Sedapnya Mie Ayam Sehat Warna-Warni WASEGI
Pengen merasakan kelezatan Mie Ayam ini ? Anda dapat merasakannya di Foodcourt Yogya Toserba Sukabumi Lantai 3
Galeri Online Produk UMKM Sukabumi
Sekarang cari oleh-oleh produk khas Sukabumi semakin mudah dengan telah diluncurkannya galeri/toko online lengkap produk UMKM Sukabumi. Anda bisa mengunjunginya di : www.ProdukSukabumi.com
Dinamika Bisnis Anda Bisa Ditampilkan Disini
Dinamika bisnis anda di Sukabumi dapat ditampilkan dalam website ini. Anda dapat mengirimkan informasi bisnis melalui alamat email : redaksi@bisnissukabumi.com
Dinamika Bisnis Anda Bisa Ditampilkan Disini
Dinamika bisnis anda di Sukabumi dapat ditampilkan dalam website ini. Anda dapat mengirimkan informasi bisnis melalui alamat email : redaksi@bisnissukabumi.com
Galeri Online Produk UMKM Sukabumi
Sekarang cari oleh-oleh produk khas Sukabumi semakin mudah dengan telah diluncurkannya galeri/toko online lengkap produk UMKM Sukabumi. Anda bisa mengunjunginya di : www.ProdukSukabumi.com
12 November 2014
Portal Resmi Informasi UMKM & Bisnis di Kota Sukabumi
6 Maret 2012
Lezatnya Kue Produksi Abah Cake
23 Februari 2012
Usaha Mikro Tak Layak Kena Pungutan Pajak
25 Januari 2012
UMKM Harus Fokus Garap Pasar Dalam Negeri
Kadin Jabar Minta Pemerintah Lindungi UMKM dari Rentenir
24 Januari 2012
PAJAK UKM : Syarif Minta Omset Dibawah 300 Juta Bebas Pajak
1 Desember 2011
Guna Kembangkan Pasar UMKM Sukabumi, BUMI KREATIF Luncurkan Website
7 April 2011
Jabar perlu punya Perda UMKM
24 Februari 2011
Jasa Raharja Dukung Pengembangan UKM
Kepala Perwakilan Jasa Raharja Sukabumi, Puryanto didampingi Penanggungjawab Pelayanan Umum Toif Riyanto mengatakan selain melayani asuransi kecelakaan, pihaknya juga turut andil mendukung pengembangan usaha kecil dan menengah (UKM) di Kota/Kabupaten Sukabumi dan Kabupaten Cianjur, lewat program kemitraan dan bina lingkungan (PKBL).
"Seiring semakin berkembangnya UKM, kami bertekad mengembangkan bisnis UKM di Sukabumi dan Cianjur. Melalui program PKBL, kami sudah mengucurkan dana mencapai lebih dari Rp 200 juta selama 10 tahun ini untuk puluhan UKM," tuturnya kepada Radar Sukabumi saat ditemui disela-sela pengobatan gratis yang dilakukan pihak Jasa Raharja Sukabumi di Terminal Sudirman Kota Sukabumi , kemarin.
Menurutnya, sejauh ini upaya pengusaha kecil untuk mengembalikan pinjaman lunak tersebut cukup baik. Jika pembayaran kredit lancar, maka dana kredit bisa digunakan untuk membantu UKM lainnya secara bergilir. Ini karena bantuan kredit untuk UKM bersifat dana bergulir.
"Untuk mendapatkan pinjaman dari Jasa Raharja, pelaku UKM harus mengajukan proposal serta menyertakan beberapa persyaratan administrasi. Di antaranya memiliki surat izin usaha atau rencana bisnis yang jelas. Jika semua persyaratan lengkap, kami akan ajukan ke pusat untuk diverifikasi. Jika disetujui, kami akan memberikan pinjaman mulai dari Rp 10 juta hingga Rp 25 juta per unit UKM, dengan bunga ringan ," paparnya.
Saat ditanya apakah ada spesifikasi khusus bagi UKM yang hendak meminjam dana ini? Puryanto menjelaskan semua sektor usaha yang dikembangkan UKM bisa mendapatkan layanan ini. Keunggulan lain dari pinjaman UKM Jasa Raharja ini adalah prosesnya yang cepat. "Kalau pinjam ke bank, bunganya tinggi dan syaratnya rumit. Di sini enggak ada, mudah dan cepat. Asalkan memenuhi kriteria," tegasnya.
Lebih lanjut dia mengatakan, PKBL merupakan program yang didorong pemerintah kepada BUMN. Dana PKBL disisihkan dari laba BUMN 1-3 persen. Dengan melihat manfaat dan perkembangan pelaksanaan PKBL ini, maka Jasa Raharja berkomitmen untuk tetap melanjutkannya. (sri)
15 Februari 2011
Jabar Tak Masuk Pengembangan Pasar Tradisional
Melihat kondisi itu, perlu adanya langkah-langkah pemerintah untuk tetap menjaga eksistensi pasar tradisional. "Di antaranya, tahun ini, pemerintah menganggarkan Rp 5-15 miliar untuk mengembangkan pasar-pasar tradisional di 10 kabupaten dan kota tanah air," tandas Direktorat Jenderal Perdagangan Dalam Negeri Kementerian Perdagangan RI, Gunaryo, di Hotel Savoy Homann, Jalan Asia Afrika Bandung, belum lama ini.
Sayangnya, di antara ke-10 daerah itu, tidak terdapat nama Jabar. "Ini berkaitan dengan ketersediaan anggaran," kilah Gunaryo. Ada pun ke-10 daerah itu, antara lain, Samosir (Sumatera Utara), Bengkulu, Takalar, kawasan Skow yaitu perbatasan Papua dan Papua Nugini (PNG), Kabupaten Cikia (NTB), Denpasar (Bali), Kabupaten Pacitan, Kabupaten Purworejo, dan Kabupaten Klaten.
Di tempat yang sama, seorang pemerhati kebijakan publik, Agus Pambagio, menilai, sampai saat ini, pemerintah belum menerbitkan peraturan yang jelas dan tegas mengenai pasar modern dan tradisional.
"Di antaranya, mengenai lokasi pendirian. Pastinya, hal ini butuh ketegasan dan kejelasan pemerintah. Sedangkan sampai saat ini, soal pasar tradisional dan modern, saya belum melihat adanya ketegasan dan kejelasan pemerintah," pungkas Agus. (win)
Aturan Pasar Modern dan UMKM Segera Terbit
Sebaliknya, kehadiran pasar-pasar modern begitu marak. Bahkan, pasar-pasar modern pun berdiri berdekatan dengan pasar tradisional, yang nota bene, didominasi para pelaku UMKM.
Padahal, potensi yang dimiliki para pelaku UMKM sangatlah luar biasa. Melihat kondisi itu, Kementerian Perdagangan RI melalui Direktorat Jenderal Perdagangan Dalam Negeri, berencana untuk menerbitkan produk hukum yang berkaitan dengan UMKM, pasar tradisional, dan pasar moderen.
"Bentuknya tidak tercantum dalam Undang Undang, tetapi menjadi dasar bagi kami untuk menerbitkan kebijakan mengenai kelangsungan pelaku UMKM, pasar tradisional, dan pasar moderen agar ketiganya dapat menjalin sinergitas," tandas Direktur Jenderal Perdagangan Dalam Negeri Kementerian Perdagangan RI, Gunaryo, dalam Diskusi Forum Wartawan Kementerian Perdagangan (Forward) di Hotel Savoy Homann Bandung, Jalan Asia Afrika Bandung, belum lama ini.
Intinya, jelas Gunaryo, produk hukum itu mendorong pasar modern supaya lebih melibatkan para UMKM. "Untuk itu, perlu adanya pembicaraan dan pembahasan mengenai hal tersebut," sambungnya. Sayangnya, Gunaryo tidak menyebutkan jenis dan kapan terbitnya produk hukum yang berkaitan dengan UMKM, pasar tradisional, dan pasar moderen tersebut, apakah berupa surat atau lainnya. (win)
Melihat Kerjakeras UMKM Boneka Kebonjati (Bonti)
Seperti yang dilakukan Asep Setiawan. Dengan tangan kreatifnya, warga Kampung Kebonjati Kelurahan Sukakarya Kecamatan warudoyong Kota Sukabumi ini mampu menyulap limbah pabrik tersebut, menjadi barang berharga dan membantu perekonomian keluarga.
Berangkat dari banyaknya perusahaan khususnya di bidang tekstil inilah, yang menyebabkan Asep Setiawan membuka pabrik bernama Boneka Kebonjati (Bonti). Bersama keluarganya, Asep memanfaatkan limbah yang dihasilkan dari perusahaan tadi. Limbah pabrik berupa sisa potongan-potongan bahan-bahan boneka ternyata disulap Asep Setiawan dan Isterinya Dede Herawati menjadi suatu karya yang menarik dan bisa menghasilkan rupiah.
Buktinya dari olahan tangannya, Asep bisa terus menghasilkan karya kreatif dan inovatif dengan cara mendesain berbagai motif boneka, dompet, sarung bantal, dan juga ikatan rambut. Rumah yang berada di Kampung Kebonjati Kelurahan Sukakarya Kecamatan warudoyong Kota Sukabumi ini ternyata penuh oleh berbagai hasil karya berupa boneka dan berbagai ikatan rambut, dan dompet yang dihasilkannya bersama ke 15 pekerjanya.
Pendiri sekaligus pemilik kerajinan tangan membikin dan desain boneka, Asep Setiawan mengatakan, Pada awal tahu 2002 dirinya hanya belajar otodidak untuk membikin ikatan rambut saja dari limbah pabrik yang didapatnya. Beberapa kali mencobanya membuat pola ikatan rambut sampai dengan berhasilnya satu model, ternyata hasil tersebut disukai konsumen. Satu tahun kemudian Asep mencoba kembali membuat pola mendesain boneka-boneka klasik tapi unik. Mulai dari boneka Kelinci, beruang dan juga serangga yang mempunyai kesan tersendiribagi para penggemar boneka. "Walaupun bahan baku terbatas, tetapi untuk setiap pembikinan boneka tergantung dari besar kecilnya bahan baku yang akan dibuat," ujarnya. (*)
26 Januari 2011
BI : Tahun Ini, Jabar Butuh Investasi Rp 131 Triliun
Berbicara tentang Jabar, untuk menunjang laju pertumbuhan ekonomi sebesar 6,2 persen, tatar Pasundan membutuhkan dana investasi raksasa. Nilainya, mencapai ratusan triliun.
"Benar. Investasi berperan besar menopang pertumbuhan ekonomi sebesar 6,2 persen. Melihat kondisi itu, Jabar butuh peningkatan investasi 7 persen atau menjadi Rp 131,58 triliun," tandas Kepala Kantor Bank Indonesia Bandung (KBIB), Lucky Fathul Aziz Hadibrata, di KBIB, Jalan Braga Bandung, Rabu (26/1).
Dikatakan, sekitar 30 persen total investasi pada tahun ini bersumber pada Penanaman Modal Asing (PMA) dan Penanaman Modal Dalam Negeri (PMDN). "Investasi total yang bersumber pada PMA dan PMDN sekitar Rp 39.5 triliun," sebutnya.
Selain sektor PMA dan PMDN, lanjut Lucky, investasi pada sektor perbankan pun tidak kalah pentingnya. Pihaknya, ujar Lucky, berharap, investasi pada sektor perbankan naik 9,7 persen atau Rp 27,2 triliun.
Menurutnya, sampai saat ini, ada kendala yang sejak lama menjadi permasalahan dunia investasi. Di antaranya, ketersediaan sarana infrastruktur. Jadi, tukasnya, pihaknya mendorong perbankan Jabar supaya mendukung pembangunan infrastruktur yang strategis.
"Misalnya, pembangunan short cut jalur kereta api, proyek pembangunan listrik tenaga panas bumi, ruas tol Bogor Ring Road dan Palimanan-Kanci (Palikanci), termasuk Bandara Internasional Kertajati," paparnya. (win)












