Sedapnya Mie Ayam Sehat Warna-Warni WASEGI

Pengen merasakan kelezatan Mie Ayam ini ? Anda dapat merasakannya di Foodcourt Yogya Toserba Sukabumi Lantai 3

Galeri Online Produk UMKM Sukabumi

Sekarang cari oleh-oleh produk khas Sukabumi semakin mudah dengan telah diluncurkannya galeri/toko online lengkap produk UMKM Sukabumi. Anda bisa mengunjunginya di : www.ProdukSukabumi.com

Dinamika Bisnis Anda Bisa Ditampilkan Disini

Dinamika bisnis anda di Sukabumi dapat ditampilkan dalam website ini. Anda dapat mengirimkan informasi bisnis melalui alamat email : redaksi@bisnissukabumi.com

Dinamika Bisnis Anda Bisa Ditampilkan Disini

Dinamika bisnis anda di Sukabumi dapat ditampilkan dalam website ini. Anda dapat mengirimkan informasi bisnis melalui alamat email : redaksi@bisnissukabumi.com

Galeri Online Produk UMKM Sukabumi

Sekarang cari oleh-oleh produk khas Sukabumi semakin mudah dengan telah diluncurkannya galeri/toko online lengkap produk UMKM Sukabumi. Anda bisa mengunjunginya di : www.ProdukSukabumi.com

Tampilkan postingan dengan label Profil UMKM. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Profil UMKM. Tampilkan semua postingan

12 November 2014

Portal Resmi Informasi UMKM & Bisnis di Kota Sukabumi


Kini, telah hadir portal resmi Pemerintah Kota Sukabumi yang khusus menginformasikan seputar aktifitas ekonomi da bisnis, khususnya UMKM yang ada di Kota Sukabumi. Fitur-fiturnya pun lengkap dan dapat memenuhi harapan adanya website dengan data yang lengkap.

Link portal ini adalah : www.perekonomian.sukabumikota.go.id
 


26 September 2012

UKM Layangan Sukabumi yang Bertahan

Meski saat ini sudah bukan musimnya lagi bermain layangan. Tapi, para pembuat layangan ini masih tetap setia memproduksi layangannya. Bagaimana kisahnya? 
Seperti tak mengenal musim dan rasa lelah, pria asal Subangkidul Kelurahan Subangjaya Kecamatan Cikole Kota Sukabumi Asep Saepuloh dengan sabar dan telaten menekuni usahanya membuat layang-layang. Usaha tersebut dilakoninya tersebut dijadikannya sebagai mata pencaharian utama Asep sehari-hari. Pria yang akrab disapa Epul ini mengaku, sudah menekuni pembuatan layang-layang selama 20 tahun silam. Berawal dari hobi, kini Epul mampu meraup omset sekitar Rp14 juta per dua minggu, dengan pemasaran ke daerah Sukabumi dan Cianjur. 
“Dulu saya hobi main layangan, berawal dari situlah saya mendapat ide untuk bisnis layang-layang ini,”katanya. Ketika ditemui Radar Sukabumi dikediamannya, pria ramah ini mengaku hasil dari bisnis pembuatan mainan tradisional ini cukup menggiurkan. Dalam satu hari, ia mampu memproduksi sekitar 1000 rim untuk dikirim ke Cianjur. Produk yang dihasilkan terdiri dari tiga jenis layangan, tergantung dari kualitasnya. Ada jenis layang-layang super, standar dan ada juga layang-layang Jabrug. Biasanya untuk yang super ditandai dengan kerangka layangan yang bagus, dan terbuat dari kayu berkualitas. Sedangkan untuk jabrug, dirinya mengaku kualitasnya sangat rendah. “Kalau jabrug itu, bikin layangannya asal-asalan,”ujarnya. Harga yang ditawarkannya bervariatif. Untuk yang super dijualnya dengan harga Rp700 ribu/bal dan Rp500 ribu/bal untuk jenis standar. Sedangkan untuk jabrug Rp300 ribu-Rp350 ribu. 
Menurutnya, saat musim layangan jumlah pemesan mengalami peningkatan 100 -200 persen. Untuk menangani lonjakan tersebut, pria yang dimemiliki dua orang anak ini banyak merekrut pegawai. Meski begitu, terkadang pesanan konsumen tidak semua terlayani. Biasanya permintaan mulai ramai dari Maret- Agustus. “Biasanya, kalau sudah musim layangan saya bisa kirim 60 ribu per rimnya,”kata pria yang sekarang mempunyai 25 karyawan tersebut. “Mau musim hujan atau kemarau, kita terus membuat layangan. Sehingga usaha ini insya Allah tidak akan terputus oleh musim,”tambahnya lagi. 
Hampir sama dengan pengrajin lainnya, di lapangan Epul menemukan banyak kendala. Terutama dalam hal permodalan dan kesulitan mendapat bahan baku. “Sekarang bahan baku untuk kualitas super, sudah sangat sulit. Kalaupun ada harganya pasti mahal,” katanya. Selain kesulitan bahan baku, dirinya juga mengeluhkan soal bantuan permodalan. Untuk itu, Epul meminta kepada Pemerintah Kota Sukabumi untuk lebih memperhatikan nasib para UKM yang ada di Sukabumi, untuk bisa memberikan pelayanan modal dengan bunga rendah. “Saya berharap, semoga Pemerintah Kota Sukabumi dan juga BUMN, untuk lebih memperhatikan nasib kita. Agar bisa memberikan modal dengan bunga rendah,” desaknya. 

2 Juli 2012

Produk Olahan Ikan Makin Beragam

SUKABUMI - Gerakan membudayakan gemar makan ikan terus digaungkan. Nah, supaya kebiasaan tersebut lebih dikenal, UPT Agrobisnis Perikanan Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan Kota Sukabumi bekerjasama dengan PD Anugerah Sukabumi, membuat satu program yaitu Ayo Makan Ikan. 
Kegiatan ini melibatkan masyarakat dan mahasiswa untuk memasarkan produknya sekaligus mensosialisaikan makanan ikan kepada masyarakat, dalam bentuk makanan siap saji. Diatarannya bakso ikan, nuget ikan dan otak-otak ikan. “Program ini sebenarnya sudah dari dulu diadakan. Namun sempat terhenti karena sesuatu hal, dan tahun ini mulai lagi dikembangkan dengan melibatkan para mahasiswa dan masyarakat yang mau mengembangkan bisnis ini,”kata Bagian Pemasaran PD Anugerah Sukabumi, Elan Suherlan. 
Menurutnya, produk inovasi hasil perikanan ini berupa makanan olahan berbahan dasar ikan. Tak hanya santapan atau lauk sehari-hari, ikan juga bisa diolah menjadi produk makanan ringan dan lain sebagainya. “Mudah-mudahan dengan harga terjangkau, masyarakat Kota Sukabumi bisa memakan produk olahan ikan yang sehat tanpa formalin seperti yang kami jual ini. Sesuai dengan tujuannya yaitu masyarakat Kota Sukabumi “Ayo Makan ikan”, kami berharap bisa membangun istana ikan dan kedepannya bisnis ini lebih maju lagi,”pungkas Elan. (cr5) 

Mengintip Semangat Warga Cisaat Tekuni Usaha Kue Gambang

Gambang merupakan salah satu kue ciri khas masyarakat Kampung Cimahi RT 36 RW 07 Desa Cibolangkaler Kecamatan Cisaat. Kue berwarna cokelat itu dikenal dengan rasanya yang legit dan manis. Seperti apa kondisi para pelaku usaha pembuatan kue itu ? 
Di Kampung Cimahi, hampir setiap rumah membuat kerajinan kue untuk mendongkrak perekonomian warganya. Salah satu kue yang sering dibuat yakni kue gambang. Kue berbentuk pipih persegi panjang ini merupakan kue khas Kampung Cimahi. Sayang, kini tak semua rumah warga menjalani usaha pembuatan kue ini. Meningkatnya harga gula aren di pasaran, mengakibatkan para pengrajin tidak lagi memproduksi kue tersebut. Terhitung hampir 75 persen di kampung tersebut sudah tidak lagi memproduksi kerajinan kue. “Karena mahalnya harga pokok untuk membuat kue. Bisa di katakan hampir punah karena banyak sekali pengrajin di Kampung Cimahi sudah tidak memproduksi kue lagi,” kata Enjang salah seorang Pengrajin kue yang masih bertahan. 
Bahan baku yang paling utama dalam pembuatan kue yaitu gula aren. Karena hampir setiap kue menggunakan gula, harga gula aren yang tadinya Rp6 ribu per kilogram, sekarang menjadi Rp 12 ribu per kilogram. “Akibatnya banyak sekali pengrajin kue tidak memproduksi lagi. Sebab bisa nombok,” akunya. Dilihat dari sejarahnya, kue gambang awalnya terkenal di daerah Bogor. Tetapi orang Sukabumi bilang kue itu disebut kue bodeng. Seiring dengan waktu, penamaan bodeng kurang akrab di telinga masyarakat di sini. “Karena bentuknya seperti gambang (salah satu alat musik tradisional Sunda), maka ya dinamakan seperti itu,”terangnya. 
Dalam pembuatan kue ini cukup mudah. Bahan bakunya hanya gula aren, terigu, kayu manis, soda dan wijen. “Gula aren dilempurkan ke dalam air panas, kemudian didinginkan dan diaduk dengan terigu. Kemudian setelah diaduk dimalamkan selama satu malam, setelah dimalamkan diaduk lagi. Langkah terakhir baru diopen,” papar Enjang Enjang (48) pengrajin kue gambang, ia mengatakan dirinya mendapat ilmu untuk membuat kue gambang ini secara turun temurun dari kakanya Epen (56). Pada tahun 1998 dia mulai memproduksi kue. Dia juga mengaku, masih bertahan karena tidak ada lagi pekerjaan yang bisa dikerjakan. 
“Saya tidak bisa meninggalkan kerajinan ini, karena tidak punya pekerjaan lain. Tetapi dengan naiknya bahan baku, disiasati oleh saya dengan memperkecilnya kemasan,” ujarnya. (***) 

Usaha Jasa Penjahitan Masih Menjanjikan

SUKABUMI - Salah satu bisnis pakaian yang diminati konsumen adalah bisnis jasa jahitan. Bisnis jasa jahitan memiliki peluang besar untuk menarik minat konsumen.Hal itu dikarenakan terkadang orang sering menyukai model pakaian di suatu toko, namun ukurannya tidak ada yang pas dengan tubuh konsumen itu sendiri. Tidak hanya itu, banyak orang tidak mau jika mengenakan pakaian yang pasaran atau banyak dipakai oleh orang lain. Mereka berlomba- lomba mencari jasa penjahit, yang dapat mengerjakan pakaian sesuai dengan keinginan mereka. 
Hal itulah, yang menjadikan Rijal membuka bisnis usahanya dibidang jahitan di Dayeuh Luhur Kecamatan Warudoyong Kota Sukabumi. “Bisnis ini masih sangat prospektif dan banyak peluangnya,”ujarnya kepada Radar Sukabumi. Usaha yang digelutinya saat ini ia namakan Sinar Cikondang Taylor. Disini konsumennya meliputi anak sekolah, remaja, orang tua, baik wanita maupun pria. Biasanya mereka menjahit untuk keperluan membuat seragam dan baju pribadi sesuai dengan model yang mereka inginkan. “Jasa ini bisa dijangkau oleh kalangan menengah ke atas maupun kalangan menengah bawah,”urainya. 
Bersama satu pekerjanya Ridwan. Rijal berharap jasa jahit yang dirintis sejak 2008 silam ini menjadi lebih baik dan diminati masyarakat sekitar. Sebab, dengan akan berakhirnya tahun ajaran 2011-2012 dan akan masuk tahun ajaran 2012-2013 biasanya untuk jasa jahit akan meningkat hingga 50%. (cr5) 

Melirik “Gurihnya” Bisnis Lele Sangkuriang

Sebuah usaha agro bisnis yang terbilang memiliki prospek dan hasil tinggi dalam dunia perniagaan saat ini salah satunya adalah lele Sangkuriang. Seperti halnya yang tengah dilakukan Andri Setiadi. Usaha tersebut tengah menjadikannnya sebagai pengusaha beromset tinggi setiap bulannya. Seperti apa usaha yang tengah ia jalankan?
Keuletan menjadi modal Andri Setiadi warga Kampung Legoksirna RT03 RW03 Desa Langensari, Parungkuda untuk mengurusi kolam-kolam kecil berukuran 3x3meter yang berisi sejumlah benih ikan berwarna gelap itu. Benih lele sangat rentan dan sensitif. Namun karena keuletan dan ketekunananya mengurus dan memeliharanya dengan teratur, lele kecil itu kini menjadi sebuah mesin produksi yang dapat menghasilkan lembaran-lembaran rupiah yang menjanjikan. 
Di usianya yang masih tergolong muda, ia mampu menjadikan dirinya sebagai seorang usahawan sukses dan profesional. Usaha yang sebelumnya hanya sebagai uji coba dan sampingan itu, kini tengah berkembang hingga menjadi sebuah produsen dan pemasok pasar hingga keluar daerah. “Usaha yang saat ini masih dalam tahap pengembangan ini awaalnya hanya sebagai sampingan, namun karena semakin banyaknya pesanan dan pemasarnnyapun tidak terlalu sulit. Hal itu membuat saya berpikir untuk terus mengembangkannya,”kata Andri, pria kelahiran Padang 1984 ini. 
Sebelumnya, jumlah lele yang dipeliharanya hanya sekitar dua ribu ekor. namun karena sebelumnya memiliki dasar dalam dunia perikanan, ia terus mengembangkannya hingga saat ini ia mampu mengeluarkan sekitar lima sampai enam ribu ekor setiap pekannya. “Lumayan, hanya sedikit buat tabungan,”ujarnya. Selain itu usaha yang tengah ia kembangkan ini tidak hanya pemeliharaan untuk konsumsi, tetapi ia memulainya dari nol atau dari pembibitan sendiri hingga siap jual. “Tidak membutuhkan waktu lama untuk memelihara lele jenis sangkuriang ini, hanya sekitar empat bulan saja dari penetasan hingga panen,”akunya. 
Selain itu, dalam pemeliharaan dan perawatan yang dilakukan tidak terlalu rumit namun butuh perhatian dan keteraturan ekstra. Seorang pegawai, Hari Sunardi menuturkan, pemeliharaan lele tidaklah terlalu sulit, namun cukup membutuhkan pehatian lebih dan tidak boleh lengah. “Karena itu, usaha ini sangatlah rentan gagal bagi para pengusaha awal,”tuturnya. 
Dari beberapa jenis lele yang ada, jenis lele sangkuriang adalah salah satu jenis komoditi utama pilihan masyarakat umumnya. Selain itu, dalam kandungan rasa dan nilai ekonomi, jenis ini lebih diunggulkan. “Hal itu mungkin yang menjadi pembeda antara lel jenis sangkuriang dan jenis lainnya,” kata Hari. Kemudian daripada itu, segala ukuran yang menjadi klasifikasinya, kesemuanya memiliki harga dan jenis yang berparias dari ukuran yang terkecil, kemudian ukuran 34,38,57,58,68 hingga daging atau ukuran konsumsi berdeda harga dan nilainya. “hal itu tentu tidak terlepas dari kualitas yang diperlihatkan dalam lele itu sendiri, yang mana hal itu tergantung daripada pemeliharaanya,” kata Andri. 
Pemeliharaan lele Sangkuriang tidaklah membutuhkan waktu lama yakni untuk masa perkawinan, sekitar dua pekan dengan jumlah lele jantan dan betina sama dalam satu tempat. “Tentu sebelumnya dipisah terlebih dahulu,” imbuhnya. Kemudia penetasan hany sekitar 1-2 hari, setelah itu proses pemeliharaan ekstra dimulai, sebab saat-saat itu sejak usia sehari hingga ukuran-ukuran tertentu sangat rawan terhadap penyakit dan kematian. ” Rencananya tidak lama lagi akan melakukan penambahan dan pelebaran lokasi penampungan, sebab yang ada saat ini tidak cukup untuk menampung dan memeliharanya,”pungkasnya.(**) 

22 Juni 2012

Kerajinan Tanduk Ukir : Gagang Kacamata Buatan Jerman Itu Dari Sukaraja

Sukabumi - Meneruskan usaha orang tuanya yang dibangun sejak 1920-an, kini Tin Kartini dan anaknya Cecep Maulana bahu membahu menjalankan Karya Seni Tanduk. Produknya sudah menembus mancanegara, bahkan dipakai untuk frame kacamata buatan Jerman. Anda mungkin penggemar dan pemakai kacamata merek terkenal buatan Jerman. Tapi tahukah Anda bahwa bahan baku pembuatan frame kacamata tersebut berasal dari sebuah desa di Indonesia, tepatnya di kawasan Sukaraja, Sukabumi, Jawa Barat? Ya, bahan baku gagang kacamata kelas atas tersebut memang terbuat dari tanduk kerbau yang merupakan produk kerajinan masyarakat Sukaraja. “Tanduk kerbau memiliki keunggulan makanya digunakan sebagai gagang kacamata produksi Jerman,” kata pimpinan Karya Seni Tanduk Sukabumi Cecep Maulana. Penggunaan bahan baku tersebut, kata Cecep, setelah dia bersama industri kecil di wilayah itu mengekspor tanduk kepala kerbau ke Jerman dan Brasil, tahun lalu. “Masih ada beberapa negara lain yang meminta dalam jumlah cukup banyak, diantaranya Australia, Jepang, dan Korea. Namun, karena keterbatasan produksi, permintaan itu belum dapat dipenuhi,” paparnya lagi. 
Usaha kerajinan tanduk kerbau, kata Cecep, merupakan warisan turun temurun dari kakek neneknya. Menurut cerita Tin Kartini, orang tua Cecep, yang ditemui Gema Rakyat Indonesia di sebuah pameran UKM di Jakarta beberapa waktu lalu, salah satu anaknya (Cecep) memang sedang giat-giatnya mengembangkan usaha yang dibangun orang tua Tin Kartini alias kakek-nenek Cecep sejak puluhan tahun silam. 
Saat orang tuanya, Uba dan Onih, sudah sudah tidak sanggup lagi menjalankan usaha Karya Seni Tanduk yang sudah dijalalankan sejak 1920-an, Tin Kartini lantas meneruskan usaha orangtuanya. “Kala itu pesanan sedang banyak-banyaknya sementara yang menangani usaha tidak ada lagi, Ya, daripada ditolak akhirnya pada 1970 saya memilih melanjutkan usaha ini dengan modal Rp 5 juta yang digunakan untuk membeli bahan baku dan membayar tenaga perajin. Kebetulan saat itu ada pesanan dari Jepang, Korea, Eropa dan Timur Tengah untuk pembuatan hiasan dari tanduk,” kenang perempuan yang biasa disapa Tin ini. 
Tin mengaku, ketika itu produknya lebih banyak diminati pasar luar. Pesananpun tidak sedikit, bisa mencapai satu kontainer. Untuk memenuhi permintaan pasar kala itu, dia mempekerjakan tak kurang dari 40 perajin. Permintaan desainpun beraneka ragam, mulai dari hiasan tanduk, patung burung, ikan dan sebagainya. “Selain melayani permintaan pasar kami juga kerap menciptakan desain baru. Setiap bulan pasti kami tawarkan desain baru supaya pelanggan tidak jenuh. Tapi biasanya pasar luar lebih banyak memesan hiasan tanduk atau patung,” aku perempuan kelahiran Sukabumi 21 April 1952 ini. 
Sementara desain-desain lain seperti gelang, jepitan rambut, sisir, penggaruk punggung kurang diminati. Daripada barang menumpuk, Tin pun mulai memasuki pasar dalam negeri. “Saat suami saya meninggal pada 1975 sayapun total menangani sendiri usaha. Waktu itu produk banyak menumpuk, akhirnya saya menawarkan kerjasama dengan toserba Sarinah dan membuka workshop di rumah, di daerah Sukaraja, Sukabumi,”cerita dia. Melalui Sarinah dia kerap diajak pameran ke berbagai daerah di Indonesia dan luar negeri. Selain itu Tin juga pernah bekerjasama dengan Pasar Raya, sebuah Toserba di Jakarta. Tapi karena harga sewanya yang mahal dan lamanya proses pembayaran, terpaksa kerjasama itu dihentikan. “Pembayarannya lama sekali, perputaran modal saya berhenti,” keluhnya. 
Saat Indonesia mengalami krisis moneter dan berbagai guncangan, usaha Tin kena imbasnya. Pesanan dari Eropa sudah tidak ada lagi. Sedangkan Jepang, Korea menurun drastis. Pesanan paling rutin dari Timur Tengah, tapi pesanannya tidak sebanyak dulu. Terpaksalah Tin merumahkan beberapa perajinnya. “Saat ini perajin tetap saya ada lima orang. Kalau ada pesanan, barulah saya bekerjasama dengan perajin di daerah tempat tinggal saya. Sayangnya, sekarang ini sulit sekali mencari perajin yang bisa mengukir tanduk menjadi hiasan patung. Jadi, kalau ada pesanan patung dalam jumlah banyak untuk waktu cepat, terpaksa saya tolak,” aku perempuan paro baya yang masih terlihat enerjik ini. 
Untuk mempertahankan usahanya, Tin kerap mengikuti berbagai pameran. Usahanya ini membuahkan hasil. Kini produknya sudah memasuki pasar Kalimantan, Sulawesi dan berbagai daerah di Indonesia. Dalam sebulan, setidaknya Tin bisa memproduksi 500 pieces dengan harga mulai dari lima ribuan sampai jutaan rupiah, tergantung hiasan yang dibuat. Sementara itu, bahan baku untuk membuat hiasan diperolehnya dari Sumatera Utara dan Tanah Abang (Jakarta). “Untuk tanduk kerbau dan sapi saya sudah ada langganan di Medan, sedangkan tanduk kambing saya sudah ada langganan di Pasar Tanah Abang,”aku ibu empat anak ini. 
Ke depan, Tin berharap bisa menembus pasar luar negeri kembali. “Tapi karena saya sudah tua, saat ini usaha dilanjutkan oleh anak saya, Cecep Maulana. Untuk memulai pemasaran ke luar negeri, Cecep mulai memasarkan produk lewat internet,” terang Tin berpromosi. Di tangan Cecep, Karya Seni Tanduk saat ini diakuinya masih bisa bertahan. Meski ada produk sejenis yang datang dari China, tapi kerajinan produksi Karya Seni Tanduk, seperti sisir, penggaruk, miniatur hewan, pipa rokok, aksesoris wanita, masih diminati pasar lokal. 
Menurut Cecep, selama ini kerajinan tangan yang diproduksinya memiliki nilai ekonomi tinggi dan beromzet lumayan, bisa mencapai Rp 15 juta sampai Rp 20 juta sebulan. Cecep mengatakan, tingginya permintaan terhadap produk miliknya, dikarenakan keunikan bahan baku dan kualitas yang dihasilkan. “Konsumen menilai, bahan baku yang digunakan unik dan jarang. Itulah yang menyebabkan permintaan terus datang. Tentu, kita juga menjaganya dengan menjaga kualitas,” tandasnya.

6 Maret 2012

Lezatnya Kue Produksi Abah Cake

SUKABUMI - Dari bahan baku yang terjamin kualitasnya dan diolah menggunakan mesin modern, menghasilkan aneka kue yang memiliki ciri khas tersendiri. Seperti hasil produksi dari Abah Cake. Berbekal Sedikit keterampilan saat bekerja di salah satu Hotel, Taufik Kurohman (42) yang karib disapa Abah mulai merintis usahanya di tahun 2008 silam. Usaha yang dirintisnya ini memproduksi kue hias, yang kemudian dikembangkan setelah dua tahun memproduksi kue Cake. Usahanya ini, beralamat di Jalan KH A Sanusi Gang Cemara Nomor 5 Kelurahan Sukakarya, Kecamatan Warudoyong Kota Sukabumi. 
Memasuki tahun 2010, usahanya sudah mulai ada peningkatan. Dalam satu hari, memproduksi sekitar 20 kue Cake dan satu buah kue hias sesuai dengan pesanan. “Mulanya saya bekerja di Hotel, namun kena PHK. Akhirnya, saya mencoba untuk membuka usaha dengan bermodalkan keterampilan. Tetapi, alhamdullillah usaha saya bisa melebarkan sayapnya hingga sekarang,” tutur Pemilik usaha kue Abah Cake, Taufik Kurochman saat ditemui  dikediamannya, kemarin. 
Aneka kue hias di produksinya, seperti kue pengantin, kue ulang tahun dan kue khitanan yang disuguhkan harga mulai dari Rp75 ribu-Rp200 ribu. Selain kue penganting, Abah Cake memproduksi aneka kue Cake dengan beragam rasanya. Diantaranya, rasa pisang, rasa pandan, rasa coklat yang dihargai Rp24 ribu per loyang ukuran 22. Sedangkan kue Cake rasa durian, diberikan harga Rp28 ribu per loyang ukuran 22. Selain aneka kue Cake dan kue hias, Abah Cake memproduksi donat isi strawberry dan blueberry yang ditaburi keju dengan harga hanya Rp1.000. “Pemasaran hanya di wilayah Kota dan Kabupaten Sukabumi, wilayah Cicurug banyaknya pesanan,” paparnya. 
Pengolahan dengan cara modern, sehingga terjamin kualitasnya dan dijamin halal. Salah satu keunggulan dari hasil produksi Abah Cake, yaitu donat. Donat hasil olahannya, memiliki adonan yang lembut dengan isi rasa strawberry dan blueberry dengan cara disuntikan dan juga harga yang terjangkau. “Dalam sehari, sekitar 20 konsumen singgah yang kebanyakan memburu donat. Abah Cake buka setiap hari, dari pukul 09.00-16.00 WIB,” ujarnya. 
Salah satu kendala dalam menjalankan usahanya, bahan baku merangkak naik karena bahan bakunya termasuk sembako. Sehingga hasil produksinya harus disesuikan dengan harga, dari pada menaikan harga jual lebih baik volume atau postur kue sedikit dikurangi. Namun, tidak mengurangi kualitas produksinya dan tetap terjamin. “Mudah-mudahan Abah Cake bisa berkembang dan pemasaran bisa lebih luas lagi,” harapnya. (Radar Sukabumi)

30 Januari 2012

Profil Pengusaha Aneka Kue di Cikiray - Cisaat

Foto : Radar Sukabumi
Bicara soal kuliner di Sukabumi, sepertinya tidak akan ada habisnya, hal itu karena hampir diseluruh pelosok Sukabumi menjamur lautan industri rumahan yang bergerak tanpa lelah. Seiring dengan itu, segudang kreasi dan inovasi terus dilakukan untuk mampu menerobos pasar-pasar besar di tanah air, mulai supermarket, toko, kios, warung dan pasar tradisional tak ada yang terlewatkan. Begitupula dengan produk kue Aneka Rasa olahan Anisah Hamidi (52) di Kampung Cikiray Kaler Desa Sukamanah Kecamatan Cisaat Kabupaten Sukabumi. 
Salah satu kawasan yang tak pernah absen dalam kemunculan kreasi dan inovasi dibidang kuliner adalah kawasan Kecmatan Cisaat Kabupaten Sukabumi tepatnya di Kampung Cikiray Kaler Desa Sukamanah. Di tempat inilah muncul karya baru yang meramaikan belantika wisata kuliner di bidang home Industri salah satu kuliner kue made in Anisah. Sejak tahun 1980 Kue Aneka Rasa dibangun Anisah dengan bermodalkan hobi yang dibalut dengan ilmu-ilmu yang didapatkan dari berbagai kursus, sehingga berkat ketekunan dan keseriusan ribuan produk Aneka Rasa pun tak kuasa dibendung hingga akhirnya merambah keberbagai daerah dan kota-kota besar di Jawa Barat seperti Cianjur, Tasikmalaya, Bandung, Bogor dan juga kota dan di Sukabumi tentunya tak terlewatkan. 
Nampak kesemangatan terpancar dari sosok Anisah karena hampir setiap waktu perempuan berumur 52 tahun ini senantiasa menciptakan ide guna membuat produk-produk unggulan seperti aneka kue pengantin, ulang tahun, khitanan mulai Bolu Pisang, Bolu Surabaya yang jenisnya ada sekitar 50 jenis. Jika anda dan keluarga berkunjung ke Rumah Aneka Rasa, pasti mata anda akan disuguhi pemandangan berbagai macam bentuk dan ukuran aneka kue dan bolu dengan aneka rasa yang mantap harganya pun sangat terjangkau mulai dari harga Rp.50.000 ribu – Rp2,5 juta. Sudah hampir 31 tahun Anisah tanpa lelah mengolah usahanya ini dan hasil penjualannyapun dapat mencapai hingga Rp3 juta perhari, padahal dulu sewaktu ia pertama kali buka usaha ini hanya bermodalkan uang Rp40 ribu saja dan yang paling ia banggakan manakala seluruh pelanggannya termanjakan dengan citarasa produknya. 
“Selain sisi bisnis, usaha ini sengaja saya buka guna mengembangkan hobi serta menerapkan ilmu-ilmu yang diperoleh dalam kursus-kursus pengembangan dan pengolahan makanan,” jelasnya kepada Radar Sukabumi. Ade Saepul Hidayat (36 ) seorang pelanggan Kue Aneka Rasa. Dirinya membenarkan bahwasanya semua produk-produk karya Aneka Rasa ini memang tak ada duanya.”Jujur aja, produk aneka rasa ini tak ada bandingannya rasa paling mantap dan harganyapun murah banget,”akunya. 
Hanya kesuksesan usaha Aneka Rasa nampaknya belum sepenuhnya mendapat perhatian dari pemerintah, dalam hal ini pemerintah Kabupaten Sukabumi.” Kami sangat mengharapkan adanya bantuan dari pemerintah terutama kaitan dengan permodalan dan konsep pemasaran, “ungkapnya. (Radar Sukabumi

Profil Pengusaha Tempe Ibu Turiah di Gunungpuyuh

Foto : Radar Sukabumi
Tempe makanan yang banyak mengandung protein. Makanan yang terbuat dari kacang kedelai ini sudah tidak awam lagi dilidah semua orang. Kini semua masakan khas yang banyak dihidangkan dalam berbagai acara baik resmi seremonial maupun keseharian. Teknik pembuatan tempe juga tidak terlalu sulit serta modal yang digunakan relatif terjangkau oleh semua lapisan masyarat. 
Sekitar tahun 1980 silam, Turiah bersama suaminya Wahid Hasan (alm) mulai merintis usahanya. Usaha yang dirintisnya ini, yaitu memproduksi tempe. Awal produksi tempe, Turiah mengeluarkan modal untuk memperoleh bahan baku sebesar Rp50 ribu, sedangkan untuk mendapatkan peralatan produksi tempe sebesar Rp100 ribu. Saat itu harga kacang kedelai masih terbilang murah yakni sekitar Rp1.300 perkilo gramnya, Turiah memproduksi 20 kilo gram per harinya. Tempe hasil produksinya itu pada awal merintis usahanya, disuguhkan dengan harga Rp150. Memasuki tahun 1995, usahanya ini sudah banyak dikenal masyarakat dan sudah berkembang pesat. 
Banyaknya pesanan tempe, menjadikan jumlah produksi semakin meningkat. Yang semula hanya 20 kilo gram per hari, menjadi 3 kwintal per hari setiap produksi. Semula harga tempe Rp150, menjadi Rp1.000. Usahanya ini dari tahun ke tahun semakin berkembang, hal ini karena tidak ada saingan sehingga konsumen banyak yang pesan. Namun, ditahun 2002 usahanya mulai ada penurunan. Turiah bersama suaminya, terus berupaya dengan penuh kesabaran dan keuletan untuk bisa mempertahankan usahanya. Tetapi hingga saat ini, usahanya sulit untuk bangkit kembali seperti dulu. “Sekarang saya seorang yang mengelola usaha ini, karena suami saya Wahid Hasan tepatnya 27 Agustus 2011 telah meninggal dunia. Sehingga terasa semakin sulit untuk bisa berkembang, sedangkan modal sudah tidak cukup lagi. Saya harus bisa mempertahankan usaha ini, karena saya harus menyekolahkan anak saya yang duduk dibangku SMA kelas 2. Keuntungan yang saya kantongi, hanya Rp50 ribu per hari,” ungkap Turiah (55) pemilik usaha tempe seraya mengeluarkan air mata teringat suaminya yang sudah tiada meninggalkannya, kemarin. 
Semakin menurunnya pesanan, berimbah kepada jumlah produksi yang ikut menurun. Yang semula 3 kwintal per hari, kini hanya 150 kilo gram per hari. Tempe hasil olahannya, disuguhkan dengan harga Rp6 ribu untuk ukuran 1 kilo gram 3 ons, sedangkan untuk ukuran 1 kilo gram disuguhkan dengan harga Rp5 ribu. Turiah mempekerjakan 3 orang tenaga kerja yang membantu proses produksi. “Di musim penghujan ini, kadang pesanan tidak ada sama sekali sehingga tempe yang sudah siap dipasarkan tidak terjual. Tempe kekuatannya hanya 2 hari, dari pada mubajir lebih saya bagikan saja. Saya tidak mendapatkan keuntungan, tetapi upah tenaga kerja harus saya bayar tiap hari,” tuturnya. 
Banyaknya saingan, mahalnya bayar PDAM, listrik dan upah tenaga kerja sehingga berakibat usaha semakin menurun lama kelamaannya bisa gulung tikar. Pemasukan minim, tetapi pengeluaran besar. Turiah mengandalkan usahanya ini untuk bisa memenuhi kebutuhan hidup bersama anaknya dan juga dari usaha inilah Turiah bisa menyekolahkan purtinya. “Banyaknya saingan, modal kurang, pesanan tidak ada dan harga kacang kedelai semakin merangkak. Hal inilah yang menjadi kendala dalam menembangkan usaha saya ini. Saya berharap, pemerintah khususnya Disperindag mau memberikan bantuannya dalam segi permodalan kepada usaha saya agar usaha saya ini bisa meningkat. Dari hasil produksi tempe, saya bisa bertahan hidup dan menyekolahkan anak,” ujarnya. (Radar Sukabumi

24 Januari 2012

Deri Kreasi Sulap Kayu Bekas Jadi Kerajinan Antik

Awalnya seorang pekerja biasa. Lama kelamaan dari kepiawaiannya mengolah kayu menjadi barang antik membuat Sukarta Atmaja (55) membuka bisnisnya sendiri. Kini bersama istrinya, Sukarta menghasilkan karya seni yang bernilai jual tinggi. Sekitar tahun 1982, di Kp. Cibatu Caringin Desa Neglasari Kecamatan Cisaat Kabupaten Sukabumi tampil sosok cekatan bernama Sukarta Atmaja (55). Ayah lima orang anak ini bersama isterinya Sri Mulyati(50) memulai usaha dibidang kerajinan tangan. Usahanya tersebut dinamakan Deri Kreasi. 
Diambil dari nama salah satu putranya dan hingga kini karyanya diminati dan dicari orang. Tak sedikit konsumen yang mengagumi karyanya tersebut. Bahkan, mereka pun rela mengeluarkan uang untuk memiliki karya yang disukainya. Ribuan produk laris terjual, membuat Deri Kreasi ini makin di minati para penyuka kerajinan tangan. Hingga akhirnya pesanan datang silih berganti, dibantu sekitar 20 orang pekerjanya, Sukarta setiap harinya melayani berbagai pesanan yang datang. Di tempat usahanya ini, ia menyulap bekas limbah (kayu,red) menjadi barang antik. Mulai dari nampan, tempat pisau, tempat gelas, rak buku, meja belajar juga meja telpon hingga papan catur. Semua selalu menjadi dambaan para penyuka kerajinan tangan mengingat bentuk yang unik dan harganya terjangkau serta memiliki kwalitas yang teruji. Berbagai jenis kerajinan tangan, dirinya ciptakan dengan idenya sendiri yang didapat secara alamiah. Hal inilah yang menyebabkan bentuk dan corak selalu unik.
”Saya menciptakan karya ini bukan meniru karya orang lain. Tapi senantiasa menciptakan bentuk baru untuk kesenangan pengunjung,”ujar Sukarta Atmaja. Untuk menghasilkan sebuah produk unggulan. Ia menyeleksi kayu sebagai bahan baku, kemudian dibentuk pola sesuai kebutuhan. Lalu dilakukan pemotongan dan proses penghalusan hingga pengecetan. Akhirnya barang siap dipasarkan. 
Deri Kreasi setiap harinya memproduksi ratusan produk. Kini usahanya makin melaju kencang terlebih setelah dirinya bermitra dengan tempat bernaungnya para pengrajin dalam wadah Dewan Kerajinan Nasional Daerah (Dekranasda). Segudang kegiatan pameran dan berbagai bantuan selalu didapatkannya. “Usaha Pak Sukarta ini melaju pesat. Apalagi setelah bermitra dengan Dekranasda. Pemerintah daerah senantiasa memfasilitasi dan mendukung kegiatan para pengrajin,”terang Kabid Koperasi Diskoperindag Kabupaten Sukabumi, Husni. ( Laporan – Esa Septi Juanda Ulfach – Radar Sukabumi)

Produsen Triplek Terkendala Modal Usaha

SUKABUMI – Produksi triplek atau kayu lapis (Plywood) di Kota Sukabumi cukup banyak. Salah satu produsenya CV Intan Kayu memproduksi kayu lapis ini untuk bahan utama pembuat meja, kursi, pintu, jendela. Perusahaan yang terletak di Jalan Selaeurih No. 58 Kota Sukabumi ini mengolah kayu gelondongan menggunakan mesin modern untuk pengupasan atau pengikisan kayu tersebut. Setelah menjadi bahan setengah jadi, kemudian memasarkan ke wilayah Jakarta Bogor Tangeran dan Bekasi (Jabotabek). “Kayu gelondongan ini merupakan kayu masyarakat yang tidak merusak lingkungan karena bisa ditanam kembali setelah penebangan,” kata pemilik CV. Intan Kayu, Winata, kemarin. 
Dia mengawali usaha ini sejak 2008 silam. Winata sebelumnya pernah bekerja di salah satu perusahaan yang memproduksi kayu lapis di kawasan Cikembar, Kota Sukabumi. Berbekal pengalamannya, dia pun berinisiatif untuk membuka usaha sendiri bersama rekan dekatnya. Dalam sehari, dia meraih omzet penjualan sekitar Rp15 juta per hari dengan waktu kerja selama 26 hari/bulan. Selama empat tahun menjalankan usaha ia mengaku hanya mampu bertahan dengan keuntungan relatif tipis. Selain itu modal kerja menjadi penghambat lajunya usaha sehigga kapasitas produksinya tak bisa mencukupi semua pesanan. “Tiap pengiriman barang, perusahan selalu ngutang. Sebulan sekali mereka baru membayarnya. Padahal biaya operasional dan upah tenaga kerja harus bayar kontan,” ujarnya. 
CV Intan Kayu saat ini memiliki enam tenaga kerja dan tenaga pemasaran sebanyak 40 orang yang tersebar di kawasan Jabotabek. Dia pun berharap warga Sukabumi memilih produknya agar perusahaan dapat berkembang pesat. Selain itu,ada bantuan kredit berbunga rendah dari pemerintah untuk mengembangkan usahanya. “Mudah-mudahan ada kucuran dana dari pemerintah, agar usaha saya ini bisa lebih maju,” pungkasnya. (Radar Sukabumi

Profil Usaha Berbahan Baku Pala

Hasil Pelatihan, membuahkan ide untuk membuka laha usaha. Cahya (34) mulai merintis usahanya untuk memproduksi miniman sirup pala di Jl. Raya Cisaat No. 248 Sukabumi, produksinya dari tahun ke tahun semakin meningkat. Cahya mampu maraup omset sampai Rp50 juta. Gimana perjalanannya? 
Bermula dari sebuah pelatihan pembuatan sirup pala dan manisan pala sekitar tahun 2002, yang diikuti oleh seluruh pengrajin manisan pala yang ada di Cisaat Sukabumi. Pelatihan yang diselenggarakan Badan Pengkajian dan Penerapan Teknilogi (BPPT), Dinkes Kabupaten Sukabumi dan Balai Penelitian Tanaman Rempah-rempah dan Obat (BALITRO) tersebut bertujuan untuk memproduksi sirup yang berasal dari buah pala, lantaran selama ini mayoritas masyarakat hanya mengenal manisan pala saja. Karena hasil dari pelatihan itu belumlah sempurna. Lalu, Cahya berinisiatif untuk mempraktikkannya di rumah. Namun, hasilnya selalu gagal. 
Meski demikian, kegagalan tak membuat Cahya putus asa, berulang kali ia terus mencobanya untuk bisa menemukan formula yang pas dalam pembuatan sirup pala. Akhirnya tahun 2004, Cahya bisa menemukan formula sirup pala yang pas. Keberhasilan Cahya mendapatkan formula yang pas untuk membuat sirup pala. Cahya pun mulai merintis usahanya untuk memproduksi sirup manisan. Mulai memproduksi sirup pala sekitar 100 botol, setiap ada pameran mencoba untuk dipamerkan, sekalian mempromosikan produknya. Seiring berjalannya waktu, usaha yang dirintisnya sudah mulai dikenal masyarakat. Menginjak tahun 2007, pesanan konsumen meningkat. Sehingga menambah produksi sirup pala menjadi 1 ribu botol. Produksi sirup pala segers, memiliki ciri khas rasa pala yang alami, sehingga banyak masyarakat yang mengincarnya. “Alhamdullillah, pesanan masyarakat akan produk yang saya kelola setiap tahun makin meningkat,”ujar Cahya kepada Radar Sukabumi. Ia menjelaskan, dari tahun 2009 sudah bisa memproduksi 1.500 botol dan hingga sekarang setiap kali produksi mampu menghasilkan 2 ribu botol. Walapun distributor baru di dua wilayah, yaitu Sukabumi dan Cianjur tapi pemasaran sudah mulai berkembang. “Alhamdulillah setiap tahun terus berkembang. Asalkan pemasarannya bagus, usaha bisa makin berkembang,”ujarnya. 
Cara produksi yang masih manual, terpaksa konsumen yang memesan sirup pala jelang hari besar atau Idul Fitri harus menunggu sampai dua bulan. “Distributor belum merata, karena masih bersifat UKM dan marketing atau pemasaran belum banyak. Teknologi masih sederhana, sehingga ketika ada pesanan yang mendadak banyak yang keteter,”terangnya. Dalam mengelola usahanya, Cahya dibantu lima orang tenaga kerja yang sifatnya borongan. Dimana ada pesanan, tenaga kerja tersebut dikontrak. Ketika memproduksi manisan pala, produksi sirup pala pun terhenti. Hal ini disebabkan produksi dilakukan di tempat yang sama. Harga yang dipasarkan Rp17.500-Rp18.000. “Harapan saya dengan telah mulai berkembangnya usaha ini, bisa memiliki tempat produksi sendiri untuk memproduksi manisan pala dan sirup pala. Serta dibantu peralatan yang memadai , agar perputaran uang bisa lancar. Semoga usaha saya bisa mendapatkan kesempatan untuk mendapatkan kucuran dana dari Diskoperindag Sukabumi,” harapnya.( Laporan: Esa Septi Juanda Ulfach - Radar Sukabumi

Pengrajin Krei Butuh Bantuan Permodalan

KADUDAMPIT - Sejumlah pengrajin krei yang berpusat di Kampung Citamiang RT 06 RW 01 Desa Citamiang Kecamatan Kadudampit mengimpikan adanya bantuan permodalan. Hal itu demi pengembangan usaha tersebut. Usaha mereka selama ini tidak berjalan dengan mulus. Bahkan ada beberapa pengrajin pindah ke pekerjaan lain. Karena kerajinan itu untuk sekarang susah untuk dikembangkan akibat harga bahan bakunya yang terus meningkat. Sementara harga penjualan tidak kunjung naik. Padahal ada sebagian warga menggantungkan hidupnya kepada kerajinan itu. Selama ini mereka menjual harga satuan dari krei bambu itu Rp9 ribu. Sementara harga bahan baku bambu satu batangnya dibeli dengan harga yang sama. Karena itu lah banyak sekali pengrajin yang mengalami kerugian. 
Menurut salah seorang pengrajin, Ai nur (40), menurutnya penghasilan kali ini berkurang akibat harga baku semakin tinggi, sementara harga jual tidak kunjung meningkat. “Duh untuk sekarang mah agak berkurang dalam penghasilannya. Akibat dari harga bakan baku bambu naik sementara harga jualnya turun,” katanya. Sementara Wawa (51) pengrajin lain, mengatakan hal yang sama dengan ai, ia mengaku penghasilannya berkurang. “Ya mungkin karena kurangnya modal, jadi usaha ini tidak berkembang-berkembang. Apalgi harga bakan baku naik, sementara harga jual begitu saja,” ungkapnya. Maka dari itu sejumlah warga Citamiang berharap kepada dinas terkait adanya bantuan permodalan untuk mengembangkan usaha mereka. (Radar Sukabumi)

20 Januari 2012

Mengenal Pengrajin Sepatu Tertua Di Sukabumi

Kreatifitas warga Kota Sukabumi cukup tinggi. Salah satunya pengrajin sepatu, Rudi Najarudin. Dia mampu mengeluarkan ide-ide desain yang tetap menjadi populer di masyarakat. Seperti apa ?

Sejak bangsa ini merebut kemerdekaan pada 1945 silam, warga Indonesia, khususnya Sukabumi menyambutnya dengan suka cita. Ini tak lain karena bangsa ini dapat berkreasi dan mandiri untuk kemakmurannya bangsanya sendiri. Seperti warga Kota Sukabumi, alm Daud yang tinggal di Jl.Pasundan No.65 Kota Sukabumi dapat leluasa memulai usaha yang bergerak di bidang kerajinan pembuatan sepatu. Dengan menggunakan peralatan serba sederhana, keluarga alm Daud mengembangkan usahanya ini. Berbagai macam order pun datang mengalir untuk kreasi sepatunya. 
Pada 1980-an, usahanya ini berkembang pesat. Saat ini penerus alm Daud yakni anak keduanya Rudi Najarudin (52) dan istrinya Tini Kartini (51). “Saya pun membarenginya dengan tekad kuat agar usaha ini maju. Kami juga menggunakan konsep baru agar menarik minat pelanggan,” ujar Owner Rudi Shoes, Rudi Najarudin (52). Buah jatuh tak jauh dari pohonnya. Begitupun dengan seluruh karya Rudi, sepertinya karya orang tuanya. Ini yang membuat para pelanggan semakin terus memakai produknya. Bahkan distribusi produknya sampai Propinsi Aceh Nanggroe Darussalam, Palembang hingga Pulau Kalimantan. Pesanan sepatu ini datang mului perseorangan hingga perusahaan dan kedinasan. 
Keistimewaan produk sepatu Rudi ini yakni harganya terjangkau dan kualitas terjamin. Tak hanya membuat sepatu, Rudi juga membuat sandal dan reparasi tas, sepatu dan jaket.Tarif reparasi ini relatif terjangkau mulai dari Rp 200 ribu sampai Rp 500ribu. “Kami mengerjakan empat karyawan terampil, jadi untuk menghasilkan satu unit produk sepatu bisa selesai dalam waktu singkat,” ujarnya. 
Proses pembuatan sepatu ini pertama kali menyiapkan pola. Kemudian melakukan pemotongan,penjahitan hingga akhirnya sebuah sepatu siap dipasarkan. “Usaha kami ini mampu bertahan hingga sekarang meski banyak pesaing, terutama produk impor,”urainya. 
Menurut salah satu pelanggan Rudi Shoes, Bayu Sukma Sejati (44) dia menggunakan produk sepatu Rudi ini karena tak kalah dengan produk luar. Makanya ia mengajak masyarakat Kota Sukabumi untuk mencintai produk dalam negeri. “Kita harus terus menggunakan produk dalam negeri seperti produk sepatu asli Sukabumi karena bisa memajukan sektor usaha kecil menengah (UKM),” kata Bayu yang juga salah satu pegawai asuransi swasta di Kota Sukabumi.(*) 

Laporan : Esa Septi Juanda Ulfach - Radar Sukabumi

29 September 2011

Asep Setiawan, Pengusaha Boneka Daur Ulang

Kreatifitas Asep Setiawan patut diacungi jempol. Limbah rumah tangga yang umumnya dibuang, malah dimanfaatkannya hingga bernilai uang. Dari mengolah limbah menjadi boneka, Asep kini memiliki industri rumah tangga yang mampu mempekerjaan sejumlah tetangganya. Warga Kebonjati RT 01/03 Kelurahan Sukakarya, Kecamatan Warudoyong Kota Sukabumi, Asep Setiawan (39) dengan kreatifitasnya mampu mengubah sampah rumah tangga menjadi hasil kerajinan yang mempunyai nilai jual tinggi. 
Dari sisa potongan-potongan kain di salah satu pabrik yang biasanya dibakar atau dibuang, tenyata menjadi nilai lebih bagi Asep. Dirinya mengawali menjadi pengrajin boneka tersebut, berkat salah satu temannya yang memberikan limbah pada saat dirinya sedang menganggur dan butuh kerjaan. “Awalnya saat saya menganggur, teman saya memberikan sisa potongan kain. Lalu, saya mencoba peruntungan dengan mengubahnya menjadi boneka. Hasilnya di luar dugaan produksinya hingga keluar kota yakni Bandung, Cianjur, Pelabuhanratu, Bogor dan lainnya,” ujar Asep. 
Dalam waktu sebulan dirinya memproduksi 1.000 boneka. Harganya variatif mulai Rp 6.000 sampai Rp 200 ribu tergantung jenis dan ukuran boneka. “Harga tergantung jenis ukuran dan model, model rumit lebih mahal,” imbuhnya Namun, dengan minimnya biaya usaha yang ditekuninya tidak ada kemajuan yang signifikan sejak 2002 sampai sekarang, sehingga dalam produksi tidak bisa optimal dengan peralatan seadanya yakni mesin jahit, gunting dan lainnya. “Kami gunakan peralatan yang seadanya, terkadang saya perbantukan tetangga,” tandasnya. 
Kini pembuatan boneka ini menjadi tumpuan bagi Asep dan pekerjanya untuk menghasilkan uang. Apalagi dengan prospek bisnis yang menjanjikan, Asep optimis usahanya ini akan terus berkembang. “Apalagi kalau pemerintah mau membantu mengembangkan usaha kami ini,” katanya. Asep mengeluhkan atas modal yang dimilikinya padahal banyak warga membantu dalam membuat kerajinan boneka tersebut, tapi untuk bahan dirinya sangat menyayangkan kurangnya perhatian Pemerintah. “Perhatian pemerintah kurang kami pun tidak bisa optimal untuk memberdayakan masyarakat sekitar,” harapnya.(*)

Oleh : Falah Kurnia Robbi