Sedapnya Mie Ayam Sehat Warna-Warni WASEGI

Pengen merasakan kelezatan Mie Ayam ini ? Anda dapat merasakannya di Foodcourt Yogya Toserba Sukabumi Lantai 3

Galeri Online Produk UMKM Sukabumi

Sekarang cari oleh-oleh produk khas Sukabumi semakin mudah dengan telah diluncurkannya galeri/toko online lengkap produk UMKM Sukabumi. Anda bisa mengunjunginya di : www.ProdukSukabumi.com

Dinamika Bisnis Anda Bisa Ditampilkan Disini

Dinamika bisnis anda di Sukabumi dapat ditampilkan dalam website ini. Anda dapat mengirimkan informasi bisnis melalui alamat email : redaksi@bisnissukabumi.com

Dinamika Bisnis Anda Bisa Ditampilkan Disini

Dinamika bisnis anda di Sukabumi dapat ditampilkan dalam website ini. Anda dapat mengirimkan informasi bisnis melalui alamat email : redaksi@bisnissukabumi.com

Galeri Online Produk UMKM Sukabumi

Sekarang cari oleh-oleh produk khas Sukabumi semakin mudah dengan telah diluncurkannya galeri/toko online lengkap produk UMKM Sukabumi. Anda bisa mengunjunginya di : www.ProdukSukabumi.com

Tampilkan postingan dengan label pengusaha tempe. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label pengusaha tempe. Tampilkan semua postingan

26 Juli 2012

Pemprov Jabar Sidak Pedagang Tahu Tempe Di Sukabumi

SUKABUMI - Harga bahan baku tahu tempe yang mengalami kenaikan berdampak pada mogoknya produsen di beberapa daerah di Jawa Barat sehingga Dinas Perindustrian dan Perdagangan Provinsi Jawa Barat menggelar inpseksi mendadak ke sejumlah pasar Sukaraja Sukabumi Jawa Barat. Di pasar tersebut Diskoperaindag Jabar masih menemukan beberpa penjual tahu dan tempe. 
Menurut pihak Diskoperindag Jabar, masih adanya tahu tempe di Sukabumi beberapa pedagang masih mendapatkan pasokan dari sejumlah produsen, namun ukuran serta takaran dari tahu tempe yang ada saat ini mengecil dibandingkan sebelumnya. Upaya pemerintah provinsi Jawa Barat untuk menstabilkan harga kacang kedele akan dilakukan pihak Disperindag Jawa Barat yaitu dengan melakukan langkah dan pembahasan dengan seluruh pengusaha koperasi tahu dan tempe Se-Jawa Barat. 
“Kami menghimbau kepada seluruh produsen tahu tempe agar menggunakan kedele lokal yang terdapat di sentra-sentra dinas pertanian pada masing-masing wilayah daripada membeli dan menggunakan kedele import dari tengkulak yang harganya mahal” himbau Ferry Sopyan, Kadisperindag Provinsi Jabar. 
Hal tersebut karena saat ini harga kacang kedele lokal saat ini berkisar Rp5700 dari para tengkulak sedangkan harga kedele import berkisar Rp8500. Namun para produsen lebih memilih kacang kedele import daripada lokal karena kualitas yang didapat sangat bagus dibandingkan kedele lokal.

30 Januari 2012

Profil Pengusaha Tempe Ibu Turiah di Gunungpuyuh

Foto : Radar Sukabumi
Tempe makanan yang banyak mengandung protein. Makanan yang terbuat dari kacang kedelai ini sudah tidak awam lagi dilidah semua orang. Kini semua masakan khas yang banyak dihidangkan dalam berbagai acara baik resmi seremonial maupun keseharian. Teknik pembuatan tempe juga tidak terlalu sulit serta modal yang digunakan relatif terjangkau oleh semua lapisan masyarat. 
Sekitar tahun 1980 silam, Turiah bersama suaminya Wahid Hasan (alm) mulai merintis usahanya. Usaha yang dirintisnya ini, yaitu memproduksi tempe. Awal produksi tempe, Turiah mengeluarkan modal untuk memperoleh bahan baku sebesar Rp50 ribu, sedangkan untuk mendapatkan peralatan produksi tempe sebesar Rp100 ribu. Saat itu harga kacang kedelai masih terbilang murah yakni sekitar Rp1.300 perkilo gramnya, Turiah memproduksi 20 kilo gram per harinya. Tempe hasil produksinya itu pada awal merintis usahanya, disuguhkan dengan harga Rp150. Memasuki tahun 1995, usahanya ini sudah banyak dikenal masyarakat dan sudah berkembang pesat. 
Banyaknya pesanan tempe, menjadikan jumlah produksi semakin meningkat. Yang semula hanya 20 kilo gram per hari, menjadi 3 kwintal per hari setiap produksi. Semula harga tempe Rp150, menjadi Rp1.000. Usahanya ini dari tahun ke tahun semakin berkembang, hal ini karena tidak ada saingan sehingga konsumen banyak yang pesan. Namun, ditahun 2002 usahanya mulai ada penurunan. Turiah bersama suaminya, terus berupaya dengan penuh kesabaran dan keuletan untuk bisa mempertahankan usahanya. Tetapi hingga saat ini, usahanya sulit untuk bangkit kembali seperti dulu. “Sekarang saya seorang yang mengelola usaha ini, karena suami saya Wahid Hasan tepatnya 27 Agustus 2011 telah meninggal dunia. Sehingga terasa semakin sulit untuk bisa berkembang, sedangkan modal sudah tidak cukup lagi. Saya harus bisa mempertahankan usaha ini, karena saya harus menyekolahkan anak saya yang duduk dibangku SMA kelas 2. Keuntungan yang saya kantongi, hanya Rp50 ribu per hari,” ungkap Turiah (55) pemilik usaha tempe seraya mengeluarkan air mata teringat suaminya yang sudah tiada meninggalkannya, kemarin. 
Semakin menurunnya pesanan, berimbah kepada jumlah produksi yang ikut menurun. Yang semula 3 kwintal per hari, kini hanya 150 kilo gram per hari. Tempe hasil olahannya, disuguhkan dengan harga Rp6 ribu untuk ukuran 1 kilo gram 3 ons, sedangkan untuk ukuran 1 kilo gram disuguhkan dengan harga Rp5 ribu. Turiah mempekerjakan 3 orang tenaga kerja yang membantu proses produksi. “Di musim penghujan ini, kadang pesanan tidak ada sama sekali sehingga tempe yang sudah siap dipasarkan tidak terjual. Tempe kekuatannya hanya 2 hari, dari pada mubajir lebih saya bagikan saja. Saya tidak mendapatkan keuntungan, tetapi upah tenaga kerja harus saya bayar tiap hari,” tuturnya. 
Banyaknya saingan, mahalnya bayar PDAM, listrik dan upah tenaga kerja sehingga berakibat usaha semakin menurun lama kelamaannya bisa gulung tikar. Pemasukan minim, tetapi pengeluaran besar. Turiah mengandalkan usahanya ini untuk bisa memenuhi kebutuhan hidup bersama anaknya dan juga dari usaha inilah Turiah bisa menyekolahkan purtinya. “Banyaknya saingan, modal kurang, pesanan tidak ada dan harga kacang kedelai semakin merangkak. Hal inilah yang menjadi kendala dalam menembangkan usaha saya ini. Saya berharap, pemerintah khususnya Disperindag mau memberikan bantuannya dalam segi permodalan kepada usaha saya agar usaha saya ini bisa meningkat. Dari hasil produksi tempe, saya bisa bertahan hidup dan menyekolahkan anak,” ujarnya. (Radar Sukabumi

16 Februari 2011

Disperindag Kota Sukabumi Usulkan Permohonan Subsidi Kedelai

SUKABUMI, (PRLM).- Melonjaknya harga pembelian bahan baku tahu dan tempe berupa kacang kedelai memperoleh perhatian Pemkot Sukabumi. Rencananya Pemkot Sukabumi melalui Dinas Perdagangan dan Perindustrian (Disperindag) Kota Sukabumi akan mengusulkan bantuan subsidi impor kacang kedelai ke Kementerian Perindusterian pusat di Jakata.
Langka tersebut dilakukan guna mengantisipasi kemungkinan terancamanya puluhan perajin tahu dan tempe yang kolaps. Apalagi saat ini, rata-rata harga bahan baku kacang kedelai impot di pasaran berkisar Rp 7.000/kg. Hal itu menunjukan harga pasaran kacang kedelai masih relatif tinggi.
"Kami telah menyusun surat ke Kementerian Perindustrian pusat guna memperoleh subsidi pengadaan kacang kedelai import. Surat akan segera dilayangkan paling lambat pekan mendatang, " kata Kepala Disperindag Kota Sukabumi, Dudi Fatuljawad kepada "PRLM", Rabu (16/2). (A-162/A-147)***

15 Februari 2011

Warga Keluhkan Ukuran Tahu dan Tempe

SUKABUMI, (PRLM).- Sejumlah ibu rumah tangga khususnya konsumen tahu dan tempe di Kota Sukabumi mengeluh. Pasalnya, akhir-akhir ini, ukuran tahu dan tempe yang dijual di pasaran lokal Sukabumi kian mengecil.
"Memang selama beberapa pekan ini, ukuran produk tahu dan tempe yang dijual di pasaran kian mengecil saja. Padahal harga jual di pasaran tidak jauh berbeda, seperti sebelum-sebelumnya, " kata Ny. Dewi Ratnasari (24) seorang ibu rumah tangga, kepada "PRLM", Selasa (15/2).
Ibu rumah tangga lainnya, Ny. Widya malah khawatir setelah ukuran mengecil, tahu dan tempe bakal dijual dengan harga lebih mahal dari sekarang. Menurut dia, bukan tidak mungkin harga jual tahu dan tempe akan naik. Sebab, bahan baku tahu dan tempe, yakni kacang kedelai harganya belum menujukkan penurunan. ( A-162/A-147)***

8 Februari 2011

Ratusan Pengusaha Tahu dan Tempe Terancam Bangkrut

SUKABUMI, (PRLM).- Kenaikan harga kacang kedelai dikeluhkan para produsen tahu dan tempe di Kota Sukabumi. Mereka mengaku kenaikan harga kedelai hingga mencapai 25% sangat mengganggu aktivitas usahanya. Para produsen sangat mencemaskan bila kenaikan harga kacang kedelai tidak segera diantisipasi pemerintah, keberadaan ratusan pengusaha tempe dan tahu kini dibayang-bayangi kebangkrutan.
"Sepekan terakhir ini, harga kacang kedelai terus merangkak naik. Kami sangat mengkhawatirkan bila harga kedelai tidak bisa dihentikan, usaha kami terancam bangkrut. Gejala-gejala itu, semakin terlihat seiring mulai berkurangnya pembelian kacang kedelai," kata salah seorang produsen tahu Citamiang, Kota Sukabumi, Oo Munawar Hollil kepada "PRLM", Senin (7/2).
Walaupun kenaikan kacang kedelai tidak berlangsung sporadis. Tetapi kenaikan harga bahan pokok para produsen tahu dan tempe relatif berlangsung sangat cepat. Bahkan dalam dua hari terakhir ini, harga kacang kedelai merangkak hingga mencapai Rp 7.100\Kg. Padahal sebelumnya, harga kedelai hanya kisaran Rp 6.200/Kg- Rp 6.300/Kg. "Bahkan beberapa waktu lalu, harga kedelai hanya kisaran Rp 5.900/Kg. Kenaikan sudah berlangsung tiga kali dalam sebulan terakhir ini," tukasnya. (A-162/das)***

18 Januari 2011

Nurhadi, Pengusaha Tempe Sriwedari

Radar Sukabumi -- aktifitasnya sebagai pembuat tempe telah dirintis Nurhadi semenjak masih lajang, sekitar tahun 1977-an. Usahanya tersebut mulai dilakoni ketika merantau ke Jakarta. Kehidupan metropolitan yang keras serta glamor tidak membuat dirinya kerasan tinggal di sana. Hal itu yang "memaksa" dirinya merantau ke Sukabumi. 
Pada tahun 1980, Nurhadi mulai tinggal di daerah Cipelang, dengan mengontrak sebuah rumah. Tempat tinggalnya tersebut dijadikannya pula sebagai tempat untuk memproduksi tempe. Hari ke hari, aktivitasnya sebagai pembuat tempe mulai dikenal banyak orang. Akhirnya, satu persatu dari mereka mulai membeli secara eceran tempe hasil produksi Nurhadi. Hasil usaha Nurhadi mulai meningkat. Terlebih ketika tahun 1989 silam, dirinya mempersunting gadis pujaannya, Yayah Rohaya. 
Beberapa bulan kemudian setelah itu, Nurhadi bersama istrinya pindah ke daerah Kuta Lebak, Kelurahan Sriwedari, Kecamatan Gunungpuyuh. Dengan hasil usaha yang diperolehnya, dirinya bisa membangun rumah dan pabrik tempe."Alhamdulillah, dengan hasil usahanya Kang Nurhadi bisa membangun rumah dan pabrik ini," papar Yayah sang isteri. Untuk menambah varian jenis produksinya, selain tempe, Nurhadi pun mengembangkan pembuatan tahu dan oncom. Adapun bahan baku dari ketiga jenis penganan tersebut sama, yaitu kacang kedelai. Dirinya membeli bahan baku dari koperasi seharga Rp6 ribu lima ratus per- kilogram-nya. 
"Kami biasa membeli kacang kedelai di koperasi seharga Rp6 ribu lima ratus, kalo di pasar sich lebih murah, Rp6 ribu per-kilogram-nya," tuturnya kepada Radar Sukabumi, kemarin. Dalam sehari, perusahaan Nurhadi membutuhkan kacang kedelai untuk bahan baku produksinya sebanyak seratus lima puluh kilogram. 
Sehubungan dirinya tidak menggunakan kompor gas untuk bahan bakar, melainkan kayu. Maka dibutuhkan kayu bakar dalam seminggu satu truk. "Kami tidak pake kompor gas, takutnya meledak. Kami gunakan kayu yang dibeli dari daerah Jampang," ujar Nurhadi. 
Untuk Pengembangan usahanya, Nurhadi sangat mengharapkan kepada Pemerintah Kota Sukabumi untuk memberikan bantuan usaha. Terlebih saat ini, pengusaha tempe dihadapkan dengan membumbungnya harga kedelai. "Kalau yang datang ke tempat ini sih memang banyak. Bahkan pernah dari dinkes yang mengecek kandungan formalin. Selain itu, yang kami harapkan berupa pinjaman uang untuk usaha. Kalau bank mah, berat bunganya," tambah Nurhadi. 
Dengan dibantu oleh ketiga orang karyawannya, kini Nurhadi mampu meraup omset rata-rata Rp10 juta dalam setiap bulannya. "Alhamdilillah, dengan usaha yang kami tekuni ini telah bi,sa menghidupi keluarga, termasuk menguliahkan kedua anak kami," pungkasnya. (*).