Sedapnya Mie Ayam Sehat Warna-Warni WASEGI

Pengen merasakan kelezatan Mie Ayam ini ? Anda dapat merasakannya di Foodcourt Yogya Toserba Sukabumi Lantai 3

Galeri Online Produk UMKM Sukabumi

Sekarang cari oleh-oleh produk khas Sukabumi semakin mudah dengan telah diluncurkannya galeri/toko online lengkap produk UMKM Sukabumi. Anda bisa mengunjunginya di : www.ProdukSukabumi.com

Dinamika Bisnis Anda Bisa Ditampilkan Disini

Dinamika bisnis anda di Sukabumi dapat ditampilkan dalam website ini. Anda dapat mengirimkan informasi bisnis melalui alamat email : redaksi@bisnissukabumi.com

Dinamika Bisnis Anda Bisa Ditampilkan Disini

Dinamika bisnis anda di Sukabumi dapat ditampilkan dalam website ini. Anda dapat mengirimkan informasi bisnis melalui alamat email : redaksi@bisnissukabumi.com

Galeri Online Produk UMKM Sukabumi

Sekarang cari oleh-oleh produk khas Sukabumi semakin mudah dengan telah diluncurkannya galeri/toko online lengkap produk UMKM Sukabumi. Anda bisa mengunjunginya di : www.ProdukSukabumi.com

Tampilkan postingan dengan label perumahan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label perumahan. Tampilkan semua postingan

23 Mei 2012

Sekar Perumnas Tawarkan Rumah Kepada Buruh di Jawa Barat

BANDUNG : Serikat Karyawan Perum Perumnas (Sekar Perumnas) menawarkan rumah dengan cicilan murah kepada buruh di Jawa Barat. General Manager Sekar Perumnas DPW Regional IV Jabar-Banten Sugeng Saefulrahman mengatakan kesepakatan dengan pihak buruh diharapkan dapat membantu buruh untuk mendapatkan rumah yang layak dan murah. “Kami siap membantu penyediaan lahan dan rumah bagi masyarakat kaum buruh yang lebih baik dengan kelayakan tempat tinggal sesuai ketentuan standar yakni tipe 36 berukuran 60 meter,” katanya. 
Dia menuturkan pihaknya akan fokus dulu di wilayah Bandung yaitu sekitar kawasan Soreang untuk tahun ini sebagai lahan rumah yang akan ditempati para buruh. Dia mengaku pihaknya memiliki total lahan sebanyak 125 hektare. Namun untuk buruh disediakan sekitar 8 hektare yang bisa menampung 500 unit rumah tipe 36. “Harganya sekitar Rp70 jutaan. Untuk soal nilai angsuran pastinya yang tidak akan memberatkan buruh, nanti kita diskusikan kembali,” katanya. 
Sementara itu, Ketua Sekar Perumnas DPW Regional IV Jabar-Banten Satriawan mengatakan pihaknya ingin merealisasikan keinginan buruh dalam membangun rumah yang layak dengan harga yang murah. “Makanya kami memberi nama MoU tersebut dengan sebutan MoU payung. Karena kita ingin memberikan payung berupa kerja sama ini bagi seluruh buruh,” ujarnya. (Bisnis Jabar)

5 Maret 2012

Prana Estate, Perumahan Nyaman di Pusat Kota Sukabumi

SUKABUMI -- Laju pertumbuhan perumahan di Kota Sukabumi terus meningkat. Berbagai macam fasilitas dan kelebihanpun ditawarkan. Salah satunya Perumahan Prana Estate yang berlokasi di Jalan Prana Bok A1/01 Kecamatan Cikole Kota Sukabumi. Aneka tipe rumah ditawarkan, mulai Tipe 26 sampai 50. Tidak hanya itu, perumahan Prana Estate juga sangat strategis. Untuk menjangkau pusat Kota Sukabumi, tidak membutuhkan waktu lama karena Perumahan Prana Estate berada di Kecamatan yang menjadi pusat Kota Sukabumi. Selain itu, lokasinya juga berdekatan dengan kawasan kesehatan yakni RSUD R Syamsudin SH, pendidikan dan berbagai hal lainnya yang memang memanjakan bagi para penghuni Prana Estate. Berbagai fasilitaspun disiapkan untuk para penghuni perumahan di antaranya, pendidikan TK dan kolam renang. Sehingga, orang yang akan melakukan aktifi tas olahraga dan pendidikan tidak perlu susah payah. Suasananya yang asri dan segar juga cocok bagi mereka yang senang melakukan jogging di pagi hari. 
Selain itu, Prana Estate juga tidak memberikan jarak dengan warga sekitar. Menurut Staf Pemasaran Prana Estate, Fitri Dulvia konsep berbaur dengan masyarakat sangat dikedepankan. “Kita tidak ingin ada skat antara penghuni perumahan dengan masyarakat,” ujarnya. Persyaratan untuk hunianpun sangat mudah. Selain itu, harganyapun sangat ekonomis. Ditambah lagi, cicilan angsurannya pun cukup terjangkau. “Kita memberikan pelayanan yang maksimal termasuk memberikan kemudahan bagi masyarakat yang mau memiliki hunian. Kita juga memberikan kelonggaran dalam agar pelayanan terhadap masyarakat bisa lebih maksimal,” lanjutnya. Perumahan ini memiliki beberapa tipe yakni, Tipe Soka A (type 26/117), Tipe Soka B (type 38/144), tipe Griya Melati A (41/78), Tipe Kenanga (type 50/105). (Radar Sukabumi)

30 Januari 2012

Pengembang Nilai Menpera Lakukan Malpraktek Kebijakan

Jakarta : Kalangan pengembang menilai Menteri Perumahan Djan Farid melakukan maladaftif atau malpraktek kebijakan karena menghentikan subsidi perumahan berformat Fasilitas Likuiditas Pembiayaan Perumahan (FLPP) sejak 1 Januari 2012. Pasalnya, kebijakan tersebut telah membuat ribuan orang Masyarakat Berpenghasilan Rendah (MBR) gagal memiliki rumah, karena tak ada lagi kucuran Kredit Pemilikan Rumah (KPR) FLPP. “Policy regulasi yang dikeluarkan alih-alih mengurangi backlog, tapi yang terjadi malah menambah jumlah backlog perumahan,” jelas Wakil Ketua Real Estate Indonesia (REI) Muhammad Nawir di Jakarta, akhir pekan lalu. 
Nawir menegaskan, kebijakan tersebut membuat mandeg pembangunan rumah murah di seluruh Indonesia. Nawir menyebut, bukan hanya dalam soal FLPP, dalam UU No 1 tahun 2011 Tentang Perumahan dan Permukiman, yang mewajibkan rumah minimal tipe 36, Kemenpera telah membuat kalangan MBR tak mampu menjangkau rumah. Di tempat yang sama, Ketua Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Indonesia Bidang Properti dan Infrastruktur Lukman Purnomosidi menegaskan, Kemenpera telah membuat anggaran perumahan mubazir. Lantaran, penghentian FLPP secara mendadak membuat dana subsidi perumahan yang berasal dari Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) tersebut tidak bisa diserap. “Di saat situasi penyediaan rumah kondusif, Menpera malah membuatnya jadi dikotomi,” tukas Lukman. 
Sementara itu, kalangan pengembang anggota Asosiasi Pengembang Perumahan dan Permukiman Seluruh Indonesa (Apersi) Banten menyatakan, tidak akan lagi membangun Rumah Sejahtera Tapak (RST) jika pemerintah tak lagi punya perhatian kepada masyarakat bawah. “Sejak awal menjadi pengembang rumah murah, kami berkomitmen untuk menyediakan rumah bagi masyarakat berpenghasilan rendah. Jika pemerintah tak lagi mau memperhatikan masyarakat seperti dengan menghentikan kucuran FLPP dan melarang tipe rumah dibawah 36, maka kami tak akan lagi membangun rumah murah. Kami hanya akan membangun rumah komersial,” tandas Ketua DPD Apersi Banten, Vidi 
Vidi beralasan, para pengembang Banten menganggap pemerintah sudah tidak lagi mementingkan masyarakat miskin yang kemampuannya membeli rumah hanya di kisaran Rp 50 juta. “Kalau tetap dengan seperti itu, Apersi bangun nggak akan bangun. Kita kembalikan saja ke pemerintah, kan itu kewajiban mereka. Banten tidak akan partisipasi FLPP. Apersi kan bantu pemerintah, kalau regulasi nggak kondusif kita tinggalkan saja. Kita survive dengan bangun yang komersial,” jelasnya. 
UU No 1 Tahun 2011 soal Perumahan dan Pemukiman dianggap merugikan masyarakat, karena adanya persyaratan minimal membangun rumah ukuran 36 m2. Padahal dengan bangunan 36 m2, harga jual mencapai Rp 90 juta per unit. Hal ini akan sulit dijangkau oleh buruh yang hanya berpenghasilan Rp 1,5 juta per bulan. “Kalau Rp 1,5 juta, kemampuan cicilan Rp 500 ribu, itu harga jualnya Rp 50 juta. Padahal harga yang 36m2, Rp 90 juta. Harusnya tipe 36 m2, tidak perlu lagi diurus negara. Mereka sudah punya kemampuan,” tandas Vidi. Suplai rumah tapak sederhana Banten mencapai 4.000 unit per bulan. Dengan penerapan aturan 36 m2, maka terjadi penurunan suplai hingga 50%. “Suplai kami dan Jawa Barat adalah yang paling besar. Mencapai 50%-60% dari total pasokan rumah murah secara nasional,” terang Vidi. 
Vidi memaparkan, dari jumlah tersebut, hampir 100 persen atau seluruhnya adalah rumah dengan tipe di bawah 36 dengan harga yang variatif yaitu sekitar Rp70 juta. Selain itu, ia juga menegaskan bahwa pihaknya juga menanggung beban pembiayaan seperti untuk konstruksi perumahan yang terus berjalan meski terjadi penundaan penyaluran FLPP. “Argo kami kan tetap berjalan,” tuturnya. Saat ini, menurut dia, masih terdapat rumah sebanyak 5.000 – 6.000 unit yang dinyatakan “ready stock” untuk mencukupi kebutuhan perumahan di Banten untuk beberapa bulan mendatang. Sedangkan untuk realisasi jumlah kebutuhan perumahan di Banten pada 2012 ini diperkirakan berada di antara kisaran 15 – 20 ribu unit rumah. 
Sebelumnya, Ketua Umum Apersi Edi Ganefo menyatakan rasa pesimisnya bahwa target pembangunan perumahan dari Apersi pada 2012 sebanyak 72.000 unit akan tercapai. “Karena itu kami menganggap tahun 2012 ini merupakan tahun gelap bagi MBR untuk bisa memiliki rumah,” kata Edi. (Neraca)