Sedapnya Mie Ayam Sehat Warna-Warni WASEGI

Pengen merasakan kelezatan Mie Ayam ini ? Anda dapat merasakannya di Foodcourt Yogya Toserba Sukabumi Lantai 3

Galeri Online Produk UMKM Sukabumi

Sekarang cari oleh-oleh produk khas Sukabumi semakin mudah dengan telah diluncurkannya galeri/toko online lengkap produk UMKM Sukabumi. Anda bisa mengunjunginya di : www.ProdukSukabumi.com

Dinamika Bisnis Anda Bisa Ditampilkan Disini

Dinamika bisnis anda di Sukabumi dapat ditampilkan dalam website ini. Anda dapat mengirimkan informasi bisnis melalui alamat email : redaksi@bisnissukabumi.com

Dinamika Bisnis Anda Bisa Ditampilkan Disini

Dinamika bisnis anda di Sukabumi dapat ditampilkan dalam website ini. Anda dapat mengirimkan informasi bisnis melalui alamat email : redaksi@bisnissukabumi.com

Galeri Online Produk UMKM Sukabumi

Sekarang cari oleh-oleh produk khas Sukabumi semakin mudah dengan telah diluncurkannya galeri/toko online lengkap produk UMKM Sukabumi. Anda bisa mengunjunginya di : www.ProdukSukabumi.com

Tampilkan postingan dengan label Kripset. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Kripset. Tampilkan semua postingan

19 April 2011

Geliat Pengusaha Kripset Sukabumi

Rasanya yang Pedas Mampu Merambah Australia
Peluang pasar Keripik Setan (Kripset) yang menjanjikan dan terbuka lebar, membuat Dindin Solehudin (37) mengambil suatu keputusan. Dirinya berhenti dari pekerjaannya sebagai sales (penjaja), untuk beralih menjadi seorang pengusaha kripik setan.Niatnya adalah menuju penghidupan yang mandiri, membuka lapangan pekerjaan baru dan pengentasan kemiskinan.
Memasuki gang di wilayah Jalan Pramuka Kelurahan Cikondang Kecamatan Citamiang Kota Sukabumi, Reporter Radar Sukabumi menelusuri tempat pembuatan kripset. Sempat kami kesulitan melewatinya, sehubungan gang tidak bisa dilalui oleh sepeda motor secara lalu lalang. Sepintas mungkin orang tidak akan mengira,di pinggir gang yang sesempit itu akan ditemui  seorang pengusaha sukses. Pengusaha tersebut ternyata adalah Dindin Solehudin atau akrab disapa Dindin, yang kemudian dengan kesahajaannya bertutur tentang petualangannya selama berbisnis. 
Setelah Dindin menikah dengan wanita pujaannya Ria Harmonis,dirinya tidak tinggal diam untuk mencari penghidupan. Ketika itu, tepatnya awal September 2008 didapatilah pekerjaan sebagai sales. Setiap hari ia menjajakan kripik setan, yang diproduksi oleh pabrik milik pengusaha terkemuka di Kota Sukabumi."Kami ketika itu ngampas kripset ke warung-warung yang ada di Kota Sukabumi," tuturnya dalam  mengawali kisahnya. 
Dengan bakat dagang dan kepiawaiannya berkomunikasi, barang yang dijajakan Dindin pun mampu laku terjual."Ya, rata-rata delapan bal laku terjual dalam setiap harinya," lanjutnya. Dindin yang memiliki insting dalam berbisnis, rupanya mulai membaca peluang pasar. "Barang tersebut mulai populer dan mulai disukai oleh para konsumen. Rupanya rasa gurih dan pedasnya yang membuat orang ketagihan," sambungnya. 
Selanjutnya, terbesitlah di benak Dindin untuk membuka usaha sendiri. Selang beberapa bulan kemudian, ia memutuskan untuk berhenti bekerja sebagai sales. "Kami kemudian memulai untuk memproduksi kripset,ketika itu masih dikerjakan secara manual. Berbeda dengan sekarang, mulai dikerjakan dengan mesin. Namun, alhamdulillah hasil produksi dan penghasilan usaha kian meningkat, " katanya. 
Setelah mendapatkan pinjaman modal sebesar Rp20 juta, pada 2009  Dindin kemudian merekruit karyawan dan mendirikan pabrik pengolahan kripset. "Di areal tanah milik orang tuanyah, Dindin kemudian mendirikan pabrik," sahut karyawannya, Asep Kusniadi. Dibantu 20 orang karyawan, Dindin mampu memasarkan hasil produksinya ke Bekasi, Tangerang, Jakarta bahkan Australia. "Untuk pemasaran, 90 % ke luar daerah. Sengaja kami mengurangi pemasaran di wilayah Kota Sukabumi, kan kasihan dengan pengusaha setempat. Mereka kan membutuhkan pelanggan," pungkasnya. (*)

26 Maret 2011

Dindin Solehudin, Pengusaha Kripset Cikondang

Sukabumi -- Dengan usaha yang dirintisnya, Dindin Solehudin (38) sebagai pengusaha Kripset mampu mengubah penghidupan pribadi dan masyarakat di sekelilingnya. Etos bisnisnya bukan sekadar mengejar profit saja, melainkan juga motivasi sosial. Niatnya adalah menuju penghidupan mandiri, membuka lapangan pekerjaan baru dan pengentasan kemiskinan.  
Dengan bermodalkan pengalaman ketika bekerja sebagai sales, Dindin yang juga alumnus Universitas Terbuka (UT) ini berupaya meningkatkan hasil produksi dan pemasaran kripsetnya. Sebagai hasil industri rumahan, tentunya ia berpikir inovasi agar Kripset yang diolahnya mampu bersaing di pasaran. Selain manajemen karyawan dan peralatan produksi, dibenahi pula cara pengemasan barang dagangannya agar tetap disukai konsumen."Kami pun mulai mempelopori dalam pembuatan lebel Kripset di Kota Sukabumi ini. Setelah mendapat perijinan dari Depkes RI, pada 2009 kami mencantumkan nama 425 pada kemasan produk," katanya kepada Radar Sukabumi saat ditemui di ruang kerjanya. Menggunakan peralatan manual dalam pembuatan Kripset, dirasakan Dindin kurang begitu efektif. Pada 2010, ia mulai melengkapi peralatan produksinya dengan membeli beberapa mesin sugu. "Pabrik kami mulai menggunakan mesin sugu ketika itu,"ujarnya. Kini, pengerjaan pembuatan Kripset Dindin dibantu 50 orang karyawan. Para karyawan merupakan warga sekitar lokasi pengolahan Kripset. "Seiring bertambahnya tempat pembuatan kripset yang tadinya hanya satu lokasi menjadi 3 tempat, maka kami pun terus merekruit tetangga terdekat sebagai pekerja.Hampir 100 % dari mereka warga di sini. Alhamdulillah, dengan hadirnya usaha ini, tingkat kriminal dan pengangguran di Kelurahan Cikondang mulai tertanggulangi," lanjutnya. Kegembiraan pun terlontar dari salah seorang karyawannya, Nunung. "Saya sebagai janda miskin di sini merasa terbantu. Saya sudah satu tahun bekerja, alhamdulillah bisa mandiri dalam pemenuhan kebutuhan hidup sehari-hari," tukasnya. Dalam hal produksi. Singkong sebagai bahan baku utama Kripset, dibutuhkan dua hingga tiga ton per hari. Sehubungan banyak perusahaan lainnya yang membutuhkan singkong, selain untuk pembuatan Kripset, tak ayal lagi Dindin kelimpungan dalam pengadaan bahan baku yang satu ini. Belum lagi terjadi persaingan harga beli dan monopoli komoditi di antara pengusaha besar."Ya, kami mengalami kendala untuk mendapatkan singkong. Kami harus bersaing dengan pengusaha kanji, pengusaha kripik lainnya, atau peternak sapi," ujar salah seorang karyawannya, Asep Kusniadi. Setiap harinya, Kripset dikemas hingga mencapai rata-rata 150 bal. Dalam setiap balnya, terdapat 85-90 bungkus kripset ukuran kecil, eceran Rp500. Adapun omset, setiap bulannya mencapai rata-rata Rp200 juta. "Alhamdulillah untuk omset cukup lumayan. Namun untuk pengembangan usaha, kami masih memrlukan banyak modal. Kami membutuhkan mesin canggih guna efisiensi perusahaan," pungkas Dindin. (*)