Sedapnya Mie Ayam Sehat Warna-Warni WASEGI

Pengen merasakan kelezatan Mie Ayam ini ? Anda dapat merasakannya di Foodcourt Yogya Toserba Sukabumi Lantai 3

Galeri Online Produk UMKM Sukabumi

Sekarang cari oleh-oleh produk khas Sukabumi semakin mudah dengan telah diluncurkannya galeri/toko online lengkap produk UMKM Sukabumi. Anda bisa mengunjunginya di : www.ProdukSukabumi.com

Dinamika Bisnis Anda Bisa Ditampilkan Disini

Dinamika bisnis anda di Sukabumi dapat ditampilkan dalam website ini. Anda dapat mengirimkan informasi bisnis melalui alamat email : redaksi@bisnissukabumi.com

Dinamika Bisnis Anda Bisa Ditampilkan Disini

Dinamika bisnis anda di Sukabumi dapat ditampilkan dalam website ini. Anda dapat mengirimkan informasi bisnis melalui alamat email : redaksi@bisnissukabumi.com

Galeri Online Produk UMKM Sukabumi

Sekarang cari oleh-oleh produk khas Sukabumi semakin mudah dengan telah diluncurkannya galeri/toko online lengkap produk UMKM Sukabumi. Anda bisa mengunjunginya di : www.ProdukSukabumi.com

Tampilkan postingan dengan label kredit. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label kredit. Tampilkan semua postingan

31 Januari 2012

LPDB Kucurkan Rp200 M Buat Koperasi di Jabar

Bandung : Pemerintah pusat mengucurkan dana pinjaman senilai Rp200 miliar untuk koperasi di Jabar pada tahun ini. Jumlah tersebut naik Rp54,5 miliar dari sebelumnya Rp145,5 miliar. “Dana tersebut mendapat posisi ketiga setelah Jatim dan Jateng,” ujar Kepala Dinas Koperasi dan Usaha Mikro Kecil Menengah (KUMKM) Jabar Wawan Hernawan, Minggu (29/1/2012). 
Wawan mengatakan, selama 2011, pihaknya telah menyalurkan dana dari Lembaga Pengelola Dana Bergulir (LPDB) senilai Rp145,5 miliar. Bantuan kredit tersebut dibagikan kepada 234 mitra koperasi di Jabar dengan nilai pengajuan mencapai Rp1,96 triliun. Dari jumlah tersebut, pengajuan proposal mencapai 648 koperasi. 
Selain dana LPDB, pihaknya akan mengarahkan mitra koperasi untuk memanfaatkan pembiayaan lain seperti, Kredit Cinta Rakyat (KCR), Kredit Usaha Rakyat (KUR), dan PKBL BUMN. Dana-dana pinjaman berbunga lunak ini diharapkan mampu membantu para mitra koperasi. "Kami juga berupaya semaksimal mungkin KCR bisa diakses oleh koperasi. Harapan kita UMK yang tidak punya agunan bisa dapat KCR lewat koperasi,” katanya. 
Sementara itu, Direktur Pengembangan Usaha Lembaga Pengelola Dana Bergulir (LPDB) dan KUMKM Halomoan Tamba menyatakan secara total alokasi pembiayaan untuk mitra koperasi sebesar Rp1,32 triliun. Dana tersebut dialokasikan kepada 1.233 mitra koperasi di seluruh Indonesia. "Untuk mitra koperasi di Jabar sebesar Rp200 miliar karena termasuk provinsi yang jumlah mitra koperasinya cukup banyak sekitar 23.843 unit. Saat ini ada sekitar 14.583 unit koperasi aktif dengan anggota 4.818.940 orang," ucapnya. 
Dia menuturkan mitra koperasi yang mendapat bantuan kredit akan mendapat sejumlah keuntungan. Selain berbunga rendah, bantuan kredit ini tidak membutuhkan jaminan fisik. "Bunganya rendah karena pembiayaan digunakan untuk usaha produktif (modal kerja atau investasi) dan benefit oriented," jelasnya. [Inilah Jabar]

30 Januari 2012

Bisnis BPR Secara Nasional Tumbuh 22%

JAKARTA : Meskipun jumlah entitas bank perkreditan rakyat terus menurun selama 2011, namun total aset industri terus tumbuh yang didorong ekspansi pada penyaluran kredit dan penghimpunan dana masyarakat dengan peningkatan sekitar 21%-22% Edy Setiadi, Direktur Kredit, BPR dan UMKM Bank Indonesia (BI), mengatakan industri bank perkreditan rakyat (BPR) terus tumbuh, kendati jumlah entitas bank mikro terus menurun dari tahun ke tahun. “Kami melihat penurunan jumlah BPR tidak berpengaruh karena jumlah aset industri tetap tumbuh. Ini terjadi karena sebagian BPR melakukan konsolidasi [merger] sehingga dapat terus membesar,” ujarnya hari ini. 
Selama 2011 jumlah BPR berkurang sebanyak 37 perusahaan yang disebabkan karena merger dan ditutup karena melanggar batas kesehatan. Jumlah BPR pada akhir 2011 sebanyak 1.669 unit dibandingkan dengan akhir 2010 yang sebanyak 1.706 unit. Selain itu, lanjutnya, peningkatan bisnis BPR juga bertumbuh didorong oleh kerja sama dengan bank pembangunan daerah (BPD), seperti penyaluran kredit program linkage atau program Apex Bank. Program linkage adalah penyaluran kredit yang dilakukan oleh bank kepada pengusaha mikro dan kecil melalui BPR. Adapun Apex Bank adalah program yang menempatkan BPD sebagai induk pengayom bagi BPR. Dia menambahkan industri BPR semakin agresif dalam penyaluran kredit terutama yang memiliki jaminan. 
Selain itu, operasional di lapangan juga semakin meningkat karena menerapkan sistem jemput bola. Meski penyaluran kredit cukup agresif, dia menilai BPR telah meningkatkan kehati-hatian. Itu terlihat dari rasio kredit bermasalah (non performing loan/NPL) menjadi 5,22% pada akhir 2011, dibandingkan dengan sebelumnya 6,12. “Bagi BPR tingkat NPL mendekati 5% itu sudah cukup bagus. Meski demikian, kami melihat kendali internal terhadap manajemen risiko belum merata dilakukan. Ke depan masalah kendali internal harus ditingkatkan.” 
Dalam meningkatkan kehati-hatian, BPR juga diwajibkan untuk memiliki pedoman penyaluran kredit untuk menghindari pembiayaan macet dan fraud akibat pinjaman fiktif. Hingga akhir Desember 2011, penyaluran kredit industri BPR meningkat bersih sebesar Rp7,25 triliun atau 21,45%, menjadi Rp41,1 triliun dibandingkan dengan sebelumnya Rp33,84 triliun. Adapun dana pihak ketiga yang dikelola tumbuh sedikit lebih banyak dari penyaluran kredit, yakni sekitar 22,04%, menjadi Rp38,21 triliun dibandingkan dengan sebelumnya Rp31,31 triliun. Sebagian penyaluran kredit dibiayai dengan program linkage yang mencapai Rp6,42 triliun, naik dibandingkan dengan sebelumnya Rp4,74 triliun. Adapun total aset BPR pada akhir 2011 mencapai Rp55,8 triliun dari sebelumnya Rp45,74 triliun. (Bisnis Indonesia)

28 Januari 2012

BJB Siap Kucurkan Kredit Rp41 T


Bandung : PT Bank Pembangunan Daerah Jawa Barat dan Banten Tbk (Bank BJB) menargetkan penyaluran kredit pada 2012 meningkat menjadi Rp41 triliun. “Pada 2011, penyaluran kredit mencapai Rp27 triliun, 2012 diharapkan naik menjadi Rp41 triliun,” kata Managing Director Bank BJB Entis Kushendar di Hotel Pullman, Jakarta, Kamis (26/1)
Penyaluran kredit tersebut di antaranya diberikan kepada sektor konsumer, mikro, komersial, dan sektor korporasi. “Kita ingin captive market konsumer yang kita pegang itu,” singkat dia.
Sementara Untuk kredit sektor mikro, dia mengungkapkan pada 2012 dapat tumbuh menjadi Rp6 triliun dibanding tahun sebelumnya yang hanya sebesar Rp3 triliun.
Sementara itu, Managing Director Bank BJB Entis Kushendar mengaku Bank BJB akan melakukan akuisisi terhadap tiga Bank Perkreditan Rakyat (BPR) pada Maret mendatang. “Akan akuisisi BPR. Lokasinya di Jawa Barat, Subang, Cianjur, dan Garut. Progress-nya kita berkeinginan Maret sudah ada realisasi,” terangnya
Rencana tersebut, menurut Entis, sudah dipersiapkan dengan baik, sehingga akhir tahun akan ada 11 BPR yang diakuisisi. Fungsi dari akuisisi tersebut, adalah sebagai untuk mempercepat kredit mikro di masyarakat. Selain itu dia mengatakan akuisisi ini dibutuhkan dengan pertimbangan tertentu. “Untuk mempercepat kredit mikro, daripada kita harus bikin kantor cabang baru,” jelasnya.
Disinggung mengenai rasio kecukupan modal atau capital adequacy ratio (CAR) dia mengungkap masih dalam kondisi yang bagus. Sehingga, masih banyak peluang untuk melakukan ekspansi. “CAR masih bagus ya, 18 persen,” tandasnya.
Sekadar informasi, BJB dalam waktu dekat atau tepatnya pada Maret berencana mengakuisisi tiga Bank Perkreditan Rakyat (BPR). Diharapkan sampai dengan akhir tahun setidaknya ada 11 BPR yang sudah diakusisi yang wilayahnya berada di Jawa Barat, Subang, Cianjur, dan Garut. (Neraca)

25 Januari 2012

Bank BJB Incar Nasabah Generasi Muda

BANDUNG : Bank BJB Tbk mengincar nasabah segmen anak muda untuk mempercepat laju pertumbuhan dana pihak ketiga. Direktur Utama Bank BJB Bien Subiantoro mengatakan potensi pasar segmen muda masih terbuka, terutama di sejumlah kota seperti Jakarta. “Kami membidik nasabah berusia 35 tahun ke bawah. Oleh karenanya, strategi pemasaran kami nantinya akan lebih ngepop,” katanya di sela-sela acara pesta Petik Hadiah, di Jakarta, kemarin malam. 
 Bien mengatakan selama ini nasabah Bank BJB didominasi oleh segmen karyawan dan pegawai negeri sipil. Pada perkembangannya, katanya, segmen anak muda terus tumbuh dan berkembang, sehingga dianggap potensial digarap. Bank BJB, lanjutnya, akan melengkapi infrastruktur seperti menambah mesin anjungan tunai mandiri dan menghadirkan layanan Internet dan SMS banking untuk menyasar segmen kaula muda. “Untuk bersaing di pasar anak muda, kami harus terus melengkapi infrastruktur. Intinya, anak muda akan memilih bank yang menawarkan kemudahan transaksi,” ujarnya.(Bisnis Jabar)

16 Januari 2012

Nasabah Teladan Gugat BRI

Sukabumi - Pengusaha kanvaser asal Subangjaya Kecamatan Cikole Kota Sukabumi, Usep (42) menggugat Bank Rakyat Indonesia (BRI) Cabang Sukabumi. Gugatan diajukan akibat namanya tercantum dalam daftar BI checking alias nasabah bermasalah. Padahal Usep layak disebut nasabah teladan menyusul seluruh utangnya ke BRI bisa dilunasi sebelum jatuh tempo. Gugatan perdata telah didaftarkan Kantor Pengacara AA Brata Soedirja & E Mulia Anom Brata Soedirja selaku kuasa hukum Usep ke Pengadilan Negeri Sukabumi, Selasa (10/1) lalu. Tergugat kasus ini yakni PT Bank Rakyat Indonesia Cabang Sukabumi, PT Bank Rakyat Indonesia Unit Sukabumi Timur, dan PT Bank Indonesia. 
Dalam materi gugatannya Usep menuntut kerugian materiil sebesar Rp 750 juta. ”Tidak hanya itu, kami menuntut tergugat untuk memulihkan nama baik penggugat. Tergugat harus menyatakan permohonan maaf yang dipublikasikan di tiga media cetak dan satu televisi lokal,” ungkap M. Saleh Arief yang didampingi Dedi Setiadi selaku tim kuasa hukum Usep. 
Gugatan perdata ini berawal ketika Usep akan mengajukan kredit ke BRI Unit Sukabumi Timur. Bermodalkan pengalaman mendapatkan fasilitas pinjaman Kupedes Moker sebanyak delapan kali, Usep kembali mengajukan kredit sebesar Rp 700 juta. Karena usulan kredit terlalu besar, Usep diminta mendatangi Kantor BRI Cabang Sukabumi. Ternyata usulan kredit ditolak manajemen Kantor BRI Cabang Sukabumi. Alasannya karena nama Usep tercantum dalam daftar BI cheking. Usep dianggap masih memiliki tunggakan utang ke BRI hingga mencapai Rp 28 juta. ”Klien kami otomatis terkejut. Sebab dia tidak pernah memiliki tunggakan sebesar itu. Selama delapan kali mendapatkan fasilitas kredit BRI, klien kami bisa melunasi utangnya tepat waktu bahkan sebelum jatuh tempo,” tandas Soleh sambil memperlihatkan sejumlah berkas pelunasan utang. 
Karena usulan kredit ditolak BRI, Usep mencoba mengajukan pinjaman ke bank lain. Ternyata hampir setiap perbankan menolak dengan alasan yang sama. Akibat kejadian ini kelangsungan usaha milik Usep mandek hingga terancam bangkrut. ”Nama saya dimata perbankan sudah jelek. Persoalannya akibat nama saya masuk dalam daftar BI cheking saat menjadi nasabah BRI. Padahal saya tidak pernah memiliki tunggakan utang sepeser pun ke bank yang sebagian sahamnya dimiliki pemerintah ini,” kata Usep. Akibat persoalan ini, Usep akhirnya menempuh upaya hukum melalui gugatan perdata. Dia siap membuktikan mengenai kekeliruan yang dilakukan Bank Indonesia termasuk BRI Cabang Sukabumi. 
”Sejumlah bukti telah diserahkan kepada kuasa hukum kami,” kata Usep. Pegawai bagian kredit BRI Cabang Sukabumi, Matius mengakui adanya persoalan ini. Hanya saja dia menolak memberikan penjelasan lebih lengkap. Soalnya kewenangan ini berada di tangan pimpinan Kantor Cabang BRI Sukabumi. ”Saya sudah mendapatkan informasi secara lisan adanya gugatan perdata yang dilakukan mantan nasabah BRI. Tetapi saya tidak punya kewenangan untuk menjelaskan perkara ini,” kata Matius singkat.

17 Oktober 2011

Waspadai Penipuan Berkedok BRI

Sukabumi – Penipuan dengan mencatut nama BRI kembali terjadi. Kali ini, dilakukan oleh seseorang bernama Rizki yang mengaku pegawai Bank BRI Unit Cisaat Sukabumi. “Si pelaku mendatangi calon korban, dengan iming-iming bahwa korban akan mendapatkan pinjaman kredit secara cepat dan sesuai dengan permintaan,” kata Kepala BRI Unit Cisaat, Ede Kuswandi saat ditemui Radar Sukabumi di Kantor BRI Unit Cisaat Sukabumi. 
Untuk melancarkan aksinya, Ede Kuswandi menjelaskan si pelaku meminta korban untuk menyerahkan sejumlah uang muka dan sertifikat tanah/ surat kepemilikan rumah. “Jika kreditnya ingin segera cair, si pelaku yang mengaku pegawai kami meminta uang sekitar Rp 200-250 ribu dan sertifikat tanah kepada si korban. Otomatis si korbanpun percaya tipu daya si pelaku. Tak tanggung-tanggung berdasarkan keterangan dari si korban, pelaku ini menegaskan berulang kali jika tidak percaya datang saja ke BRI Unit Cisaat tempat dirinya bekerja,”ujarnya. 
Orang nomor satu di lingkungan BRI Unit Cisaat ini mengetahui informasi adanya penipuan tersebut dari informasi anak buahnya yakni Sutan Batara yang sedang bertugas ke lapangan. Sutan Batara sendiri merupakan satu-satunya Mantri BRI Unit Cisaat, yang tugasnya mendatangi (melakukan survey,red) nasabah yang hendak mengajukan pinjaman uang atau kredit. Tepatnya pada tanggal 12 Oktober 2011, saat itu petugas BRI Unit Cisaat Sutan Batara mendatangi calon kreditur yang tinggal di Cijagung Panineungan RT 31/8 Kadudampit bernama Sunaningsih. Dalam perjalanannya, Sutan bertemu dengan salah seorang nasabah BRI Unit Cisaat yang telah mendapatkan kredit sebelumnya. Nasabah ini menanyakan kepada Sutan apakah mantri BRI Unit Cisaat ganti lagi dan kenapa tetangganya yaitu Sunaningsih yang ingin mendapatkan kredit dimintai sejumlah uang Rp 220 ribu dan menyerahkan foto copy sertifikat tanah segala, sementara dirinya tidak dimintai apa-apa sebelum proses kredit di setujui. 
Mendengar hal itu, sontak Sutan pun heran dan menyatakan bahwa orang yang dimaksud bukanlah petugas BRI Unit Cisaat akan tetapi oknum yang mengaku-ngaku karyawan BRI Unit Cisaat. Hingga waktu pencairan yang telah ditetapkan, kata Kepala BRI Unit Cisaat, pelaku yang merupakan oknum karyawan BRI tersebut tidak kunjung datang. Namun berhasil menggondol uang korban senilai Rp 220 ribu dan foto copy sertifikat tanah. 
“Kami minta masyarakat tetap waspada, karena oknum atau pegawai bank gadungan tersebut tentu masih berkeliaran mencari korban lain dalam menjalankan aksi penipuannya. Jika ada petugas yang mengaku pegawai BRI, saya sarankan tanya dulu identitasnya, kalau curiga kami harap warga segera lapor polisi terdekat,”tegas Ede Kuswandi. Menurutnya, BRI Unit Cisaat selalu memberikan kemudahan pinjaman uang tanpa jaminan sebelum pencairan. “Jika pada saat pencairan kreditur keluar uang untuk motocopi dan membuat surat keterangan dari aparat muspika setempat itu sih normatif. Artinya biaya tersebut merupakan kewajiban kreditur. Yang jelas persyaratan yang harus dilengkapi kreditur yang hendak meminjam uang ke BRI diantaranya fotocopy KTP, kartu keluarga dan surat keterangan usaha dari desa/kecamatan setempat. Jangan sekali-kali percaya oknum yang tidak bertanggung jawab, jika mau mengajukan kredit datanglah langsung ke kantor kami dan petugas kami siap melayani anda,”terangnya. 
Sementara itu, untuk mencegah penipuan sejenis kembali terjadi, Manager Bisnis Micro BRI Cabang Sukabumi, Surya Priatna saat ditemui Radar Sukabumi di ruang kerjanya menegaskan, bahwa pihaknya tidak pernah meminta uang muka ataupun surat-surat kepemilikan rumah kepada nasabahnya yang akan meminjam uang (kreditur). BRI Cabang Sukabumi juga telah menyebarluaskan informasi hati-hati terhadap penipuan tersebut kepada seluruh kantor unitnya hingga pemasangan spanduk berisi himbauan agar lebih hati-hati terhadap oknum yang mengatasnamakan BRI. 
“Dulu kejadian ini pernah terjadi di BRI Unit Sukaraja. Dan untuk menghindari korban selanjutnya, para nasabah aktif maupun masyarakat lain yang hendak mengajukan kredit agar jangan mudah percaya, terhadap bujuk rayu orang yang tidak dikenal. Karena bisa jadi orang itu adalah oknum yang mengaku-ngaku petugas BRI. Sekali lagi jangan berhubungan ke pihak lain, jika ingin mengajukan kredit datanglah langsung ke BRI terdekat. Selain prosesnya mudah, petugas kami pun tidak memungut uang muka,”pinta Manager Bisnis Micro BRI Cabang Sukabumi, Surya Priatna.(sri)