Sedapnya Mie Ayam Sehat Warna-Warni WASEGI

Pengen merasakan kelezatan Mie Ayam ini ? Anda dapat merasakannya di Foodcourt Yogya Toserba Sukabumi Lantai 3

Galeri Online Produk UMKM Sukabumi

Sekarang cari oleh-oleh produk khas Sukabumi semakin mudah dengan telah diluncurkannya galeri/toko online lengkap produk UMKM Sukabumi. Anda bisa mengunjunginya di : www.ProdukSukabumi.com

Dinamika Bisnis Anda Bisa Ditampilkan Disini

Dinamika bisnis anda di Sukabumi dapat ditampilkan dalam website ini. Anda dapat mengirimkan informasi bisnis melalui alamat email : redaksi@bisnissukabumi.com

Dinamika Bisnis Anda Bisa Ditampilkan Disini

Dinamika bisnis anda di Sukabumi dapat ditampilkan dalam website ini. Anda dapat mengirimkan informasi bisnis melalui alamat email : redaksi@bisnissukabumi.com

Galeri Online Produk UMKM Sukabumi

Sekarang cari oleh-oleh produk khas Sukabumi semakin mudah dengan telah diluncurkannya galeri/toko online lengkap produk UMKM Sukabumi. Anda bisa mengunjunginya di : www.ProdukSukabumi.com

Tampilkan postingan dengan label Agribisnis. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Agribisnis. Tampilkan semua postingan

6 Maret 2012

Pemberdayaan Pemuda Melalui Budidaya Lele Sangkuriang

CIKOLE - Budidaya ikan Lele Sangkuriang di Kota Sukabumi begitu pesat dengan maraknya pembangunan tempat budidaya yang dikelola kaum muda. Lokasi budidaya Lele Sangkuriang dibangun di sejumlah kecamatan di Kota Sukabumi yakni Kecamatan Gunungpuyuh, Kecamatan Cikole dan Kecamatan Warudoyong. Pembangunan budidaya jenis ikan Lele Sangkuriang ini yang tersebar di beberapa wilayah Kota Sukabumi ini yakni Kecamatan Warudoyong di Kelurahan Sukakarya, Kecamatan Cikole di Kelurahan Kebonjati, Kecamatan Gunungpuyuh di Kelurahan Gunungpuyuh. 
Kepala Balai Besar Pengembangan Budidaya Air Tawar (BBAT) Sukabumi Abduh Nurhidayat mengatakan, potensi perkembangan ikan Lele ini sangat bagus jika para pemuda peka untuk menggrapnya, pasalnya pihak BBAT yang telah melakukan terobosan di wilayah Kota Sukabumi yang rencana di setiap kecamatan para pemuda bisa memanfaatkan peluang ini. “Budidaya ikan Lele ini prospeknya sangat bagus dan pengelolaanya pun cepat dipanen,” ungkap Abduh. Pihaknya membuka peluang bagi pemuda di Kota Sukabumi yang memiliki jiwa berwirausaha untuk budidaya ikan lele ini. “Kami sangat menerima para pemuda yang beanar-benar serius untuk mengembangkan budiadaya ikan Lele Sangkuriang ini,” katanya. 
Sementara itu salah seorang pengelola di Wilayah Kecamatan Warudoyong, Kelurahan Sukakarya Duduh Abdullah (28) menuturkan, budidaya ikan lele yang sedang digarapnya ini atas saran dan petunjuk pihak BBAT dan pengelolaan ini bisa memberikan berbagai kontribusi bagi aktifitas kepemudaan. “Pengelolaan budidaya ikan Lele Sangkuriang ini kami lakukan bersama teman-teman sekitar 15 orang sesama pemuda,” beber Duduh. 
Dalam pengelolaan dan perawatannya jenis ikan lele sangkuriang ini dikatakan gampang-gampang susah karena jenis ikan ini harus bisa memperhatikan asupan gizi atau makanan dan mewaspadai berbagai hama seperti kodok dan lainnya. “Untuk pembuatan kolam lele ini di atas tanah sehingga terjaga dari jenis hewen buas dan atapnya pun terhindar dari air hujan,” pungkasnya. (Radar Sukabumi)

1 Februari 2012

Profil Pengusaha Pangsit dan Kripik Lantak Yang Tembus Supermarket

Membuka lahan usaha yang sangat digandrungi oleh berbagai kalangan tentunya menjadi tujuan utama para pengusaha dibidang makanan ringan. Apa lagi usaha memproduksi makanan ringan pangsit dan lantak pisang yang sudah tidak asing lagi bagi masyarakat. Untuk meningkatkan usaha tersebut, Asep Yusuf (56), seorang perajin makanan ringan pangsit dan lantak pisang Cempaka Kuning terus memutar otak agar produknya tetap bertahan di pasaran. 
Bermula dari usaha membuka bengkel sepeda motor, sekitar tahun 1981, Asep Yusuf yang karib disapa Asep ini mengisi waktu luangnya dengan mencoba membuat makanan ringan pangsit. Bahan baku terigu, ia peroleh dari istrinya Iis Sutijah (49) yang kebetulan pada saat itu membuka warung kecil-kecilan dikediamannya. “Awalnya hanya sekedar iseng membuat makanan ringan pangsit, seperempat terigu saya olah. Saya buat sendiri, saya jajakan di warung istri saya. Tidak disangka banyak peminatnya,” tutur Asep, kemarin. 
Saat ini Asep merintis usahanya di rumah kediamannya, yang berlokasi di Jalan Veteran I Gang Persatuan II Nomor 07 Kelurahan Sriwedari, Kecamatan Gunung Puyuh, Kota Sukabumi. Usaha yang dikelolanya ini semakin meningkat jumlah pesanannya, sehingga memasuki tahun 1995 Asep merekrut tenaga kerja delapan orang untuk membantuk proses produksinya. Tidak hanya makanan ringan pangsit saja yang diproduksnya, lantak pisang hasil dari olahannya juga diproduksi. “Dalam sehari, kami bisa memproduksi makanan ringan pangsit sebanyak 36-50 kilo gram terigu dan 60 kilo gram pisang untuk diolah menjadi lantak pisang,” terangnya. 
Mesin semi modern yang dirancang sendiri, membantu Asep dalam poses pengolahannya. Hasil produksinya disuguhkan dengan harga Rp24 ribu/kg untuk makanan ringan pangsit dan Rp28 ribu/kg untuk lantak pisang. Selain dijual perkilo, Asep mengemas hasil produksinya dengan ukuran 1/4 kg dan 1 ons dengan dihargai Rp6 ribu dan Rp2.500 untuk makanan ringan pangsit, sedangkan lantak pisang Rp7 ribu dan Rp3 ribu. Omzet yang dikantongi Asep Rp820 ribu/hari. “Pemasaran hanya di wilayah Sukabumi, seperti Supermarket dan pasar-pasar yang ada di Sukabumi. Keuntungan saya peroleh sangat minim karena dijual dengan harga yang terjangkau, terpenting bagi saya penjualannya laris,”akunya. 
Kendala yang dihadapi saat proses pengolahan bahan baku tuturnya, kadang datang dari padamnya aliran listrik, yang mana enam sampai tujuh jam listrik bisa padam. Akibatnya bahan baku yang sudah siap untuk diproduksi menjadi basi dan tidak terpakai lagi selain kendala lainnya adalah musim penghujan seperti saat ini yang bisa menghambat jalannya pemasaran. “Hasil produksi saya mudah ancur, kadang konsumen tidak mau membelinya padahal produksi baru. Pemasaran sulit saat hujan turun, meskipun dibantu tenaga pemasaran 3 orang untuk dilapangan dan 6 orang menjadi Staf. Jika ingin mengejar keuntungan yang besar, harus banyak produksinya dan pemasaran lancar,” terangnya. (Radar Sukabumi)

31 Januari 2012

Polda Jalin Kerjasama Dengan GPP Jabar-Banten

Foto : Pikiran Rakyat
BANDUNG : Kepolisian Daerah Jawa Barat (Polda Jabar), dan Gabungan Pengusaha Perkebunan Jawa Barat-Banten (GPP Jabar-Banten), membuat kesepakatan bersama. Kesepakatan tersebut, dimaksud guna menjalin sinergitas Polda Jabar bersama GPP Jabar-Banten untuk mengembangkan usaha perkebunan, pelestarian lingkungan hidup dan ketahanan ekonomi rakyat. 
Pada acara yang dilaksanakanan di Aula Muryono, Mapolda Jabar, Selasa (31/1), penandatanganan dilakukan oleh Kapolda Jabar Inspektur Jenderal Putut Eko Bayuseno, dan Ketua Umum GPP Jabar-Banten Herry Sunardi. Kemudian, penandatanganan pun dilakukan oleh para Kepala Polresta di jajaran Polda Jabar, dengan para Kepala GPP Jabar-Banten, di masing-masing daerah. (PRLM)

30 Januari 2012

Warga Minta Cabut Kawasan Konservasi Pantai Pangumbahan

SUKABUMI : Ratusan warga dari Desa Pangumbahan, Kecamatan Ciracap, Kabupaten Sukabumi, Jawa Barat berunjuk rasa di Dinas Kelautan dan Perikanan setempat menuntut pencabutan kawasan konservasi Pantai Pangumbahan oleh Pemkab Sukabumi, karena telah merusak habitat penyu. 
“Kami menuntut agar Pemkab Sukabumi mencabut kawasan konservasi Pantai Pangumbahan, karena telah merusak habitat penyu seperti penjualan tukik keluar daerah dan telah banyak membunuh satwa itu padahal kawasan tersebut menjadi ajang wisata yang harus dijaga kelestariannya,” kata koordinator unjuk rasa, Dudi dalam orasinya. (Bisnis Jabar)

Sistem Resi Gudang Berikan Keuntungan Bagi Para Petani

Salah satu upaya mengentaskan kemiskinan adalah melakukan kegiatan yang erat kaitannya dengan kepentingan masyarakat lapisan papan bawah, khususnya bagi para petani. Harga jual hasil bumi para petani perlu dijaga dan dikawal ketat agar tidak terjebak dan jatuh ke dalam permainan para tengkulak. 
Badan Pengawas dan Perdagangan Berjangka Komoditi (Bappepti) Syahrul R. Sempurnajaya mengatakan sistem resi gudang (SRG) memiliki potensi luar biasa untuk memberikan keuntungan bagi para petani. Hanya saja, SRG ini masih perlu sosialisasi secara masif. “Salah satu cara adalah mengoptimalkan sistem resi gudang sehingga stok bahan pangan terjamin serta harga hasil bumi petani-pun tetap berada pada posisi stabil dan tidak akan bisa lagi dipermainkan tengkulak,” ujarnya saat mengunjungi gudang PT Pertani (Persero) di Haurgeulis, Indramayu, Sabtu (28/1). 
Menurut Syahrul, masih banyak yang belum mengetahui mengenai SRG. Padahal, pinjaman petani dapat dipermudah dengan adanya SRG. Dengan SRG, hasil panen bisa disimpan dulu, ditunda untuk dijual sampai harga naik, setidaknya sebesar 70% dari hasil panen bisa mendapat kredit sangat cepat dari perbankan. SRG juga merupakan instrumen yang bisa mengangkat harkat petani. “Petani bisa mendapat sesuai dengan apa yang dia kerjakan. Menunda jual hasil panen dan mendapat suntikan modal untuk menanam kembali,” terang Syahrul. Namun, lanjut dia, jauh lebih penting adalah perlunya merubah cara pikir para petani agar dapat memiliki posisi tawar atau penentu harga jual gabah atau beras. Sehingga. petani bisa menyimpan atau melakukan tunda jual ke gudang SRG saat harga anjlok, kemudian menjualnya pada saat harga jual gabah tinggi maka petani akan tetap diuntungkan. Perlu Sosialisasi Syahrul menegaskan perlu melakukan sosialisasi kepada para produsen yang akan menempati gudang SRG. “Apakah petani, koperasi, itu tidak mudah. Karena untuk merubah cara berfikir para petani yang selama ini dengan pola hanya tradisional, dengan pembiayaan-pembiayaan yang ilegal seperti melalui tengkulak bukan perkara mudah,” ujarnya. 
Selain itu, gabah yang dititipkan di gudang SRG dengan infrastruktur yang sudah ada kualitasnya pun bisa diperbaiki. Sebagaimana ditentukan agar menjamin mutu beras yang standar dengan menjaga kadar kadar air sebesar 14%. Keuntungan lainnya, selain itu, menurut Syahrul, petani yang melakukan SRG juga diberikan pembiayaan yang disubsidi. “Ini tentunya menarik. Pembiayaan ini tidak akan menggunakan koletral, hanya menitipkan barang di gudang, mereka mendapatkan pinjaman dari bank-bank yang ditunjuk,” paparnya. Syahrul menjelaskan bahwa bentuk pinjaman kepada petani yang termudah adalah SRG. Tidak perlu koletral, tidak perlu sertifikat tanah, mobil, dan surat berharga lainnya. Cukup SRG dan ini terjamin. “Bahwa barang yang dititipkan atau tunda jual, dia akan diberikan pinjaman, dan itu cepat dan mudah keluarnya. Bahkan kalau sudah komplit syaratnya 1 jam sudah keluar. Tapi memang prosesesnya harus dilengkapi dulu,” terang 

Hindari Spekulasi 
Pada kesempatan yang sama Wakil Menteri Perdagangan Bayu Krishnamukhti mengatakan bahwa SRG merupakan dimensi yang sangat signifikan bagi konsumen untuk menghindari spekulasi. Dengan penerapan SRG, lanjutnya, kepastian pasokan dan stabilitas pasar akan lebih terjamin. “Jadi kita tahu persis, stok ada di mana dan jenisnya apa. Dulu, banyak yang mengaku stok ada, tapi gudangnya di mana kita tidak tahu. SRG bisa jadi alternatif menyeimbangkan kebutuhan produsen dan konsumen,” ujarnya. 
Sebagai catatan, sesuai Undang-undang Nomor 9 Tahun 2011, SRG adalah dokumen bukti kepemilikan atas barang yang disimpan di gudang yang diterbitkan oleh pengelola gudang. Dokumen tersebut merupakan sekuriti yang menjadi instrumen perdagangan serta merupakan bagian dari sistim pemasaran dan sistim keuangan. Bayu mengharapkan dengan adanya resi gudang dapat menjadi sistem pembiayaan andalan bagi petani. Maka resi gudang seharusnya, lanjut dia, harus bisa diakses petani secara luas karena sistem itu menawarkan keuntungan yang lebih banyak. “Dengan menunda penjualan dan menyimpan gabah di resi gudang maka dalam tiga bulan paling tidak mereka mendapatkan tambahan keuntungan sekitar Rp 500 per kilogram,” katanya. 
Saat ini, Gudang PT Pertani Hargeulis, Indramayu, Jawa Barat berkapasitas 3.000 hingga 3500 ton. Tahun 2011 tercatat 8.000 ton gabah yang masuk ke gudang. Angka tersebut naik empat kali lipat dibandingkan tahun 2010. Adapun biaya penitipan di gudang penyimpanan dengan menggunakan SRG ini adalah sebesar Rp25 per kg per bulannya. Untuk wilayah Indramayu sendiri, petani maksimal dapat melakukan pinjaman sebesar Rp75 juta dengan bunga yang rendah dan untuk perbankan yang ditunjuk adalah PT Bank Rakyat Indonesia, Tbk. dan PT Bank Pembangunan Jawa Barat, Tbk. (BJB). 
Pada kesempatan yang sama, Anggota Komisi VI DPR RI dari Fraksi Partai Demokrat Yusyus Kuswandana mengatakan SRG merupakan satu alternatif pembiayaan untuk memotong mata rantai tengkulak yang dihadapi petani. Sistem ini diharapkan dapat dimanfaatkan sebaik-baiknya oleh para petani sehingga mampu meningkatkan kesejahteraan mereka. Yusyus mengatakan, Komisi VI sepenuhnya mendorong serta mengawasi pelaksanaan undang-undang SRG agar petani dan pemerintah setempat bersinergi mewujudkan kesejahteraan petani. Karena itu, seluruh kepala daerah di Jabar mendukung penuh program SRG. “Selama ini nasib petani termajinalkan. Namun setelah SRG ini bisa terealisasi secara maksimal, diharapkan dapat berperan secara aktif sebagai obyek dan subyek pembangunan,” jelasnya. 
Yusyus menegaskan program SRG tidak hanya dilaksanakan di Kabupaten Sumedang, Kabupaten Majalengka, dan Kabupaten Subang. Tetapi pelaksanaannya akan didorong menyebar ke seluruh wilayah di Jawa Barat. Mengingat produksi beras di Indramayu sendiri sudah mencapai 1,525 juta ton. (Neraca)

Profil Pengusaha Tempe Ibu Turiah di Gunungpuyuh

Foto : Radar Sukabumi
Tempe makanan yang banyak mengandung protein. Makanan yang terbuat dari kacang kedelai ini sudah tidak awam lagi dilidah semua orang. Kini semua masakan khas yang banyak dihidangkan dalam berbagai acara baik resmi seremonial maupun keseharian. Teknik pembuatan tempe juga tidak terlalu sulit serta modal yang digunakan relatif terjangkau oleh semua lapisan masyarat. 
Sekitar tahun 1980 silam, Turiah bersama suaminya Wahid Hasan (alm) mulai merintis usahanya. Usaha yang dirintisnya ini, yaitu memproduksi tempe. Awal produksi tempe, Turiah mengeluarkan modal untuk memperoleh bahan baku sebesar Rp50 ribu, sedangkan untuk mendapatkan peralatan produksi tempe sebesar Rp100 ribu. Saat itu harga kacang kedelai masih terbilang murah yakni sekitar Rp1.300 perkilo gramnya, Turiah memproduksi 20 kilo gram per harinya. Tempe hasil produksinya itu pada awal merintis usahanya, disuguhkan dengan harga Rp150. Memasuki tahun 1995, usahanya ini sudah banyak dikenal masyarakat dan sudah berkembang pesat. 
Banyaknya pesanan tempe, menjadikan jumlah produksi semakin meningkat. Yang semula hanya 20 kilo gram per hari, menjadi 3 kwintal per hari setiap produksi. Semula harga tempe Rp150, menjadi Rp1.000. Usahanya ini dari tahun ke tahun semakin berkembang, hal ini karena tidak ada saingan sehingga konsumen banyak yang pesan. Namun, ditahun 2002 usahanya mulai ada penurunan. Turiah bersama suaminya, terus berupaya dengan penuh kesabaran dan keuletan untuk bisa mempertahankan usahanya. Tetapi hingga saat ini, usahanya sulit untuk bangkit kembali seperti dulu. “Sekarang saya seorang yang mengelola usaha ini, karena suami saya Wahid Hasan tepatnya 27 Agustus 2011 telah meninggal dunia. Sehingga terasa semakin sulit untuk bisa berkembang, sedangkan modal sudah tidak cukup lagi. Saya harus bisa mempertahankan usaha ini, karena saya harus menyekolahkan anak saya yang duduk dibangku SMA kelas 2. Keuntungan yang saya kantongi, hanya Rp50 ribu per hari,” ungkap Turiah (55) pemilik usaha tempe seraya mengeluarkan air mata teringat suaminya yang sudah tiada meninggalkannya, kemarin. 
Semakin menurunnya pesanan, berimbah kepada jumlah produksi yang ikut menurun. Yang semula 3 kwintal per hari, kini hanya 150 kilo gram per hari. Tempe hasil olahannya, disuguhkan dengan harga Rp6 ribu untuk ukuran 1 kilo gram 3 ons, sedangkan untuk ukuran 1 kilo gram disuguhkan dengan harga Rp5 ribu. Turiah mempekerjakan 3 orang tenaga kerja yang membantu proses produksi. “Di musim penghujan ini, kadang pesanan tidak ada sama sekali sehingga tempe yang sudah siap dipasarkan tidak terjual. Tempe kekuatannya hanya 2 hari, dari pada mubajir lebih saya bagikan saja. Saya tidak mendapatkan keuntungan, tetapi upah tenaga kerja harus saya bayar tiap hari,” tuturnya. 
Banyaknya saingan, mahalnya bayar PDAM, listrik dan upah tenaga kerja sehingga berakibat usaha semakin menurun lama kelamaannya bisa gulung tikar. Pemasukan minim, tetapi pengeluaran besar. Turiah mengandalkan usahanya ini untuk bisa memenuhi kebutuhan hidup bersama anaknya dan juga dari usaha inilah Turiah bisa menyekolahkan purtinya. “Banyaknya saingan, modal kurang, pesanan tidak ada dan harga kacang kedelai semakin merangkak. Hal inilah yang menjadi kendala dalam menembangkan usaha saya ini. Saya berharap, pemerintah khususnya Disperindag mau memberikan bantuannya dalam segi permodalan kepada usaha saya agar usaha saya ini bisa meningkat. Dari hasil produksi tempe, saya bisa bertahan hidup dan menyekolahkan anak,” ujarnya. (Radar Sukabumi

28 Januari 2012

Sukabumi Impor Bahan Baku Pindang 300 Ton/Bulan

Sukabumi : Pemerintah daerah harus mengimpor ikan laut sebanyak 300 ton per bulan guna memenuhi kebutuhan bahan baku ikan pindang di sentral pembuatan ikan pindang di Kecamatan Bantar Gadung, Kabupaten Sukabumi, Jawa Barat. “Untuk memenuhi kebutuhan bahan baku pembuatan ikan pindang, tiap harinya kami impor ikan sebanyak 10 ton, atau 300 ton/bulannya,” kata Kepala Dinas Kelautan dan Perikanan (DKP) Kabupaten Sukabumi, Dedah Herlina kepada Antara, Selasa. 
Ikan laut impor tersebut berasal dari China dan Vietnam, menurutnya untuk memenuhi kebutuhan bahan baku tersebut, hasil tangkapan ikan di laut Sukabumi seperti Ujung Genteng dan Palabuhanratu tidak bisa memenuhi permintaan sehingga harus impor. (Neraca)

Kabupaten Sukabumi Siaga Flu Burung

Sukabumi - Wabah flu burung kembali menelan korban jiwa di Tangerang, Bekasi, Depok dan Bogor. Wabah ini membuat pemerintah Kabupaten Sukabummi, Jawa Barat menetapkan status siaga flu burung. Sebabnya, wilayah Kawan Nyalindung kabupaten Sukabumi jaraknya hanya 60 KM dari wilayah Bogor. Nyalindung merupakan satu wilayah dari tujuh wilayah endemis virus H5N1 di Kabupaten Sukabumi. "Tujuh kecamatan endemis yang tengah dalam pengawasan tersebut yakni Nyalindung, Tegalbuleud, Purabaya, Cireunghas, Purabaya, Jampang Tengah, dan Bojonggenteng," kata Kepala Dinas Peternakan Kabupaten Sukabumi, Asep Sugianto, Sabtu 28 Januari 2012. 
Ia menjelaskan, merebaknya kembali virus H5N1 hingga memakan korban diakibatkan beberapa hal. Diantaranya kondisi cuaca yabg memburuk. "Cuaca buruk ini sangat berpotensi memepercepat terjadinya penyebaran penyakit unggas khususnya flu burung dan munculnya kembali sisa virus H5N1 terdahulu dari unggas yang dimusnahkan. Ada kemungkinan unggas yang dimusnahkan masih meninggalkan sisa virus di dalam tanah saat dimusnahkan dan dikubur. Virus itu naik ke permukaan seiring tanah tergerus air," jelasnya. Dari data Dinas Peternakan Kabupaten Sukabumi, flu burung mulai menyerang kawasan ini sejak tahun 2007 dan 2008. Saat itu penyebaran flu burung masuk ke 47 kecamatan di Kabupaten ini. Terakhir kasus flu burung ditemukan di kawasan ini pada 2011. Virus H5N1 saat itu menyerang 12 desa pada tujuh kecamatan. 
Saat ini Dinas Peternakan Kabupaten Sukabumi, Jawa Barat mengawasi secara ketat penyebaran penyakit flu burung di tujuh kecamatan endemis, seiring cuaca ekstrem yang berpotensi meningkatkan penyakit unggas. Disnak menetapkan status siaga flu burung di kabupaten Sukabumi dengan meningkatkan pengawasan petugas di lapangan. Para petugas di lapangan diperintahkan aktif memberikan pendampingan kepada peternak dengan tujuan mencegah penyebaran penyakit unggas. Selain itu, cara antisipasi lainnya adalah menggiatkan penyemprotan kandang unggas dengan desinfektan atau biosecurity. "Muncul dan menghilangnya kasus flu burung di Kabupaten Sukabumi tidak terlepas dari kesadaran masyarakat yang mengkandangkan unggasnya dan pemberian vitamin secara teratur serta menjaga kondisi kebersihan kandangnya," jelasnya. (Vivanews)

Hama Akar Bengkak Serang Petani Sayuran

KADUDAMPIT : Sejumlah petani sayuran di Kampung Cijagung Desa Gedepangrango Kecamatan Kadudampit mengeluhkan hama akar bengkak (Plasmodiophora) yang menyerang tanaman mereka. Terutama tanaman yang diserang yaitu tanaman kubis-kubisan seperti kol, sawi, tomat, cabai dan lain-lain. Akibat serangan hama tersebut banyak sejumlah petani menglami kerugian rugi. 
Ade (40) salah seorang petani Kampung Cijagung, menjelaskan, hama tersebut menyerang dari mulai daun sehingga menyebabkan bengkaknya pada akar tanaman tersebut. “Hama ini menyerang, menyebabkan daun-daun tanaman layu jika hari panas dan kering, kemudian pulih kembali pada malam hari, serta kelihatan normal dan segar pada pagi hari. Jika penyakit berkembang terus, daun-daun menjadi kuning, tanaman kerdil, dan tanaman mungkin akan mati atau hidup tetapi merana,” jelasnya. 
Para petani hanya mengandalkan kapur dolomit (Kapur tanah), namun usaha mereka tidak begitu berhasil. Pastinya untuk mengusir hama ini adalah dengan menggunakan pestisida, dikarenakan harga pestisida mahal, para petani lebih memilih tidak membelinya. Ade menambahkan, dari kondisi tersebut ia sangat menginginkan adanya penyuluhan, untuk mengatasi hama penyakit tersebut. “Saya ingin sekali adanya penyuluhan karena saya sudah bingung untuk mengatwsi hama ini, susah sekali hama ini di hilangkan,” katanya. 
Sejumlah petani lainnya mengatakan, bahwa sejak tahun 1985, hingga saat ini pemerintah tak pernah melakukan penyuluhan terhadap para petani. “Padahal rapat anggatan tahunan (RAP) selalu dilakukan setiap tahunnya, dana dari dinas terkait juga suka ada. Tetapi tidak terealisasikan. Hanya orang-orang tertentu saja yang mendapatkannya. Pokonya kami berharap kepada instansi terkait membenahi hal ini dan memberikan penyuluhan kepada kami,” ujar sejumlah petani Desa Geudepangrango. Berdasarkan dari pantauan, hama ini menyerang bukan hanya daerah Kecamatan kadudampit saja, tetapi Kecamatan Cisaat pun mengalami hal yang sama. (Radar Sukabumi

27 Januari 2012

Chen's Florist : Bisnis Bunga Hias Yang Semakin Berkembang

SUKABUMI – Chen’s Florist yang berlokasi di Jalan Sriwijaya No. 43 Kota Sukabumi ini menyediakan rangkaian bunga segar, bouquet, hand bouquet, steak werk (papan nama), krans, bunga diatas peti jenazah, bunga tabur dan rental tanaman hias (indoor atau outdoor). Sekitar tahun 2004 silam, Chen-chen yang kerap disapa Sriyanti (39) memulai usahanya. Bunga yang segar didatangkan dari golpara Kota Sukabbumi, menjadi salah satu bahan baku utama untuk membuat steak werk atau papan nama. Dalam sehari, 5-6 orang yang pesan. Bunga karangannya itu, dihargai mulai dari Rp350 ribu-Rp1,5 juta. Didorong dengan kebutuhan ekonomi, Sriyanti mengeluti usahanya  dengan penuh kesabaran. Akhirnya, usaha kini sudah terkenal sampai ke luar kota. 
”Diawal tahun 2012, banyak pesanan selamat tahun baru 2012. Saat orderan banyak, kadang bunga sulit untuk diperoleh sehingga menghambat usaha saya,” ungkap Chen-chen pemilik Chen’s Florist kepada Radar Sukabumi saat ditemui dikediamannya. Sekitar 150-200 ikat bungan dibelinya, dengan harga Rp10 ribu per ikat. Chen-chen merekrut 3 orang tenaga kerja, dengan penghasilan omset yang diperoleh sekitar Rp60 juta per bulannya. 
Dalam pemasarannya, Chen-chen menggaet salah satu toko bunga yang ada di Jakarta sehingga memudahkan untuk memperluas lahan pemasarannya. “Saya berharap, usaha saya ini bisa lebih berkembang dan bisa lebih banyak dikenal masyarakat luas. Banyak stok bungan yang disediakan, agar usaha saya bisa berjalan ketika ada pesanan banyak,” akunya seraya tersenyum. Kekreatifannya dalam membuat hiasan dari bunga-bunga yang segar dan berkwalitas, sehingga banyak diminati masyarkat. (Radar Sukabumi

25 Januari 2012

Manggis Sukabumi Tembus Pasar Asia



SUKABUMI - Seorang petani memperlihatkan buah Manggis yang akan diekspor, di Kampung Sungapan, Desa Bojong, Kecamatan Cikembar, Kabupaten Sukabumi, Rabu (25/1/2012). Buah Manggis dari Kabupaten Sukabumi tersebut dijual dengan harga Rp 11.000 per kg. Tak hanya dijual di pasar lokal seperti Pasar Induk Jakarta, Jawa Tengah dan Kalimantan, manggis itu pun diekspor ke pasar Asia seperti Hongkong, Singapura, Taiwan sampai Abu Dhabi. 
(BNP/Nazhira Pingkan)

20 Januari 2011

Harga Sayur Stabil, Petani Bergairah

KADUDAMPIT--Para petani di kawasan lahan pertanian di Kecamatan Kadudampit makin bergairah. Saat ini mereka tengah giat mengembangkan budidaya tanaman beragam sayuran. Beberapa sayuran yang tengah digiatkan adalah daun bawang dan beberapa sayuran organik lainnya. Komoditas sayur alternatif ini diminati para petani, karena pangsa pasarnya berorientasi ekspor sementara harganya di atas komoditas sayur. 
Akibatnya tingkat ekonomi petani sekitarpun cukup meningkat. Seperti Amirudin (57), petani asal Desa Sukamanis Kecamatan Kadudampit ini mengaku, permintaan pasar akan sayuran tetap tinggi, meski harganya kadang tak terkendali. Menurut dia, meskipun harga pembelian sayuran ditentukan oleh pedagang pengumpul, biasanya petani sayuran juga mengetahui kondisi harga sayuran di pasaran. "Supaya petani tidak dirugikan dengan naik-turunnya harga sayuran, saya hanya membayar uang muka kepada petani. Setelah harganya pasti, baru saya bayar lunas,"ujar Amir kepada Radar, kemarin. 
Lahan budidaya sayur juga saat ini diprediksi meluas, dimana kawasan di Kecamatan Kadudampit memang mayoritas lahannya masih kosong yang sebenarnya sangat layak untuk dijadikan lahan tanaman sayuran. 
Kepala Dinas Pertanian (Kadistan) Kabupaten Sukabumi, Sudrajat mengatakan, hasil sayuran di Kadudampit masih menjadi andalan. Hingga saat ini kata dia, pengiriman sayur Kabupaten Sukabumi ke luar daerah relatif normal, harga juga masih cukup baik."Meningkatnya minat petani melakukan budidaya tanaman sayur, karena keuntungannya menjanjikan ditambah kondisi struktur tanah yang cukup mendukung," terangnya.(wan)