Sedapnya Mie Ayam Sehat Warna-Warni WASEGI

Pengen merasakan kelezatan Mie Ayam ini ? Anda dapat merasakannya di Foodcourt Yogya Toserba Sukabumi Lantai 3

Galeri Online Produk UMKM Sukabumi

Sekarang cari oleh-oleh produk khas Sukabumi semakin mudah dengan telah diluncurkannya galeri/toko online lengkap produk UMKM Sukabumi. Anda bisa mengunjunginya di : www.ProdukSukabumi.com

Dinamika Bisnis Anda Bisa Ditampilkan Disini

Dinamika bisnis anda di Sukabumi dapat ditampilkan dalam website ini. Anda dapat mengirimkan informasi bisnis melalui alamat email : redaksi@bisnissukabumi.com

Dinamika Bisnis Anda Bisa Ditampilkan Disini

Dinamika bisnis anda di Sukabumi dapat ditampilkan dalam website ini. Anda dapat mengirimkan informasi bisnis melalui alamat email : redaksi@bisnissukabumi.com

Galeri Online Produk UMKM Sukabumi

Sekarang cari oleh-oleh produk khas Sukabumi semakin mudah dengan telah diluncurkannya galeri/toko online lengkap produk UMKM Sukabumi. Anda bisa mengunjunginya di : www.ProdukSukabumi.com

Tampilkan postingan dengan label naik. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label naik. Tampilkan semua postingan

27 Januari 2012

Harga BBM Naik, Tarif Angkutan Juga Akan Dinaikkan

Jakarta : Organisasi Angkutan Darat (Organda) mengkhawatirkan wacana kenaikan harga BBM yang belakangan semakin merebak. Jika benar jadi naik, tarif angkutan umum juga berpeluang naik. Pasalnya, jika tarif tidak naik pengusaha angkutan umum bakal merugi. “Selama ini kami berusaha sebisa mungkin untuk tidak menaikkan tarif,” ujar Sekretaris Umum DPP Organda, 
Andriansyah. Ia memprediksi, kalau harga BBM naik sebesar 30%, maka tarif angkutan umum seperti bus bisa naik hingga 35%. Menurut Andriansyah, sikap pengusaha bus yang tidak menaikkan tarif selama ini, berkaitan dengan kondisi daya beli masyarakat yang masih lemah. Jika dipaksakan naik, dikhawatirkan akan membuat jumlah penumpang bus semakin sedikit. Sekalipun sejak tahun lalu pemerintah sudah melakukan peninjauan ulang mengenai masalah pentarifan bus, dan keputusannya adalah menaikkan sebesar 18,36%. Namun, sampai saat ini perusahaan otobis umumnya masih memilih memakai tarif lama. 
“Kondisi saat ini pada hari-hari biasa tingkat keterisian bus hanya 30%-40%. Baru jika ada hari libur bisa naik antara 60%-70%. Artinya, jika saat ini dipaksakan tarif naik 18,36%, tingkat keterisian bus dikhawatirkan akan bertambah kecil,” tandasnya. Namun, jika kenaikan harga BBM diberlakukan juga untuk angkutan umum, mau tidak mau perusahaan otobus harus menaikan tarif. Soalnya, biaya untuk BBM memiliki porsi besar dalam struktur biaya perusahaan otobus. Umumnya mencapai 40%-50% dari total biaya operasional. 
Direktur Utama Blue Bird Group, Purnomo Prawiro mengatakan, wacana kenaikan harga BBM jelas memberikan dampak negatif bagi usaha taksi. Meski belum memprediksi berapa kerugiannya, namun sebagai gambaran, BBM menyumbang sekitar 20% hingga 30% dari biaya operasional taksi secara keseluruhan. "Apalagi saat ini masalah kemacetan belum juga terselesaikan," pungkasnya. (Kontan)

Tarif Listrik Naik Bulan April, Pemerintah Siapkan 2 Opsi

JAKARTA : Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) menyiapkan dua opsi rencana kenaikan tarif dasar listrik pada April mendatang. Opsi itu nantinya akan disampaikan ke DPR. Direktur Jenderal Kelistrikan Kementerian ESDM Jarman menjelaskan, opsi pertama adalah kenaikan tarif dasar listrik untuk semua pelanggan kecuali pelanggaran daya 450 Volt Ampere (VA). Besaran kenaikannya rata-rata sebesar 10%. Opsi kedua adalah kenaikan tarif bagi seluruh pelanggaran mulai dari 450 VA hingga 900 VA. 
Cuma, Jarman mengatakan, kenaikan tarif akan terjadi bila pemakaiannya melebih 60 kilowatthour (KwH) per bulan. Ini artinya, kalau pemakaian di bawah 60 kWh bagi pelanggan 450 VA dan 900 VA per bulan tidak terkena kenaikan tarif. "Opsi kedua ini sesuai dengan permintaan pengusaha supaya seluruh pelanggan dikenai kenaikan TDL," kata Jarman, Jumat (27/1). 
Meski sesuai permintaan pengusaha, Jarman mengatakan, opsi kedua itu masih menunjukkan keberpihakan pemerintah bagi pelanggan yang kurang mampu. Dia yakin, kenaikan tarif setrum ini tidak akan berpengaruh signifikan terhadap daya saing usaha khususnya bagi golongan kecil dan menengah. Yang pastin, dia mengatakan, pemerintah bakal menghemat anggaran subsidi listrik yang sebesar Rp 45 triliun dengan adanya kenaikan tarif setrum ini. Tanpa kenaikan tarif, Jarman memperkirakan anggaran subsidi akan bertambah sebesar Rp 8,9 triliun atau menjadi Rp 53,9 triliun.  
Anggota Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) mengaku belum menerima proposal pengajuan kenaikan Tarif Dasar Listrik (TDL). "Kami belum menerima proposal tersebut," ujar anggota Komisi VII DPR Satya W. Yudha. Menurutnya, DPR akan meminta pemerintah mempresentasikan rencana kenaikan tarif dasar listrik itu. Selain itu, dia meminta pemerintah memberikan kajian kenaikan tarif setrum terhadap inflasi. "Lalu juga akan dikaji apakah sulit untuk diterapkan dan bagaimana mekanismenya," pungkasnya. (Kontan)

8 Oktober 2011

Tarif Retribusi Pasar Kota Akan naik 100%

Cikole - Kabar buruk bagi pedagang pasar di Kota Sukabumi. Dalam waktu dekat, retribusi pasar hampir pasti akan
naik 100 persen, menyusul pembahasan retribusi pasar oleh panitia khusus yang membahas lima raperda retribusi.
Jika selama ini Rp500, maka nantinya retribusi pasar menjadi Rp1.000. “Ini baru rencana, belum ada kepastian naik atau tidaknya. Tapi, melihat kondisi kemungkinan besar akan ada kenaikan,” ujar Wakil Ketua Pansus Raperda Retribusi, Dedy R Wijaya kepada wartawan usai rapat pansus, kemarin (6/10).
Menurut Dedy, kenaikan sendiri dianggap wajar melihat Kota Sukabumi masih yang terkecil dalam penerapan retribusi pasar. “Daerah lain sudah pada naik. Seperti Kabupaten Sukabumi, Kabupaten Cianjur dan lainnya. Bahkan di Cianjur dan Kabupaten Sukabumi retribusinya mencapai Rp 4.000,” sambungnya.
Bukan itu saja, dari kalangan pedagang sendiri banyak yang sudah membayar Rp 1.000 padahal seharusnya Rp 500. Hal ini juga yang membuat pihak pansus mengatakan kenaikan ini masih dalam taraf normal. “Kita juga akan kembali memanggil setiap SKPD terkait untuk mematangkan rencana ini,” terangnya.
Sementara itu, untuk mengantisipasi kebocoran Pendapatan Asli Daerah dari retribusi, pihak pansus menawarkan beberapa konsep di antaranya menawarkan pihak ketiga untuk mengelolanya. Mereka beralasan, ketika hal ini ditangani pihak ketiga, akan memaksimalkan PAD yang ditargetkan pemerintah. Bukan hanya itu, tingkat kebocoran PAD pun peluangnya lebih kecil.
Sementara itu, menurut Anggota Pansus, Bayu Waluya kenaikan retribusi pasar ini dibarengi dengan fasilitas yang memadai bagi para pedagang. “Saya secara pribadi tidak keberatan jika ada kenaikan retribusi. Asalkan, fasilitasnya pun diperhatikan,” ujar Bayu.
Misalnya, akses jalan akan lebih diperhatikan sehingga lalu lintas pedagang lebih baik, sehingga mereka nyaman dalam menjalankan aktifitas jual beli di pasar. “Jangan sampai retribusi naik, tapi pedagang maupun pembeli malah mengeluh dengan kondisi pasar yang becek,” jelasnya.(rp4)

Kemarau, Harga Beras dan Cabai Naik

Sukabumi – Musim kemarau yang melanda Kota Sukabumi saat ini berimbas pada kenaikan sejumlah harga kebutuhan bahan pokok. Seperti yang terjadi di sejumlah pasar Kota Sukabumi. Berdasarkan pantauan Radar Sukabumi di lapangan kemarin, sembako yang mengalami kenaikan yang cukup signifikan diantaranya jenis komoditi cabe  merah semula Rp 10 ribu/Kg naik menjadi Rp  16 ribu/Kg. 
Demikian juga beras mengalamilonjakan harga. Untuk jenis beras Kelas I dari Rp.6.700/Kg kini menjadi Rp.7 ribu/Kg  sedangkan  untuk  beras Kelas II semula Rp 6.200/Kg  sekarang Rp 6.600/Kg dan daging ayam broiler semula Rp.18 ribu/Kg menjadi Rp 24 ribu/Kg. Sedangkan harga sembako lainnya yang mengalami penurunan harga terjadi pada gula pasir semula Rp 10ribu/Kg turun menjadi Rp 9.500/Kg, minyak goreng semula Rp 10 ribu/Kg sekarang  Rp 9ribu/Kg dan telur ayam semula  Rp 18ribu/kg menjadi Rp 14 ribu/Kg.
Saat dikonfirmasi mengenai kenaikan harga ini, sejumlah pedagang di pasar Kota Sukabumi mengku bahwa kenaikan sebagian harga sembako ini disebabkan stok barang yang menipis akibat  musim kemarau. Seperti cabe dan  beras. “Stok bahan pokok semuanya  masih cukup. Hanya saja di beberapa  jenis komoditi menipis karena kemarau,”kata Ai Nurlela(38 ), seorang pedagang di Pasar Gudang Kota Sukabumi.
Senada juga dikatakan Aning Koswara(27). Pedagang daging ayam ini mengeluhkan akibat naiknya harga ini menjadikan banyak kawan-kawannya sesama pedagang ayam terpaksa libur. “Tidak sedikit teman kami sesama pedagang ayam disini tidak berjualan. Karena barangnya  jarang dan cenderung  berubah harganya. Kami harap harga kembali stabil lagi,”ujarnya.
Salah seorang konsumen Iar Sumiati (30) saat ditemui Radar Sukabumi di Pasar Gudang juga mengeluh. “Kenaikan sebagian  harga ini sangat berimbas pada daya beli kami selaku konsumen. Biasanya dengan Rp10 ribu saya bisa mendapatkan satu kilo cabai, nah sekarang terpaksa  saya menguranginya hanya bisa membeli setengah kilo saja untuk mengirit. Saya harap Pemkot Sukabumi melalui dinas terkait segera mengatasi kondisi ini agar segera turun kembali,”tuturnya.
Sementara itu, di tempat terpisah Kepala Dinas Koperasi Perindustrian dan Perdagangan (Diskoperindag) Kota Sukabumi yang  diwakili Sekretarisnya Achmad  Rizali saat dikonfirmasi  Radar Sukabumi di ruang kerjanya kemarin, membenarkan adanya kenaikan sejumlah harga sembako di pasar Kota Sukabumi.
“Memang benar di pasaran terjadi kenaikan harga beberapa komoditi. Kami selalu melakukan  pengecekan harga sembako di pasaran,”ucapnya.
Menurutnya, Pemkot Sukabumi melalui Diskoperindag  tidak bisa menentukan Harga Eceran  Tertentu (HET). “Kami tidak bisa menentukan HET untuk sembako ini. Karena wewenang Diskoperindag  hanya sebatas memantau harga saja. Hanya jika terjadi kenaikan sembako  jenis beras, Diskoperindag secepatnya akan melakukan operasi pasar ke sejumlah kecamatan  yang ada  di Kota Sukabumi. Dengan senantiasa berkoordiansi dengan semua unsur mulai dari para pelaku usaha termasuk dengan Bulog Sub Drive Cianjur. Agar bisa menekan angka  kenaikan harga sehingga bisa meringankan beban masyarakat apalagi di musim kemarau seperti sekarang,”(cr.2)