Sedapnya Mie Ayam Sehat Warna-Warni WASEGI

Pengen merasakan kelezatan Mie Ayam ini ? Anda dapat merasakannya di Foodcourt Yogya Toserba Sukabumi Lantai 3

Galeri Online Produk UMKM Sukabumi

Sekarang cari oleh-oleh produk khas Sukabumi semakin mudah dengan telah diluncurkannya galeri/toko online lengkap produk UMKM Sukabumi. Anda bisa mengunjunginya di : www.ProdukSukabumi.com

Dinamika Bisnis Anda Bisa Ditampilkan Disini

Dinamika bisnis anda di Sukabumi dapat ditampilkan dalam website ini. Anda dapat mengirimkan informasi bisnis melalui alamat email : redaksi@bisnissukabumi.com

Dinamika Bisnis Anda Bisa Ditampilkan Disini

Dinamika bisnis anda di Sukabumi dapat ditampilkan dalam website ini. Anda dapat mengirimkan informasi bisnis melalui alamat email : redaksi@bisnissukabumi.com

Galeri Online Produk UMKM Sukabumi

Sekarang cari oleh-oleh produk khas Sukabumi semakin mudah dengan telah diluncurkannya galeri/toko online lengkap produk UMKM Sukabumi. Anda bisa mengunjunginya di : www.ProdukSukabumi.com

Tampilkan postingan dengan label bpr. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label bpr. Tampilkan semua postingan

31 Januari 2012

BPR Tunjukan Pertumbuhan Yang Berkualitas

Foto : Bisnis Jabar
JAKARTA: Industri bank perkreditan rakyat menunjukan tren pertumbuhan bisnis yang berkualitas yang terlihat dari penurunan tingkat rasio kredit bermasalah dalam tiga tahun terakhir, meskipun penyaluran pembiayaan cukup ekspansif. Joko Suyanto, Ketua Umum Perhimpunan Bank Perkreditan Rakyat Indonesia (Perbarindo), mengatakan penurunan rasio tingkat kredit bermasalah (non performing loan/NPL) pada industri menunjukan bahwa bank mikro terus meningkatan prinsip kehati-hatian dalam penyaluran kredit. “Hal itu sekaligus menunjukan bahwa nasabah usaha mikro dan kecil [UKM] juga bisa patuh untuk melunasi kredit yang diterima,” ujarnya kepada Bisnis, hari ini. Selasa 31 Januari 2012 
Peningkatan kehati-hatian diimplementasikan lewat penguatan kualitas sumber daya manusia, melalui pendidikan dan pelatihan, terutama pada bagian account officer (AO). “Proses recruitment juga sudah banyak ditingkatkan demi mendapatkan SDM yang berkualitas,” tambahnya. Selain itu, sebagian BPR juga sudah mengembangkan teknologi informasi dalam melakukan monitoring terhadap kredit. Hal ini sekaligus meningkatkan efisiensi dalam menerapkan prinsip kehati-hatian dalam penyaluran kredit. Tingkat NPL industri BPR pada akhir 2011 menyentuh 5,22%, dan merupakan level terendah sejak 2007 lalu. Pada 2008, tingkat NPL masih 9,88% dan terus mengalami penurunan pada tahun-tahun berikutnya, yakni 6,9% pada 2009 dan 6,12% pada 2010. Kredit ekspansif Meski NPL menurun, namun penyaluran kredit industri tetap tumbuh ekspansif. Hingga akhir Desember 2011, industri telah menyalurkan kredit sebesar Rp41,1 triliun, bertambah Rp7,25 triliun atau 21,45%, dibandingkan dengan akhir 2010 Rp33,84 triliun. 
Edy Setiadi, Direktur Kredit, BPR dan UMKM Bank Indonesia (BI), mengapresiasi kinerja bank mikro yang dapat menurunkan tingkat NPL tanpa menghambat ekspansi kredit. “Bagi BPR tingkat NPL mendekati 5% itu sudah cukup bagus. Meski demikian, kami melihat kendali internal terhadap manajemen risiko belum merata dilakukan. Ke depan masalah kendali internal harus ditingkatkan,” ujarnya. Dalam meningkatkan kehati-hatian, BPR juga diwajibkan untuk memiliki pedoman penyaluran kredit untuk menghindari pembiayaan macet dan fraud akibat pinjaman fiktif. Pedoman tersebut akan menjadi pegangan dalam melakukan pengawasan terhadap BPR, sehingga pelanggaran yang dilakukan terhadap pedoman dapat menurunkan tingkat kesehatan bank mikro. 
 Edy menambahkan BI telah memperlonggar aturan penyaluran kredit bagi Bank Perkreditan Rakyat dengan memperbolehkan tanah girik dijadikan agunan. Agunan girik Pelonggaran syarat tersebut merupakan respon atas kondisi nasabah BPR yang sebagian besar belum memilik tanah bersertifikat. “Tanah yang belum bersertifikat atau masih status girik dan lapak di pasar bisa dijadikan agunan secara proporsional di BPR,” ujarnya. 
Dia menjelaskan tanah belum bersertifikat dan lapak di pasar tersebut bukanlah agunan utama bagi usaha mikro dan kecil (UMK), melainkan agunan tambahan. Adapun agunan utama tetap pada usaha mikro dan kecil yang memiliki kelayakan untuk dibiayai (feasible). “Kami juga mencari bentuk agunan tambahan lainnya yang bisa digunakan oleh UMK dalam mendapatkan kredit.” Gubernur BI Darmin Nasution mengatakan pemerintah daerah dapat berperan dalam menurunkan tingkat bunga kredit bagi UMK dengan mendirikan lembaga Penjaminan Kredit Daerah serta menempatkan dana APBD di bank daerah dan BPR milik daerah. 
Selain itu, lanjutnya, pemerintah daerah juga bisa melakukan subsidi sebagian bunga kredit dengan mengandalkan APBD. Dia menjelaskan dengan dana Rp100 miliar, pemerintah sebenarnya bisa menyubsidi bunga sebesar 5% untuk kredit sebesar Rp2 triliun. “Dari pada membuat program yang tidak jelas, lebih baik seperti ini,” jelasnya. (Bisnis Jabar)

30 Januari 2012

Bisnis BPR Secara Nasional Tumbuh 22%

JAKARTA : Meskipun jumlah entitas bank perkreditan rakyat terus menurun selama 2011, namun total aset industri terus tumbuh yang didorong ekspansi pada penyaluran kredit dan penghimpunan dana masyarakat dengan peningkatan sekitar 21%-22% Edy Setiadi, Direktur Kredit, BPR dan UMKM Bank Indonesia (BI), mengatakan industri bank perkreditan rakyat (BPR) terus tumbuh, kendati jumlah entitas bank mikro terus menurun dari tahun ke tahun. “Kami melihat penurunan jumlah BPR tidak berpengaruh karena jumlah aset industri tetap tumbuh. Ini terjadi karena sebagian BPR melakukan konsolidasi [merger] sehingga dapat terus membesar,” ujarnya hari ini. 
Selama 2011 jumlah BPR berkurang sebanyak 37 perusahaan yang disebabkan karena merger dan ditutup karena melanggar batas kesehatan. Jumlah BPR pada akhir 2011 sebanyak 1.669 unit dibandingkan dengan akhir 2010 yang sebanyak 1.706 unit. Selain itu, lanjutnya, peningkatan bisnis BPR juga bertumbuh didorong oleh kerja sama dengan bank pembangunan daerah (BPD), seperti penyaluran kredit program linkage atau program Apex Bank. Program linkage adalah penyaluran kredit yang dilakukan oleh bank kepada pengusaha mikro dan kecil melalui BPR. Adapun Apex Bank adalah program yang menempatkan BPD sebagai induk pengayom bagi BPR. Dia menambahkan industri BPR semakin agresif dalam penyaluran kredit terutama yang memiliki jaminan. 
Selain itu, operasional di lapangan juga semakin meningkat karena menerapkan sistem jemput bola. Meski penyaluran kredit cukup agresif, dia menilai BPR telah meningkatkan kehati-hatian. Itu terlihat dari rasio kredit bermasalah (non performing loan/NPL) menjadi 5,22% pada akhir 2011, dibandingkan dengan sebelumnya 6,12. “Bagi BPR tingkat NPL mendekati 5% itu sudah cukup bagus. Meski demikian, kami melihat kendali internal terhadap manajemen risiko belum merata dilakukan. Ke depan masalah kendali internal harus ditingkatkan.” 
Dalam meningkatkan kehati-hatian, BPR juga diwajibkan untuk memiliki pedoman penyaluran kredit untuk menghindari pembiayaan macet dan fraud akibat pinjaman fiktif. Hingga akhir Desember 2011, penyaluran kredit industri BPR meningkat bersih sebesar Rp7,25 triliun atau 21,45%, menjadi Rp41,1 triliun dibandingkan dengan sebelumnya Rp33,84 triliun. Adapun dana pihak ketiga yang dikelola tumbuh sedikit lebih banyak dari penyaluran kredit, yakni sekitar 22,04%, menjadi Rp38,21 triliun dibandingkan dengan sebelumnya Rp31,31 triliun. Sebagian penyaluran kredit dibiayai dengan program linkage yang mencapai Rp6,42 triliun, naik dibandingkan dengan sebelumnya Rp4,74 triliun. Adapun total aset BPR pada akhir 2011 mencapai Rp55,8 triliun dari sebelumnya Rp45,74 triliun. (Bisnis Indonesia)