Sedapnya Mie Ayam Sehat Warna-Warni WASEGI
Pengen merasakan kelezatan Mie Ayam ini ? Anda dapat merasakannya di Foodcourt Yogya Toserba Sukabumi Lantai 3
Galeri Online Produk UMKM Sukabumi
Sekarang cari oleh-oleh produk khas Sukabumi semakin mudah dengan telah diluncurkannya galeri/toko online lengkap produk UMKM Sukabumi. Anda bisa mengunjunginya di : www.ProdukSukabumi.com
Dinamika Bisnis Anda Bisa Ditampilkan Disini
Dinamika bisnis anda di Sukabumi dapat ditampilkan dalam website ini. Anda dapat mengirimkan informasi bisnis melalui alamat email : redaksi@bisnissukabumi.com
Dinamika Bisnis Anda Bisa Ditampilkan Disini
Dinamika bisnis anda di Sukabumi dapat ditampilkan dalam website ini. Anda dapat mengirimkan informasi bisnis melalui alamat email : redaksi@bisnissukabumi.com
Galeri Online Produk UMKM Sukabumi
Sekarang cari oleh-oleh produk khas Sukabumi semakin mudah dengan telah diluncurkannya galeri/toko online lengkap produk UMKM Sukabumi. Anda bisa mengunjunginya di : www.ProdukSukabumi.com
24 Januari 2012
Deri Kreasi Sulap Kayu Bekas Jadi Kerajinan Antik
Pengrajin Krei Butuh Bantuan Permodalan
20 Mei 2011
Dasep, Pengrajin UKM Serba Perak
Pada tahun 1986, setelah sekian lama merantau di Jakarta, Dasep kembali ke Sukabumi dan menetap di rumahnya. Ditemani sang istri, Yanti (37), dirinya kemudian menekuni pembuatan perhiasan dari perak. jenis perhiasan yang dibuatnya yaitu liontin, cincin, gelang, kalung, anting, dan sebagainya. Hasil kerajinannya ditawarkan dari rumah ke rumah dan dari instansi ke instansi. Lambat laun, akhirnya banyak orang yang membeli hasil kerajinannya. Bahkan satu persatu dari mereka, mulai ada yang memesan untuk dibuatkan perhiasan. Mengetahui bahwa Dasep piawai dalam kerajinan perak, Diskoperindagkop Kota Sukabumi pun mengundangnya agar mengikuti setiap pameran perdagangan yang diselenggarakan. "Setelah selama tiga bulan saya berjualan dari instansi ke instansi. Ketika itu, diskoprindag meraih saya untuk mengikuti pameran yang diadakan oleh pihak Secapa Polri. Selang dua minggu kemudian, diajak mengikuti pameran ke Metro Trade Center (MTC) Bandung," tuturnya kepada Radar Sukabumi siang kemarin. Dengan tambahan modal yang terkumpul dari hasil penjualan perhiasan perak di setiap pameran, maka pada tahun 2006 Dasep membuka kios di Jalan Otista No. 81 Kota Sukabumi. Ketika itu, dirinya dibantu oleh 12 orang karyawan. "Saat istri saya melahirkan anak ke-3, saya pun menyewa kios. Pembuatan dan pemasaran perhiasan perak dipusatkan di sana," tuturnya.Dasep dikenal sebagai orang yang tidak pelit dengan pengetahuannya. Setiap orang yang ingin bisa membuat perhiasan, dirinya pun mengajarkannya. Bahkan pada tahun 2007, tujuh orang mahasiswa Institut Teknologi Nasional (ITENAS) Bandung, Fakultas Seni Rupa dan Desain, belajar di kios Dasep. "Mahasiswa tersebut belajar di sini dalam rangka Kerja Profesi I. Alhamdulillah dengan ketekunannya, pihak Fakultas memberinya nilai A. Sebelumnya nggak mengira bahwa mahasiswa Bandung tersebut mau belajar dengan saya," ungkapnya dengan rendah hati. Saat ini, ayah dari tiga anak ini memiliki enam karyawan. Dalam kegiatan produksinya, setiap hari memerlukan perak seberat 20 gram dan menghasilkan perhiasan rata-rata 6 buah per hari. Adapun harga tiap gramnya Rp8 ribu lima ratus - Rp9 ribu. Harganya berkisar dari Rp65 ribu-Rp1 juta. Adapun omset yang diperoleh dalam setiap bulannya rata-rata Rp4 juta. "Karyawan saya keluar masuk, sekarang tinggal 6 orang. Biasa mereka melihat peluang kerja di tempat lain. Namun saya welcome, andaikan mau kerja di sini lagi. Setiap hari saya bekerja dari pukul 09.00 WIB-pukul 21.00 WIB, kalau karyawan sampai pukul 15.00 WIB. Alhamdulillah, dengan kerja keras dan ketekunan, saya bisa membuka lapangan usaha dan mampu memenuhi kebutuhan sekolah anak," pungkasnya. (*)
21 Maret 2011
Geliat Pengrajin Pipa Bakar (Mirip Kerjainan Kayu, Pertama di Sukabumi)
Hanya saja, pipa yang ia simpan bukan untuk mengalirkan air sebagaimana lazimnya fungsi sebuah pipa. Pipa di rumahnya, justru berfungsi mengalirkan rupiah sebagai penghasilannya kini.
Maklum, pria ramah ini sudah bergelut bertahun-tahun dengan industri kerajinan pipa bakar. Jika dilihat sepintas, hasil karyanya justru seperti karya-karya kerajinan kayu. Sebab, warna dan corak pipa yang ia olah, mirip dengan kerajinan kayu.
Ilham sendiri, mengawali usahanya itu dari keisengan. Berbekal jiwa seni, ia tekun mengubah pipa itu menjadi sebuah karya bernilai jual. Ada banyak produk yang ia mampu hasilkan ketika pipa-pipa tersebut diolah menjadi lentera, lampion, lampu etnik, juga aksesoris seperti gelang atau anting-anting.
"Awalnya memang hobi. Ketika mengamati benda-benda yang bisa digunakan tiap hari, saya terinspirasi bagaimana benda itu bisa digunakan tapi memiliki daya seni yang tinggi," seru Ilham.
Tak sulit menyulap pipa paralon menjadi produk berkualitas. Ilham mengaku, butuh ketelatenan dan kesabaran saat pipa itu akan dibentuk menjadi benda-benda siap pakai. "Bahan bakunya pun, tidak boleh bekas. Harus pipa baru. Itu penting agar tidak ada dampak terhadap konsumen. Coba kalau paralon bekas. Saya tidak mau konsumen terkena penyakit," terangnya.
Selain itu, kesabaran dan ketelatenan saja tak cukup. Butuh kreasi agar waktu masuk proses pembakaran, warna pipa itu memiliki warna yang mencolok bak kerajinan kayu.
"Ketika dibakar di atas suhu 50 derajat, kita butuh kecermatan agar tiap corak itu bisa memiliki seni. Sebab, selain fungsi, warna pipa usai dibakar itu lah yang menjual," bebernya.
Ilham sendiri mengklaim jika usaha pipa paralon bakar itu pertama di Sukabumi. "Kita pelopornya. Sebab, banyak konsumen yang membeli kerajinan saya itu, aneh dan heran duluan. Kata mereka, saya baru melihat kerajinan ini," kata Ilham menirukan ucapan yang sering ia dengar dari konsumennya di berbagai daerah. (*)
31 Januari 2011
Geliat Bisnis Lukisan Kota Sukabumi










