Sedapnya Mie Ayam Sehat Warna-Warni WASEGI

Pengen merasakan kelezatan Mie Ayam ini ? Anda dapat merasakannya di Foodcourt Yogya Toserba Sukabumi Lantai 3

Galeri Online Produk UMKM Sukabumi

Sekarang cari oleh-oleh produk khas Sukabumi semakin mudah dengan telah diluncurkannya galeri/toko online lengkap produk UMKM Sukabumi. Anda bisa mengunjunginya di : www.ProdukSukabumi.com

Dinamika Bisnis Anda Bisa Ditampilkan Disini

Dinamika bisnis anda di Sukabumi dapat ditampilkan dalam website ini. Anda dapat mengirimkan informasi bisnis melalui alamat email : redaksi@bisnissukabumi.com

Dinamika Bisnis Anda Bisa Ditampilkan Disini

Dinamika bisnis anda di Sukabumi dapat ditampilkan dalam website ini. Anda dapat mengirimkan informasi bisnis melalui alamat email : redaksi@bisnissukabumi.com

Galeri Online Produk UMKM Sukabumi

Sekarang cari oleh-oleh produk khas Sukabumi semakin mudah dengan telah diluncurkannya galeri/toko online lengkap produk UMKM Sukabumi. Anda bisa mengunjunginya di : www.ProdukSukabumi.com

Tampilkan postingan dengan label Kerajinan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Kerajinan. Tampilkan semua postingan

24 Januari 2012

Deri Kreasi Sulap Kayu Bekas Jadi Kerajinan Antik

Awalnya seorang pekerja biasa. Lama kelamaan dari kepiawaiannya mengolah kayu menjadi barang antik membuat Sukarta Atmaja (55) membuka bisnisnya sendiri. Kini bersama istrinya, Sukarta menghasilkan karya seni yang bernilai jual tinggi. Sekitar tahun 1982, di Kp. Cibatu Caringin Desa Neglasari Kecamatan Cisaat Kabupaten Sukabumi tampil sosok cekatan bernama Sukarta Atmaja (55). Ayah lima orang anak ini bersama isterinya Sri Mulyati(50) memulai usaha dibidang kerajinan tangan. Usahanya tersebut dinamakan Deri Kreasi. 
Diambil dari nama salah satu putranya dan hingga kini karyanya diminati dan dicari orang. Tak sedikit konsumen yang mengagumi karyanya tersebut. Bahkan, mereka pun rela mengeluarkan uang untuk memiliki karya yang disukainya. Ribuan produk laris terjual, membuat Deri Kreasi ini makin di minati para penyuka kerajinan tangan. Hingga akhirnya pesanan datang silih berganti, dibantu sekitar 20 orang pekerjanya, Sukarta setiap harinya melayani berbagai pesanan yang datang. Di tempat usahanya ini, ia menyulap bekas limbah (kayu,red) menjadi barang antik. Mulai dari nampan, tempat pisau, tempat gelas, rak buku, meja belajar juga meja telpon hingga papan catur. Semua selalu menjadi dambaan para penyuka kerajinan tangan mengingat bentuk yang unik dan harganya terjangkau serta memiliki kwalitas yang teruji. Berbagai jenis kerajinan tangan, dirinya ciptakan dengan idenya sendiri yang didapat secara alamiah. Hal inilah yang menyebabkan bentuk dan corak selalu unik.
”Saya menciptakan karya ini bukan meniru karya orang lain. Tapi senantiasa menciptakan bentuk baru untuk kesenangan pengunjung,”ujar Sukarta Atmaja. Untuk menghasilkan sebuah produk unggulan. Ia menyeleksi kayu sebagai bahan baku, kemudian dibentuk pola sesuai kebutuhan. Lalu dilakukan pemotongan dan proses penghalusan hingga pengecetan. Akhirnya barang siap dipasarkan. 
Deri Kreasi setiap harinya memproduksi ratusan produk. Kini usahanya makin melaju kencang terlebih setelah dirinya bermitra dengan tempat bernaungnya para pengrajin dalam wadah Dewan Kerajinan Nasional Daerah (Dekranasda). Segudang kegiatan pameran dan berbagai bantuan selalu didapatkannya. “Usaha Pak Sukarta ini melaju pesat. Apalagi setelah bermitra dengan Dekranasda. Pemerintah daerah senantiasa memfasilitasi dan mendukung kegiatan para pengrajin,”terang Kabid Koperasi Diskoperindag Kabupaten Sukabumi, Husni. ( Laporan – Esa Septi Juanda Ulfach – Radar Sukabumi)

Pengrajin Krei Butuh Bantuan Permodalan

KADUDAMPIT - Sejumlah pengrajin krei yang berpusat di Kampung Citamiang RT 06 RW 01 Desa Citamiang Kecamatan Kadudampit mengimpikan adanya bantuan permodalan. Hal itu demi pengembangan usaha tersebut. Usaha mereka selama ini tidak berjalan dengan mulus. Bahkan ada beberapa pengrajin pindah ke pekerjaan lain. Karena kerajinan itu untuk sekarang susah untuk dikembangkan akibat harga bahan bakunya yang terus meningkat. Sementara harga penjualan tidak kunjung naik. Padahal ada sebagian warga menggantungkan hidupnya kepada kerajinan itu. Selama ini mereka menjual harga satuan dari krei bambu itu Rp9 ribu. Sementara harga bahan baku bambu satu batangnya dibeli dengan harga yang sama. Karena itu lah banyak sekali pengrajin yang mengalami kerugian. 
Menurut salah seorang pengrajin, Ai nur (40), menurutnya penghasilan kali ini berkurang akibat harga baku semakin tinggi, sementara harga jual tidak kunjung meningkat. “Duh untuk sekarang mah agak berkurang dalam penghasilannya. Akibat dari harga bakan baku bambu naik sementara harga jualnya turun,” katanya. Sementara Wawa (51) pengrajin lain, mengatakan hal yang sama dengan ai, ia mengaku penghasilannya berkurang. “Ya mungkin karena kurangnya modal, jadi usaha ini tidak berkembang-berkembang. Apalgi harga bakan baku naik, sementara harga jual begitu saja,” ungkapnya. Maka dari itu sejumlah warga Citamiang berharap kepada dinas terkait adanya bantuan permodalan untuk mengembangkan usaha mereka. (Radar Sukabumi)

20 Mei 2011

Dasep, Pengrajin UKM Serba Perak

Sukabumi : Pengalaman yang diperoleh selama menjadi kuli pengrajin perak di Jakarta, Dasep (46), Warga Tipar Kecamatan Citamiang Kota Sukabumi, dijadikannya sebagai guru yang berharga dalam hidupnya. Bukan hanya kerja semata yang dijalaninya, tetapi juga melatih diri dan belajar keterampilan. Alhasil, dirinya piawai dalam hal kerajinan perak. Dengan kemampuan yang diperolehnya, akhirnya dirinya pun meniatkan diri untuk berwirausaha sebagai pengrajin perhiasan perak.
Pada tahun 1986, setelah sekian lama merantau di Jakarta, Dasep kembali ke Sukabumi dan menetap di rumahnya. Ditemani sang istri, Yanti (37), dirinya kemudian menekuni pembuatan perhiasan dari perak. jenis perhiasan yang dibuatnya yaitu liontin, cincin, gelang, kalung, anting, dan sebagainya. Hasil kerajinannya ditawarkan dari rumah ke rumah dan dari instansi ke instansi. Lambat laun, akhirnya banyak orang yang membeli hasil kerajinannya. Bahkan satu persatu dari mereka,  mulai ada yang memesan untuk dibuatkan perhiasan. Mengetahui bahwa Dasep piawai dalam kerajinan perak, Diskoperindagkop Kota Sukabumi pun mengundangnya agar mengikuti setiap pameran perdagangan yang diselenggarakan. "Setelah selama tiga bulan saya berjualan dari instansi ke instansi.  Ketika itu,  diskoprindag meraih saya untuk mengikuti pameran yang diadakan oleh pihak Secapa Polri. Selang dua minggu kemudian, diajak mengikuti pameran ke Metro Trade Center (MTC) Bandung," tuturnya kepada Radar Sukabumi siang kemarin. Dengan tambahan modal yang terkumpul dari hasil penjualan perhiasan perak di setiap pameran, maka pada tahun 2006 Dasep membuka kios di Jalan Otista No. 81 Kota Sukabumi. Ketika itu, dirinya dibantu oleh 12 orang karyawan. "Saat istri saya melahirkan anak ke-3, saya pun menyewa kios. Pembuatan dan pemasaran perhiasan perak dipusatkan di sana," tuturnya.Dasep dikenal sebagai orang yang tidak pelit dengan pengetahuannya. Setiap orang yang ingin bisa membuat perhiasan, dirinya pun mengajarkannya. Bahkan pada tahun 2007, tujuh orang mahasiswa Institut Teknologi Nasional (ITENAS) Bandung, Fakultas Seni Rupa dan Desain, belajar di kios Dasep. "Mahasiswa tersebut belajar di sini dalam rangka Kerja Profesi I. Alhamdulillah dengan ketekunannya, pihak Fakultas memberinya nilai A. Sebelumnya nggak mengira bahwa mahasiswa Bandung tersebut mau belajar dengan saya," ungkapnya dengan rendah hati. Saat ini, ayah dari tiga anak ini memiliki enam karyawan. Dalam kegiatan produksinya, setiap hari memerlukan perak seberat 20 gram dan menghasilkan perhiasan rata-rata 6 buah per hari. Adapun harga tiap gramnya Rp8 ribu lima ratus - Rp9 ribu. Harganya berkisar dari Rp65 ribu-Rp1 juta. Adapun omset yang diperoleh dalam setiap bulannya rata-rata Rp4 juta. "Karyawan saya keluar masuk, sekarang tinggal 6 orang. Biasa mereka melihat peluang kerja di tempat lain. Namun saya welcome, andaikan mau kerja di sini lagi. Setiap hari saya bekerja dari pukul 09.00 WIB-pukul 21.00 WIB, kalau karyawan sampai pukul 15.00 WIB. Alhamdulillah, dengan kerja keras dan ketekunan, saya bisa membuka lapangan usaha dan mampu memenuhi kebutuhan sekolah anak," pungkasnya. (*) 
Laporan : Iwan Hermawan, Sukabumi

21 Maret 2011

Geliat Pengrajin Pipa Bakar (Mirip Kerjainan Kayu, Pertama di Sukabumi)

Cisaat -- Kerajinan yang masuk level Usaha Kecil Menengah (UKM) di Kabupaten Sukabumi, sepertinya tidak terbatas ragam dan jenisnya. Di Kecamatan Cisaat, kerajinan pipa bakar menjadi salah satu banyaknya kegiatan usaha yang bisa menghasilkan rupiah. Seperti apa kondisinya ?     
Ada banyak pipa paralon di kediaman Ilham Wirahadi Kusumah (40). Dari yang ukurannya masih utuh dan sudah dipecah menjadi beberapa bagian, pipa-pipa itu tersimpan di sekitar rumahnya, Kampung Cibolang Desa Cibatu Kecamatan Cisaat Kabupaten Sukabumi.
Hanya saja, pipa yang ia simpan bukan untuk mengalirkan air sebagaimana lazimnya fungsi sebuah pipa. Pipa di rumahnya, justru berfungsi mengalirkan rupiah sebagai penghasilannya kini.
Maklum, pria ramah ini sudah bergelut bertahun-tahun dengan industri kerajinan pipa bakar. Jika dilihat sepintas, hasil karyanya justru seperti karya-karya kerajinan kayu. Sebab, warna dan corak pipa yang ia olah, mirip dengan kerajinan kayu.
Ilham sendiri, mengawali usahanya itu dari keisengan. Berbekal jiwa seni, ia tekun mengubah pipa itu menjadi sebuah karya bernilai jual. Ada banyak produk yang ia mampu hasilkan ketika pipa-pipa tersebut diolah menjadi lentera, lampion, lampu etnik, juga aksesoris seperti gelang atau anting-anting.
"Awalnya memang hobi. Ketika mengamati benda-benda yang bisa digunakan tiap hari, saya terinspirasi bagaimana benda itu bisa digunakan tapi memiliki daya seni yang tinggi," seru Ilham.
Tak sulit menyulap pipa paralon menjadi produk berkualitas. Ilham mengaku, butuh ketelatenan dan kesabaran saat pipa itu akan dibentuk menjadi benda-benda siap pakai. "Bahan bakunya pun, tidak boleh bekas. Harus pipa baru. Itu penting agar tidak ada dampak terhadap konsumen. Coba kalau paralon bekas. Saya tidak mau konsumen terkena penyakit," terangnya.
Selain itu, kesabaran dan ketelatenan saja tak cukup. Butuh kreasi agar waktu masuk proses pembakaran, warna pipa itu memiliki warna yang mencolok bak kerajinan kayu.
"Ketika dibakar di atas suhu 50 derajat, kita butuh kecermatan agar tiap corak itu bisa memiliki seni. Sebab, selain fungsi, warna pipa usai dibakar itu lah yang menjual," bebernya.
Ilham sendiri mengklaim jika usaha pipa paralon bakar itu pertama di Sukabumi. "Kita pelopornya. Sebab, banyak konsumen yang membeli kerajinan saya itu, aneh dan heran duluan. Kata mereka, saya baru melihat kerajinan ini," kata Ilham menirukan ucapan yang sering ia dengar dari konsumennya di berbagai daerah. (*)  
   

 

31 Januari 2011

Geliat Bisnis Lukisan Kota Sukabumi

Radar Sukabumi -- Seni merupakan keindahan bagi yang menikmatinya. Curahan ekspresi jiwa adalah kepuasan bathin. Demikian halnya yang dialami para seniman muda metropolis. Mereka menganggap bahwa harga dari hasil karyanya bukan segalanya. Sesuatu yang terpenting bagi mereka adalah kepuasan jiwa dalam berekspresi. Sekelompok pelaku seni yang tergabung dalam Komunitas Perintis Kota Sukabumi, mengaku bahwa aktifitas yang dilakoni pada awalnya semata-mata hanyalah hobi. Sebagian dari mereka adalah aliran realis, dengan lukisan poto sebagai bentuk karyanya. "Aktivitas yang kami lakoni berawal dari hobi. Dengan hasil lukisan yang kami buat, ahli seni menyebut karya kami beraliran realis," tutur salah seorang seniman, Abdi Isme (30), sarjana lulusan Universitas Mercubuana Jakarta ini, kepada Radar Sukabumi kemarin sore.
Abdi yang sekarang masih lajang, mulai menekuni seni lukis poto tersebut semenjak usia tujuh belas tahun. Kepiawaiannya didapatkan secara alamiah. "Secara otodidak, kami bisa melukis poto ini," ujarnya sembari menggoreskan kwasnya di atas kertas. Dirinya mampu membuat sebuah lukisan pada ukuran kertas 30cm x 40cm, dalam waktu sehari. Bahkan dengan durasi 10 menit, dirinya mampu membuat sebuah gambar sketsa atau pun karikatur. Untuk lukisan poto, seharga Rp150 ribu biasa orang membayarnya. Lukisan poto hasil karya mereka mampu terlihat asli bak pemiliknya."Dengan karkul dan konte, dengan goresan hitamnya insya Allah lukisan orang yang kami buat akan sama persis dengan pemilik foto," jelas teman Abdi yang bernama Aris.(rp2)