Peralatan yang digunakannya pun masih sederhana dan seadanya. Meski dengan keterbatasan yang ada, Ari terus berkreasi dan mengembangkan bisnisnya. Hari-harinya dia habiskan untuk menempa kemampuan dan keterampilannya dalam memproduksi sapu ijuk. Setelah 6 tahun berjalan, usaha yang dirintis Ari tersebut pun mulai meningkat sampai banyak orang yang mulai memesan langsung sapu ijuk ke tempat tinggalnya, hingga akhirnya Ari yang setelah menikah dengan Siti Sarah (18) pun merasa perlu mengajak orang atau tenaga kerja untuk membantu usahanya tersebut. "Banyaknya pesanan yang datang ke rumah,terutama dari luar kota seperti Bandung, kami keteteran. Maka, waktu itu kami putuskan merubah pola pemasaran yang tadinya dijual eceran, menjadi dijual kepada distributor dengan skala banyak,"tuturnya. Berbagai strategi untuk kemajuan bisnisnya terus ditingkatkan, hingga akhirnya Ari berinisiatif untuk mendirikan beberapa tempat pengolahan bahan baku untuk memproduksi ijuk menjadi sapu. "Dulu lokasi ini masih hutan Dik, Bos Ari membelinya dari warga untuk dijadikan tempat pengolahan ijuk," ungkap Nurdin, salah seorang karyawan sambil membersihkan ijuk-ijuk yang masih kotor dengan alatnya. Upaya untuk pelebaran sayap pun dilakukan oleh Ari dalam bisnisnya. Pada tahun 2008, dia mencoba untuk menambah jenis hasil produksinya, yaitu pembuatan keset ijuk. Namun sampai saat ini pembuatan merk untuk barang produksinya belum dibuat. "Sampai saat ini kami belum menamai perusahaan ini, bahkan merk pun belum, cukuplah kami sebagai pengrajin," ujar Ari sambil membantu pekerjaan karyawannya. Kini Ari Khoerudin telah memiliki karyawan sebanyak 20 orang. "Kami memiliki pegawai 20 orang, mereka orang sini. Bahkan pemudanya juga pada ikut kerja di sini. Maklum mereka pada nganggur," tuturnya kepada Radar Sukabumi seraya menunjukan barang-barang hasil produksinya, kemarin.
Untuk barang hasil produksinya, sekarang sudah merambah sampai ke Bandung, Bekasi, bahkan sampai ke Jepang. Dalam sebulan, usaha yang dikelolanya, rata-rata dapat memproduksi sapu ijuk sebanyak seribu buah dalam sehari. Adapun mengenai bahan baku didatangkan dari daerah Pejampangan Kabupaten Sukabumi. Saat ini, laba per bulan diperkirakan rata-rata Rp4-5 juta. "Terimakasih pada pegawai kami yang telah membantu usaha ini, hingga bisa menghidupi istri dan membantu penghidupan orang tuakami. Selain itu, kami telah bisa membantu para pemuda di sini untuk menghidupi keluarganya," tambahnya kepada Radar Sukabumi sambil tersenyum bangga, ketika ditemui di tempat kerjanya kemarin. (*)










