Sedapnya Mie Ayam Sehat Warna-Warni WASEGI

Pengen merasakan kelezatan Mie Ayam ini ? Anda dapat merasakannya di Foodcourt Yogya Toserba Sukabumi Lantai 3

Galeri Online Produk UMKM Sukabumi

Sekarang cari oleh-oleh produk khas Sukabumi semakin mudah dengan telah diluncurkannya galeri/toko online lengkap produk UMKM Sukabumi. Anda bisa mengunjunginya di : www.ProdukSukabumi.com

Dinamika Bisnis Anda Bisa Ditampilkan Disini

Dinamika bisnis anda di Sukabumi dapat ditampilkan dalam website ini. Anda dapat mengirimkan informasi bisnis melalui alamat email : redaksi@bisnissukabumi.com

Dinamika Bisnis Anda Bisa Ditampilkan Disini

Dinamika bisnis anda di Sukabumi dapat ditampilkan dalam website ini. Anda dapat mengirimkan informasi bisnis melalui alamat email : redaksi@bisnissukabumi.com

Galeri Online Produk UMKM Sukabumi

Sekarang cari oleh-oleh produk khas Sukabumi semakin mudah dengan telah diluncurkannya galeri/toko online lengkap produk UMKM Sukabumi. Anda bisa mengunjunginya di : www.ProdukSukabumi.com

Tampilkan postingan dengan label industri kreatif. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label industri kreatif. Tampilkan semua postingan

26 Juli 2012

Kota Sukabumi Lima Besar Ekonomi Kreatif di Jabar

CIKOLE – Pemkot Sukabumi masuk ke nominasi lima besar Kota/Kabupaten di Jawa Barat (Jabar) dalam kategori pengembangan ekonomi kratif. Masuknya Kota Sukabumi tersebut dinilai oleh Pemerintah Provinsi Jabar telah melakukan upaya dalam mewujudkan pengembangan budaya kratif dalam mendorong pertumbuhan ekonomi yang bertujuan untuk kesejahteraan masayarakat di daerah. Hal tersebut diungkapkan oleh Kabid Ekonomi, Kurnia Ramdhani pada Badan Perencanaan Pembangunan Daerah (Bappeda) kota Sukabumi, beberapa waktu lalu. 
“Awalnya 15 Kota/Kabupaten, setelah dievaluasi oleh komite ekonomi jabar, muncul lima daerah yang layak di ajukan ke tingkat nasional salah satunya Pemkot Sukabumi. Adanya nominasi ini juga merupakan inisiatif dari kementrian bidang kesejahteraan rakyat,” terangnya. Lebih lanjut Kurnia mengatkan, di Kota Sukabumi terdapat 15 sektor pelaku ekonomi kreatif dengan jumlah pelaku sekitar 13.400 orang, di antaranya fesyen, film, musik, kerajinan, teknologi informasi, pasar barang seni, desain dan periklanan. “Tapi yang paling banyak di domisili yakni disektor kerajinan,” lanjutnya. 
Ketika disinggung faktor utama Pemkot Sukabumi masuk nominasi lima besar tersebut, Kurnia menuturkan bahwa kepedulian Pemkot Sukabumi untuk memajukan palaku ekonomi kreatif bisa dilihat dari segi masalah memberikan perijinan. “Ambil contoh, ketika akan digelar konser atau pertunjukan music di Kota Sukabumi pasti mudah, terus keberhasilan yang lainnya juga ketika pemutaran film, meskipun film tersebut local, namun pemkot memberikan kemudahan untuk menggunakan milik gedung pemerintah,” jelasnya. 
Dikatakannya, banyaknya pelaku ekonomi kreatif selain bias membantu penyerapan tenaga kerja, juga berdampak naiknya Laju Pertumbuhan Ekonomi (LPE) di Kota Sukabumi sebanyka 20 persen. “LPE kita dari 6,12 persen menjadi 6,32 persen,” pungkasnya.(nur) 

27 Januari 2012

Gubernur Jabar Bentuk Komite Pengembangan Ekonomi Kreatif

Dalam rangka lebih mengintensifkan pengembangan ekonomi kreatif, Pemerintah Provinsi Jawa Barat telah membentuk Komite Pengembangan Ekonomi Kreatif Jawa Barat. Hal ini tertuang dalam Surat Keputusan Gubernur Jawa Barat No. 500/Kep.146-Bapp/2012 tentang Komite Pengembangan Ekonomi Kreatif Jawa Barat tertanggal 12 Januari 2012 yag lalu. Komite ini dibentuk guna mendorong pembangunan ekonomi di Jawa Barat terutama di sektor ekonomi kreatif sebagai sektor yang potensial dan mempunyai dampak pengganda bagi pertumbuhan perekonomian Jawa Barat.
Selain itu juga, Komite yang diketuai langsung oleh Deny Juanda Puradimaja selaku Kepala Bappeda Jawa Barat ini diharapkan dapat menjadi wadah yang dapat menjembatani serta memfasilitasi berbagai pemangku kepentingan ekonomi kreatif di Jawa Barat. "Karenanya kepengurusan komite ini melibatkan seluruh komponen masyarakat terutama para penggerak ekonomi kreatif dari seluruh Kota/Kabupaten di Jawa Barat", imbuh Deny.
Ditambahkannya, dalam pelaksanaannya Komite ini ditugaskan untuk menyusun kebijakan pengembangan ekonomi kreatif Jawa Barat serta mengawal pelaksanaan rencana aksi pengembangan ekonomi kreatif Jawa Barat. Untuk itu, komite memiliki 2 fungsi utama yaitu  mengintermediasi pemangku kebijakan dan pelaku ekonomi kreatif serta memperkuat jaringan kerja dan koordinasi antarkomunitas kreatif setiap kota/kabupaten maupun dengan komunitas kreatif nasional dan internasional.


24 Januari 2012

Deri Kreasi Sulap Kayu Bekas Jadi Kerajinan Antik

Awalnya seorang pekerja biasa. Lama kelamaan dari kepiawaiannya mengolah kayu menjadi barang antik membuat Sukarta Atmaja (55) membuka bisnisnya sendiri. Kini bersama istrinya, Sukarta menghasilkan karya seni yang bernilai jual tinggi. Sekitar tahun 1982, di Kp. Cibatu Caringin Desa Neglasari Kecamatan Cisaat Kabupaten Sukabumi tampil sosok cekatan bernama Sukarta Atmaja (55). Ayah lima orang anak ini bersama isterinya Sri Mulyati(50) memulai usaha dibidang kerajinan tangan. Usahanya tersebut dinamakan Deri Kreasi. 
Diambil dari nama salah satu putranya dan hingga kini karyanya diminati dan dicari orang. Tak sedikit konsumen yang mengagumi karyanya tersebut. Bahkan, mereka pun rela mengeluarkan uang untuk memiliki karya yang disukainya. Ribuan produk laris terjual, membuat Deri Kreasi ini makin di minati para penyuka kerajinan tangan. Hingga akhirnya pesanan datang silih berganti, dibantu sekitar 20 orang pekerjanya, Sukarta setiap harinya melayani berbagai pesanan yang datang. Di tempat usahanya ini, ia menyulap bekas limbah (kayu,red) menjadi barang antik. Mulai dari nampan, tempat pisau, tempat gelas, rak buku, meja belajar juga meja telpon hingga papan catur. Semua selalu menjadi dambaan para penyuka kerajinan tangan mengingat bentuk yang unik dan harganya terjangkau serta memiliki kwalitas yang teruji. Berbagai jenis kerajinan tangan, dirinya ciptakan dengan idenya sendiri yang didapat secara alamiah. Hal inilah yang menyebabkan bentuk dan corak selalu unik.
”Saya menciptakan karya ini bukan meniru karya orang lain. Tapi senantiasa menciptakan bentuk baru untuk kesenangan pengunjung,”ujar Sukarta Atmaja. Untuk menghasilkan sebuah produk unggulan. Ia menyeleksi kayu sebagai bahan baku, kemudian dibentuk pola sesuai kebutuhan. Lalu dilakukan pemotongan dan proses penghalusan hingga pengecetan. Akhirnya barang siap dipasarkan. 
Deri Kreasi setiap harinya memproduksi ratusan produk. Kini usahanya makin melaju kencang terlebih setelah dirinya bermitra dengan tempat bernaungnya para pengrajin dalam wadah Dewan Kerajinan Nasional Daerah (Dekranasda). Segudang kegiatan pameran dan berbagai bantuan selalu didapatkannya. “Usaha Pak Sukarta ini melaju pesat. Apalagi setelah bermitra dengan Dekranasda. Pemerintah daerah senantiasa memfasilitasi dan mendukung kegiatan para pengrajin,”terang Kabid Koperasi Diskoperindag Kabupaten Sukabumi, Husni. ( Laporan – Esa Septi Juanda Ulfach – Radar Sukabumi)

29 September 2011

Asep Setiawan, Pengusaha Boneka Daur Ulang

Kreatifitas Asep Setiawan patut diacungi jempol. Limbah rumah tangga yang umumnya dibuang, malah dimanfaatkannya hingga bernilai uang. Dari mengolah limbah menjadi boneka, Asep kini memiliki industri rumah tangga yang mampu mempekerjaan sejumlah tetangganya. Warga Kebonjati RT 01/03 Kelurahan Sukakarya, Kecamatan Warudoyong Kota Sukabumi, Asep Setiawan (39) dengan kreatifitasnya mampu mengubah sampah rumah tangga menjadi hasil kerajinan yang mempunyai nilai jual tinggi. 
Dari sisa potongan-potongan kain di salah satu pabrik yang biasanya dibakar atau dibuang, tenyata menjadi nilai lebih bagi Asep. Dirinya mengawali menjadi pengrajin boneka tersebut, berkat salah satu temannya yang memberikan limbah pada saat dirinya sedang menganggur dan butuh kerjaan. “Awalnya saat saya menganggur, teman saya memberikan sisa potongan kain. Lalu, saya mencoba peruntungan dengan mengubahnya menjadi boneka. Hasilnya di luar dugaan produksinya hingga keluar kota yakni Bandung, Cianjur, Pelabuhanratu, Bogor dan lainnya,” ujar Asep. 
Dalam waktu sebulan dirinya memproduksi 1.000 boneka. Harganya variatif mulai Rp 6.000 sampai Rp 200 ribu tergantung jenis dan ukuran boneka. “Harga tergantung jenis ukuran dan model, model rumit lebih mahal,” imbuhnya Namun, dengan minimnya biaya usaha yang ditekuninya tidak ada kemajuan yang signifikan sejak 2002 sampai sekarang, sehingga dalam produksi tidak bisa optimal dengan peralatan seadanya yakni mesin jahit, gunting dan lainnya. “Kami gunakan peralatan yang seadanya, terkadang saya perbantukan tetangga,” tandasnya. 
Kini pembuatan boneka ini menjadi tumpuan bagi Asep dan pekerjanya untuk menghasilkan uang. Apalagi dengan prospek bisnis yang menjanjikan, Asep optimis usahanya ini akan terus berkembang. “Apalagi kalau pemerintah mau membantu mengembangkan usaha kami ini,” katanya. Asep mengeluhkan atas modal yang dimilikinya padahal banyak warga membantu dalam membuat kerajinan boneka tersebut, tapi untuk bahan dirinya sangat menyayangkan kurangnya perhatian Pemerintah. “Perhatian pemerintah kurang kami pun tidak bisa optimal untuk memberdayakan masyarakat sekitar,” harapnya.(*)

Oleh : Falah Kurnia Robbi

10 April 2011

Melihat Profil UKM Peserta Pameran Hari Jadi Kota Sukabumi

Sukabumi -- Penemuan kompor dengan bahan bakar spirtus yang diproduksi Sabrina Collection ini sekaligus untuk mengantisipasi krisis energi serta kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM), terutama setelah dilakukan pencabutan subsidi minyak tanah. Bagaimana ceritanya? 
Kenaikan harga minyak tanah dan sulitnya masyarakat mendapatkan bahan bakar itu, mengilhami Deni Solahudin (35) asal Kecamatan Warudoyong Kota Sukabumi, membuat kompor dengan bahan bakar spirtus.
Penemuan kompor dengan bahan bakar spirtus ini ternyata memiliki beberapa kelebihan dibanding kompor dengan bahan bakar minyak tanah. Selain lebih hemat, tidak berjelaga, kopor ini juga cepat panas.
"Kompor spirtus ini lebih aman dan apinya biru," kata Deni yang juga owner Sabrina Collection Sukabumi kepada Radar Sukabumi saat ditemui disela-sela pameran produk UKM dalam memperingati Hari Jadi Kota Sukabumi ke-97 di Gelanggang Olah Raga (GOR) Merdeka Kota Sukabumi, kemarin.
"Saya merintis pembuatan kompor spirtus ini sejak satu tahun lalu dan mempekerjakan masyarakat sekitar rumah,"ujarnya.
Kelebihan kompor ini, lanjut Deni hanya dengan memakai 1 liter spirtus, bisa dipakai untuk menanak nasi, menggoreng makanan, dan memasak air. Dan spirtus yang digunakan adalah spirtus berwarna putih.
"Pokoknya lebih murah dibanding minyak tanah,"imbuhnya.
Selain itu, harga spirtus lebih terjangkau yang harganya berkisar Rp 5000/liter dibanding minyak tanah non subsidi yang harganya mencapai Rp 9 ribu-10 ribu/liternya. Kompor ciptaannya tersebut dijual ke pasaran dengan harga Rp 50 ribu/unit.
"Dalam satu tahun kemarin saja, kami sudah bisa menjual hingga 500 kompor spirtus. Dan dipasarkan di Kota/Kabupaten Sukabumi, Bandung, Bogor, Jakarta hingga ke Madura,"terangnya.
Ketika ditanya lebih rinci mengenai kompor sprtus ini, Deni belum berani menyampaikan rahasia komponen di dalam kompor yang memiliki keunggulan dibanding kompor minyak tanah.
Sementara itu Kepala Dinas Koperasi Perindustrian dan Perdagangan (Kadiskoperindag) Kota Sukabumi, Dudi Fathul Jawad, pihaknya siap membantu pengembangan dan pemasaran kompor berbahan bakar spirtus ini. (*)

21 Maret 2011

Geliat Pengrajin Pipa Bakar (Mirip Kerjainan Kayu, Pertama di Sukabumi)

Cisaat -- Kerajinan yang masuk level Usaha Kecil Menengah (UKM) di Kabupaten Sukabumi, sepertinya tidak terbatas ragam dan jenisnya. Di Kecamatan Cisaat, kerajinan pipa bakar menjadi salah satu banyaknya kegiatan usaha yang bisa menghasilkan rupiah. Seperti apa kondisinya ?     
Ada banyak pipa paralon di kediaman Ilham Wirahadi Kusumah (40). Dari yang ukurannya masih utuh dan sudah dipecah menjadi beberapa bagian, pipa-pipa itu tersimpan di sekitar rumahnya, Kampung Cibolang Desa Cibatu Kecamatan Cisaat Kabupaten Sukabumi.
Hanya saja, pipa yang ia simpan bukan untuk mengalirkan air sebagaimana lazimnya fungsi sebuah pipa. Pipa di rumahnya, justru berfungsi mengalirkan rupiah sebagai penghasilannya kini.
Maklum, pria ramah ini sudah bergelut bertahun-tahun dengan industri kerajinan pipa bakar. Jika dilihat sepintas, hasil karyanya justru seperti karya-karya kerajinan kayu. Sebab, warna dan corak pipa yang ia olah, mirip dengan kerajinan kayu.
Ilham sendiri, mengawali usahanya itu dari keisengan. Berbekal jiwa seni, ia tekun mengubah pipa itu menjadi sebuah karya bernilai jual. Ada banyak produk yang ia mampu hasilkan ketika pipa-pipa tersebut diolah menjadi lentera, lampion, lampu etnik, juga aksesoris seperti gelang atau anting-anting.
"Awalnya memang hobi. Ketika mengamati benda-benda yang bisa digunakan tiap hari, saya terinspirasi bagaimana benda itu bisa digunakan tapi memiliki daya seni yang tinggi," seru Ilham.
Tak sulit menyulap pipa paralon menjadi produk berkualitas. Ilham mengaku, butuh ketelatenan dan kesabaran saat pipa itu akan dibentuk menjadi benda-benda siap pakai. "Bahan bakunya pun, tidak boleh bekas. Harus pipa baru. Itu penting agar tidak ada dampak terhadap konsumen. Coba kalau paralon bekas. Saya tidak mau konsumen terkena penyakit," terangnya.
Selain itu, kesabaran dan ketelatenan saja tak cukup. Butuh kreasi agar waktu masuk proses pembakaran, warna pipa itu memiliki warna yang mencolok bak kerajinan kayu.
"Ketika dibakar di atas suhu 50 derajat, kita butuh kecermatan agar tiap corak itu bisa memiliki seni. Sebab, selain fungsi, warna pipa usai dibakar itu lah yang menjual," bebernya.
Ilham sendiri mengklaim jika usaha pipa paralon bakar itu pertama di Sukabumi. "Kita pelopornya. Sebab, banyak konsumen yang membeli kerajinan saya itu, aneh dan heran duluan. Kata mereka, saya baru melihat kerajinan ini," kata Ilham menirukan ucapan yang sering ia dengar dari konsumennya di berbagai daerah. (*)  
   

 

9 Maret 2011

Intan Hermina, Melukis di Bahan Kain Dengan Tusuk Gigi

Radar Sukabumi -- Melukis lazimnya menggunakan kuas sebagai alat membentuk objek lukisan di kanvas. Jika alat yang difungsikan sebagai kuas adalah tusuk gigi, sepertinya pelukis bakal kesulitan. Namun tidak demikian bagi Intan Hermina. Ia justru mampu menghasilkan karya lukisan yang lebih indah dan rapih dengan tusuk gigi sebagai kuasnya. 
Gambar King dan Queen (Raja dan ratu, red) pada kartu bridge adalah objek yang dipilih Intan untuk dilukis pada kaos oblong putih sebagai medianya. Ketika penulis menyambanginya di kediamannya di Gang Pelukis, Desa Sukamanah Kecamatan Cisaat. Nama Gang Pelukis ini diketahui hanya kebetulan saja karena ternyata di gang tersebut tidak banyak pelukis, kecuali Intan. Saat itu, lukisan Kingnya sudah hampir rampung. Tampak jelas, Intan tengah menyelesaikan lukisannya. Dengan teliti Ia memindahkan cat ke kaos yang jadi media lukisan itu, menggunakan tusuk gigi.
 Yah, benda yang umumnya digunakan setelah makan itu, justru menjadi alat yang sangat berfungsi bagi Intan. Dengan tusuk gigi ini, dara kelahiran Sukabumi 17 Mei 1985 ini mengaku tusuk gigi sangat membantu ketika dirinya melukis objek-objek yang terstruktur dan presisi. "Atau pas lagi bikin garis-garis, cocok banget pakai tusuk gigi," katanya.
Sebenarnya, tusuk gigi ini lebih sering digunakan melukis pada saat tertentu saja, seperti disebutkan tadi. Namun kadang kala, Intan menyelesaikan satu lukisan full menggunakan tusuk gigi. "Memang butuh waktu agak lama tapi hasilnya bagus. Itu pun ketika saya melukis objek yang kecil atau sederhana saja. Kalau banyak, saya tetap pakai bantuan kuas," tuturnya.
Melukis menggunakan tusuk gigi ini sebenarnya baru beberapa pekan terakhir dilakukan Intan. Inspirasi itu berawal dari prinsipnya selama ini, membuat lukisan yang rapih dan bersih. Dengan kuas pun, diakuinya bisa menghasilkan lukisan seperti itu. "Saya juga tidak tahu persis bagaimana awalnya. Cuma waktu itu, tiba-tiba muncul dalam pikiran saya membayangkan lukisan yang rapih jika menggunakan tusuk gigi. Akhirnya saya mencoba dan ternyata bisa, hasilnya pun memuaskan," katanya.

Karya Putri Sukabumi, Justru Ditampung Pemkot Jakbar
Jika melihat dari lamanya bergelut dengan dunia seni lukis, Intan Hermina bisa disebut pemain anyar. Hobi melukis ini baru sekitar tiga tahun terakhir digelutinya. Namun karyanya sudah ratusan bahkan ribuan. Berbeda dengan pelukis yang melukis di kanvas, Intan justru melukis di baju, tas atau sepatu untuk kemudian dijual.
Selama ini, hobi melukis dimaksimalkan Intan agar menghasilkan uang. Yaitu dengan melukis baju, tas, sepatu, topi dan lainnya. Berbagai hasil karyanya sudah dipasarkan bukan hanya di Sukabumi, tapi hingga ke wilayah Jabodetabek. Termasuk lewat internet dengan memanfaatkan jejaring sosial.
Untuk wilayah Sukabumi, baju dan tas yang bermotif lukisan karya Intan itu dipasarkan di Gerai Dekranasda, Kecamatan Cisaat. Di pusat kerajinan tangan itu, karya Intan yang dipajang ditandai dengan tulisan 'Handmade by Invalenti'. Harganya bervariasi, mulai Rp80 ribu sampai Rp150 ribu. Tergantung jenis dan lukisan di tas atau baju. "Kalau lukisannya agak susah bikinnya, mungkin lebih mahal. Kalau yang sederhana tentu lebih murah," katanya.
Beberapa konsumen yang menginginkan gambar atau lukisan tertentu di bajunya, bisa terlebih dulu memesan. Baik motif maupun ukuran baju/tas serta warna. Lagi-lagi harganya disesuaikan tingkat kesulitan lukisan. "Soal harga saya tidak terlalu mematok standar, relatif. Saya lebih mengedepankan kualitas lukisan. Termasuk memastikan lukisan di baju tidak luntur atau rusak karena dicuci," ujarnya berpromosi.
 Selain dipasarkan di lokalan Sukabumi, produk bermotif lukisan Invalenti juga merambah ke luar daerah bahkan luar pulau Jawa. Pemasarannya via internet. Namun untuk pemesan dari luar ini biasanya dikenakan tambahan ongkos kirim.
Dalam beberapa kesempatan, Intan juga kerap mengikuti pameran potensi daerah. Seperti yang diikuti beberapa bulan lalu di Jakarta. Namun ketika itu bukan membawakan nama Kabupaten Sukabumi karena karya-karya lukisan Intan ternyata justru menarik minat Pemkot Jakarta Barat, sementara dari Pemkab Sukabumi sendiri sejauh ini nihil perhatian. "Itu setelah pihak Dinas Pariwisata Jakbar tertarik melihat karya-karya saya di internet," tuturnya.
Kelebihan Intan melukis baju, tas dan aksesoris lainnya ini memang terbilang langka karena umumnya gambar atau motif di baju hasil percetakan. Hal inilah yang diakui Intan menarik minat Pemkot Jakarta Barat mengajaknya kerja sama dalam pameran potensi daerah itu. "Jadi baju-baju hasil lukisan saya justru menjadi aset atau potensi daerah Jakbar," imbuhnya.(*)

22 Februari 2011

Omset Boink Naik 30 Persen

Radar Sukabumi -- Boink Outlet di Super Mall Kota Sukabumi, siap bersaing dalam ketatnya kompetisi fashion saat ini. Banyak cara dilakukan pengelola Boink untuk menarik minat masyarakat.
Di tahun 2011 ini, pengelola pun mengadakan diskon untuk mendongkrak penjualan. Hingga kemarin, omset mereka naik 30 persen dan jumlah pengunjung pun meningkat hingga sepuluh persen.
Store Head Boink Outlet Sukabumi, Heny Nurmela mengatakan, mereka selalu membuat program dan even-even besar seperti hari raya dan tahun baru. Mereka biasanya menggelar diskon mulai dari pakaian hingga aksesoris, seperti yang dilakukan saat ini.
" Sekarang, kami beri diskon mulai 10 hingga 20 persen untuk semua jenis barang (all item,red)," ujarnya kepada Radar Sukabumi yang juga menambahkan bahwa mayoritas produk yang ditawarkannya untuk kawula muda Sukabumi Metropolis.
Perempuan ramah ini menjelaskan, barang yang tersedia di Boink di antaranya kaus, jeket, sepatu, tas, kemeja,hingga aksesori seperti jam tangan , kalung, gelang dan dompet KW.
" Untuk semua item, harganya relatif murah dan kualitasnya tetap dijaga. Seminggu sekali pasti ada barang baru," paparnya.
Jumlah pengunjung Boink,sambungnya, meningkat sepuluh persen setelah mengadakan program diskon ini. Omset mereka pun naik 30 persen. "Kami terus mengadakan diskon di tiap even untuk meningkatkan traffic pengunjung dan omset," pungkas Heny sambil tersenyum. (sri)

8 Februari 2011

Kondisi Home industri Sukabumi, Sejahtera Logam

Radar Sukabumi -- Membuka lahan usaha untuk meningkatkan daya kreatifitas dan membatu tetangga, agar menjadi orang yang produktif adalah harapan besar bagi owner Sejahtera Logam Sukabumi , Fudin Saefudin. Dengan kondisi ekonomi yang semakin pesat akan kebutuhan barang logam, menjadi sebuah solusi bagi Fudin untuk menjalankan usahanya menjadi industri rumahan (home industri,red). 
Memproduksi barang untuk berbagai kebutuhan dengan berbahan baku kuningan, aluminium, seng dan tembaga merupakan sebuah jalan usaha yang dilakukan oleh Sejahtera Logam Sukabumi. Usaha yang mulai dirintis sejak tahun 1992 tersebut, banyak memproduksi barang untuk berbagai kebutuhan. Mulai dari aksesoris kendaraan hingga kebutuhan rumah tangga. Dalam produksinya perusahaan rumahan yang dikelola Fudin Saefudin, masih berada dibawah lisensi perusahaan besar ternama yang selalu bekerja sama dalam memenuhi pasokan kebutuhan perusahaan rekan bisnisnya. " Sejak berdiri sampai sekarang, kami selalu memperhatikan kualitas. Lagipula jika bersaing dengan harga pasar dengan item yang semakin banyak, mungkin kami akan sulit berproduksi. Sehingga kerjasama dengan perusahaan besar dalam pembuatan produk ini, menjadi pilihan kami agar terus beroperasi," ujar Owner Sejahtera Logam Sukabumi, Fudin Saefudin kepada Radar Sukabumi. Perusahaan yang beralamat di Jalan Suryakencana 1 Desa Nagrak Kecamatan Cisaat Kabupaten Sukabumi ini, telah banyak memproduksi barang-barang logam. Seperti, klem tinggi langsung, klem tinggi tutup, klem tinggi oval, klem pendek, klem T belah, amres tangan kursi, klem pojokan, stoper unit, bull spions, tarikan pintu bis, tarikan pintu angkot, mercedes logo 5 inch, strine clem 50-70 cm, suspention clem, pararel groop, t-doze, ring ban bulat, ring ban oval, nap gear, dan step motor. " Biasanya produk yang kami buat adalah hasil pesanan. Sebab, kami sudah menjalin kerjasama khusus dengan perusahaan besar penyedia barang sparepart. Baik dengan industri mobil, motor maupun perusahaan listrik," terangnya. Menurut Fudin, hal itu dilakukan lantaran dirinya masih kewalahan dalam pemasarannya. Salah satunya dalam segi pengurusan ijin yang dapat memakan biaya yang lebih mahal. " Sedangkan untuk produksi under-license (di bawah pengawasan,red) perusahaaan pemesan baranglah yang menanggung pajak maupun pengawasan kontrolnya," tuturnya. Perusahaan yang telah mempekerjakan enam orang pegawainya yang berasal dari warga sekitar tersebut, selalu memperhatikan keselamatan kerja dan pada saat produksi barang dirinya mengupayakan agar tingkat kebisingan tidak mengganggu tetangga disekitarnya. Perusahaan rumahan ini juga embuat corong khusus, agar dapat membuang limbah asap siasa produksi tidak menggangu lingkungan dan warga sekitar. " Untuk limbah barang seperti sisa rautan mesin, kami kumpulkan lalu kami jual dan jika sedang ada waktu senggang kami selalu upayakan untuk meleburnya kembali. Kualitas produk rumahan kami telah diakui perusahaan yang telah meraih International Organization for Standardization (ISO). Hanya dengan kualitas prima, saya yakin perusahaan ini akan berjalan maksimal dalam pengelolaannya," jelasnya. Lagipula untuk memproduksi barang yang berkualitas ISO, home industri Sejahtera Logam banyak memberdayakan siswa lulusan SMK. Selain memproduksi untuk perusahaan besar Sejahtera Logam juga menerima tawaran perorangan. Hal ini dilakukan untuk membantu memenuhi target omset yang telah ditetapkannya. Sebab pada bulan-bulan tertentu penjualan barang logam akan mengalami penurunan seperti yang terjadi di bulan Januari dan Februari. " Saya selalu menerima pesanan pribadi baik yang berbentuk gambar maupun contoh barang. Untuk terus berproduksi, saya juga harus pandai membuat pelanggan nyaman. Untuk pesanan gambar biasanya memerlukan waktu hingga tiga bulan," pungkasnya. (*) 

Radar Sukabumi -- Owner Sejahtera Logam Sukabumi, Fudin Saefudin menjalankan usahanya untuk industri rumahan (home industri,red) dalam penyediaan barang logam. Dalam menjalan roda perusahaan yang dirintisnya sejak tahun 1992 tersebut.
Menjalani usaha dibidang industri logam, memang tidak banyak orang yang ikut berkecimpung dalam bisnis satu ini. Hal tersebut bagi Owner Sejahtera Logam Sukabumi , Fudin Saefudin menjadi sebuah peluang usaha yang bisa dilakoninya bersama keluarga tercinta.
" Ya, bisnis yang kami memproduksi adalah barang untuk berbagai kebutuhan, dengan berbahan baku kuningan, aluminium, seng dan tembaga," kata Owner Sejahtera Logam Sukabumi, Fudin Saefudin.
Lagipula untuk memproduksi barang yang berkualitas ISO, home industri Sejahtera Logam banyak memberdayakan siswa lulusan SMK. Sebab usaha yang dirintis oleh Fudin bersama istri nya ini memang sangat layak, dan dapat dijadikan sebuah tempat untuk mendapatkan produk yang secara pasar distribusi spare part tidak akan ditemukan.
" Saya selalu menerima pesanan pribadi, baik yang berbentuk gambar maupun contoh barang. Untuk terus berproduksi, saya juga harus pandai membuat pelanggan nyaman. Untuk pesanan gambar biasanya memerlukan waktu hingga tiga minggu. Dan untuk pengelolaan admisnitrasi saya selalu dibantu oleh istri tercinta," paparnya.
Hal ini dilakukan Fudin sebagai upaya untuk lebih mengenalkan istrinya, dengan berbagai bisnis yang terus digeluti suaminya selama ini. Pria yang juga sering mengisi pengajian tersebut ternyata memiliki rasa kepedulian sosial yang tinggi, dan sangat mencintai lingkungan. Hal tersebut terbukti dengan pengupayaan agar limbah sisa produksi tidak mencemari lingkungan maupaun menggagu kenyaman tetangganya.
" Tempat saya produksi ini sangatlah padat penduduk, sehingga untuk menjaga keharmonisan bersama tetangga. Keselamatan kerja dan penangan limbah merupakan hal yang penting," ujarnya.
Sebab Sejahtera Logam sebagai perusahaan yang mempekerjakan enam orang pegawai tersebut. Memiliki corong yang tinggi, dan tempat pengumpulan limbah dana alat peleburan limbah aluminium yang lumayan berpotensi jika dikembangkan. Sebab setiap limbah dari sisa-sisa produksi barang tambang yang menjadi barang metal itu, harus melalui pengolahan yang profesional. Bahkan bagi Fudin keselamatan kerja dan pada saat produksi barang dirinya  mengupayakan agar tingkat kebisingan tidak mengganggu tetangga disekitarnya merupakan hal terpenting.
Banyak langkah yang dilakukan karena hasil diskusi berdua, dalam menginovasi sejumlah langkah kerja perusahaan. Untuk masalah limbah barang seperti sisa rautan mesin, dikumpulkan lalu dijual dan jika sedang ada waktu senggang selalu upayakan untuk meleburnya kembali. Hal ini adalah saran dari istri tercintanya. Perusahaan rumahan yang memiliki kualitas produk International Organization for Standardization (ISO), terus berupaya untuk menampilkan produk unggulnya.
"Saya yakin hanya dengan kualitas prima, saya yakin perusahaan ini akan berjalan maksimal dalam pengelolaannya," pungkasnya. (*) 

31 Januari 2011

Geliat Bisnis Lukisan Kota Sukabumi

Radar Sukabumi -- Seni merupakan keindahan bagi yang menikmatinya. Curahan ekspresi jiwa adalah kepuasan bathin. Demikian halnya yang dialami para seniman muda metropolis. Mereka menganggap bahwa harga dari hasil karyanya bukan segalanya. Sesuatu yang terpenting bagi mereka adalah kepuasan jiwa dalam berekspresi. Sekelompok pelaku seni yang tergabung dalam Komunitas Perintis Kota Sukabumi, mengaku bahwa aktifitas yang dilakoni pada awalnya semata-mata hanyalah hobi. Sebagian dari mereka adalah aliran realis, dengan lukisan poto sebagai bentuk karyanya. "Aktivitas yang kami lakoni berawal dari hobi. Dengan hasil lukisan yang kami buat, ahli seni menyebut karya kami beraliran realis," tutur salah seorang seniman, Abdi Isme (30), sarjana lulusan Universitas Mercubuana Jakarta ini, kepada Radar Sukabumi kemarin sore.
Abdi yang sekarang masih lajang, mulai menekuni seni lukis poto tersebut semenjak usia tujuh belas tahun. Kepiawaiannya didapatkan secara alamiah. "Secara otodidak, kami bisa melukis poto ini," ujarnya sembari menggoreskan kwasnya di atas kertas. Dirinya mampu membuat sebuah lukisan pada ukuran kertas 30cm x 40cm, dalam waktu sehari. Bahkan dengan durasi 10 menit, dirinya mampu membuat sebuah gambar sketsa atau pun karikatur. Untuk lukisan poto, seharga Rp150 ribu biasa orang membayarnya. Lukisan poto hasil karya mereka mampu terlihat asli bak pemiliknya."Dengan karkul dan konte, dengan goresan hitamnya insya Allah lukisan orang yang kami buat akan sama persis dengan pemilik foto," jelas teman Abdi yang bernama Aris.(rp2)

26 Januari 2011

Manajemen Kreatifitas UKM

Jaja Suteja
Penulis : 
1. Jaja Suteja (Ketua Program Studi Manajemen FE UNPAS, Anggota ISEI Kota Bandung)
2. Sadikun Citra Rusmana (Dosen Program Studi Manajemen FE UNPAS)

PENDAHULUAN
Situasi sulit dalam perekonomian Indonesia sejak pertengahan 1997 berdampak besar terhadap kinerja bisnis di Indonesia. Selama kurun waktu 1999 – 2003. Hasil Pemilu hanya membentuk pe 4757 merintahan yang dihasilkan melalui proses demokrasi, tapi belum menampilkan perbaikan kinerja, khususnya di bidang ekonomi. Besaran-besaran makro ekonomi memang terlihat stabil karena meskipun telah lepas dari IMF namun pemerintah masih terkait dengan program Post Monitoring, sehingga dalam masa itu stabilitas ekonomi makro relatif terjaga. Namun demikian, sektor usaha kecil nyata masih belum tersentuh upaya perbaikan.
Usaha kecil menengah (UKM) memiliki keandalan bertahan dalam situasi perekonomian yang sulit, namun demikian kinerjanya masih terbatas pada tingkat upaya mempertahankan standar usaha (survival performance). Kerentanan UKM dalam siklus bisnis dipengaruhi oleh dampak gejolak ekonomi baik dari  sisi permintaan maupun sisi penawaran. Tambunan (2002) menyatakan bahwa dampak sisi penawaran yang mempengaruhi UKM adalah Pasar Modal, Pasar Input, dan Pasar Tenaga Kerja. Sedangkan dampak sisi permintaan antara lain oleh Pasar Barang Jadi dan Pasar Barang Modal dan Keagenan.
Pasar modal tidak bersahabat kepada UKM karena biaya modal sangat tinggi sehingga pengusaha UKM sulit mengembalikan dana pinjaman karena skala ekonominya relatif kecil. Demikian pula  pasar input memberikan efek negatif kepada UKM karena bahan baku produk yang dihasilkan UKM masih banyak yang diimpor. Pasar tenaga kerja relatif menyediakan tenaga kerja dengan upah yang murah (karena penawaran tinggi), tapi UKM kurang merespon tenaga kerja ahli karena kemampuan membayar rendah, sehingga UKM masih menggunakan tenaga kerja yang kurang terdidik/terlatih. Dari sisi permintaan, UKM banyak memproduksi barang yang tingkat permintaannya rendah (inferior), diantaranya barang primer padahal pasar barang mengharapkan UKM menghasilkan produk sekunder yang sudah tersentuh teknologi (non-inferior).
Kondisi tersebut memunculkan suatu dorongan pengelola UKM meningkatkan kualitas kewirausahaan. Di Indonesia, awalnya dikenal istilah wira-swasta, yang kemudian mengalami perkembangan gejala bahasa menjadi istilah yang lebih populer yaitu “wirausaha” (entrepreneur). Entrepreneurship diterjemahkan menjadi kewirausahaan. Kewirausaha diartikan sebagai kemampuan seseorang dalam melaksanakan usaha mampu memulai dan atau menjalankan suatu usaha tertentu. Schumpeterian menyatakan kewirausahaan sebagai kemampuan mengelola bisnis berdasarkan kelangkaan sumberdaya. Sedangkan Cassonian menyatakan kewirausahaan sebagai keputusan bisnis berdasarkan kompetensi pelakunya.
Hubungan antara kewirausahaan dan wirausaha sangatlah erat. Kewirausahaan merupakan segala sesuatu yang menyangkut teknik, metode, sistem serta berbagai strategi bisnis umum yang dapat dipelajari tentang sukses atau mundurnya seorang wirausaha. Analisis hubungan antara keduanya dapat terkait pada masalah watak, perilaku, sikap, perkembangan kepribadian,sejarah kelompok, minat, motivasi dan ambisi seorang wirausaha dalam mencapai kesuksesannya.
Wirausaha bukanlah sekedar pengusaha, melainkan pengusaha sukses karena memiliki ciri-ciri serta kemampuan tertentu untuk menciptakan sesuatu yang baru. Pendapat Say dalam Muhandri Tjahja (2002) menyebutkan bahwa wirausaha adalah orang yang mampu melakukan koordinasi, pengorganisasian dan pengawasan. Wirausaha adalah orang yang memiliki pengetahuan yang luas tentang lingkungan dan membuat keputusan-keputusan tentang lingkungan usaha, mengelola sejumlah modal dalam menghadapi ketidakpastian untuk meraih keuntungan.
Menjadi seorang wirausaha, bukan sesuatu yang bersifat kebetulan. Ada berbagai faktor yang mempengaruhinya, baik yang bersifat inherent maupun dorongan yang bersifat kondisional. Paling tidak, ada 3 (tiga) kondisi yang berpengaruh secara signifikan (Muhandri Tjahja, 2002), yaitu: (a) Confidence modalities, (b) Tension modalities dan (c) Emotion modalities. Seorang wirausahawan dapat terbentuk karena lingkungan keluarga yang membesarkannya memiliki suatu budaya atau tradisi usaha yang kuat sehingga kondisi tersebut mengarahkan pada “Entrepreuner character building”. Namun demikian, tidak sedikit orang menjadi wirausahawan karena menguatnya suatu tension, sehingga ia tidak memiliki pilihan lain (just one option) untuk dapat bertahan hidup.
Wirausahawan memang sudah menjadi tujuan hidupnya, sehingga pada kondisi ini mereka betul-betul telah mempersiapkan diri untuk membangun suatu usaha sebagai jalan hdupnya, bukan merupakan suatu kebetulan, atau tidak adanya pilihan lain. Namun demikian, mungkin saja wirausahawan seperti ini berangkat dari keluarga pengusaha atau sebaliknya.
Suatu hasil studi empiris yang pernah dilakukan di Amerika dan di Indonesia menunjukkan bahwa mayoritas pengusaha yang sukses berasal dari keluarga dengan tradisi yang kuat dibidang usaha. Sehingga dapat dibuat suatu premis bahwa kultur atau budaya ber-wirausaha suatu keluarga atau suku atau bahkan bangsa sangat berpengaruh terhadap kemunculan wirausaha-wirausaha baru yang tangguh. Pendapat tersebut diperkuat dengan hasil studi empiris Sulasmi (1989) terhadap 22 orang pengusaha wanita di Bandung yang dijadikan sampel dan dipilih secara random, hasilnya menunjukkan bahwa kurang lebih 55% pengusaha tersebut memiliki keluarga pengusaha, hubungan keluarga tersebut berupa suami-istri, orang tua-anak atau saudara pengusaha). Kondisi demikian seperti yang dikemukakan oleh Tjahja sebagai confidence modalities, dimana tradisi keluarga besarnya telah mendorong orang didalamnya untuk menjadi wirausaha yang baru.
Pilihan menjadi wirausaha yang hanya sebagai alternatif terakhir banyak berujung pada kegagalan usaha. Hal ini karena lower self confidence level serta tradisi wirausaha yang tidak mengakar kuat pada karakter jiwanya. Seperti yang ditunjukkan oleh penelitian Mu’minah (2001) yang menyatakan bahwa terdapat 8 orang pengusaha paling sukses di daerah Pangandaran yang memulai usahanya karena keterpaksaaan, atau karena tidak adanya pilihan lain yang dapat dilakukan, faktor ini dikenal sebagai tension modalities.
WIrausaha mandiri juga dapat diwujudkan melalui pendekatan keilmuaan (akademik) mengenai dunia usaha, umumnya mereka mempersiapkan diri untuk menjadi wirausaha. Oleh karenanya, ada 2 (dua) kemungkinan seseorang ingin mewujudkan kewirausahaannya, yaitu: (i) seseorang langsung menjadi wirausaha dengan hanya merasa cukup memahami dasar-dasar keilmuwan usaha yang mereka miliki saat ini, dan (ii) memulai dengan bekerja terlebih dahulu untuk memahami dunia usaha secara riil. Kategori yang terakhir ini sering disebut sebagai  emotion modalities.
 Kenyataannya, sangatlah sulit bagi kita untuk mampu menanamkan aspek budaya/tradisi wirausaha pada generasi bangsa. Hal ini dibuktikan apabila kita menanyakan pada anak-anak dan orang tua, mereka umumnya akan mengagungkan profesi yang relatif bersifat risk averter, seperti menjadi: PNS, TNI, atau bekerja di perusahaan besar.
Kesadaran akan pentingnya untuk mendorong dan memberdayakan usaha kecil mulai disadari ketika krisis moneter tahun 1997 yang kemudian meluas menjadi krisis ekonomi melanda ibu pertiwi ini, dimana usaha skala besar terutama dalam bentuk (conglomeration) mulai tumbang satu per-satu. Sementara itu pada sisi lain, banyak usaha kecil (industri kecil) masih mampu bertahan, hal ini membuka mata pemerintah bahwa betapa sistem ekonomi pada masa lalu  terlalu memihak pada industri besarnya. Fenomena tersebut telah mendorong munculnya euphoria berkaitan dengan penciptaan dan pemberdayaan usaha kecil dan menengah [UKM].

MANAJEMEN KREATIVITAS DAN INOVASI USAHA
 Kegiatan wirausaha dasarnya adalah menciptakan sesuatu yang baru, produk baru, proses produksi baru, organisasi baru, manajemen baru, bahan baku baru, pasar baru, dan sesuatu yang baru yang dapat dikelola dengan tepat dalam kegiatan usaha. Dengan demikian, kewirausahaan itu selalu berkaitan dengan kreativitas dan inovasi. Ropke (1995), menyarankan adanya kesatuan fungsi kewirausahaan yang meliputi tiga level dorongan manajemen kewirausahaan, yaitu: Kewirausahaan Inovasi, Kewirausahaan arbitrase, dan Kewirausahaan Rutin. Sesuatu yang dihasilkan baru melalui proses inovasi harus dipertimbangkan berdasarkan pilihan arbitrase loss and benefit, dan apakah manajemen rutinnya mendukung proses penciptaan itu ? Dalam teori Schumpeter, kewirausahaan inovatif berhubungan dengan ketidakpastian yang dinamis karena hasil suatu inovasi tidak dapat diramalkan, di samping juga pemanfaatannya. Dengan demikian maka dalam melakukan fungsi kewirausahaan maka pilihan-pilihan (arbitrase) yang berdasar pada sifat-sifat kelangkaan sumberdaya perlu mempertimbangkan penghematan sumber-sumber ekonomi.
Robert & Weiss (1988) dalam Sadikun (2006) menggambarkan secara cerdas pemecahan masalah dan inovasi dalam kewirausahaan (gambar 1).  Dalam Gambar 1.a) pemecaham masalah dengan model Kanal hasil prestasi sama dengan prestasi sebelumnya. Dalam Gambar 1.b). inovasi baru menciptakan prestasi dan keuntungan pada level baru.
Pengelolaan UKM bisa berhasil dan berkembang apabila dorongan kreatifitas dan inovasinya selalu bergerak, dan bukan sekedar faktor keberuntungan (luck). Kreativitas adalah kemampuan untuk menciptakan gagasan baru dan menemukan cara baru dalam menyikapi masalah dan memanfaatkan peluang. Sedangkan inovasi adalah kemampuan menerapkan gagasan-gagasan baru atau pemecahan kreatif terhadap masalah dan dalam memanfaatkan peluang. Singkatnya, kreatifitas dan inovasi dianalogikan creativity – thingking new things, innovation – doing new things. (Yuyun Wirasasmita, 2002).
Kreativitas banyak diinterpretasikan dalam berbagai medium definisi. Scott (1995) memahami kreativitas berdasarkan jenisnya, yaitu murni dan terapan. De Bono (1992), mengartikulasikan kreativitas murni sebagai ekuivalen dengan kreativitas artistik (Jamal Bake, 2004)
Sementara itu, Joyce wycoff (1991) dalam sadikun (2006) menjabarkan makna kreativitas sebagai baru dan bermanfaat; suatu cara melakukan sesuatu dengan berbeda; unik; dan lebih baik. Menurutnya, kreatif berarti mampu menemukan solusi yang baru dan bermanfaat. Ciri yang terdapat dalam orang kreatif , menurut Joyce adalah adanya keberanian menghadapi tantangan dan risiko, ekspresif menyatakan pikiran dan perasaannya, nada humor ketika menggabungkan berbagai hal dengan cara baru dan bermanfaat, dan memiliki intuisi tinggi karena adanya eksplorasi dari otak kanan yang bersifat ritnmik dan imajinatif.
Jika pengelola UKM membutuhkan kemajuan usaha maka pembentukan manusia – manusia renaissance yang kreatif amatlah penting. Di zaman renaissance orang yang berpikir model Abad Pertengahan jauh tertinggal. Kini di Abad Informasi orang-orang yang masih brpikir seperti di Abad Pertengahan dan Era Industri terancam punah (Michael J. Gelb, 1998). Renaissance diilhami oleh  cita-cita kuno – kesadaran akan kemampuan dan kekuatan manusia dan hasrat terhadap kegiatan penemuan. Kini waktunya renaissanceuomo universale) sebagai pribadi yang seimbang dan memiliki kecerdasan intelektual dan fisik, dan nyaman bergaul dengan seni maupun ilmu. Uomo universale modern adalah manusia-manusia yang 1) memiliki pengetahuan tentang komputer; 2) memahami proses mental; dan 3) memiliki kesadaran secara global. mentranformasikan kekuatan dan kemampuan manusia untuk menghadapi tantangan jaman baru, termasuk tantangan menghadapi persaingan usaha yang dihadapi UKM. Gelb mengindikasikan manusia renaissance yang ideal (
Menurut Yuyun Wirasasmita (2002), kreativitas tidak selalu dihasilkan dari sesuatu yang tidak ada, seringkali merupakan perbaikan dari sesuatu yang telah ada. Mengingat wirausaha merupakan sumber pemikiran kreatif dan inovasi, maka alam pikiran wirausaha adalah :
  1. selalu memimpikan gagasan baru dengan selalu bertanya Why ? How ?
  2. selalu mencari peluang baru atau mencari cara baru untuk menciptakan peluang baru;
  3. berorientasi kepada tindakan ;
  4. pemimpi besar, meskipun mimpinya tidak selalu dapat direalisasikan ;
  5. tidak malu melakukan sesuatu, meskipun dari skala kecil ;
  6. tidak pernah berpikir menyerah, selalu mencoba lagi ; dan
  7. tidak pernah takut gagal.
PEMBELAJARAN KREATIVITAS
Kreativitas dapat dikembangkan dalam pengelolaan UKM melalui kiat-kiat pembelajaran kreativitas, sebab kreativitas tidak timbul secara instan tetapi diusahakan dengan menciptakan iklim yang dapat mendorong kreativitas. Yang paling penting adalah pemimpin perusahaan mendorong sikap keingintahuan (curiosity), dan melakukan pelatihan-pelatihan kreativitas untuk mencari peluang inovasi usaha.
Salah satu metode pengembangan kreativitas dalam manajemen pembelajaran intelijensia adalah Metode Mind mapping yang dirintis oleh Tony Buzan. Menurut Buzan & Buzan (2004), Peta Pikiran adalah ekspresi dari Pemikiran Radian yang merupakan fungsi alami dari pikiran manusia. Menggunakan teknik grafik yang berdaya guna yang menyediakan kunci universal untuk membuka potensi otak, sumber kreativitas. Peta pikiran mempunyai empat karakteristik penting, yaitu :
a)      subyek yang menjadi perhatian mengalam kristalisasi dalam citra sentral;
b)      tema utama dari subyek memancar dari citra sentral sebagai cabang-cabang ;
c)      cabang-cabang terdiri dari Citra Kunci atau Kata Kunci yang dituliskan di garis yang berasosiasi ;
d)      cabang-cabang ini membentuk struktur nodus yang berhubungan.
Peta pikiran (mind map) adalah langkah berikutnya dalam kemajuan dari pemikiran linier (satu dimensi), lewat lateral (dua dimensi), yang membantu  Radian (pemikiran multidimensi). Subyek peta pikiran dicontohkan hasil adopsi dari Buzan dan Konsep Kreativitas adopsi dari Joyce.

PENUTUP

Kesulitan yang dihadapi oleh UKM dalam pengelolaan usaha seringkali berbentuk hambatan-hambatan internal, yaitu bagaimana memberdayakan kapasitas kewirausahaan yang ada pada pemilik atau pengelola. Untuk menghadapi hambatan tersebut maka fungsi – fungsi kewirausahaan yang selama ini diimplementasikan perlu menggunakan dorongan kreativitas dan inovasi. Kreativitas dan inovasi diharapkan dapat memberikan solusi baru dalam memperkuat manajemen kewirausahaan UKM.
Salah satu bentuk pengembangan kreativitas dan inovasi yang berkembang saat ini dalam pembelajaran intelijensia adalah Mind Mapping (Pemetaan Pikiran). Dengan cara ini maka pengelola UKM dapat mengidentifikasi permasalahan yang dihadapi melalui pemikiran Radian berdasarkan konsep utama yang diidentifikasi.
DAFTAR PUSTAKA
Buzan, Tony & Barry. 2004. The Mind Map Book. BBC Worldwide Limited.
_____, Tony. ( a.b.  Tony Rinaldo). 2002. Use Your Head. Delapratasa
______, (a. b.  T. Hermaya). 2004. Head First.  10 ways to Tap into Your Natural Genius. Gramedia. Jakarta.
Gelb, Michael J. (a.b. T. Hermaya). 2002. How to Think Like Leonardo Da Vinci ; Seven Steps to Genius Every Day. Gramedia.
Jamal Bake. 2004. Pendekatan 4P Kreatif ; Pengertian dan Model Pengukuran Kreativitas dan Inovasi. Manajemen Usahawan Indonesia. April 2004.
Robert, M. & A. Weiss. 1988. The Innovation Frmula : How Organizations Turn Change into Opportunity. Cambride, Mass : Ballinger Publishing Company.
Ropke, J. 1977. Die Strategie der Innovation. Tubingen ; Mohr-Siebeck.
Sadikun Citra Rusmana, 2006. Makalah Kewirausahaan mandiri, dipesentasikan pada Program Studi manajemen, FE Unpas.
Tulus Tambunan. 2002. Ekonomi Usaha Kecil Menengah. Salemba4.
Wycoff, Joyce. 2002. (a.b. Rina S. Marzuki). Mind Mapping : Your Personal Guide to Exploring Your Creativity and Problem Solving. Kaifa.

Bisnis-Jabar.Com (Rubrik Tulisan ISEI)

18 Januari 2011

Rumah Batik Sukabumi Majukan Budaya

Radar Sukabumi -- Rumah Batik Sukabumi yang di produksi Refita Pro berada di Jalan Selabintana No 16 Cimanggah Sukabumi menawarkan berbagai motif yang berbeda dari motif batik Kota lain. Lebih dari lima motif Ciri khas asal kota mochi ini. Dihadirkan untuk memanjakan masyarakat kota Sukabumi yang mencintai karya seni asal kotanya. Motifnya yang unik, menjadi pilihan tersendiri bagi para konsumen yang mencintai keunikanya. 
Batik Sukabumi ini, memiliki bahan yang berbeda dari batik pada umumnya dan modelnya pun sangat dinamis sehingga cocok untuk para kawula muda dan orang tua, "ujar Sintia salah satu asisten pemilik rumah batik Sukabumi kepada Radar Sukabumi. 
Setelah berbagai motif disediakan, perpaduan motif dan model pun disesuaikan sama para pecinta busana tradisional dan beragam. Diantara warna hitam dipadukan dengan warna pink Hijau, gading, dan Coklat serta putih serta berbagai warna yang berbeda dengan yang lainya. "Paling banyak diburu adalan perpaduan motif dan model yang mirip dengan kemeja atau baju modern. Karena ukuran memang bermacam-macam dari dari yang kecil sampai yang besar. tetapi ada juga yang ukuran tanggung bagi remaja, yang bisa dipakai oleh kalangan anak muda. 
Khas dari batik Sukabumi, terletak dari motif bunga-bungan asli kotanya yang namanya sesuai dengan tempanya. Seperti Cikole dalam batik tersebut digambar motif daun pisang kole, begitupun motif bunga lili yang mana bunga ini menjadi bunga kebanggaan warga kota Sukabumi sejak dulu kala. 
Harga yang ditawarkanpun sangat bervariatif ada yang Rp50 ribu dan Rp100 ribu tiap setelnya. "Kami juga melayani pesanan partai kecil, dan besar dan juga melayani pesanan untuk instansi dan sekolah maupun per orangan baik di Sukabumi maupun luar Sukabumi.(rp19)

Distro Semakin Diburu

Radar Sukabumi -- Bagi kalangan muda mudi Kota Sukabumi penampilan untuk terlihat gaul menjadi sebuah prioritas utama. Hal ini tentu menjadi sebuah cara untuk anak muda bersaing dalam dunia usaha terutama terhadap dunia kreatif seperti distro. 
Pemilik Gerai Head Banger Records Label And Distro Sukabumi di Supermall Sukabumi, Ahmad Rifana Rijali mengatakan, industri keatif seperti distro dapat menjadi pilihan bagi anak muda yang gaul dan ingin tampil trendi sesuai dengan keinginannya. Lagi pula untuk dapat mengenbangkan usaha ini tidak perlu memiliki latar belakang pendidikan dunia fashion. "Saya membuka lahan usaha di sini dan banyak juga peminatnya," ujarnya kepada Radar Sukabumi. 
Beragam pakaian yang ditawarkan Distro dari mulai pakaian kemeja, kaos, jeans, topi, tas, sepatu dan laiinya menjadi pilihan utama penjualan beragam produk yang ditawarkan distro yang berada di Sukabumi. Jika dilihat dari peminatnya kebanykan meruupakan anak gaul yang mengenal fashion namun ingin sesuatu hal beda. "Kebanyakan yang beli memang anak kuliahan atau pelajar SMA," tambahnya. Agar usahanya tak merugi, jauh sebelumnya Ahmad melakukan riset apakah barang-barangnya memiliki pasar yang menjanjikan atau tidak, pemasarannya, modelnya, dan perhatian kalangan anak muda. "Saya dan rekan-rekan saya juga dituntut untuk kuat dalam riset atau bisa baca pasar juga," ungkapnya. 
Sementara itu, seorang pengunjung Gerai Head Banger Records Label And Distro Sukabumi, mengatakan dengan menggunakan pakaian distro tentu memiliki kepuasan tersendiri ditambahlagi kualitasnya dapat terjamin dan tidak ada yang menyamai karna bersifat limeted. "Baju ini kan hanya beberapa buah jadi tidak akan bertemu dengan yang bajunya sama dan itu alasan saya pakai baju dari distro," pungkasnya. (ali)