Sedapnya Mie Ayam Sehat Warna-Warni WASEGI

Pengen merasakan kelezatan Mie Ayam ini ? Anda dapat merasakannya di Foodcourt Yogya Toserba Sukabumi Lantai 3

Galeri Online Produk UMKM Sukabumi

Sekarang cari oleh-oleh produk khas Sukabumi semakin mudah dengan telah diluncurkannya galeri/toko online lengkap produk UMKM Sukabumi. Anda bisa mengunjunginya di : www.ProdukSukabumi.com

Dinamika Bisnis Anda Bisa Ditampilkan Disini

Dinamika bisnis anda di Sukabumi dapat ditampilkan dalam website ini. Anda dapat mengirimkan informasi bisnis melalui alamat email : redaksi@bisnissukabumi.com

Dinamika Bisnis Anda Bisa Ditampilkan Disini

Dinamika bisnis anda di Sukabumi dapat ditampilkan dalam website ini. Anda dapat mengirimkan informasi bisnis melalui alamat email : redaksi@bisnissukabumi.com

Galeri Online Produk UMKM Sukabumi

Sekarang cari oleh-oleh produk khas Sukabumi semakin mudah dengan telah diluncurkannya galeri/toko online lengkap produk UMKM Sukabumi. Anda bisa mengunjunginya di : www.ProdukSukabumi.com

Tampilkan postingan dengan label cicurug. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label cicurug. Tampilkan semua postingan

28 Januari 2012

Kemacetan Simpang Cidahu Semakin Parah

CICURUG : Pertigaan jalan menuju Kecamatan Cidahu menjadi salah satu titik kepadatan arus lalulintas jalur utama Sukabumi utara. Jalan yang sempit menjadi pintu keluar masuk kendaraan angkutan umum serta truk angkutan barang. Kondisi ini diperparah ketika jam pulang kantor atau pabrik. Kendaraan harus antre keluar masuk hingga menimbulkan kemacetan. Dari pantauan radar, pada jam kerja pagi atau sore kendaraan angkutan umum sengaja mangkal menunggu penumpang tepat di pintu jalan Cidahu. Pada jam yang sama, armada angkutan Air Minum Dalam Kemasan (AMDK) ukuran besar hilir mudik masuk jalan. Telak saja arus lalulintas menjadi terkunci. Kendati tidak menimbulkan kemacetan panjang, tetapi penumpukan kendaraan terjadi dari jarak dua ratus meter memasuki pertigaan Cidahu. Tepatnya dari jalan gang Koramil Cicurug hingga depan Sekolah SMPN 1 Cicurug. 
Kondisi tersebut menuai keluhan berbagai pihak, terutama pengguna jalan yang setiap hari melintas. Seperti Dedeh (24). Warga Ciutara Kecamtan Cicurug ini mengaku jenuh dengan kondisi ini. Setiap melintas di waktu pagi atau sore, dirinya mesti dikesalkan dengan padatnya arus. “Iya mas, setiap melintas dijalan ini pasti terbuang waktu belasan menit untuk sampai di tujuan. Padahal kantor tempat saya bekerja hanya berjarak beberapa meter dari pertigaan Cidahu. Akibat macet belasan menit mesti terbuang,” keluh salah karyawan bank swasta ini. Padahal Dedeh menggunakan kendaraan sepeda motor yang memungkinkan mempersingkat waktu perjalan. “Segini saya menggunakan motor apalagi mobil,” ujarnya. 
Selain pengguna jalan, warga sekitar jalan pertigaan pun mengeluhkan kondisi ini. Menurut warga, jalan sempit tidak sesuai dengan volume kendaraan yang padat dan kendaraan besar. “Mungkin jalanya mesti di tambah lebar, kalau enggak gini selamanya macet kang, padahal kendaraan yang melintas merupakan kendaraan perusahaan,” tandas Anang (26) warga Desa Nyangkowek Kecamatan Cicurug. (Radar Sukabumi

8 Desember 2011

Disnak Ngotot Operasikan Pasar Ternak Bojongkokosan

CICURUG - Protes pemindahan yang dilakukan warga pasar ternak Cicurug ternyata tidak berpengaruh terhadap beroperasinya pasar ternak yang berada di Desa Bojongkokosan Kecamatan Parungkuda. Kendati bertentangan dengan keinginan warga pasar ternak, namun Dinas Peternakan (Disnak) Kabupaten Sukabumi tetap mengoperasikan keberadaan pasar itu secara resmi kemarin. 
Pasalnya pasar ternak Bojongkokosan sudah didasari SK bupati sebagai landasan beroperasinya, dengan demikian jika tidak difungsikan maka anggran Rp 400 juta yang berasal dari APBN akan terbuang sia-sia. Hingga saat ini belum ada solusi pasti mengenai persoalan tersebut. Hanya saja sebuah kebijakan ditempuh yakni memperbolehkan pasar ternak Cicurug untuk tetap digunakan disamping pasar ternak Bojongkokosan. Kepala Dinas Peternakan (Kadisnak) Kabupaten Sukabumi, Asep Sugianto mengatakan pasar ternak Bojongkokosan tetap harus beroperasi. 
Disisi lain Disnak tidak akan menutup kegiatan pasar ternak Cicurug, karena berhadapan dengan kondisi saat ini dimana terjadi penolakan relokasi. “Silahkan untuk para pedagang ternak yang ingin beraktivitas di pasar ternak Cicurug, begitu pun jika beraktivitas di pasar ternak Bojongkokosan,” katanya saat dihubungi secara terpisah. Mengenai tidak adanya sosialisasi relokasi pasar ternak lanjut Asep, Pihaknya sudah lakukan penjelasan kepada warga pasar ternak dari tahun 2009 silam. Bahkan pemerintah memberikan voting empat lokasi yang akan dijadikan pasar ternak, yakni di Benda Kecamtan Cicurug, Kampung Leuwi cerik Desa Naggerang, wilayah Indolakto Kelurahan Cicurug dan desa Bojongkokosan. “Hasilnya Bojongkokosan, Sedangkan permintaan relokasi tersebut muncul dari permintaan warga yang merasa tidak nyaman dengan kondisi pasar ternak Cicurug, Saat itu pemerintah ketika sosialisasi kami ajak ke daerah Jawa tengah untuk banding, sosialisasi sudah sepenuhnya dilaksanakan,” ujarnya. 
Asep mengungkapkan mungkin saat ini hal tersebut jangan di debatkan sebab khawatir memunculkan polemik berkepanjangan. Pastinya pasar ternak Cicurug tetap bisa digunakan, warga pasar di beri kebebasan untuk menggunakan kedua fasilitas pasar ternak tersebut. Tetapi untuk memenuhi permintaan warga pasar ternak Cicurug supaya lokasi relokasi masih berada di kawasan Kecamatan Cicurug hal itu sangat sulit dipenuhi. 
Sementara, akibat tidak setujuanya relokasi pasar ternak ke Desa Bojongkokosan, warag pasar ternak melakukan unjukrasa Senin (5/12). Warga khawatir dengan relokasi tersebut akan membutuhkan waktu lama supaya usaha kembali maju. Selain itu warga memandang nilai historis bahwa pasar ternak yang terkenal dengan sebutan Pasar Domba (Pasdom) merupakan ikon Cicurug, sedangkan keberdaan pasar ternak di Bojongkokosan akan merusak ikon kawasan Sejarah perjuangan desa tersebut.(dri) 

5 November 2011

Cicurug Terancam Rawan Pangan


Cicurug - Kecamatan Cicurug mengalami penyusutan lahan pertanian pesawahan. Kini luas lahan pertanian Cicurug berkisar 600 Hektare. Hal tersebut imbas dari lahan yang beralih fungsi dari pertanian ke industri. Akibatnya Kecamatan Cicurug terancam menghadapi krisis pangan.
“Penyususat lahan di Kecamatan Cicurug disebabkan beberapa faktor, salah satunya pembangunan Industri. Pemilik tanah lebih cenderung menjual tanahnya sebab ada keuntungan langsung yang didapatkan dari hasil jual tanah. Hal tersebut terdorong dari hasil bertani yang kurang memberikan keuntungan,” kata Wakil Sekertaris DPC PPP Kabupatean Sukabumi, Alman Faluthi Hakiem.
Akibat penyusutan lahan, dikhawatirkan akan terjadi krisis pangan sebab setiap satu hektare sawah menghasilkan 2.500 Kg, satu musim panen. Jika dihitung keseluruhan maka 1.500 ton. Sedangkan jumlah penduduk Cicurug mencapai 123.157 jiwa. Apabila diasumsikan kebutuhan pangan 0,300 Kg/ jiwa, maka satu kali musim panen 180 hari, penduduk Cicurug membutuhkan 6.650.478 Kg beras. Minus beras sekitar 5.150.478 Kg.
“Data tersebut didapatkan dari Kelompok Tani Kecamtan Cicurug. Mengantisipasi hal tersebut, pemerintah Kabupaten Sukabumi harus melakukan pembukaan lahan sawah seluas 2.400 Hektare. Upaya tersebut harus dilakukan untuk menciptakan ketahanan pangan khususnya di Kecamatan Cicurug. Pemerintah pun harus segera merealisasikan pembukaan lahan baru, serta mengatur kembali penataan wilayah industri dan pertanian,” pungkasnya.(dri)

11 Agustus 2011

Pengusaha Batako Kelimpungan

Cicurug - Beberapa jenis usaha mengalami penurunan pendapatan saat memasuki bulan ramadan. Salah satunya usaha bata tanah atau yang disebut batako. Pengusaha batako yang banyak terdapat di Kampung Benteng Desa Kutajaya Kecamatan Cicurug mengeluh sepinya order.
Hampir semua pemilik modal menjalankan usaha ini dan ratusan warga di sana menjadi buruh cetak batako. Menurut para pengusaha, setiap memasuki bulan ramadan hingga sepekan Idul fitri, permintaan kerap menurun. Bahkan, pedagang sama sekali tidak menerima order. “Pada bulan ini terasa sulit sekali menjual satu rit batako. Biasanya pada bulan-bulan biasa pembeli sangat ramai padahal bulan ini sangat banyak kebutuhan menjelang hari raya,” ungkap Ujeh, salah seorang pengusaha.
Tidak ada usaha lain yang dapat dijalani Ujeh dan pengusaha lainnya. Sebab usaha ini sudah lekat dan menjadi tradisi di kampungnya. “Kalau tidak produksi saya tidak dapat membeli bahan, seperti tanah dan kapur. Selain itu tidak dapat memberikan gaji buruh. Saat ini buruh dan pengusaha sedang butuh,” ujarnya.
Dirinya menjelaskan, harga sebuah bata beragam sesuai dengan jenisnya, untuk pres mesin Rp900, cetak pres Rp450, dan cetak tangan Rp300. Tidak adanya batako yang terjual membuat puluhan ribu batako menumpuk di pabriknya.
“Kondisi ini akan merugikan pengusaha sebab batako akan memutih dan rusak karena terlalu lama terjemur matahari. Tentu saja ini merugikan,” ulasnya.
Dampaknya, ratusan buruh cetak batako harus menganggur. Kalau sudah demikian, sebagian buruh akan berpindah prodesi menjadi pedagang makanan, tukang ojek dan bekerja dipasar. Kadang tidak bekerja sama sekali. “Ya kalau sudah sepi begini terpaksa menggungur total selama dua minggu menjelang hariraya, padahal waktu tersebut sedang butuh-butuhnya uang untuk mencukupi segala kebutuhan,” tandas Ojang salah seorang buruh cetak. (dri)