena bahan baku produk yang dihasilkan UKM masih banyak yang diimpor. Pasar tenaga kerja relatif menyediakan tenaga kerja dengan upah yang murah (karena penawaran tinggi), tapi UKM kurang merespon tenaga kerja ahli karena kemampuan membayar rendah, sehingga UKM masih menggunakan tenaga kerja yang kurang terdidik/terlatih. Dari sisi permintaan, UKM banyak memproduksi barang yang tingkat permintaannya rendah (inferior), diantaranya barang primer padahal pasar barang mengharapkan UKM menghasilkan produk sekunder yang sudah tersentuh teknologi (non-inferior).
Kondisi tersebut memunculkan suatu dorongan pengelola UKM meningkatkan kualitas kewirausahaan. Di Indonesia, awalnya dikenal istilah wira-swasta, yang kemudian mengalami perkembangan gejala bahasa menjadi istilah yang lebih populer yaitu “wirausaha” (entrepreneur). Entrepreneurship diterjemahkan menjadi kewirausahaan. Kewirausaha diartikan sebagai kemampuan seseorang dalam melaksanakan usaha mampu memulai dan atau menjalankan suatu usaha tertentu. Schumpeterian menyatakan kewirausahaan sebagai kemampuan mengelola bisnis berdasarkan kelangkaan sumberdaya. Sedangkan Cassonian menyatakan kewirausahaan sebagai keputusan bisnis berdasarkan kompetensi pelakunya.
Hubungan antara kewirausahaan dan wirausaha sangatlah erat. Kewirausahaan merupakan segala sesuatu yang menyangkut teknik, metode, sistem serta berbagai strategi bisnis umum yang dapat dipelajari tentang sukses atau mundurnya seorang wirausaha. Analisis hubungan antara keduanya dapat terkait pada masalah watak, perilaku, sikap, perkembangan kepribadian,sejarah kelompok, minat, motivasi dan ambisi seorang wirausaha dalam mencapai kesuksesannya.
Wirausaha bukanlah sekedar pengusaha, melainkan pengusaha sukses karena memiliki ciri-ciri serta kemampuan tertentu untuk menciptakan sesuatu yang baru. Pendapat Say dalam Muhandri Tjahja (2002) menyebutkan bahwa wirausaha adalah orang yang mampu melakukan koordinasi, pengorganisasian dan pengawasan. Wirausaha adalah orang yang memiliki pengetahuan yang luas tentang lingkungan dan membuat keputusan-keputusan tentang lingkungan usaha, mengelola sejumlah modal dalam menghadapi ketidakpastian untuk meraih keuntungan.
Menjadi seorang wirausaha, bukan sesuatu yang bersifat kebetulan. Ada berbagai faktor yang mempengaruhinya, baik yang bersifat inherent maupun dorongan yang bersifat kondisional. Paling tidak, ada 3 (tiga) kondisi yang berpengaruh secara signifikan (Muhandri Tjahja, 2002), yaitu: (a) Confidence modalities, (b) Tension modalities dan (c) Emotion modalities. Seorang wirausahawan dapat terbentuk karena lingkungan keluarga yang membesarkannya memiliki suatu budaya atau tradisi usaha yang kuat sehingga kondisi tersebut mengarahkan pada “Entrepreuner character building”. Namun demikian, tidak sedikit orang menjadi wirausahawan karena menguatnya suatu tension, sehingga ia tidak memiliki pilihan lain (just one option) untuk dapat bertahan hidup.
Wirausahawan memang sudah menjadi tujuan hidupnya, sehingga pada kondisi ini mereka betul-betul telah mempersiapkan diri untuk membangun suatu usaha sebagai jalan hdupnya, bukan merupakan suatu kebetulan, atau tidak adanya pilihan lain. Namun demikian, mungkin saja wirausahawan seperti ini berangkat dari keluarga pengusaha atau sebaliknya.
Suatu hasil studi empiris yang pernah dilakukan di Amerika dan di Indonesia menunjukkan bahwa mayoritas pengusaha yang sukses berasal dari keluarga dengan tradisi yang kuat dibidang usaha. Sehingga dapat dibuat suatu premis bahwa kultur atau budaya ber-wirausaha suatu keluarga atau suku atau bahkan bangsa sangat berpengaruh terhadap kemunculan wirausaha-wirausaha baru yang tangguh. Pendapat tersebut diperkuat dengan hasil studi empiris Sulasmi (1989) terhadap 22 orang pengusaha wanita di Bandung yang dijadikan sampel dan dipilih secara random, hasilnya menunjukkan bahwa kurang lebih 55% pengusaha tersebut memiliki keluarga pengusaha, hubungan keluarga tersebut berupa suami-istri, orang tua-anak atau saudara pengusaha). Kondisi demikian seperti yang dikemukakan oleh Tjahja sebagai confidence modalities, dimana tradisi keluarga besarnya telah mendorong orang didalamnya untuk menjadi wirausaha yang baru.
Pilihan menjadi wirausaha yang hanya sebagai alternatif terakhir banyak berujung pada kegagalan usaha. Hal ini karena lower self confidence level serta tradisi wirausaha yang tidak mengakar kuat pada karakter jiwanya. Seperti yang ditunjukkan oleh penelitian Mu’minah (2001) yang menyatakan bahwa terdapat 8 orang pengusaha paling sukses di daerah Pangandaran yang memulai usahanya karena keterpaksaaan, atau karena tidak adanya pilihan lain yang dapat dilakukan, faktor ini dikenal sebagai tension modalities.
WIrausaha mandiri juga dapat diwujudkan melalui pendekatan keilmuaan (akademik) mengenai dunia usaha, umumnya mereka mempersiapkan diri untuk menjadi wirausaha. Oleh karenanya, ada 2 (dua) kemungkinan seseorang ingin mewujudkan kewirausahaannya, yaitu: (i) seseorang langsung menjadi wirausaha dengan hanya merasa cukup memahami dasar-dasar keilmuwan usaha yang mereka miliki saat ini, dan (ii) memulai dengan bekerja terlebih dahulu untuk memahami dunia usaha secara riil. Kategori yang terakhir ini sering disebut sebagai  emotion modalities.
 Kenyataannya, sangatlah sulit bagi kita untuk mampu menanamkan aspek budaya/tradisi wirausaha pada generasi bangsa. Hal ini dibuktikan apabila kita menanyakan pada anak-anak dan orang tua, mereka umumnya akan mengagungkan profesi yang relatif bersifat risk averter, seperti menjadi: PNS, TNI, atau bekerja di perusahaan besar.
Kesadaran akan pentingnya untuk mendorong dan memberdayakan usaha kecil mulai disadari ketika krisis moneter tahun 1997 yang kemudian meluas menjadi krisis ekonomi melanda ibu pertiwi ini, dimana usaha skala besar terutama dalam bentuk (conglomeration) mulai tumbang satu per-satu. Sementara itu pada sisi lain, banyak usaha kecil (industri kecil) masih mampu bertahan, hal ini membuka mata pemerintah bahwa betapa sistem ekonomi pada masa lalu  terlalu memihak pada industri besarnya. Fenomena tersebut telah mendorong munculnya euphoria berkaitan dengan penciptaan dan pemberdayaan usaha kecil dan menengah [UKM].

MANAJEMEN KREATIVITAS DAN INOVASI USAHA
 Kegiatan wirausaha dasarnya adalah menciptakan sesuatu yang baru, produk baru, proses produksi baru, organisasi baru, manajemen baru, bahan baku baru, pasar baru, dan sesuatu yang baru yang dapat dikelola dengan tepat dalam kegiatan usaha. Dengan demikian, kewirausahaan itu selalu berkaitan dengan kreativitas dan inovasi. Ropke (1995), menyarankan adanya kesatuan fungsi kewirausahaan yang meliputi tiga level dorongan manajemen kewirausahaan, yaitu: Kewirausahaan Inovasi, Kewirausahaan arbitrase, dan Kewirausahaan Rutin. Sesuatu yang dihasilkan baru melalui proses inovasi harus dipertimbangkan berdasarkan pilihan arbitrase loss and benefit, dan apakah manajemen rutinnya mendukung proses penciptaan itu ? Dalam teori Schumpeter, kewirausahaan inovatif berhubungan dengan ketidakpastian yang dinamis karena hasil suatu inovasi tidak dapat diramalkan, di samping juga pemanfaatannya. Dengan demikian maka dalam melakukan fungsi kewirausahaan maka pilihan-pilihan (arbitrase) yang berdasar pada sifat-sifat kelangkaan sumberdaya perlu mempertimbangkan penghematan sumber-sumber ekonomi.
Robert & Weiss (1988) dalam Sadikun (2006) menggambarkan secara cerdas pemecahan masalah dan inovasi dalam kewirausahaan (gambar 1).  Dalam Gambar 1.a) pemecaham masalah dengan model Kanal hasil prestasi sama dengan prestasi sebelumnya. Dalam Gambar 1.b). inovasi baru menciptakan prestasi dan keuntungan pada level baru.
Pengelolaan UKM bisa berhasil dan berkembang apabila dorongan kreatifitas dan inovasinya selalu bergerak, dan bukan sekedar faktor keberuntungan (luck). Kreativitas adalah kemampuan untuk menciptakan gagasan baru dan menemukan cara baru dalam menyikapi masalah dan memanfaatkan peluang. Sedangkan inovasi adalah kemampuan menerapkan gagasan-gagasan baru atau pemecahan kreatif terhadap masalah dan dalam memanfaatkan peluang. Singkatnya, kreatifitas dan inovasi dianalogikan creativity – thingking new things, innovation – doing new things. (Yuyun Wirasasmita, 2002).
Kreativitas banyak diinterpretasikan dalam berbagai medium definisi. Scott (1995) memahami kreativitas berdasarkan jenisnya, yaitu murni dan terapan. De Bono (1992), mengartikulasikan kreativitas murni sebagai ekuivalen dengan kreativitas artistik (Jamal Bake, 2004)
Sementara itu, Joyce wycoff (1991) dalam sadikun (2006) menjabarkan makna kreativitas sebagai baru dan bermanfaat; suatu cara melakukan sesuatu dengan berbeda; unik; dan lebih baik. Menurutnya, kreatif berarti mampu menemukan solusi yang baru dan bermanfaat. Ciri yang terdapat dalam orang kreatif , menurut Joyce adalah adanya keberanian menghadapi tantangan dan risiko, ekspresif menyatakan pikiran dan perasaannya, nada humor ketika menggabungkan berbagai hal dengan cara baru dan bermanfaat, dan memiliki intuisi tinggi karena adanya eksplorasi dari otak kanan yang bersifat ritnmik dan imajinatif.
Jika pengelola UKM membutuhkan kemajuan usaha maka pembentukan manusia – manusia renaissance yang kreatif amatlah penting. Di zaman renaissance orang yang berpikir model Abad Pertengahan jauh tertinggal. Kini di Abad Informasi orang-orang yang masih brpikir seperti di Abad Pertengahan dan Era Industri terancam punah (Michael J. Gelb, 1998). Renaissance diilhami oleh  cita-cita kuno – kesadaran akan kemampuan dan kekuatan manusia dan hasrat terhadap kegiatan penemuan. Kini waktunya renaissanceuomo universale) sebagai pribadi yang seimbang dan memiliki kecerdasan intelektual dan fisik, dan nyaman bergaul dengan seni maupun ilmu. Uomo universale modern adalah manusia-manusia yang 1) memiliki pengetahuan tentang komputer; 2) memahami proses mental; dan 3) memiliki kesadaran secara global. mentranformasikan kekuatan dan kemampuan manusia untuk menghadapi tantangan jaman baru, termasuk tantangan menghadapi persaingan usaha yang dihadapi UKM. Gelb mengindikasikan manusia renaissance yang ideal (
Menurut Yuyun Wirasasmita (2002), kreativitas tidak selalu dihasilkan dari sesuatu yang tidak ada, seringkali merupakan perbaikan dari sesuatu yang telah ada. Mengingat wirausaha merupakan sumber pemikiran kreatif dan inovasi, maka alam pikiran wirausaha adalah :
  1. selalu memimpikan gagasan baru dengan selalu bertanya Why ? How ?
  2. selalu mencari peluang baru atau mencari cara baru untuk menciptakan peluang baru;
  3. berorientasi kepada tindakan ;
  4. pemimpi besar, meskipun mimpinya tidak selalu dapat direalisasikan ;
  5. tidak malu melakukan sesuatu, meskipun dari skala kecil ;
  6. tidak pernah berpikir menyerah, selalu mencoba lagi ; dan
  7. tidak pernah takut gagal.
PEMBELAJARAN KREATIVITAS
Kreativitas dapat dikembangkan dalam pengelolaan UKM melalui kiat-kiat pembelajaran kreativitas, sebab kreativitas tidak timbul secara instan tetapi diusahakan dengan menciptakan iklim yang dapat mendorong kreativitas. Yang paling penting adalah pemimpin perusahaan mendorong sikap keingintahuan (curiosity), dan melakukan pelatihan-pelatihan kreativitas untuk mencari peluang inovasi usaha.
Salah satu metode pengembangan kreativitas dalam manajemen pembelajaran intelijensia adalah Metode Mind mapping yang dirintis oleh Tony Buzan. Menurut Buzan & Buzan (2004), Peta Pikiran adalah ekspresi dari Pemikiran Radian yang merupakan fungsi alami dari pikiran manusia. Menggunakan teknik grafik yang berdaya guna yang menyediakan kunci universal untuk membuka potensi otak, sumber kreativitas. Peta pikiran mempunyai empat karakteristik penting, yaitu :
a)      subyek yang menjadi perhatian mengalam kristalisasi dalam citra sentral;
b)      tema utama dari subyek memancar dari citra sentral sebagai cabang-cabang ;
c)      cabang-cabang terdiri dari Citra Kunci atau Kata Kunci yang dituliskan di garis yang berasosiasi ;
d)      cabang-cabang ini membentuk struktur nodus yang berhubungan.
Peta pikiran (mind map) adalah langkah berikutnya dalam kemajuan dari pemikiran linier (satu dimensi), lewat lateral (dua dimensi), yang membantu  Radian (pemikiran multidimensi). Subyek peta pikiran dicontohkan hasil adopsi dari Buzan dan Konsep Kreativitas adopsi dari Joyce.

PENUTUP

Kesulitan yang dihadapi oleh UKM dalam pengelolaan usaha seringkali berbentuk hambatan-hambatan internal, yaitu bagaimana memberdayakan kapasitas kewirausahaan yang ada pada pemilik atau pengelola. Untuk menghadapi hambatan tersebut maka fungsi – fungsi kewirausahaan yang selama ini diimplementasikan perlu menggunakan dorongan kreativitas dan inovasi. Kreativitas dan inovasi diharapkan dapat memberikan solusi baru dalam memperkuat manajemen kewirausahaan UKM.
Salah satu bentuk pengembangan kreativitas dan inovasi yang berkembang saat ini dalam pembelajaran intelijensia adalah Mind Mapping (Pemetaan Pikiran). Dengan cara ini maka pengelola UKM dapat mengidentifikasi permasalahan yang dihadapi melalui pemikiran Radian berdasarkan konsep utama yang diidentifikasi.
DAFTAR PUSTAKA
Buzan, Tony & Barry. 2004. The Mind Map Book. BBC Worldwide Limited.
_____, Tony. ( a.b.  Tony Rinaldo). 2002. Use Your Head. Delapratasa
______, (a. b.  T. Hermaya). 2004. Head First.  10 ways to Tap into Your Natural Genius. Gramedia. Jakarta.
Gelb, Michael J. (a.b. T. Hermaya). 2002. How to Think Like Leonardo Da Vinci ; Seven Steps to Genius Every Day. Gramedia.
Jamal Bake. 2004. Pendekatan 4P Kreatif ; Pengertian dan Model Pengukuran Kreativitas dan Inovasi. Manajemen Usahawan Indonesia. April 2004.
Robert, M. & A. Weiss. 1988. The Innovation Frmula : How Organizations Turn Change into Opportunity. Cambride, Mass : Ballinger Publishing Company.
Ropke, J. 1977. Die Strategie der Innovation. Tubingen ; Mohr-Siebeck.
Sadikun Citra Rusmana, 2006. Makalah Kewirausahaan mandiri, dipesentasikan pada Program Studi manajemen, FE Unpas.
Tulus Tambunan. 2002. Ekonomi Usaha Kecil Menengah. Salemba4.
Wycoff, Joyce. 2002. (a.b. Rina S. Marzuki). Mind Mapping : Your Personal Guide to Exploring Your Creativity and Problem Solving. Kaifa.

Bisnis-Jabar.Com (Rubrik Tulisan ISEI)