Sedapnya Mie Ayam Sehat Warna-Warni WASEGI

Pengen merasakan kelezatan Mie Ayam ini ? Anda dapat merasakannya di Foodcourt Yogya Toserba Sukabumi Lantai 3

Galeri Online Produk UMKM Sukabumi

Sekarang cari oleh-oleh produk khas Sukabumi semakin mudah dengan telah diluncurkannya galeri/toko online lengkap produk UMKM Sukabumi. Anda bisa mengunjunginya di : www.ProdukSukabumi.com

Dinamika Bisnis Anda Bisa Ditampilkan Disini

Dinamika bisnis anda di Sukabumi dapat ditampilkan dalam website ini. Anda dapat mengirimkan informasi bisnis melalui alamat email : redaksi@bisnissukabumi.com

Dinamika Bisnis Anda Bisa Ditampilkan Disini

Dinamika bisnis anda di Sukabumi dapat ditampilkan dalam website ini. Anda dapat mengirimkan informasi bisnis melalui alamat email : redaksi@bisnissukabumi.com

Galeri Online Produk UMKM Sukabumi

Sekarang cari oleh-oleh produk khas Sukabumi semakin mudah dengan telah diluncurkannya galeri/toko online lengkap produk UMKM Sukabumi. Anda bisa mengunjunginya di : www.ProdukSukabumi.com

Tampilkan postingan dengan label kota. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label kota. Tampilkan semua postingan

8 Desember 2011

Pasar Pelita Akan Direnovasi Pertengahan 2012

SUKABUMI – Pasar Pelita direncanakan bakal dibongkar pertengahan tahun depan. Rencananya, pasar tradisional ini akan direnovasi menjadi pasar modern. Belum disebutkan berapa nilai investasi untuk perombakan salah satu pusat perdagangan ternama di Kota Sukabumi ini. Namun Kepala Dinas Koperasi Perindsutrian dan Perdagangan (Koperindag), Dudi Fathul Djawad memastikan renovasi Pasar pelita sudah diajukan RAPBD 2012. “Kalau tidak ada halangan dan mendapat persetujuan dari dewan, kami merencanakan renovasi Pasar Pelita, Juni tahun depan,” ujar Dudi di ruang kerjanya. 
Dijelaskan Dudi, pembongkaran Pasar Pelita yang identik dengan pasar tradisional ini akan berubah menjadi pasar modern, tapi tidak sepenuhnya menghilangkan kesan tradisional di dalamnya seperti unsur tawar menawar yang sangat kental. “Nuansa tradisional akan tetap ada, yang menonjol sisi modernisasinya terletak pada sisi bangunannya saja yang lebih mewah,” jelasnya. 
Lazimnya pembongkaran pasar, Dudi juga sudah memprediksi bakal terjadi kontroversi terkait rencana ini. Pasalnya pasar yang akan dibangun ini akan membuat sebagian pedagang mengeluh. “Pembongkaran besar ini akan merubah struktur bangunan pasar tapi tidak akan bergeser,” tandas Dudi. Pembangunan pasar yang akan memfasilitasi masyarakat agar lebih memberikan keleluasan masyarakat dalam berjual beli, sekaligus memberikan kenyamanan masyarakat supaya tidak takut tindakan kriminal di dalam pasar. 
“Untuk saat ini pemerintah akan memberikan tampilan baru Pasar Pelita nanti, tapi tidak akan bergeser lokasinya dan diharapkan pasar pelita ini akan menjadi ikon perdagangan yang bersih di Sukabumi. Di sisi lain Dudi menjelaskan perkembangan pasar modern di Kota Sukabumi tidak akan dibatasi oleh pemerintah Kota Sukabumi. Bahkan, kehadirannya dinilai mendukung Kota Sukabumi sebagai Kota Jasa Perdagangan. 
Saat diminta tanggapannya terhadap menjamurnya minimarket atau swalayan di Kota Sukabumi. Dudi menyatakan pasar tradisional dan pasar modern di Kota Sukabumi tidak akan dibatasi keberadaannya. “Dikarenakan, keduanya sangat diperlukan. Masing-masing pasar itu memiliki segmentasi pasar yang berbeda. Sehingga kehadiran pasar tersebut bisa seiring dengan Kota Sukabumi sebagai Kota Pusat Perdagangan,” ujar Dudi. Tentunya, lanjut Dudi, kehidupan perdagangan akan menjadi ikon, sehingga banyak warga (baik masyarakat Kota Sukabumi maupun luar,red) yang datang ke Kota Sukabumi yang memerlukan layanan jasa perdagangan. Akhirnya bisa meningkatkan laju perekonomian di Kota Sukabumi. 
“Yang terpenting adalah setiap pendirian pasar modern, harus memenuhi persyaratan. Salah satunya mereka harus menjalin kemitraan usaha antara pasar modern, pasar tradisional dan UMKM. Serta wajib merekrut tenaga kerja lokal,”urainya. Itu semua, lanjut Dudi sesuai dengan aturan perizinan tertanggal 23 Februari 2011. Dimana, kewenangan untuk mengeluarkan surat perizinan atas pendirian pasar modern (swalayan,red) tersebut ditangani oleh bagian teknik pada Kantor Penanaman Modal dan Pelayanan Terpadu (KPMPT) Kota Sukabumi yang salah satu anggotanya adalah Diskoperindag Kota Sukabumi. “Namun demikian, kita tetap memperhatikan jarak atau radius keberadaan pasar modern dengan pasar tradisional. Agar tidak mengganggu kelangsungan pasar tradisional itu sendiri. Untuk itu, kami menghimbau agar para pedagang mengutamakan pelayanannya terhadap konsumen dan juga menjaga kebersihan,”pungkasnya. 
Di sisi lain tanggapan dari salah seorang pedagang kecil yang sering disapa Syariah menuturkan, ” adanya minimarket dan swalayan semakin marak di Kota Sukabumi, sehingga persaingan sulit dihadapi oleh pedagang kecil seperti saya. Kebanyakan masyarakat beralih ke swalayan dan minimarket untuk menutupi kebutuhan sehari-harinya. Mungkin masyarakat melihat kwalitas dari produk yang terjamin di sawalayan dan minimarket, sehingga berujung tidak banyak masyarakat yang singgah ke warung saya untuk berbelanja”, katanya.((cr1/cr3) 

24 November 2011

PNS Sukabumi Dihimbau Beli Produk Lokal

Sukabumi - Wali Kota Sukabumi Mokhamad Muslikh Abdussyukur mengimbau kepada seluruh pegawai negeri sipil (PNS) di lingkungan Pemkot Sukabumi menggunakan produk lokal asli Jawa Barat. Tujuannya, sebagai bentuk upaya mengembangkan keberadaan pelaku usaha kecil dan menengah (UKM). 
Imbauan itu malah sudah disampaikan melalui Surat Edaran Wali Kota Sukabumi tertanggal 14 Juli lalu yang ditujukan kepada semua organisasi perangkat daerah (OPD) Pemkot Sukabumi. "Gerakan moral ini menindaklanjuti Surat Gubernur Jabar Ahmad Heryawan beberapa waktu yang lalu mengenai gerakan penggunaan produk UKM di Jabar," kata Muslikh kepada wartawan, Selasa (26/7/2011). 
Muslikh mencontohkan produk lokal yang bisa dipakai misalnya sepatu dan batik. Selain harganya terjangkau, kualitas produk UKM di Kota Sukabumi juga tidak kalah dibandingkan daerah lainnya. Berdasarkan data Dinas Koperasi, Perindustrian, dan Perdagangan (Diskoperindag) Kota Sukabumi, saat ini jumlah UKM mencapai sebanyak 16.752 unit. 
Kepala Diskoperindag Kota Sukabumi Dudi Fathul Jawad mengungkapkan, perkembangan UKM di kota cukup pesat. Kondisi itu, kata Dudi, akan semakin berkembang setelah keluar kebijakan pemakaian produk lokal Jabar. Kesempatan tersebut haus dimanfaatkan semaksimal mungkin oleh para pelaku UKM di Sukabumi. [gin]

Peluang Bisnis Kelinci Hias Yang Menggiurkan

SUKABUMI – Budidaya kelinci hias ternyata mampu memberikan kehidupan bagi banyak orang yang menekuninya. Selain orang suka akan keindahan kelinci hias ,banyak pula orang yang menggantungkan hidupnya dari membudidayakan dan memasarkan kelinci yang jenisnya bermacam-macam. Tak jarang beberapa petani atau peternak yang semula menekuni budidaya hewan konsumsi, kini beralih menekuni budidaya kelinci hias. Semua itu dilakukan karena peluang usaha dan potensi ekonomisnya lebih menggiurkan dibandingkan dengan hewan konsumsi, seperti sapi atau kambing. 
Hal tersebut dikatakan Kepala Bidang (Kabid) Peternakan pada Dinas Pertanian Kota Sukabumi, Cecep Mansur. Kepada Radar Sukabumi dirinya menjelaskan bahwa dengan pola pemeliharaan dan pemberian makanan yang hampir sama dengan hewan konsumsi, budidaya kelinci hias mampu menghasilkan pemasukan yang lebih besar karena harganya lebih mahal. “Kunci membudidayakan hewan hias seperti kelinci hias adalah telaten dan senang di dalam memeliharanya,”ujarnya. 
Bisnis budi daya kelinci hias telah menjadi sumber penghasilan sebagian warga Kota Sukabumi, selain ikan hias air tawar yang cukup populer dengan sebutan ikan koi. Bentuk tubuh dan bulu indah yang dimiliki kelinci hias ini menjadi pemikat bagi para penggemarnya mulai dari anak-anak hingga orang dewasa berkantong tebal. “Bayangkan saja kelinci biasa berharga dalam kisaran 15 ribu-20 ribu per kilo tetapi kelinci hias harganya berkisar Rp 100 ribu -250 ribu per ekor bahkan bisa lebih, apalagi jika kelinci hias ini berhasil menjadi juara dalam sebuah kontes,”terangnya. 
Besarnya minat memelihara kelinci hias juga didukung oleh kemudahan dalam memelihara dan membudidayakannya. Tidak memerlukan lahan yang luas serta makanan yang mudah diperoleh di sekitar tempat tinggal. “Tak heran jika menggeluti bisnis budi daya kelinci hias ini menjadi peluang usaha yang menawarkan keuntungan yang cukup lumayan. Untuk itu, kami mengajak masyarakat Kota Sukabumi lainnya untuk sama-sama mengembangkan bisnis hewan hias ini. Jika tertarik silahkan datang langsung ke kantor kami atau bisa juga datang ke komunitas atau kelompok Imoetz, kami siap memberikan penyuluhan,”himbaunya yang juga menambahkan di Kota Sukabumi sendiri telah ada komunitas kelinci hias seperti Imoetz dan lainnya, mereka tersebar di kecamatan-kecamatan yang ada di Kota Sukabumi. “Hobi memelihara kelinci hias terkadang membuat orang betah berlama-lama di depan kandangnya atau di halaman saat dilepaskan, berapapun biaya rela dikeluarkan untuk menyalurkan hobi tersebut,” katanya. (sri) 

Jelang Libur Panjang, Hunian Hotel Masih Sepi

SUKABUMI - Lagi, akibat belum ditetapkannya jadwal libur panjang oleh pemerintah, menjadikan sejumlah perusahaan harus bisa memutar otak agar bisnisnya tetap lancar. Meski perayaan Natal dan tahun baru 2012 sebentar lagi, namun nyatanya hal ini belum berimbas positif bagi mereka. 
Seperti yang dirasakan manajemen A’Rondari Hotel Sukabumi. Hotel yang setara dengan Hotel Melati 3 ini berlokasi di Jl.Sriwidari Kota Sukabumi ini masih sepi pengunjung. “Tingkat hunian hotel kami masih sepi-sepi saja. Bahkan, belum ada satupun pengunjung yang membooking kamar,”kata Koordinator karyawan A’Rondari Hotel, Andi Saeful saat ditemui diruang kerjanya. 
Andi pun mengaku bahwa kondisi tersebut ditengarai karena A’Rondari Hotel masih baru satu tahun dibuka, sehingga belum banyak dikenal oleh masyarakat. Dan pemerintah sendiri belum menetapkan kepastian waktu libur. “Dua hal itulah yang menjadikan tingkat hunian hotel disini belum ada peningkatan, artinya masih sepi pengunjung yang ingin beristirahat,”ujarnya. 
Meski demikian, dirinya optimis kondisi tersebut bisa berubah. Seiring dengan fasilitas hotel yang dimiliki. “A’Rondari Hotel memiliki 18 kamar di antaranya ada tipe superior, deluxe, junior suite, suite dan family. Selain itu, disini juga ada swimming pool, meeting room, beauty parlor dan masih banyak lagi fasilitas lain yang bisa dirasakan pengunjung,”tuturnya. Tak hanya itu, A’Rondari Hotel ini juga pernah dikunjungi band papan atas, seperti D’masiv, Vagetoz, Drive dan Geisha untuk beristirahat,saat mereka berkunjung ke Kota Sukabumi. “Dengan suasana yang sepi jauh dari kebisingan, pelayanan ramah dan ruangan yang bersih diharapkan bisa membuat pengunjung puas dan nyaman serasa di rumah sendiri,” imbuhnya. 
Dirinya memastikan, seminggu menjelang Natal dan Tahun Baru 2011, A’Rondari Hotel akan menaikan tarif sewa kamar sebesar 30 persen. Dan tarif baru kembali normal setelah lima hari pasca tahun baru. “Tentunya tidak hanya A’Rondari Hotel saja yang akan menaikkan tarifnya. Semua hotelpun juga sama akan menaikan tarif menjelang Natal dan Tahun Baru 2012, sekitar 30-50 persen,”katanya yang juga menambahkan bagi pegawai swasta atau negeri yang sering menggunakan A’Rondari Hotel saat berkunjung ke Kota Sukabumi, akan mendapatkan gratis satu kamar atau diskon sekitar 30 persen. 
“Itu semua kami lakukan dengan harapan A’Rondari Hotel ini bisa lebih terkenal lagi dan juga pengunjung yang datang lebih meningkat,”tutupnya.(cr3) 

22 November 2011

Inflasi Kota Sukabumi Stabil 3,28 Persen


SUKABUMI - Badan Pusat Statistik (BPS) Kota Sukabumi memprediksikan hingga November 2011, kondisi perekonomian di Kota Sukabumi stabil. Hal tersebut disebabkan faktor cuaca yang mendukung iklim pertanian. 
Seperti yang dikatakan Kepala BPS Kota Sukabumi, Dudung Supriadi. Menurutnya, meski cuaca tidak mempengaruhi inflansi tapi yang bisa menyebabkan inflansi, ketersediaan dan permintaan masyarakat kecuali barang-barang impor berdasarkan nilai tukar rupiah.
Musim hujan yang melanda Kota Sukabumi akhir-akhir ini, lanjut Dudung sangat bermanfaat khususnya bagi para petani. Lantaran produksi pertaniannya bisa meningkat bila dibanding dengan musim kemarau. “Kondisi inilah yang melatarbelakangi tingkat inflasi di Kota Sukabumi dari Januari – November 2011 relatif stabil sekitar 3, 28 persen,”ujar Dudung saat dikonfirmasi Radar Sukabumi di ruang kerjanya, kemarin.
Meski relatif stabil, diakui Dudung, laju inflasi ini akan mengalami kenaikan satu bulan ke depan tepatnya Desember 2011. Namun tak perlu khawatir karena kenaikan itu tidak akan mencapai 50 persen. “Masyarakat tidak perlu khawatir akan naiknya inflasi di Desember. Sebab, Idul Fitri dan Idul Adha  telah dilalui yang notabene di dua hari besar keagamaan itu terjadi kenaikan harga barang yang cukup signifikan,”bebernya.
BPS menghasilkan keragaman data statistik baik sosial maupun ekonomi, yang di manfaatkan baik pemerintah, dunia usaha maupun masyarakat umum. Fenomena yang terjadi di daerah perkotaan menunjukan luas lahan sawah akan semakin berkurang sejalan dengan banyaknya pembangunan di bidang perumahan, perdagangan atapun industri sehingga fungsi lahan pertanian berubah fungsi menjadi lahan bukan pertanian.
Masyarakat/responden hendaknya memberikan data secara akurat kepada pihak BPS. Karena dengan data tersebut bisa menggambarkan perekonomian Kota Sukabumi. “Kadang-kadang kedatangan tim BPS tidak di respon masyarakat. Sehingga hal ini menjadi kendala untuk mendapatkan data yang benar dan akurat tentang perekonomian di Kota Sukabumi. Semoga inflansi lebih stabil dan bisa lebih baik sesuai dengan seperti harapan masyarakat,”pungkasnya.(cr3)

7 November 2011

Pasca Lebaran, Harga Daging Tetap Meroket

SUKABUMI -- Biasanya, sejumlah harga sembako mengalami penurunan pasca lebaran. Namun, hal ini tidak terjadi di Kota Sukabumi. Meski Hari Raya Idul Adha 1432 H telah dilakukan, ironisnya di semua pasar tradisional yang ada di Kota Sukabumi lonjakan harga masih tetap terjadi, alhasil membuat konsumen menjerit. Berdasarkan pantauan Radar Sukabumi di lapangan. Kenaikan harga terjadi sepekan terakhir ini. Kenaikan yang cukup signifikan terjadi pada jenis daging. Misalnya saja daging sapi dan daging ayam harganya terus meroket. 
Di Pasar Pelita Kota Sukabumi, daging sapi menembus angka Rp.70 ribu/kg. Padahal sebelumnya harga daging sapi di pasaran hanya Rp 60 rbu/kg. Sedangkan harga daging ayam potong masih tetap Rp25 ribu/kg dari harga awal Rp22 ribu/kg. Begitupun dengan harga daging kambing juga mengalami kenaikan dari harga Rp55 rbu/kg menjadi Rp65 ribu/kg. “Pada musim lebaran pasti harga daging mengalami kenaikan, dan sangat sulit sekali harga diturunkan,”ujar salah seorang pedagang daging di Pasar Pelita Kota Sukabumi, Parman (55). Pria yang sudah 15 tahun berjualan daging ini mengaku saat ini harga khususnya daging masih belum mengalami penurunan. “Kami tidak tahu kapan harga daging-daging ini akan turun. Toh sekarang pun lebarannya telah lewat tapi harga tetap belum ada perubahan alias belum turun. Saya ga berani menurunkan harga karena harga belinya juga sudah naik, nanti saya rugi dong,”bebernya. 
Kenaikan harga juga diikuti oleh melambungnya harga jual pada komoditi lainnya. Cabe merah misalnya harga semula Rp35 ribu/kg menjadi Rp40 ribu/kg. Begitupun dengan jenis cabe rawit terus melaju tinggi dari Rp20 ribu/kg menjadi Rp.25 ribu/kg. “Harga makin naik saja padahal kan sudah selesai lebarannya juga harusnya harga bisa turun. Saya sebagai masyarakat berharap dinas terkait Diskoperindag Kota Sukabumi membantu kami agar harga ini bisa ditekan pasca lebaran,”pungkas Elisa (29), seorang ibu rumahtangga yang tinggal di Parungseah Sukabumi. (cr2) 

2 November 2011

Pembahasan UMK Kota 2012 Deadlock

Cikole - Rapat pembahasan Upah Minimum Kota (UMK) Kota Sukabumi 2012 di Aula Dinsostek-PB, kemarin, berakhir buntu (deadlock). Keinginan pihak pengusaha dan buruh tidak ada titik temu setelah kedua pihak bertahan pada besaran UMK yang masing-masing diajukan. Padahal ini merupakan pertemuan kedua untuk membahas UMK. Tak ayal rapat pun kembali ditunda untuk pembahasan lebih lanjut yang direncanakan dalam waktu dekat.
Dua usulan UMK yang menjadi perdebatan dalam rapat tersebut, yaitu usulan kalangan pengusaha sebesar Rp890 ribu, sementara sebagian besar perkumpulan buruh bertahan di angka Rp925 ribu. Pembahasan UMK yang dipimpin Dewan Pengupahan Kota (Depeko) Sukabumi sekaligus Kepala Dinsostek-PB Kota Sukabumi dihadiri para pengusaha dan Asosiasi buruh Kota Sukabumi.

8 Oktober 2011

Suksesnya Pengrajin Perak Sukabumi

Kota Sukabumi bukan hanya terkenal  dengan  wisata  kulinernya  saja. Namun  kota  yang  dijuluki Kota  Moci  inipun  kaya  akan  aneka ragam  kerajinan  tangan. Salah satunya pengrajin Perak Bumi.
Bila Anda  dan keluarga berwisata  ke Kota Sukabumi tidak ada salahnya untuk singgah  sejenak  ke Perak Bumi yang berlokasi di Jalan  Otista Kota Sukabumi. Tepatnya diseberang rel Kerata api Sukabumi- Bandung inilah terdapat tempat  pembuatan sekaligus pemasaran aksesoris  khas Kota Sukabumi  yang  berbahan  baku perak yang dikelola langsung oleh Dasep S Mustakim (48).
Hampir setiap saat tempat ini selalu ramai pengunjung. Disini banyak yang menunggu pesanan berbagai macam bentuk dan corak aksesoris ini. Tidak hanya konsumen yang datang dari pelosok saja, bahkan orang tuanya pun banyak yang menyukainya. Terlihat sejumlah remaja semua usia menghampiri tempat dimana Dasep menyalurkan keahliannya tersebut.
Owner Perak Bumi, Dasep S MUstakim (48) mengaku tak menyangka jika  usahanya dibidang  perak ini sukses seperti sekarang. Awalnya kegiatannya itu bermula dari keisengan. Namun  seiring berjalanannya  waktu  produk kerajinan tangannya ini bisa tembus ke pasaran lokal ,nasional hingga internasional . Bukan hanya pasar di Jakarta, Bandung  dan Bogor saja, tapi karyanya ini sampai nembus ke Malaysia dan Singapura.
“Kami senang karya kami bisa disenangi orang. Karya kami ini sudah langganan meraih berbagai macam penghargaan. Berulang kali karya kami diikutsertakan sebagai peserta di setiap pameran baik yang diselenggarakan Pemkot Sukabumi lewat Diskoperindag ataupun ditingkat nasional, seperti pameran Smesco dan  Koperatif di Bandung,”ujarnya kepada Radar Sukabumi.
Februari  2006 lalu menjadi langkah awal Dasep  memulai bisnisnya di bidang kerajinan tangan ini dengan  nama Perak Bumi yang  artinya  Perak  Sukabumi. Awalnya  dia  berharap  dengan kegiatan ini dia ingin menyatukan seluruh pengrajin  perak yang ada di Kota Sukabumi dalam sebuah  wadah. Sehingga para pengunjung dan  penyuka  aksesoris tidak  perlu sulit mencarinya.
“Bahkan  hal ini bisa  menaikan  Pendapatan Asli Daerah (PAD) Kota Sukabumi,”terangnya.
Berbagai macam bentuk dan corak bisa dihasilkan Dasep. Mulai dari gelang, cincin dan kalung serta  berbagai macam aksesoris lainnya. Tidak itu saja, harga yang ditawarkan sangat  terjangkau.
“Harganya sangat terjangkau alias murah. Untuk 1 gramnya Rp 25 ribu,”bebernya.
Saking banyaknya order dan pesanan dari berbagai daerah, Dasep mengaku kewalahan. Karena  menurutnya kekurangan tenaga atau karyawan. “Kita sekarang lagi kerepotan. Masalahnya  banyaknya pesanan konsumen, tapi tenaga kita kekurangan. Sehingga banyak pesanan yang kita tolak,”tuturnya.
Saat ditanya masalah  keutungan  yang diperoleh  dari  karyanya tersebut, Dasep mengaku  bahwa keuntungan bersih yang diterima sekitar Rp 5 juta/hari. Kini usahanya mulai  berkembang ke aksesoris. Tak tanggung tanggung Dasep sekarang membuka cabang baru di Gg. Harapan Jl. A Yani Kota Sukabumi dan  di depan Tiga Dara (samping Ramayana Sukabumi,red) bernama  “Atu Asesoris”. “Jadi sekarang bagi penyuka aksesoris berbahan perak dijamin ga bakalan susah nyari lagi. Saya ucapkan banyak terimakasih pada Pemkot Sukabumi terlebih kepada Diskoperindag. Namun ada yang belum terlaksana karena dari  dulu saya ingin punya lahan untuk menampung  seluruh  pengarajin  perak se-Kota Sukabumi atau pasar kerajinan  perak satu atap seperti di Rawa Besi Jakarta. Saya harap ada bantuan untuk memfasilitasi pelatihan. Untuk menciptakan pengrajin perak yang  baru,”pungkasnya. (*)




Ingin Bangun Pasar Perak Bumi Satu Atap, Harap Dibantu Pemda
Keutungan  yang diperoleh  dari pembuatan perak ini cukup fantastis. Pengelolanya bisa meraih keuntungan bersih sekitar Rp 5 juta/hari. Tak hanya itu, usahanya mulai berkembang dengan membuka cabang baru.
Berbagai macam bentuk, corak dan ragam asesoris yang dihasilkan pengrajin asal Kota Sukabumi Perak Bumi sudah tidak diragukan lagi. Terlebih buah karya putra Sukabumi ini mampu menuju pasar Asia mulai dari Malaysia hingga Singapura. Apalagi pasar domestik sepertinya sudah jadi santapan sehari hari.
Hampir tiap hari para penggemar asesoris berbahan baku perak ini terus membanjiri lokasi kerajinan perak yang berlokasi di Jalan Otista Kota Sukabumi.
Dalam perjalanannya, Dasep Mustaqim (48) melihat antusiasme para pecinta perak di Sukabumi cukup tinggi. Lantas dirinya memberanikan diri untuk membuat pusat kerajinan yang ia namakan Perak Bumi.
Dasep pun memiliki cita-cita untuk makin menggencarkan pemasaran produk yang berasal dari perak ini. “Saya ingin menggabungkan seluruh pengrajin perak yang ada di Kota Sukabumi yang kini keberadaannya terpencar pencar. Ada yang di Pasar Pelita, Cisaat hingga Kota Paris,”ujarnya kepada Radar Sukabumi.
Konsep yang dicita-citakannya tersebut tiada lain untuk memanjakan penyuka aksesoris perak. “Saya ingin membangun Pasar Perak Bumi Satu Atap. Artinya seluruh pengrajin aksesoris perak mulai dari penggosok,pengrajin dan para tukang krum berkumpul bersama disebuah tempat pemasaran. Sehingga para penyuka aksesoris ini bisa dengan mudah mencari dan mebeli produk perak yang merupakan khas Kota Sukabumi. Bahkan jika pasar ini benar benar terwujud bisa menaikkan PAD,”katanya.
Para  pengrajin perak di Kota Sukabumi ini mencapai 70 orang lebih yang keberadaannya terpisah pisah. Semuanya tersebar di bebagai sudut Kota Sukabumi. “Mayoritas yang diharapkan para pengrajin ini bisa dibantu Pemerintah Kota Sukabumi maupun pusat dalam hal pendanaan. Guna mempertahankan produk perak yang merupakan salah satu khas Kota Moci,”imbuhnya.
Laporan : Hendi Subrata- Radar Sukabumi

Tarif Retribusi Pasar Kota Akan naik 100%

Cikole - Kabar buruk bagi pedagang pasar di Kota Sukabumi. Dalam waktu dekat, retribusi pasar hampir pasti akan
naik 100 persen, menyusul pembahasan retribusi pasar oleh panitia khusus yang membahas lima raperda retribusi.
Jika selama ini Rp500, maka nantinya retribusi pasar menjadi Rp1.000. “Ini baru rencana, belum ada kepastian naik atau tidaknya. Tapi, melihat kondisi kemungkinan besar akan ada kenaikan,” ujar Wakil Ketua Pansus Raperda Retribusi, Dedy R Wijaya kepada wartawan usai rapat pansus, kemarin (6/10).
Menurut Dedy, kenaikan sendiri dianggap wajar melihat Kota Sukabumi masih yang terkecil dalam penerapan retribusi pasar. “Daerah lain sudah pada naik. Seperti Kabupaten Sukabumi, Kabupaten Cianjur dan lainnya. Bahkan di Cianjur dan Kabupaten Sukabumi retribusinya mencapai Rp 4.000,” sambungnya.
Bukan itu saja, dari kalangan pedagang sendiri banyak yang sudah membayar Rp 1.000 padahal seharusnya Rp 500. Hal ini juga yang membuat pihak pansus mengatakan kenaikan ini masih dalam taraf normal. “Kita juga akan kembali memanggil setiap SKPD terkait untuk mematangkan rencana ini,” terangnya.
Sementara itu, untuk mengantisipasi kebocoran Pendapatan Asli Daerah dari retribusi, pihak pansus menawarkan beberapa konsep di antaranya menawarkan pihak ketiga untuk mengelolanya. Mereka beralasan, ketika hal ini ditangani pihak ketiga, akan memaksimalkan PAD yang ditargetkan pemerintah. Bukan hanya itu, tingkat kebocoran PAD pun peluangnya lebih kecil.
Sementara itu, menurut Anggota Pansus, Bayu Waluya kenaikan retribusi pasar ini dibarengi dengan fasilitas yang memadai bagi para pedagang. “Saya secara pribadi tidak keberatan jika ada kenaikan retribusi. Asalkan, fasilitasnya pun diperhatikan,” ujar Bayu.
Misalnya, akses jalan akan lebih diperhatikan sehingga lalu lintas pedagang lebih baik, sehingga mereka nyaman dalam menjalankan aktifitas jual beli di pasar. “Jangan sampai retribusi naik, tapi pedagang maupun pembeli malah mengeluh dengan kondisi pasar yang becek,” jelasnya.(rp4)

Kemarau, Harga Beras dan Cabai Naik

Sukabumi – Musim kemarau yang melanda Kota Sukabumi saat ini berimbas pada kenaikan sejumlah harga kebutuhan bahan pokok. Seperti yang terjadi di sejumlah pasar Kota Sukabumi. Berdasarkan pantauan Radar Sukabumi di lapangan kemarin, sembako yang mengalami kenaikan yang cukup signifikan diantaranya jenis komoditi cabe  merah semula Rp 10 ribu/Kg naik menjadi Rp  16 ribu/Kg. 
Demikian juga beras mengalamilonjakan harga. Untuk jenis beras Kelas I dari Rp.6.700/Kg kini menjadi Rp.7 ribu/Kg  sedangkan  untuk  beras Kelas II semula Rp 6.200/Kg  sekarang Rp 6.600/Kg dan daging ayam broiler semula Rp.18 ribu/Kg menjadi Rp 24 ribu/Kg. Sedangkan harga sembako lainnya yang mengalami penurunan harga terjadi pada gula pasir semula Rp 10ribu/Kg turun menjadi Rp 9.500/Kg, minyak goreng semula Rp 10 ribu/Kg sekarang  Rp 9ribu/Kg dan telur ayam semula  Rp 18ribu/kg menjadi Rp 14 ribu/Kg.
Saat dikonfirmasi mengenai kenaikan harga ini, sejumlah pedagang di pasar Kota Sukabumi mengku bahwa kenaikan sebagian harga sembako ini disebabkan stok barang yang menipis akibat  musim kemarau. Seperti cabe dan  beras. “Stok bahan pokok semuanya  masih cukup. Hanya saja di beberapa  jenis komoditi menipis karena kemarau,”kata Ai Nurlela(38 ), seorang pedagang di Pasar Gudang Kota Sukabumi.
Senada juga dikatakan Aning Koswara(27). Pedagang daging ayam ini mengeluhkan akibat naiknya harga ini menjadikan banyak kawan-kawannya sesama pedagang ayam terpaksa libur. “Tidak sedikit teman kami sesama pedagang ayam disini tidak berjualan. Karena barangnya  jarang dan cenderung  berubah harganya. Kami harap harga kembali stabil lagi,”ujarnya.
Salah seorang konsumen Iar Sumiati (30) saat ditemui Radar Sukabumi di Pasar Gudang juga mengeluh. “Kenaikan sebagian  harga ini sangat berimbas pada daya beli kami selaku konsumen. Biasanya dengan Rp10 ribu saya bisa mendapatkan satu kilo cabai, nah sekarang terpaksa  saya menguranginya hanya bisa membeli setengah kilo saja untuk mengirit. Saya harap Pemkot Sukabumi melalui dinas terkait segera mengatasi kondisi ini agar segera turun kembali,”tuturnya.
Sementara itu, di tempat terpisah Kepala Dinas Koperasi Perindustrian dan Perdagangan (Diskoperindag) Kota Sukabumi yang  diwakili Sekretarisnya Achmad  Rizali saat dikonfirmasi  Radar Sukabumi di ruang kerjanya kemarin, membenarkan adanya kenaikan sejumlah harga sembako di pasar Kota Sukabumi.
“Memang benar di pasaran terjadi kenaikan harga beberapa komoditi. Kami selalu melakukan  pengecekan harga sembako di pasaran,”ucapnya.
Menurutnya, Pemkot Sukabumi melalui Diskoperindag  tidak bisa menentukan Harga Eceran  Tertentu (HET). “Kami tidak bisa menentukan HET untuk sembako ini. Karena wewenang Diskoperindag  hanya sebatas memantau harga saja. Hanya jika terjadi kenaikan sembako  jenis beras, Diskoperindag secepatnya akan melakukan operasi pasar ke sejumlah kecamatan  yang ada  di Kota Sukabumi. Dengan senantiasa berkoordiansi dengan semua unsur mulai dari para pelaku usaha termasuk dengan Bulog Sub Drive Cianjur. Agar bisa menekan angka  kenaikan harga sehingga bisa meringankan beban masyarakat apalagi di musim kemarau seperti sekarang,”(cr.2)