Sedapnya Mie Ayam Sehat Warna-Warni WASEGI

Pengen merasakan kelezatan Mie Ayam ini ? Anda dapat merasakannya di Foodcourt Yogya Toserba Sukabumi Lantai 3

Galeri Online Produk UMKM Sukabumi

Sekarang cari oleh-oleh produk khas Sukabumi semakin mudah dengan telah diluncurkannya galeri/toko online lengkap produk UMKM Sukabumi. Anda bisa mengunjunginya di : www.ProdukSukabumi.com

Dinamika Bisnis Anda Bisa Ditampilkan Disini

Dinamika bisnis anda di Sukabumi dapat ditampilkan dalam website ini. Anda dapat mengirimkan informasi bisnis melalui alamat email : redaksi@bisnissukabumi.com

Dinamika Bisnis Anda Bisa Ditampilkan Disini

Dinamika bisnis anda di Sukabumi dapat ditampilkan dalam website ini. Anda dapat mengirimkan informasi bisnis melalui alamat email : redaksi@bisnissukabumi.com

Galeri Online Produk UMKM Sukabumi

Sekarang cari oleh-oleh produk khas Sukabumi semakin mudah dengan telah diluncurkannya galeri/toko online lengkap produk UMKM Sukabumi. Anda bisa mengunjunginya di : www.ProdukSukabumi.com

Tampilkan postingan dengan label Harga Sembako. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Harga Sembako. Tampilkan semua postingan

28 Januari 2012

Pemda Dinilai Lambat Antisipasi Kenaikan Harga Sembako

Sukabumi : Pengamat ekonomi Sukabumi, Pardomuan Simbolon, menilai pemerintah daerah (Pemda) Kota dan Kabupaten Sukabumi lambat atasi kenaikan harga Sembilan bahan pokok. Hingga kini, harga kebutuhan rumah tangga terus menggeliat naik tanpa adanya kontrol. Menurut Pardomuan, kenaikan harga beras hingga lebih 20%, paling lama terjadi dalam sejarah pergantian tahun, 
“Biasanya harga beras dikontrol hingga sepekan semenjak adanya kenaikan. Tetapi kali ini Pemda Kota maupun Kabupaten Sukabumi, seolah membiarkan. Seharusnya mereka jeli dengan melakukan Operasi Pasar (OP). Karena OP bisa mempengaruhi harga,” ungkapnya. 
Selain harga beras, katanya, harga sayur-mayur dan ikan basah juga mengalami kenaikan. Seharusnya, dengan sumber daya yang ada di pemerintah, Pemda cepat tanggap. “Jangan sampai kenaikan harga itu mengakibatkan rendahnya daya beli masyarakat, yang bisa mengakibatkan rendahnya perputaran ekonomi. Antara pelaku usaha dan konsumen adalah mata rantai yang harus dijaga. Pemerintah sebagai pengawas harus mengantisipasi,” tandasnya. 
Soal penyebab kenaikan harga akibat cuaca ekstrem, tuturnya, hanya persoalan teknis. Tetapi karena kurangnya antisipasi, maka isu itu dijadikan barang dagangan oleh para spekulan. “Sebenarnya stok beras di Kabupaten Sukabumi banyak. Namun karena tidak ada upaya pencegahan jual isu dari kalangan pelaku spekulan, maka para pelaku pasar ini leluasa memainkan harga,” terang Pardomuan. (NERACA)

25 Januari 2012

Dinas Indag Jabar Jamin Harga dan Pasokan Ayam Stabil

BANDUNG : Dinas Industri dan Perdagangan Jawa Barat menyatakan harga maupun pasokan ayam di Jawa Barat masih aman menyusul penerapan bea impor bahan baku pakan ternak oleh pemerintah. Kepala Dinas Indag Jabar Ferry Sofwan mengatakan tingginya harga pakan yang dikeluhkan peternak saat ini belum berdampak terhadap harga ayam di pasaran. “Belum berdampak karena sebetulnya pakan yang beredar masih pakan yang disimpan di gudang-gudang peternak. Mungkin, tiga bulan ke depan baru terasa dampaknya,” katanya hari ini. 
Dia menjelaskan ada dua komponen yang membuat harga ayam di tingkat pedagang jadi naik, yaitu harga pakan ayam dan harga DOC. “Meski diprediksi kenaikan bisa terjadi pada tiga bulan ke depan, tapi saya rasa kenaikannya tidak terlalu besar,” katanya. Dinas Indag Jabar memantau harga daging ayam di sejumlah pasar di Kota Bandung masih berkisar Rp25.400 per kg. Sementara PPAN Jabar mengungkapkan harga daging ayam di tingkat peternak sebesar Rp15.000 per kg. (Bisnis Jabar)

7 November 2011

Pasca Lebaran, Harga Daging Tetap Meroket

SUKABUMI -- Biasanya, sejumlah harga sembako mengalami penurunan pasca lebaran. Namun, hal ini tidak terjadi di Kota Sukabumi. Meski Hari Raya Idul Adha 1432 H telah dilakukan, ironisnya di semua pasar tradisional yang ada di Kota Sukabumi lonjakan harga masih tetap terjadi, alhasil membuat konsumen menjerit. Berdasarkan pantauan Radar Sukabumi di lapangan. Kenaikan harga terjadi sepekan terakhir ini. Kenaikan yang cukup signifikan terjadi pada jenis daging. Misalnya saja daging sapi dan daging ayam harganya terus meroket. 
Di Pasar Pelita Kota Sukabumi, daging sapi menembus angka Rp.70 ribu/kg. Padahal sebelumnya harga daging sapi di pasaran hanya Rp 60 rbu/kg. Sedangkan harga daging ayam potong masih tetap Rp25 ribu/kg dari harga awal Rp22 ribu/kg. Begitupun dengan harga daging kambing juga mengalami kenaikan dari harga Rp55 rbu/kg menjadi Rp65 ribu/kg. “Pada musim lebaran pasti harga daging mengalami kenaikan, dan sangat sulit sekali harga diturunkan,”ujar salah seorang pedagang daging di Pasar Pelita Kota Sukabumi, Parman (55). Pria yang sudah 15 tahun berjualan daging ini mengaku saat ini harga khususnya daging masih belum mengalami penurunan. “Kami tidak tahu kapan harga daging-daging ini akan turun. Toh sekarang pun lebarannya telah lewat tapi harga tetap belum ada perubahan alias belum turun. Saya ga berani menurunkan harga karena harga belinya juga sudah naik, nanti saya rugi dong,”bebernya. 
Kenaikan harga juga diikuti oleh melambungnya harga jual pada komoditi lainnya. Cabe merah misalnya harga semula Rp35 ribu/kg menjadi Rp40 ribu/kg. Begitupun dengan jenis cabe rawit terus melaju tinggi dari Rp20 ribu/kg menjadi Rp.25 ribu/kg. “Harga makin naik saja padahal kan sudah selesai lebarannya juga harusnya harga bisa turun. Saya sebagai masyarakat berharap dinas terkait Diskoperindag Kota Sukabumi membantu kami agar harga ini bisa ditekan pasca lebaran,”pungkas Elisa (29), seorang ibu rumahtangga yang tinggal di Parungseah Sukabumi. (cr2) 

9 Agustus 2011

Disperindag Kota Akan Stabilkan Harga Selama Ramadhan

Sukabumi – Dinas Koperasi, Perindustrian dan Perdagangan (Diskopperindag) Kota Sukabumi akan menggelar Bazar Murah Ramadan di tiap kecamatan. Rencananya, kegiatan untuk menyetabilkan harga di pasaran ini akan mulai dilaksanakan pada pekan kedua Ramadan 1432 Hijriah. “Dalam bazar murah Ramadan itu akan digelar di semua kecamatan di Kota Sukabumi. Masing-masing tiap kecamatan akan digelar bazar murah selama dua hari,” kata Kepala Bidang Perdagangan Diskopridag Kota Sukabumi, Wawan Darmawan kepada Radar Sukabumi. 
Disebutkan Wawan, tujuan bazar ini agar masyarakat dapat menikmati harga-harga sembako yang relatif murah. Di samping itu, dalam bazar tersebut akan dijajakan produksi UKM. “Untuk sekarang kan sejumlah harga sembako masih relatif stabil. Adapun ada kenaikan masih dalam batas kewajaran sehingga belum diperlukan operasi pasar (OP). Kendati demikian, bazar murah akan tetap dilaksanakan,” jelasnya. 
Sementara itu, Kepala Seksi Perlindungan Konsumen Diskopridag Kota Sukabumi, Enjen Ismail menambahkan, pihaknya akan memperketat pengawasan barang dan jasa di lapangan. Upaya ini untuk mengantisipasi beredarnya barang atau makanan kadaluarsa dan tidak layak konsumsi. “Memang sejauh ini dari hasil pengawasan belum ditemukan peredaran makanan atau minuman tak layak konsumsi. Namun, pada Ramadan ini dan Lebaran nanti pengawasannya akan diperketat,” tegasnya. 
Menyinggung mengantisipasi munculnya spekulan, kata Enjen, pihaknya juga akan memperketat pengawasan jalur distribusi. “Jangan sampai pada Ramadan dan Lebaran ini ada oknum atau spekulan yang memanfaatkan situasi,” tandasnya.(sri)

27 Januari 2011

Harga Cabai Mulai Turun

Radar Sukabumi -- Harga cabai merah di pasar tradisional di Kota Sukabumi mulai mengalami penurunan. Bahkan di beberapa kios sayur mayur di Pasar Gudang dan Tipar, harga cabai merah turun cukup signifikan. Harga cabai merah yang sepekan sebelumnya mencapai Rp 55 ribu/Kg hingga Rp 60 ribu/kg, turun dengan kisaran Rp40 ribu/kg. Diprediksi harga cabai akan terus mengalami penurunan seiring melimpahnya komoditi cabai di pasar-pasar tradisional di Kota Sukabumi. Begitupun harga cabai rawit mengalami kondisi serupa. Walaupun penurunan tidak signifikan, namun penurunan harga yang sebelumnya kisaran Rp70ribu/kg kini menjadi Rp40 ribu untuk cabai rawit merah dan Rp20 ribu/kg untuk cabai rawit hijau itu, cukup melegakan warga. Mereka menyambut gembira adanya penurunan harga. Diharapkan harga cabai yang sebelumnya sempat melonjak tajam dapat terus mengalami penurunan hingga harga normal.
“Kami sangat berharap harga cabai terus turun. Terus terang kami menyambut gembira mulai turunnya harga sayur mayur termasuk harga cabai. Beberapa hari lalu, kami sempat bingung dengan meroketnya harga cabe di pasaran. Diharapkan penurunan cabe hingga beberapa bulan mendatang,” ujar pedagang cabai di Pasar Gudang, muhtar (57), kemarin. (rp3)

20 Januari 2011

Harga Sayur Stabil, Petani Bergairah

KADUDAMPIT--Para petani di kawasan lahan pertanian di Kecamatan Kadudampit makin bergairah. Saat ini mereka tengah giat mengembangkan budidaya tanaman beragam sayuran. Beberapa sayuran yang tengah digiatkan adalah daun bawang dan beberapa sayuran organik lainnya. Komoditas sayur alternatif ini diminati para petani, karena pangsa pasarnya berorientasi ekspor sementara harganya di atas komoditas sayur. 
Akibatnya tingkat ekonomi petani sekitarpun cukup meningkat. Seperti Amirudin (57), petani asal Desa Sukamanis Kecamatan Kadudampit ini mengaku, permintaan pasar akan sayuran tetap tinggi, meski harganya kadang tak terkendali. Menurut dia, meskipun harga pembelian sayuran ditentukan oleh pedagang pengumpul, biasanya petani sayuran juga mengetahui kondisi harga sayuran di pasaran. "Supaya petani tidak dirugikan dengan naik-turunnya harga sayuran, saya hanya membayar uang muka kepada petani. Setelah harganya pasti, baru saya bayar lunas,"ujar Amir kepada Radar, kemarin. 
Lahan budidaya sayur juga saat ini diprediksi meluas, dimana kawasan di Kecamatan Kadudampit memang mayoritas lahannya masih kosong yang sebenarnya sangat layak untuk dijadikan lahan tanaman sayuran. 
Kepala Dinas Pertanian (Kadistan) Kabupaten Sukabumi, Sudrajat mengatakan, hasil sayuran di Kadudampit masih menjadi andalan. Hingga saat ini kata dia, pengiriman sayur Kabupaten Sukabumi ke luar daerah relatif normal, harga juga masih cukup baik."Meningkatnya minat petani melakukan budidaya tanaman sayur, karena keuntungannya menjanjikan ditambah kondisi struktur tanah yang cukup mendukung," terangnya.(wan)