Sedapnya Mie Ayam Sehat Warna-Warni WASEGI

Pengen merasakan kelezatan Mie Ayam ini ? Anda dapat merasakannya di Foodcourt Yogya Toserba Sukabumi Lantai 3

Galeri Online Produk UMKM Sukabumi

Sekarang cari oleh-oleh produk khas Sukabumi semakin mudah dengan telah diluncurkannya galeri/toko online lengkap produk UMKM Sukabumi. Anda bisa mengunjunginya di : www.ProdukSukabumi.com

Dinamika Bisnis Anda Bisa Ditampilkan Disini

Dinamika bisnis anda di Sukabumi dapat ditampilkan dalam website ini. Anda dapat mengirimkan informasi bisnis melalui alamat email : redaksi@bisnissukabumi.com

Dinamika Bisnis Anda Bisa Ditampilkan Disini

Dinamika bisnis anda di Sukabumi dapat ditampilkan dalam website ini. Anda dapat mengirimkan informasi bisnis melalui alamat email : redaksi@bisnissukabumi.com

Galeri Online Produk UMKM Sukabumi

Sekarang cari oleh-oleh produk khas Sukabumi semakin mudah dengan telah diluncurkannya galeri/toko online lengkap produk UMKM Sukabumi. Anda bisa mengunjunginya di : www.ProdukSukabumi.com

25 Februari 2011

Pedagang Pasar Degung Khawatir Tak Laku

Radar Sukabumi --Pasar Degung di Jalan AR Hakim Kota Sukabumi yang belum lama dibangun masih saja sepi pengunjung. Padahal biasanya pasar selalu dikerubuti pembeli yang hendak berbelanja. Hal tersebut sudah dialami sejak pasar tersebut resmi dibuka. Hampir semua pedagang yang berjualan di sana mengeluhkan dengan kondisi tersebut. Seperti yang diungkapkan salah satu pedagang. "Sejak saya membuka lapak di sini paling bisa merasakan ramenya pasar saat puasa saja. Tapi kalo hari-hari biasa seperti ini, kegiatan saya cuma bisa melamun saja," aku seorang pedagang Adit, sambil mengeluh.
Situasi tersebut dinilai akibat kurang strategisnya pasar. Sehingga banyak warga setempat yang memilih untuk belanja di Pasar Pasundan atau Ciwangi. Bukan hanya itu, kurangnya sosialisasi keberadaan pasar tersebut juga menjadi salah satu penyebab. Bayak warga sekitar yang tidak mengetahui keberadaan Pasar Degung. "Saya baru satu minggu mengetahui adanya Pasar Degung, tapi walaupun sudah mengetahui saya lebih memilih utuk belanja di Pasar Pasundan," ungkap seorang Ibu Rumah Tangga, Eti kepada Radar Sukabumi.
Situasi tersebut bisa mengakibatkan kurangnya pendapatan para penjual. "Kalau kondisi ini terus berlanjut bisa-bisa saya gulung tikar," ucap Pedagan Buah-buahan, Hari. Dia menambahkan kondisi ini juga mengakibatkan dua teman pedagangnya sampai memutuskan untuk berhenti berjualan. "Saya juga merasa khawatir hal serupa bisa menimpa saya," sambungnya.(rp4)

24 Februari 2011

Jasa Raharja Dukung Pengembangan UKM

Radar Sukabumi -- PT Jasa Raharja menawarkan pinjaman berbunga rendah bagi pengusaha kecil untuk mengembangkan bisnisnya. Pengusaha dapat memperoleh modal mulai dari Rp l0 juta sampai Rp 25 juta dengan bunga rendah dibawah bunga bank per tahunnya. Pembayarannya pun bisa diangsur sesuai dengan kesepakatan yang telah ditetapkan.
Kepala Perwakilan Jasa Raharja Sukabumi, Puryanto didampingi Penanggungjawab Pelayanan Umum Toif Riyanto mengatakan selain melayani asuransi kecelakaan, pihaknya juga turut andil mendukung pengembangan usaha kecil dan menengah (UKM) di Kota/Kabupaten Sukabumi dan Kabupaten Cianjur, lewat program kemitraan dan bina lingkungan (PKBL).
"Seiring semakin berkembangnya UKM, kami bertekad mengembangkan bisnis UKM di Sukabumi dan Cianjur. Melalui program PKBL, kami sudah mengucurkan dana mencapai lebih dari Rp 200 juta selama 10 tahun ini untuk puluhan UKM," tuturnya kepada Radar Sukabumi saat ditemui disela-sela pengobatan gratis yang dilakukan pihak Jasa Raharja Sukabumi di Terminal Sudirman Kota Sukabumi , kemarin.
Menurutnya, sejauh ini upaya pengusaha kecil untuk mengembalikan pinjaman lunak tersebut cukup baik. Jika pembayaran kredit lancar, maka dana kredit bisa digunakan untuk membantu UKM lainnya secara bergilir. Ini karena bantuan kredit untuk UKM bersifat dana bergulir.
"Untuk mendapatkan pinjaman dari Jasa Raharja, pelaku UKM harus mengajukan proposal serta menyertakan beberapa persyaratan administrasi. Di antaranya memiliki surat izin usaha atau rencana bisnis yang jelas. Jika semua persyaratan lengkap, kami akan ajukan ke pusat untuk diverifikasi. Jika disetujui, kami akan  memberikan pinjaman mulai dari Rp 10 juta hingga Rp 25 juta per unit UKM, dengan bunga ringan ," paparnya.
Saat ditanya apakah ada spesifikasi khusus bagi UKM yang hendak meminjam dana ini?  Puryanto menjelaskan semua sektor usaha yang dikembangkan UKM bisa mendapatkan layanan ini. Keunggulan lain dari pinjaman UKM Jasa Raharja ini adalah prosesnya yang cepat.  "Kalau pinjam ke bank, bunganya tinggi dan syaratnya rumit. Di sini enggak ada, mudah dan cepat. Asalkan memenuhi kriteria," tegasnya.
Lebih lanjut dia mengatakan, PKBL merupakan program yang didorong pemerintah kepada BUMN. Dana PKBL disisihkan dari laba BUMN 1-3 persen. Dengan melihat manfaat dan perkembangan pelaksanaan PKBL ini, maka Jasa Raharja berkomitmen untuk tetap melanjutkannya. (sri)

Polsek Palabuhanratu Tangkap Pengedar Upal

SUKABUMI, (PRLM).- Ratusan lembar uang palsu (upal) rupiah, dolar Singapura dan uang Brazil (UB) berhasil diamankan petugas Polsek Palabuhanratu. Upal sebanyak itu disita dari tangan tersangka, Rizal Lusibahi (31) warga Kp. Cihuni RT 03/RW 01, Ds. Pagelaran, Kec. Malingping, Kab. Lebak, Provinsi Banten di kafe "Pesona" di Pantai Citepus Istiqomah, Ds. Citepus, Kec. Palabuhanratu, Rabu (23/2) dini hari. Selain upal, petugas pun menyita barang bukti dua unit handphone milik tersangka.
"Kasus peredaran upal ini diketahui berdasarkan laporan dari pengelola kafe, Rabu dini hari. Berbekal laporan itu, kita langsung menugaskan sejumlah anggota untuk meluncur ke TKP (tempat kejadian perkara). Tersangka yang saat itu sedang duduk-duduk di kafe, langsung kami tangkap hingga digelandang ke mapolsek," kata Kapolsek Palabuhanratu, Komisaris H. Sugoro ketika dikonfirmasi di Mapolsek, Rabu (23/2).
Ia menyebutkan, barang bukti upal rupiah yang disita dari tangan tersangka, sebanyak 151 lembar pecahan Rp 100.000, senilai Rp 15,1 juta. Ditambah lagi, 500 lembar dolar Singapura pecahan 5 dolar dan 232 lembar uang Brazil (UB) pecahan 500 UB. Barang bukti lainnya, dua unit handphone milik tersangka.
"Dari upal rupiah sebanyak itu, sebagian sudah dibayarkan tersangka untuk membayar minum-minum di kafe senilai Rp 3,2 juta, membayar kamar hotel Rp 800.000, dan sisanya disita dari tas gendong dia (tersangka-red), termasuk dolar Singapura dan UB," kata Sugoro didampingi Panit I Reskrim, Ajun Inspektur Satu, Catur Budiono.
Sugoro menjelaskan, menurut pengakuan tersangka, upal sebanyak itu didapat dari seseorang di luar kota yang hingga kini keberadaannya masih dalam penyelidikan polisi. Tersangka mendapatkan upal itu semuanya senilai Rp 19 juta pecahan Rp 100.000. Sedangkan yang dibawa ke wilayah Palabuhanratu dan sebagian sudah dipakai transaksi sebesar Rp 15,1 juta. Upal sebanyak itu selain digunakan tersangka untuk bertransaksi di wilayah Palabuhanratu, juga sudah dibelanjakan di kampungnya sendiri. Bahkan sebagian sudah diberikan kepada istri dan anaknya untuk uang belanja dan jajan. "Jadi upal ini sudah dipakai transaksi di mana-mana, termasuk di kampungnya sendiri," tutur Sugoro.
Sementara itu di ruang Reskrim Polsek Palabuhanratu, pengelola Kafe "Pesona", Rosita (42) mengatakan, terbongkarnya kasus peredaran upal itu, bermula ketika kafenya kedatangan tamu sebanyak empat orang, yang salah satunya tersangka, Selasa (22/2) malam pukul 22.00 WIB. Mereka datang ke kafenya sengaja pesan minuman dan karaoke. Setelah selesai, Rabu (23/2) dini hari, mereka membayar minumannya sebesar Rp 2,2 juta, kasir Rp 400.000 dan membayar jasa karyawan Rp 600.000., hingga total yang dibayarkan Rp 3,2 juta.
"Ketika saya pegang uangnya, serasa ada yang beda. Saat itu saya ragu bahwa itu uang asli. Karena penasaran, saya menyuruh karyawan untuk membelanjakan uang itu ke warung sebelah. Ternyata kecurigaan saya benar, uang itu ditolak warung karena uang palsu. Masih penasaran juga, saya belanjakan lagi ke warung lainnya. Ternyata, jawabannya sama. Setelah yakin, malam itu juga saya langsung melaporkan kasus upal ini ke kantor Polsek Palabuhanratu hingga pelakunya ditangkap dan ratusan lembar upalnya disita. Bahkan setelah diperiksa polisi, di dalam tas gendongnya masih banyak upal. Tak hanya rupiah saja, tapi ada juga upal dolar Singapura dan UB," kata Rosita. (A-67/das)***

23 Februari 2011

UKM Subangjaya Dongkrak IPM

Radar Sukabumi --  Kelurahan Subangjaya Kecamatan Cikole Kota Sukabumi terus berupaya optimal meningkatkan kesejahteraan warga masyarakat, khususnya dalam bidang ekonomi. Upaya tersebut, menurut Lurah Subangjaya, Asep Koswara, ditempuh melalui berbagai cara dan terobosan, diantaranya melalui peningkatan dan pengembangan berbagai jenis Usaha Kecil dan Menengah (UKM).
Adapun komoditas yang dihasilkan berbagai jenis UKM tersebut, diantaranya permen jahe, sumpia dan benang layangan, serta berbagai jenis penganan dan makanan. Disamping itu, juga telah berdiri peternakan sapi terbesar di Kota Sukabumi, yang memelihara lebih-kurang 150 ekor.
" Dengan luas wilayah mencapai 22.120 hektar, kami terus berupaya meningkatkan kesejahteraan masyarakatnya, khususnya di bidang ekonomi," kata Lurah Subangjaya, Asep Koswara kepada Radar Sukabumi.
Selain mengandalkan potensi UKM dan peternakan, di kelurahan yang dipimpinnya ini juga memiliki potensi pariwisata. Yakni, ada 2 kolam renang wisata , Cibiru dan Tirta Adam. Serta penginapan panghegar.
"Potensi ekonomi di Subangjaya ini seperti pabrik sumpia, permen jahe layang layang, dan peternakan sapi perah terbesar di Kota Sukabumi. Sekarang sedang dirintis untuk diolah hasilnya oleh masyarakat melalui pemberdayaan ibu-ibu rumah tangga," tutur pria ramah ini. 
Dijelaskan Asep, UKM yang dikelola oleh masyarakat rata-rata dijalankan dengan masih mengandalkan modal sendiri, sekitar Rp 10-15 juta. Sedangkan mengenai pemasaran produk hasil UKM, telah merambah bukan hanya wilayah Sukabumi saja tetapi luar pulau Jawa.
" Munculnya berbagai UKM di wilayah kami, memberikan pengaruh terhadap peningkatan IPM masyarakat sekitar 40-50 persen dalam 10 tahun terakhir ini," ujarnya.
Menurutnya, kelurahan yang dipimpinnya membawahi sekitar 76 RT dan 14 RW dengan jumlah penduduk mencapai 15.000 jiwa atau 4.600 KK, ternyata mempunyai keuntungan tersendiri. Buktinya dengan jumlah penduduk yang banyak dan dilatar belakangi pekerjaan yang beragam tersebut, ternyata lebih dari 1 tahun selama dirinya memimpin sebagai lurah di Subangjaya. Telah terkumpul uang hasil swadaya masyarakat hampir Rp 2 miliar lebih.
Besarnya dana swadaya hasil masyarakat tersebut, diperuntukkan untuk membangun berbagai fasilitas umum. Seperti jalan, gang dan infratsruktur publik lainnya di Kelurahan Subang Jaya. Sedangkan untuk realiasi PBB pada tahun 2010 mencapai 70-80 persen.
" Rencananya di tahun 2011 ini, ditargetkan pencapaian realisasi PBB 100 persen," pungkasnya. (sri)

Perkembangan Ekonomi Kota Lamban

Radar Sukabumi -- Visi Pemerintah Kota Sukabumi sebagai pusat pelayanan jasa terpadu di bidang pendidikan dan kesehatan, memang sudah terbukti dan berjalan dengan baik. Namun dibalik itu semua khusus dibidang ekonomi, nampaknya belum berjalan sesuai dengan yang diharapkan, khususnya di sektor pengembangan Kelompok Usaha Mikro Kecil Menengah (KUMKM).
Sehingga timbul pertanyaan sudah sejauhmana Pemerintah Kota (Pemkot) Sukabumi benar-benar mendorong sektor perekonomian khususnya ekonomi kreatif.
Pengamat Ekonomi dari STIE PASIM Sukabumi, Fajar Laksana mengatakan, perkembangan sektor ekonomi di Kota Sukabumi cukup lamban. Hal ini dikarenakan beberapa hal, yaitu pertama, belum sepenuhnya pihak perbankan percaya untuk memberikan kucuran kredit kepada UKM. Hal ini ditambah lagi dengan persayaratannya yang begitu rumit. Kedua, pengembangan sektor ekonomi di Kota Sukabumi, belum menyentuh kepada sektor riil dan lebih menyentuh ke konsumtif.
Ketiga, belum adanya Balai Latihan Kerja (BLK) yang tujuannya untuk memberikan pelatihan dan pendidikan khusus sumber daya manusianya, serta membuat suatu alat untuk memproduksi berbagai produk. Keempat, masih lemahnya sisi promosi berbagai produk yang dihasilkan oleh UKM lokal. Sehingga sangat jarang sekali kita bisa menemukan produk buatan lokal di jual atau dipajang di supermarket yang ada di Kota Sukabumi.
" Saat ini berbagai upaya yang dilaksanakan oleh Pemkot Sukabumi untuk mengembangkan sektor ekonomi hanya bersifat temporer saja dan tidak berkelanjutan. Sehingga ketika program ini berakhir selama satu tahun ya sudah, lalu membentuk program baru lagi tanpa ada kelanjutan program terdahulunya," ujar Fajar saat ditemui Ponpes Al Fath PASIM Sukabumi, kemarin.
Menurut Fajar, salah satu upaya Pemkot Sukabumi untuk mengembangkan sektor ekonomi agar menjadi lebih baik. Diantaranya, antara dinas terkait seperti Diskoperindag, Dinsostek serta Dinas Pertanian harus ada program untuk mengembangkan sektor ekonomi, jangan sampai berjalan sendiri-sendiri.
"Karena ketiga dinas tersebut mempunyai peranan dan pengaruh penting memajukan sektor perekonomian," tegasnya.
Selain itu perlu adanya peraturan daerah (Perda) yang mengatur tentang keharusan bagi supermarket yang ada di Kota Sukabumi, untuk memberikan ruang sekitar 30 persen bagi pemasaran produk lokal hasil olahan para UKM di Kota Sukabumi.
" Bahkan kalau perlu, Pemkot Sukabumi menyediakan dana talangan khusus bagi modal para UKM. Serta perlu adanya Subsidi Bunga bagi para UKM, dimana nantinya dana tersebut dapat membayar bunga kredit yang dipinjam oleh pelaku UKM, sehingga nantinya pelaku UKM hanya membayar pokoknya saja kepada pemerintah," imbuhnya.
Sementara itu, menanggapi hal tersebut Asisten Daerah (Asda) II Bidang Pembangunan dan Perekonomian Pemkot Sukabumi, Deden Solehudin mengatakan, Pemkot Sukabumi dengan dibantu oleh dinas terkait, terus berupaya mendorong pemberdayaan UKM di berbagai sektor.
" Hal tersebut bisa dilihat dari Laju Pertumbuhan Ekonomi (LPE) Kota Sukabumi yang saat ini sudah mencapai angka 6,14 persen," kata (Asda) II Bidang Pembangunan dan Perekonomian Pemkot Sukabumi, Deden Solehudin saat ditemui Radar Sukabumi di ruang kerjanya.
Saat ditanya berapa besar anggaran untuk sektor ekonomi di APBD Kota Sukabumi di tahun 2011 ini, dirinya tidak bisa menjelaskan nominalnya. Namun yang jelas, Deden mengakui bahwa dari jumlah APBD Kota Sukabumi tahun 2011 sekitar Rp 580 miliar, hampir sebagian besarnya terpakai untuk belanja tidak langsung (pegawai) di sektor pendidikan dan kesehatan.
" Berdasarkan renstra yang ada, kami akan melakukan pengembangan usaha mikro dan UKM, serta melakukan berbagai pelatihan," ujarnya.(sri)

Koi Sukabumi Pasok Pasar Nasional

Radar Sukabumi-- Meskipun budidaya ikan Koi di Sukabumi belum berkembang dengan pesat, namun Ichwan Hamid seorang Brider (peternak) ikan koi di Kota Sukabumi tidak putus asa untuk terus berupaya mengembangkan budidaya ikan Koi di Kota Sukabumi.
Ditemui di kediamannya di Jalan Pajagalan, Kecamatan Warudoyong Kota Sukabumi beberapa waktu lalu  mengaku sudah bertahun-tahun  menekuni budidaya ikan Koi.
Bahkan saat ini Hamid sudah mempunyai beberapa kolam untuk budidaya ikan Koi, yaitu di daerah Koleberes Kelurahan Dayeuhluhur Kecamatan Warudoyong.
“Budidaya ikan Koi mempunyai kepuasan tersendiri, karena jenis dan corak warna yang beraneka ragam,”  katanya yang sudah menggeluti bisnis ikan koi selama tiga tahun terakhir.
Dijelaskannya, ada beberapa jenis ikan Koi yang dipelihara dirinya. Diantaranya, kohaku ,sanke showa, shiro bekko. Bahkan jika dilihat dari segi materi, budidaya ikan Koi sangat menguntungkan karena ketika panen bisa menghasilkan uang hingga puluhan dan ratusan juta rupiah.
“Rata-rata ikan Koi yang berukuran 5-10 cm saja bisa dijual dengan harga Rp. 20.000/ekor. Satu tahun terakhir ini, bisnis ikan hias khususnya koi mulai menggeliat kembali. Ya Alhamdulillah hasilnya sangat menjanjikan apabila kita menekuninya,” ujarnya.
Menurut Hamid, budidaya ikan Koi sangatlah mudah karena hanya memubutuhkan waktu selama 3 bulan untuk memanen ikan yang berukuran 10 cm.
" Terlebih jika dilihat dari biaya, tergantung keinginan kita sendiri. Karena budidaya ikan Koi juga bisa dilakukan di kolam milik kita sendiri di rumah," tuturnya.
Namun lebih lanjut Hamid mengatakan, saat ini pesanan bibit ikan Koi yang masuk kepada dirinya sangatlah banyak hingga tidak terpenuhi. Bayangkan saja selama 1 bulan dirinya hanya mampu menerima pesanan sebanyak 30.000 ekor, padahal jumlah pesanan lebih dari itu.
“Kebanyakan pesanan datang dari wilayah di luar Sukabumi, seperti Bandung, Jakarta, Cianjur dan lainnya,” terangnya.
Bahkan diungkapkan Hamid, saat ini yang masih menjadi kendala dirinya adalah kurangnya pasokan indukkan ikan Koi yang kwalitasnya utama. Untuk itu dirinya berharap agar Dinas Pertanian Kota Sukabumi dapat membantu dalam hal penyediaan indukkan ikan Koi  dan rencananya dalam waktu dekat ini akan segera direalisasikan. (sri)

22 Februari 2011

BPR Nusamba Siap Perluas Ekpansi

Radar Sukabumi -- PT Bank Perkreditan Rakyat (BPR) Nusamba Sukaraja berancang- ancang memperluas ekspansi bisnisnya. Pada semester pertama tahun ini, bank perkreditan yang bermarkas di Desa Pasirhalang Kecamatan Sukaraja Kabupaten Sukabumi ini siap melirik kawasan Cianjur.
"Inti program kita memang penetrasi program yang sudah ada. Namun, kita siapkan upaya ekspansi itu sebagai perluasan jaringan kita dalam membantu perkreditan serta tabungan masyarakat," ujar Direktur Utama (Dirut) PT BPR Nusamba Sukaraja, Nina Sundari di sela peringatan ultah ke 21, PT BPR Nusamba kemarin. 
Kepada Radar ia menyebutkan, bukti ekspansi tahap awal tak lebih kerjasama penggelontoran kredit kepada para pedagang di Pasar Warungkondang. Respon mereka, terbilang cukup tinggi.
"Kita juga menawarkan program unggulan kepada mereka yakni tabungan harmoni plus, yang kebetulan diundi setiap BPR ultah. Dan ini merupakan komitmen kami memberdayakan usahawan mikro di Sukabumi maupun Cianjur nantinya," paparnya.
Sementara, dalam puncak peringatan hari jadinya, PT BPR memberikan paket sembako kepada puluhan warga kurang mampu di sekitar kantor. Acara itu, tambah Nina kompak dilakukan di kantor pusat yakni Sukaraja dan enam kantor kas yang tersebar di Kecamatan Palabuhanratu, Parungkuda, Cikembar, Sagaranten, Cisaat dan Warungkiara.    
"Untuk di kita, mereka berasal dari tiga lingkungan RT sekitar kantor," singkat Nina.
Acara ultah juga dirangkai malam tadi. Di mana, PT BPR Nusamba menggelar peringatan maulidan sekaligus pemberian penghargaan kepada karyawan berprestasi. "Saya harap PT BPR Nusamba semakin maju dan memperhatikan warga di sekitar kantor," aku Aminah (57), seorang warga penerima bingkisan sembako. (veg)    
 

Omset Boink Naik 30 Persen

Radar Sukabumi -- Boink Outlet di Super Mall Kota Sukabumi, siap bersaing dalam ketatnya kompetisi fashion saat ini. Banyak cara dilakukan pengelola Boink untuk menarik minat masyarakat.
Di tahun 2011 ini, pengelola pun mengadakan diskon untuk mendongkrak penjualan. Hingga kemarin, omset mereka naik 30 persen dan jumlah pengunjung pun meningkat hingga sepuluh persen.
Store Head Boink Outlet Sukabumi, Heny Nurmela mengatakan, mereka selalu membuat program dan even-even besar seperti hari raya dan tahun baru. Mereka biasanya menggelar diskon mulai dari pakaian hingga aksesoris, seperti yang dilakukan saat ini.
" Sekarang, kami beri diskon mulai 10 hingga 20 persen untuk semua jenis barang (all item,red)," ujarnya kepada Radar Sukabumi yang juga menambahkan bahwa mayoritas produk yang ditawarkannya untuk kawula muda Sukabumi Metropolis.
Perempuan ramah ini menjelaskan, barang yang tersedia di Boink di antaranya kaus, jeket, sepatu, tas, kemeja,hingga aksesori seperti jam tangan , kalung, gelang dan dompet KW.
" Untuk semua item, harganya relatif murah dan kualitasnya tetap dijaga. Seminggu sekali pasti ada barang baru," paparnya.
Jumlah pengunjung Boink,sambungnya, meningkat sepuluh persen setelah mengadakan program diskon ini. Omset mereka pun naik 30 persen. "Kami terus mengadakan diskon di tiap even untuk meningkatkan traffic pengunjung dan omset," pungkas Heny sambil tersenyum. (sri)

Pepe, Sukses di Tengah Keterbatasan Fisik

Radar Sukabumi -- Kekurangan fisik yang dimiliki Pepe Sopian (36), tidak menghalanginya untuk berkarya dan mencari nafkah. Siapa sangka, pemuda yang tak memiliki jari kaki dan tangan ini justru memiliki keahlian memperbaiki peralatan elektronik. Bahkan, Pepe juga bisa menyetir.
Terlihat sebuah mobil Avansa silver di pekarangan rumahnya yang menjadi garasi. Padahal lima bulan belakanan Pepe belum memiliki mobil, saat reporter koran ini mengunjunginya. Reporterpun melemparkan salam. Seperti biasa, Pepe yang tidak jauh dari komputernya itu sebagai pengendali master pulsa dan reporterpun disambutnya. Meski sudah tidak lagi membuka servis, namun konsumen tetap mempercayainya bisa membenahi masalah alat komunikasi itu. 
Padahal secara kasat mata, profesi tersebut membutuhkan ketelitian dan peran utama jari tangan. Namun warga asal Kampung Nanggerang, RT 16/01  Kelurahan/Kecamatan Lembursitu ini justru piawai memperbaiki alat elektronik rusak dengan mengandalkan tangan buntungnya itu.
Pepe ahli servis perangkat lunak dan perangkat keras elektronik termasuk handphone. Profesi ini dilakoni selama kurang lebih 15 tahun. Meski usahanya di bidang service elektronik sudah tidak lagi dilakoni. Namun usaha jual beli pulsa terus berkembang. Bukan hanya itu, ia juga bisa mengemudikan mobilmetik meski tanpa dua kaki dan tangan yang lengkap. "Kalau mau rekreasi atau bertamu ke tempat saudara dengan keluarga saya suka membawa mobil itu," akunya seraya dibenarkan ibunya, Uum (61).
 Mobil yang dimilikinya itu pun bukan pemberian cuma-cuma. Ia mendapatkannya itu bekerja keras bergerak di bidang master pulsa selama lima tahun. "Alhamdulillah sekarang saya mengatur uang Rp 150 juta per minggunya," aku Pepe panggilan akrabnya.
Sungguh tak disangka dengan keterbatasan di tubuhnya, namun bisa mengelola uang Rp 600 juta per bulannya hingga memiliki sebuah mobil dari hasil jerih payahnya selama berkarya. "Jika kita ada kemauan pasti bakal ada jalan, yakin Allah pasti akan memberikan asal niat kita yang sungguh-sungguh," tandasnya seraya mengucapkan ingin segera memiiliki pasangan hidup.
Putra kedua dari tiga bersaudara itu juga mudah bergaul. Bukan hanya dengan rekan kerjanya namun dalam bergaul dilingkungannya juga sangat mudah diterima, buktinya sempat turut menjadi panitia Agustusan.
Sementara itu, Uum mengatakan , memiliki anak seperti Pepe bagaikan diberikan anugrah yang terbesar. "Saya bersyukur, anak saya ini meski kekurangan fisik tapi tidak terbatas untuk berkarya. Dan tidak pernah meminta-minta," katanya bangga.(*)   

"Penghasilan Sehari-hari Tidak Cukup"

Radar Sukabumi -- Perkotaan biasanya menjadi objek yang sangat diminati Zsebagian orang untuk mengais rezeki. Hal serupa juga dilakukan Bah Oman (50thn). Pria asal Ciaul Kebon Jampang Kel Cisarua Kec Cikole itu terus berjuang mempertahankan hidup dengan mengandalkan penghasilan dari mengayun sepeda setiap hari. Pekerjaan tersebut dilakoni sudah hampir 11 tahun lebih. Menurutnya pengakuannya Bah Oman awalnya seorang buruh tani. Namun, karena maraknya pembangunan sehingga menggeser lahan pertanian yang dulunya dijadikan sebagai lahan mata pencaharian. "Makanya dengan terpaksa beralih profesi,"akunya kepada Radar Sukabumi. Dengan profesinya yang baru hampir sebagian Kota Sukabumi dia kelilingi untuk mengantarkan penumpang sampai ke tempat tujuan. Dengan usianya yang sudah tidak lagi muda. Bah Oman berjuang keras agar mempertahankan hidup dan bisa memnghidupi keluarganya. Pendapatan yang dia hasilkan dari mengayun becak tidak seimbang dengan keringat yang dikucurkan. Bekerja mulai pukul 09.00 sampai pukul 17.00 WIB hanya mendapatkan 20ribu/hari. "Sedangkan  harus mencukupi kebutuhan empat anak dan satu istri,"akunya
Ia mengaku sebenarnya sudah tidak kuat untuk terus mengayuh becak. "Tapi kalau hal ini tidak saya lakukan anak dan istri saya mau dikasih makan apa?," ungkapnya mengeluh dan biasa mangkal di Jalan Ahmad Yani Kota Sukabumi. Dengan kondisi hari ini yang serba mahal, pengahasilan Rp20 ribu/hari yang didapat mana bisa mencukupi keperluan sehari-hari. Apalagi terkadang pulang dengan tidak membawa apa-apa.Dia berharap agar pemerintah bisa lebih memperhatikan nasib mereka. Sehingga, bisa mendapat kehidupan yang lebih layak.(rp4)